
"Sudahlah! Tidak perlu memberikan alasan apapun lagi. Aku sudah tidak ingin lagi melanjutkan hubungan kita ini. Kita akhiri saja semuanya sampai di sini. Soal semua yang pernah aku berikan padamu, kamu tidak perlu mengembalikannya,"
Rasanya jantung Wulan berhenti berdetak mendengar kata-kata Diky barusan. Wulan mengangkat wajahnya, menatap Diky yang ekspresi wajahnya terlihat kecewa. Mata gadis itu nampak berkaca-kaca dan bibirnya nampak bergetar.
"Ma.. mana boleh seperti itu!"ucap Wulan tergagap. Tidak terima dengan keputusan yang dibuat sepihak oleh Diky.
"Kenapa tidak boleh? untuk apa kita melanjutkan hubungan kita, jika hati dan pikiran kita tidak sejalan?"
"Jika Abang membatalkan pertunangan ini, Abang akan membuat keluarga ku malu,"ucap Wulan menatap Diky dengan mata yang sudah berembun. Tidak terbayangkan bagaimana malunya kedua orang tuanya jika pertunangan ini sampai batal. Mereka akan menjadi guncingkan warga.
"Kenapa aku harus memikirkan kalian, jika aku tidak merasa bahagia dalam hubungan ini. Aku bukan orang naif yang akan mengorbankan kebahagiaan ku demi kebahagiaan orang lain,"
"Ta.. tapi.. Abang sudah mengambil ciuman pertamaku!"pekik Wulan dengan air mata yang sudah menetes dari pelupuk matanya. Diky sudah mengambil ciuman pertamanya, jadi Diky harus menjadi suaminya. Itulah yang ada dalam pikiran Wulan.
Diky menghela napas kasar mendengar kata-kata Wulan,"Aku tidak memaksamu saat aku mencium kamu. Kamu juga menikmatinya, bahkan membalasnya. Bukankah itu berarti kamu juga menyukainya?"tanya Diky agak meninggikan suaranya, membuat Wulan terdiam dan menunduk.
Tidak dipungkiri Wulan, Diky tidak pernah memaksanya saat Diky mencium dirinya. Bahkan entah bagaimana, Wulan malah membalasnya.
Diky menghela napas mencoba mengontrol emosinya yang sempat naik,"Nanti malam aku akan datang datang ke rumah mu. Aku akan meminta maaf pada kedua orang tuamu. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Dan aku minta maaf karena aku mencium mu. Sekarang, pulanglah!"ucap Diky dengan suara datar.
"Aku tidak mau pulang. Abang tidak bisa memutuskan hubungan ini secara sepihak,"
Wulan tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika malam ini Diky datang untuk memutuskan pertunangan mereka.
"Sudah aku bilang, hati dan pemikiran kita tidak sejalan. Untuk apa kita paksakan? Bukankah jika kita putus, kamu akan lebih bisa fokus pada kuliah kamu?"sindir Diky karena selama ini Wulan tidak mau di ajak nikah dengan alasan agar bisa fokus kuliah.
"Abang memutuskan hubungan kita hanya karena aku tidak mau menikah dengan Abang secepatnya, 'kan? Kalau begitu, aku bersedia menikah secepatnya dengan Abang,"ucap Wulan yang tidak ingin kehilangan Diky.
Di sisi lain, Wulan juga memikirkan perasaan kedua orang tuanya. Mereka sekeluarga akan malu jika Diky sampai membatalkan pertunangan mereka. Dan semua adalah karena keegoisan nya yang kukuh tidak mau di ajak menikah dengan Diky secepatnya. Karena itu, demi hubungannya dengan Diky, Wulan akan mengalah. Dan menyetujui permintaan Diky untuk menikah secepatnya.
"Maaf! Aku sudah tidak berminat lagi untuk menikah dengan kamu. Jika kamu bersedia menikah dengan aku sebelum semua ini terjadi, aku akan senang dengan jawaban mu ini. Tapi, kamu ingin menikah dengan ku setelah semua ini terjadi. Aku merasa kamu menerima lamaranku hanya karena kedua orang tua kamu. Atau mungkin karena Ayana, Dimas dan Toyib. Bukan karena kamu mencintai aku. Aku hanya ingin menikah sekali dalam hidup ku. Jadi, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak mencintai aku,"
__ADS_1
"A.. aku.. aku mencintai Abang,"ucap Wulan dengan wajah tertunduk, mata terpejam dan tangan yang mengepal. Wulan benar-benar berusaha keras untuk mengucapkan tiga kata itu. Dan akhirnya kata-kata itu bisa di ucapkan nya juga. Mungkin karena rasa takut kehilangan Diky yang membuat Wulan akhirnya bisa mengucapkan tiga kata yang selama ini sangat sulit diucapkan nya itu.
Diky tersenyum hambar melihat dan mendengar Wulan mengucapkan tiga kata itu. Sangat terlihat jika di paksakan.
