SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
170. Tidak Sesuai Ekspektasi


__ADS_3

Dimas nampak berbaring terlentang dengan Ayana yang menjadikan lengan Dimas sebagai bantal. Jemari tangan Dimas nampak asyik memainkan rambut Ayana.


"Kak, menurut kakak, apa alasannya jika Wulan belum ingin menikah dengan babang Diky?"tanya Ayana seraya mendongak menatap Dimas.


"Mungkin karena usia. Wulan masih muda, mungkin dia masih ingin bebas dan menikmati masa mudanya,"sahut Dimas.


"Menikmati masa muda seperti apa yang kakak maksud?"tanya Ayana.


"Seperti pergi jalan-jalan bersama teman-teman yang seusia. Berkumpul atau nongkrong bareng misalnya. Jika sudah memiliki suami, tidak akan bisa bebas, karena semua hal yang di lakukan istri harus seijin suami,"sahut Dimas.


"Menurut aku, hal seperti itu tidak penting dan tidak ada faedahnya. Jalan-jalan bareng suami lebih seru dan menyenangkan dari pada jalan-jalan bareng teman-teman. Nongkrong-nongkrong sama teman juga nggak ada faedah. Paling juga yang dibicarakan soal cowok dan cuci mata lihat cogan, alias cowok ganteng,"sahut Ayana.


"Itu, 'kan menurut kamu, Ay. Pemikiran dan pandangan orang, 'kan, berbeda-beda, Ay. Jangan samakan dengan dirimu,"sahut Dimas Dimas mencubit hidung Ayana gemas.


"Iya, juga, sih,"sahut Ayana menyengir bodoh.


"Tidurlah! Sudah larut,"ujar Dimas kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Ayana, lalu mendekap tubuh Ayana.


"Bobok berdua lebih enak dari pada bobok sendiri,"ujar Ayana memeluk Dimas. Dimas hanya tersenyum mendengar kata-kata Ayana.


"Kak!"


"Hum,"


"Lepaskan baju kakak! Aku ingin mencium aroma tubuh kakak,"pinta Ayana.


Dimas melonggarkan pelukan nya, kemudian menatap Ayana dan bertanya,"Kamu tidak bermaksud untuk menggoda aku, 'kan?"tanya Dimas memicingkan sebelah matanya.


"Memangnya kenapa kalau aku menggoda kakak? Emang salah menggoda suami sendiri?"Ayana balik bertanya seraya tersenyum miring.


"Aku akan membuat kamu tidak bisa tidur malam ini, jika kamu berani menggoda aku,"ucap Dimas tersenyum smirk.


"Oh, ya? Aku ingin tahu, bagaimana kakak membuat aku tidak bisa tidur malam ini,"tantang Ayana.


Merasa di tantang istri nya, dengan cepat Dimas mendorong tubuh ayana hingga jatuh terlentang lalu dengan cepat menindihnya. Dimas mencium bibir Ayana dengan agresif, tapi Ayana malah membalasnya tidak kalah agresif.

__ADS_1


***


Waktu terus berputar dan hari terus berganti. Tanpa terasa sudah satu minggu semenjak Diky melamar Wulan. Dan malam ini, rencananya, Diky dan rombongan nya akan pergi ke rumah Pak Parman. Diky baru saja sampai di rumah dan bergegas membersihkan diri. Kali ini mereka tidak berkumpul di rumah Geno, tapi berjanji bertemu di jalan dengan Geno dan Hilda. Hal itu karena Diky baru saja pulang, dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Karena itu, mereka memilih untuk bertemu di jalan dengan Geno dan Hilda untuk mempersingkat waktu.


"Kamu kenapa, Dik? Apa pekerjaan kamu belum kelar?"tanya Toyib yang melihat Diky yang sedang memakai pakaian terlihat agak tegang.


"Aku nervous, Yib. Gimana kalau Wulan tidak mau menerima lamaran ku?"sahut Diky. mengingat selama ini, mereka belum terlalu dekat.


"Dalam situasi berbahaya akan masuk ke sarang penjahat saja kamu terlihat santai. Malah aku yang tegang saat melihat kamu mempersiapkan berbagai macam senjata seolah mau berangkat perang. Aku tegang menunggu kamu pulang seperti malam ini. Kenapa saat menunggu jawaban akan di terima atau di tolak dari seorang gadis, kamu malah jadi nervous?"ujar Toyib jujur adanya karena sudah menganggap Diky seperti saudaranya sendiri.


Toyib sering mengkhawatirkan Diky jika Diky sudah mulai membawa senjata saat akan berangkat bekerja. Sebagai detektif, Diky memiliki banyak senjata untuk melindungi diri. Mengingat terkadang harus melakukan investigasi pada orang berkuasa yang memiliki banyak bodyguard. Terkadang juga harus melakukan investigasi yang berhubungan dengan dunia gelap. Seperti hari ini, Diky harus melakukan investigasi kasus pembunuhan yang terjadi pada anak seorang pengusaha yang terlibat dengan mafia. Toyib yang satu kamar dengan Diky pun sudah tidak terkejut melihat berbagai macam senjata yang dimiliki Diky.


"Itu adalah pekerjaan aku sehari-hari, Yib. Jadi aku sudah terbiasa. Yang ini berbeda. Dari sekian banyak gadis yang aku temui, hanya dia saja yang bisa membuat aku tertarik. Jika aku ditolak, aku bakal patah hati,"sahut Diky yang sekarang beralih menyisir rambutnya.


