
Setelah melihat gaun dan sepatu yang di bawa Ayana, Hilda tidak mungkin menyuruh Ayana untuk memakai gaun yang sudah di siapkan nya. Karena gaun yang dibawa Ayana lebih bagus dari gaun yang disiapkan oleh Hilda.
"Baiklah, kamu bisa memakai gaun dan sepatu itu. Sekarang, bersiap-siap lah untuk dirias,"ucap Hilda.
"Baik,"sahut Ayana.
"Eh, tunggu!"ucap Hilda saat Ayana menyelipkan anak rambutnya di telinga. Hilda melihat cincin yang dipakai Ayana. Wanita paruh baya itu meraih jemari tangan Ayana.
"Dari mana kamu mendapatkan cincin ini?"tanya Hilda yang sebagai sosialita sangat tahu jika cincin yang dipakai Ayana adalah cincin berlian.
"Kakak yang memberikannya padaku,"sahut Ayana.
"Dari mana dia mendapatkan uang untuk membelikan kamu gaun, sepatu, dan cincin ini?"tanya Hilda yang sudah tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Sungguh penasaran dengan cincin, gaun dan sepatu yang dimiliki Ayana.
"Jika mama ingin tahu, mama tanya sendiri aja sama kakak,"sahut Ayana.
"Ya sudah. Bersiaplah untuk dirias,"ucap Hilda.
Melihat gaun, sepatu, dan cincin yang dipakai Ayana, Hilda pun mengurungkan niatnya untuk mengirimkan pakaian untuk Dimas.
Bening yang dari tadi mendengarkan percakapan calon adik ipar dan calon ibu mertuanya itu semakin penasaran. Mengira yang dimaksud kakak oleh Ayana adalah Nando. Bening memang tidak mengetahui jika Ayana sudah menikah. Karena Nando merasa malu memiliki adik ipar yang berprofesi sebagai sales pakaian keliling. Begitu pula dengan Hilda. Sehingga keduanya enggan memberitahukan pada Bening jika Ayana sudah menikah.
Sepuluh menit sebelum acara di mulai, Hilda, Bening dan Ayana akhirnya selesai juga dirias. Bening merasa iri melihat Ayana yang begitu cantik dan elegan dengan riasan yang terlihat natural yang disesuaikan dengan warna gaun yang dikenakan oleh Ayana.
Pintu kamar itu terbuka dan ibu Bening pun muncul. Bening hanya didampingi oleh ibunya. Karena memang keluarga hanya tinggal ibunya saja. Tak lama kemudian, dari pintu yang dibuka lebar itu, Geno pun muncul.
"Sudah selesai?"tanya Geno. Pria paruh baya itu terdiam saat melihat Ayana yang terlihat sangat cantik. Namun tidak berani memuji Ayana, karena tidak enak hati dengan Bening yang kalah cantik dengan Ayana. Padahal hari ini adalah hari pernikahan Bening. Bukankah yang seharusnya terlihat paling cantik adalah pengantin wanita?
"Sudah, pa,"sahut Hilda seraya merapikan gaun Bening.
"Tok! Tok! Tok!"
__ADS_1
Suara pintu yang di ketuk membuat semua orang menatap ke arah pintu. Dimas berdiri di depan pintu. Bening nampak terkejut melihat kehadiran Dimas. Pria itu terlihat tampan dan berkarisma, memakai baju dengan warna yang senada dengan gaun yang dikenakan Ayana.
Dimas sempat terkejut saat melihat Bening, namun pria itu segera mengalihkan pandangannya ke arah istrinya. Pria itu nampak terpana saat menatap Ayana. Dengan senyum tipis di bibirnya, pria tampan itu perlahan berjalan menghampiri Ayana.
'Kamu cantik sekali,"ucap Dimas meraih jemari tangan Ayana, lalu mengecupnya. Semua mata yang ada di ruangan itu pun nampak sangat kagum melihat pasangan yang terlihat sangat serasi dan juga mesra itu.
Bening mengepalkan tangannya melihat Dimas yang nampak mengagumi Ayana, mengecup punggung tangan Ayana di hadapan semua orang. Bahkan terang-terangan memuji kecantikan Ayana di depan semua orang. Dan Bening juga baru menyadari jika baju yang dikenakan Dimas berwarna senada dengan gaun yang dikenakan oleh Ayana.
"Oh, iya. Kami belum mengenalkan Dimas pada kalian. Dimas adalah suami Ayana. Kami belum mempublikasikan pernikahan Ayana dan Dimas karena menunggu Ayana menyelesaikan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi,"ucap Geno membuat Bening semakin terkejut.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖? 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖?"gumam Bening dalam hati. Tidak rela rasanya Dimas telah menikah.