"Kamu tidak perlu mengatakan kalimat yang tidak ingin kamu ucapkan. Tidak perlu takut kedua orang tua kamu marah, karena aku memutuskan pertunangan kita. Aku akan mengatakan pada kedua orang tua kamu, jika aku telah khilaf meniduri gadis lain dan aku harus bertanggung jawab pada gadis itu. Jadi, orang tuamu tidak akan marah padamu,"
Wulan mengangkat wajahnya dan menatap Diky dengan pandangan kabur karena air mata yang terus mengalir.
"Abang.. Abang meniduri gadis tadi?"tanya Wulan dengan air mata yang terus menetes.
Ada rasa sakit di hatinya saat Diky mengatakan telah khilaf dan meniduri gadis lain. Apalagi saat mengingat Diky memapah gadis yang sekitar satu jam berada di dalam apartemen bersama dengan Diky. Tidak cemburu? Tentu saja Wulan cemburu melihat tunangannya di peluk mesra oleh wanita lain. Apalagi tunangannya berdua dengan wanita lain dalam apartemen selama satu jam lebih.
"Sudahlah! Tidak perlu membahasnya lagi! Lebih baik kamu pulang!"ucap Diky yang sebenarnya dari tadi merasa tidak tega melihat Wulan menangis.
"Aku tidak akan pulang!"ucap Wulan tetap kukuh pada pendiriannya. Tidak ingin Diky membatalkan pertunangan mereka. Bagaimanapun, Wulan sudah terlanjur mencintai Diky.
"Baiklah.Jika kamu tidak mau pulang. Biar aku saja yang pergi,"ujar Diky seraya mengambil kemeja yang tadi di lemparnya asal.
"Abang ingin lari? Ingin menghindar dari masalah seperti sebulan ini? Laki-laki macam apa Abang? Dasar pengecut!"sergah Wulan berdiri menatap Diky dengan tatapan penuh amarah.
"Bukankah sudah aku katakan? Aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita lagi? Apa masih kurang jelas?"tanya Diky yang berhenti melangkahkan karena jarak dirinya berhenti dan Wulan berhenti tinggal setengah meter lagi.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
"Abang jahat! Jahat! Aku benci Abang! Aku benci Abang"pekik Wulan penuh amarah, terus memukul dada Diky seraya menangis.
Wulan merasa di gantung oleh Diky selama satu bulan ini dan sekarang Diky malah memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Padahal sudah susah payah Wulan mengucapkan mencintai Diky, bahkan sudah bersedia menikah dengan Diky. Mengubah keputusannya agar Diky tidak meninggalkan dirinya. Tapi Diky tetap saja berniat meninggal dirinya. Wulan benar-benar tidak terima dengan keputusan sepihak dari Diky.
__ADS_1
"Hentikan!"bentak Diky melempat kemejanya asal, lalu menangkap tangan Wulan yang memukuli dadanya.
"Lepaskan aku! Abang brengseek! Abang hanya ingin mempermainkan aku. Abang ingin pergi setelah mengambil ciuman pertamaku! Abang bajingan! Aku benci Abang!"pekik Wulan terus berusaha melepaskan tangannya yang di pegang Diky. Wulan sangat marah pada Diky karena merasa dipermainkan oleh Diky.
"Akkh!"pekik Wulan saat tiba-tiba Diky mendorong tubuhnya.
"Brukk"
Wulan terjatuh di sofa panjang dan Diky langsung mengungkung tubuh Wulan.
"Deg"
Jantung Wulan terasa berhenti berdetak saat tiba-tiba Diky sudah berada di atas tubuhnya. Tangis Wulan seketika berhenti. Tubuhnya terasa kaku bagai terpatri di sofa panjang itu. Mata Wulan tidak berkedip sama sekali dengan tatapan lurus menatap Diky yang berada di atas tubuhnya. Dengan wajah yang begitu dekat dengan dirinya.
"Kamu bilang aku apa tadi? Aku jahat? Brengsek? Bajingan? Aku hanya mempermainkan kamu?"tanya Diky yang benar-benar merasa sangat geram di tuduh Wulan seperti itu. Namun Wulan hanya diam seribu bahasa. Posisi mereka saat ini membuat Wulan membeku.
Diky menatap wajah Wulan yang terdiam tidak berkedip. Untuk beberapa detik mereka sama-sama terdiam. Diky menelan salivanya kasar, menatap wajah cantik dan manis Wulan yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Le.. lepaskan aku!"ucap Wulan pelan pada akhirnya.
"Kamu sendiri yang datang kemari untuk menyerahkan diri. Kenapa aku harus melepas kamu?"tanya Diky yang bahkan hembusan napasnya terasa di wajah Wulan.
"A.. Abang..."
...🌸❤️🌸...
.
Notebook :
•Naif adalah banyak tingkah, sangat bersahaja, lugu (karena kurang pengalaman), sederhana, bodoh, dan tidak masuk akal. Pengertian naif ini sebagaimana dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Seseorang yang naif biasanya memiliki sifat yang terkenal polos, lugu, dan kekanak-kanakan.
__ADS_1
.
To be continued