"Yee ilee.. nggak usah khawatir! Kamu pasti diterima. Walaupun menurut feeling aku akan diterima sebagai tunangan saja. Tapi, berarti, 'kan, ada kemajuan dalam hubungan kalian. Tinggal sering-sering ajak jalan bareng biar kalian semakin dekat,"sahut Toyib yang terlihat yakin.


"Aku takut khilaf, Yib. Melihat dia yang menggemaskan itu, membuat tanganku gatal buat nyentuh dia,"sahut Diky.


"Yaa, kalau khilaf tinggal bawa saja ke penghulu,"sahut Toyib enteng.


"Soal itu, pikirin nanti aja. Sudah, ayo, kita berangkat. Sudah di tunggu yang lain, nih,"ajak Toyib.


"Hum,"sahut Diky.


Akhirnya Dimas, Ayana, Toyib dan Diky berangkat dengan mengendarai dua motor. Keempat orang itu bertemu dengan Geno dan Hilda di tempat mereka berjanji bertemu. Namun, kali ini Nando tidak ikut bersama mereka.


Setelah bertemu dengan Geno dan Hilda, mereka melanjutkan pekerjaan, hingga beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah Pak Parman.


Pak Parman dan Bu Lastri menyambut mereka dengan hangat. Tidak seperti kemarin yang tidak memiliki persiapan, kali ini Pak Parman dan Bu Lastri benar-benar siap menyambut kedatangan rombongan Diky.


Pak Parman, Bu Lastri dan Wulan memakai pakaian yang sedap di pandang. Di meja ruang tamu juga sudah tersedia berbagai macam kue kering dan basah.


"Mari, silahkan masuk! Silahkan duduk!"ucap Pak Parman ramah, yang kali ini sudah menyiapkan kursi tambahan untuk duduk, sehingga semuanya kebagian tempat duduk.


Mereka bertegur sapa saling menanyakan kabar sekedar untuk berbasa-basi.

__ADS_1


"Soal lamaran kami kemarin, bagaimana jawabannya, Pak?"tanya Geno setelah mereka sedikit berbasa-basi.


"Soal itu, kami sudah berdiskusi dengan Wulan. Kami menerima lamaran Nak Diky, tapi.. untuk langsung menuju ke jenjang pernikahan, Wulan belum siap. Saat ini usia Wulan baru delapan belas tahun. Masih terlalu muda untuk menikah. Apalagi Wulan juga ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Wulan ingin kuliah. Jadi, kami minta untuk sementara waktu ini, bagaimana jika mereka bertunangan saja lebih dulu,"ujar Pak Parman.


"Kira-kira berapa lama, Pak, mereka akan bertunangan?"tanya Geno memastikan.


"Sampai Wulan meraih gelar S1, Pak,"sahut Pak Parman.


"Bagaimana, Dik? Apa kamu mau menunggu Wulan kuliah dan meraih gelar S1? Kamu setuju tidak, jika kalian bertunangan saja dulu?"tanya Geno menatap Diky.


"Jika seperti itu keputusan Wulan, saya akan menghargainya. Saya setuju jika kami bertunangan lebih dulu,"sahut Diky yang sebenarnya merasa sedikit kecewa. Namun Diky tetap menerimanya karena sudah terlanjur suka pada Wulan.


"Meraih gelar S1. Paling tidak harus menunggu selama tiga tahun setengah. Sabar.. sabar... ini ujian,"gumam Diky dalam hati.


Mendengar jawaban dari Diky, akhirnya mereka semua pun bisa bernapas lega.


"Lalu, apakah kita akan mengadakan pesta pertunangan untuk meresmikan hubungan mereka, Pak?"tanya Geno.


"Bapak dan ibu tidak perlu khawatir. Jika ingin mengadakan pesta pertunangan, kalian tidak perlu menyiapkan apapun. Kami yang akan mengatur dan mempersiapkan semuanya. Bapak, ibu dan Wulan tinggal terima beres saja,"sahut Hilda antusias.


Mendengar penuturan Geno dan Hilda, Pak Parman, Bu Lastri dan Wulan pun saling bertatapan. Bu Lastri dan Wulan nampak menggeleng kecil sebagai isyarat jika mereka tidak ingin mengadakan pesta pertunangan.


Menyadari itu, Pak Parman pun berkata,"Menurut kami, itu tidak perlu, Pak, Bu. Lebih baik, uangnya di tabung untuk masa depan mereka saja. Kalau bisa, cukup tukar cincin saja,"ujar Pak Parman.


Mendengar jawaban Pak Parman, Geno pun menatap Diky. Dan pemuda itu mengangguk kecil,"Baiklah kalau begitu. Kami setuju,"sahut Geno.


"Kalau begitu, sekarang saja pakai cincin nya. Kebetulan sudah di persiapkan,"sahut Hilda kemudian mengeluarkan cincin yang sudah di beli seminggu yang lalu itu dari dalam tas nya.


Akhirnya, malam itu, Diky dan Wulan resmi bertunangan. Mereka semua nampak bahagia lalu mengobrol hangat sambil memakan kue yang di hidangkan oleh Bu Lastri.


"Walaupun tidak sesuai ekspektasi, tapi setidaknya aku tidak di tolak. Aku terpaksa harus menunggu lumayan lama,"gumam Diky dalam hati. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2