"Ayo kita ke ballroom hotel. Waktu akad nikahnya akan segera dilakukannya. Nando sudah ada di sana, 'kan, pa?"tanya Hilda.
"Iya,"sahut Geno.
Satu persatu orang keluar dari kamar itu. Yang berjalan paling depan adalah Bening. Dimas berjalan di belakang Geno dan Hilda seraya memeluk pinggang Ayana posesif.
"Cup"
"Kamu terlalu cantik. Rasanya aku ingin membawa kamu ke kamar saja dari pada ke acara pesta,"ucap Dimas berbisik pelan.
"Apa jika aku cantik, kakak bisa jatuh cinta padaku?"tanya Ayana membuat Dimas terdiam. Pria itu, hanya memeluk erat pinggang Ayana, seolah takut kehilangan. Dimas merasa muak dengan kata cinta. Satu kata yang telah menghancurkan karir dan hampir menghabiskan seluruh harta yang susah payah dikumpulkannya.
Sedangkan Ayana juga terdiam. Tidak sepatah kata pun lagi yang keluar dari bibirnya. Kedua tangannya mengepal. Pria yang sudah resmi menjadi suami sah nya di mata hukum dan agama itu selalu diam jika ditanya soal cinta. Entah apa arti dirinya di mata pria itu.
Nando menyambut kedatangan Bening dengan wajah yang sumringah. Bagi Nando, malam ini Bening adalah wanita tercantik di tempat itu. Ibu Bening membantu Bening duduk di samping Nando. Setelah itu duduk di sebelah Bening.
Geno dan Hilda duduk di sebelah Nando, sedangkan Ayana dan Dimas duduk di depan Hilda dan Geno di samping pak penghulu. Mengelilingi meja yang berbentuk persegi panjang itu.
"Baiklah, bisa kita mulai acaranya?"tanya Pak penghulu menatap orang-orang yang duduk mengelilingi meja itu.
__ADS_1
"Silahkan, Pak!"ucap Geno.
Saat Pak penghulu memulai acara akad nikah itu, Ayana jadi teringat saat dirinya dan Dimas menikah sekitar tiga bulan yang lalu. Saat itu, Ayana bahkan menodongkan pisau di lehernya sendiri agar Dimas mau menikahi dirinya. Sungguh sangat konyol.
Berbeda jauh dengan pernikahan Nando dan Bening saat ini. Semuanya disiapkan secara matang. Dari, tempat, pakaian dan juga tamu undangan, semua sudah direncanakan.
Ayana tertunduk dengan wajah sedih. Kedua tangan gadis itu berada di atas pahanya sendiri, meremas gaun yang dikenakannya. Mengingat betapa memalukannya dirinya waktu itu. Memaksa seorang pria yang tidak mencintainya untuk menikahi dirinya.
Dimas dari tadi lebih fokus pada Ayana dari pada acara yang sedang berjalan. Melihat istrinya tertunduk dengan wajah sedih, Dimas pun meraih tangan Ayana dan menggenggamnya. Pria itu menarik lembut tangan Ayana ke atas pahanya dan mengelus punggung tangan Ayana dengan lembut.
"𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙝 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞?"gumam Dimas dalam hati.
Bening sesekali mencuri pandang pada Dimas yang lebih banyak memperhatikan Ayana dari pada acara akad nikah yang sedang berlangsung. Ada tatapan tidak suka bercampur iri di mata wanita yang pernah menjadi cinta pertama Dimas itu. Tidak rela Dimas dimiliki oleh wanita lain. Tapi dirinya malah menikah dengan pria lain.
Bening benar-benar tidak suka melihat Dimas bersama perempuan lain. Apalagi saat ini sangat terlihat jelas jika Dimas sangat perhatian pada Ayana.
Setelah acara akad nikah selesai, Nando dan Bening pun naik ke pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Sedangkan Dimas merangkul Ayana ke arah tempat hidangan yang tersedia.
"Makan dulu, yuk! Kamu belum makan malam,"ajak Dimas.
"Aku nggak lapar, kak,"sahut Ayana tanpa semangat.
"Kalau begitu, kamu tunggu di sini, sebentar,"ucap Dimas, kemudian mengambilkan makanan untuk mereka. Dimas hanya mengambil satu piring makanan dan ingin memakannya berdua dengan Ayana. Karena sepertinya Ayana benar-benar malas melakukan apapun, bahkan untuk berbicara dengan dirinya.
Ayana duduk diam di tempat Dimas meninggalkannya. Seorang pemuda nampak memperhatikan Ayana. Pemuda itu perlahan mendekati Ayana.
...🌟"Saat perasaan tidak terbalaskan, kala perjuangan di abaikan, maka, suatu hari, dia yang mencintai pun akan memilih untuk pergi."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued