SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
211. Berbeda


__ADS_3

Bu Lastri nampak gusar menunggu Wulan pulang. Walaupun Diky sudah menghubungi Pak Parman bahwa Wulan bersama dirinya. Pak Parman dan Bu Lastri yakin jika Wulan akan baik-baik saja jika bersama Diky. Namun sepasang suami-isteri itu khawatir jika Diky dan Wulan kembali melakukan hubungan yang tidak seharusnya mereka lakukan.


"Kok, Wulan belum pulang juga, ya, Pak?"tanya Bu Lastri yang duduk di ruang tamu. Wanita paruh baya itu menatap ke arah jalan di depan rumah mereka melalui jendela kaca di ruangan tamu.


"Nggak tahu, Bu. Mau di telepon juga nggak enak. Soalnya tadi, 'kan, Nak Diky sudah minta ijin sama bapak,"sahut Pak Parman yang sebenarnya juga gusar seperti Bu Lastri.


"Ibu takut mereka mengulangi apa yang seharusnya tidak mereka lakukan, Pak,"ujar Bu Lastri yang masih terus menatap ke arah jalan.


"Berdoa saja semoga mereka tidak mengulanginya lagi, Bu,"sahut Pak Parman terdengar tenang. Pria paruh baya itu berusaha menyembunyikan perasaannya.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah Pak Parman. Sepasang suami-isteri itu nampak lega saat melihat Wulan turun dari mobil bersama Ayana dan Diky. Pak Parman dan Bu Lastri nampak senang melihat Ayana. Sepasang suami-isteri itu pun menyambut hangat ketiga orang itu.


"Maaf, Bu, Pak! Wulan jadi pulang terlambat karena menemani aku,"ucap Ayana tidak enak hati.


"Loh, ternyata sama kamu juga, Ay? Bapak kira cuma sama Nak Diky,"sahut Pak Parman.


"Awalnya memang cuma sama aku, Pak. Tapi akhirnya bertiga sama babang,"sahut Ayana.


"Ay, babang langsung antar kamu pulang, ya? Babang mendadak ada kerjaan,"ujar Diky setelah menerima pesan dari anak buahnya.


"Iya,"sahut Ayana kemudian menatap Pak Parman dan Bu Lastri,"Pak, Bu, kami pulang dulu, ya!"pamit Ayana.


"Iya,"sahut Pak Parman dan Bu Lastri bersamaan. Sepasang suami-isteri itu sudah tahu jika pekerjaan Diky memang waktunya tidak menentu.


"Maaf, Pak, Bu! Kami nggak bisa lama-lama di sini,"ujar Diky.


"Nggak apa-apa, kami mengerti, kok,"sahut Bu Lastri.


"Lan, sekali lagi terimakasih banyak, ya!"ucap Ayana pada Wulan tulus.


"Nggak usah sungkan seperti itu, Ay. Kita, 'kan, sahabat,"sahut Wulan tersenyum tipis.


Akhirnya Diky dan Ayana pun meninggalkan rumah Pak Parman. Sedangkan Wulan kembali di interogasi oleh kedua orang tuanya.


"Dari mana kalian tadi, Lan?"tanya Bu Lastri kemaks, alias kepo maksimal.


"Sebenarnya setelah keluar dari kelas tadi, aku ketemu Ayana, Bu,"ujar Wulan kemudian menghela napas panjang mengingat kejadian tadi.


"Terus?"tanya Bu Lastri yang merasa aneh melihat ekspresi Wulan yang sulit untuk di deskripsikan.


Akhirnya Wulan menceritakan apa yang terjadi pada Ayana hari ini. Tentang Ayana yang dikejar-kejar senior mereka hingga akhirnya Clara menghadang mereka dan hampir mencelakai Ayana jika saja Diky tidak datang tepat waktu. Pak Parman dan Bu Lastri nampak terkejut mendengar cerita Wulan.


"Jadi orang cantik itu nggak enak juga, ya?"ujar Bu Lastri menghela napas panjang setelah mendengar cerita Wulan.

__ADS_1


"Semua pasti ada risiko dan baik buruknya Bu,"sahut Pak Parman.


"Kasihan, Ayana, dulu sempat mengalami trauma yang cukup lama karena si Noval itu. Sekarang malah mengalami kejadian seperti ini. Semoga saja Ayana tidak trauma lagi,"harap Bu Lastri.


"Sepertinya tidak, Bu. Mungkin karena ada bang Diky yang langsung menyelamatkan kami tadi. Walaupun sepertinya Ayana agak syok,"sahut Wulan.


"Syukurlah, kalau Ayana baik-baik saja,"sahut Bu Lastri merasa lega.


***


Diky mengantarkan Ayana pulang bertepatan dengan Dimas yang juga baru pulang. Dimas nampak heran melihat Ayana baru pulang. Apalagi Diky mengantarkan Ayana menggunakan mobil. Setelah Ayana turun, Diky langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.


"Kok, tumben pulang jam segini, Ay?"tanya Dimas.


"Tadi aku sama babang dari rumah Wulan, kak,"sahut Ayana nampak enggan untuk mengatakan apa yang terjadi padanya hari ini.


"Ohh, dari rumah Wulan,"ujar Dimas yang sebenarnya merasa aneh, karena biasanya Ayana selalu meminta ijin padanya jika akan bepergian. Tapi kali ini istrinya itu pergi tanpa seijin darinya. Walaupun perginya bersama Diky dan Wulan.


"Iya,"sahut Ayana dengan seulas senyum.


"Kenapa aku merasa hari ini Ayana berbeda, ya? Walaupun dia tampak ceria dan tersenyum seperti biasanya, tapi aku tetap merasa ada sesuatu yang terasa janggal.


Setelah masuk ke dalam rumah, Ayana bergegas membersihkan diri. Setelah itu menyiapkan makan malam. Saat makan malam pun, Ayana nampak tidak banyak bicara.


"Hum,"sahut Dimas.


Toyib nampak mengernyitkan keningnya menatap Ayana yang terasa berbeda dari biasanya.


"Dim, kamu merasa, nggak, kalau hari ini Ayana berbeda dari biasanya? Walaupun dia bersikap ceria seperti biasanya. Tapi, aku merasa ada kesedihan dan kekecewaan di mata Ayana. Kalian tidak sedang bertengkar, 'kan?"tanya Toyib serius.


"Aku juga merasa ada sesuatu yang janggal pada Ayana, Yib. Dia tidak banyak bicara. Berbeda dari biasanya. Tapi kami nggak lagi ada masalah, apalagi marahan,"sahut Dimas jujur.


"Apa mungkin ada kata-kata kamu yang membuat dia tersinggung?"


"Perasaan enggak, Yib,"


Untuk sesaat, kedua orang pria itupun terdiam. Memikirkan apa kira-kira yang membuat Ayana berbeda dari biasanya.


"Mendingan kamu samperin aja sana, Dim! Jangan dibiarkan saja! Takutnya ada masalah. Tidak biasanya Ayana seperti itu,"ujar Toyib yang jadi merasa khawatir pada Ayana.


"Hum,"sahut Dimas.


Dimas beranjak dari duduknya,.lalu berjalan menuju kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, Dimas melihat Ayana duduk di tepi ranjang, meluruskan kakinya seraya memangku laptopnya. Dimas naik ke atas ranjang dan duduk di disebelah Ayana.

__ADS_1


"Apa ada yang susah?"tanya Dimas seraya melihat apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya.


"Enggak, kok. Sebentar lagi juga selesai,"sahut Ayana tersenyum tipis pada Dimas.


Dimas membuka ponselnya saat terdengar suara notifikasi pesan masuk. Untuk beberapa menit, Dimas sibuk dengan handphonenya. Sedangkan Ayana nampak sudah selesai mengerjakan tugas kuliah nya. Wanita muda itu nampak membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur. Dimas meletakkan handphonenya di atas nakas, lalu ikut berbaring miring menghadap Ayana. Menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya dengan siku yang bertumpu di atas ranjang. Pria itu memeluk Ayana dan mengecup bibir Ayana beberapa kali. Namun Ayana tidak menyambutnya seperti biasanya.


"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu? Hari ini kamu tidak banyak bicara,"ujar Dimas seraya membelai pipi Ayana.


"Enggak, kok, kak. Aku cuma merasa lelah saja,"sahut Ayana tersenyum tipis,"Aku mengantuk, kak,"ucap Ayana, kemudian memeluk Dimas.


Dimas memperbaiki posisi berbaringnya, kemudian merengkuh Ayana dalam pelukannya.


"Sepertinya dia enggan untuk mengatakan apa yang menganggu pikirannya. Sebaiknya aku tidak mendesak dia untuk mengatakan apa yang membuatnya seperti ini. Aku tanyakan jika dia terlihat sudah lebih baik saja,"gumam Dimas dalam hati, kemudian ikut memejamkan matanya.


Dimas terbangun saat tengah malam. Pria itu keluar dari kamarnya karena merasa haus. Kebetulan saat Dimas keluar dari kamarnya, Diky baru saja pulang.


"Baru pulang, Dik?"tanya Dimas.


"Iya, nih. Belum tidur, Dim?"tanya Diky balik.


"Sudah. Cuma kebangun karena haus,"sahut Dimas lalu berjalan menuju dapur.


Diky mengikuti Dimas dan duduk di salah satu kursi meja makan seraya menyandarkan tubuhnya yang terasa penat. Dimas yang menyadari Diky mengikutinya pun mengambil dua botol air mineral dari dalam lemari es,


"Nih, minum dulu! Kayaknya kamu capek banget,"ucap Dimas seraya meletakkan satu botol air mineral yang dibawanya di atas meja di depan Diky. Kemudian duduk di depan Diky.


"Thanks!"sahut Diky meraih botol air mineral itu, lalu meminumnya.


"Ngapain kalian pada ngumpul di sini tengah malam gini? Mau nungguin Pak pocong, Bu Kunti dan teman-temannya keluar?"tanya Toyib sambil menguap berjalan menuju lemari es.


"Sembarangan kamu kalau ngomong, Yib,"sahut Diky,"Oh, ya, Dim, gimana keadaan Ayana?"tanya Diky membuat Dimas mengernyitkan keningnya. Begitu pula dengan Toyib yang sedang mengambil air minum dari dalam lemari es.


"Maksud kamu?"tanya Dimas.


"Walaupun Ayana menyembunyikannya, tapi aku bisa melihat kesedihan dan kekecewaan di mata Ayana,"ujar Diky.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan, Dik,"sahut Dimas menatap Diky dengan penuh tanda tanya.


"Yang jelas kalau bicara, Dik! Aku juga tidak mengerti dengan maksud kamu,"imbuh Toyib ikut duduk di salah satu kursi meja makan.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2