SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
33. Tinggal Dengan Kakak


__ADS_3

"Assalamu'alaikum! Bapak pulang!"ucap Pak Parman seperti biasanya. Selalu heboh dan tetap bersemangat walaupun sudah seharian bekerja.


"Wa'alaikumus salam,"sahut tiga orang perempuan dari dalam rumah yang selalu membuat rasa lelah Pak Parman jadi hilang.


"Eh, anak gadis bapak yang satunya pulang juga,"ujar Pak Parman saat melihat Ayana. Tiga orang perempuan itu kemudian satu persatu menyalami Pak Parman.


"Bapak apa kabar?"tanya Ayana tersenyum manis melihat pria paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri itu.


"Baik, bapak sehat,"ujar Pak Parman seraya tersenyum menepuk-nepuk pelan kepala Ayana. Entah mengapa Pak Parman merasa lega saat melihat Ayana baik-baik saja. Mungkin karena Pak Parman sudah menganggap Ayana seperti putrinya sendiri.


"Bapak bawa apa?"tanya Wulan seraya meraih kantong plastik yang dibawa Pak Parman.


"Baunya seperti kue putu, nih,"sahut Bu Lastri yang mencium aroma wangi dari kue yang dibawa oleh Pak Parman.


"Penciuman ibu benar-benar tajam,"ujar Pak Parman terkekeh kecil. Kemudian ikut duduk bersama tiga perempuan yang yang mulai mengambil kue putu.


"Bapak senang melihat kamu baik-baik saja. Dari kemarin kami sangat khawatir karena tidak tahu tentang kabar kamu,"ujar Pak Parman jujur adanya.


"Maaf, Pak, ibu, Wulan. Karena aku telah membuat kalian jadi khawatir. Aku nggak tahu handphone aku yang kemarin kemana. Mau menghubungi kalian, aku nggak hafal nomor Wulan. Mau kesini juga belum ada kesempatan,"ujar Ayana yang tidak sepenuhnya bohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur.


Ayana memang tidak hafal nomor telepon Wulan, karena itu tidak bisa menghubungi Wulan. Namun soal tidak ada kesempatan untuk mengunjungi keluarga itu adalah bohong. Yang benar adalah Ayana masih trauma untuk keluar rumah karena insiden waktu itu. Bahkan tadi saja Ayana masih ketakutan saat melewati gerbang kampung tempat Dimas mengontrak, sekaligus kampung tempat tinggal nya sekarang.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja,"ujar Bu Lastri mengelus kepala Ayana. Ayana pun tersenyum lembut pada Bu Lastri.


"Kamu bakal tinggal di sini lagi, 'kan Ay?"tanya Wulan sambil mengunyah makanan nya.


"Maaf, Lan! Aku tidak bisa tinggal di sini lagi,"ucap Ayana tertunduk menghela napas berat.

__ADS_1


Mana mungkin Ayana tinggal bersama keluarga Pak Parman lagi, sedangkan dirinya tidak memiliki uang untuk membantu membeli sayuran atau sembako untuk keluarga Pak Parman. Sedangkan Ayana tahu jika keluarga Wulan hidup sederhana. Motor yang dipakai Pak Parman adalah motor tua. Sedangkan motor yang dipakai Wulan juga cuma motor matic second.


Penghasilan Pak Parman adalah tiga juta perbulan dibantu Bu Lastri yang kadang mencuci dan menggosok baju tetangga. Mana mungkin Ayana menambah beban keluarga itu dengan tinggal bersama mereka tanpa memberikan apa-apa. Itulah yang ada dalam pikiran Ayana.


"Kenapa? Apa orang tua kamu tidak mengijinkan kamu tinggal di sini?"tanya Wulan terlihat sedih, begitu pula dengan Bu Lastri dan Pak Parman.


"Aku belajar hidup mandiri bersama dua orang kakakku. Kakakku bekerja dan aku dirumah bersih-bersih, beres-beres rumah dan memasak seperti yang ibu ajarkan padaku. Terimakasih, ya, Bu! Selama aku di sini, ibu mengajari aku banyak hal. Apa yang ibu ajarkan padaku kemarin, sekarang sangat berguna bagi ku,"ucap Ayana tersenyum cerah seraya memegang tangan Bu Lastri.


"Syukurlah! Ibu merasa senang jika apa yang ibu ajarkan bisa bermanfaat buat kamu,"ucap Bu Lastri tersenyum lembut pada Ayana. Mengelus kepala Ayana dengan perasaan haru.


"Jadi sekarang kamu tidak tinggal bersama orang tua kamu lagi, Ay?"tanya Pak Parman.


"Nggak, Pak. Aku tidak mau lagi tinggal bersama mereka. Mereka tidak pernah peduli padaku. Aku senang bisa tinggal di sini bersama kalian. Tapi aku ingin belajar hidup mandiri dengan kakakku,"ujar Ayana.


Jika di disuruh memilih tinggal di keluarga Pak Parman atau bersama Dimas dan Toyib, sebenarnya Ayana tidak bisa memilih. Karena Ayana merasa sama nyamannya tinggal dengan keluarga Pak Parman dan Dimas serta Toyib. Namun yang jadi pertimbangan nya adalah, jika dirinya tinggal bersama dengan keluarga Pak Parman maka dirinya akan menambah beban keluarga ini.


Sedangkan jika tinggal bersama Dimas dan Toyib, mereka saling menguntungkan. Dimas dan Toyib merasa terbantu karena Ayana selalu membersihkan rumah dan memasak untuk keduanya sehingga mereka tidak perlu capek-capek bersih-bersih dan memasak.Dan dirinya mendapatkan tempat tinggal sekaligus masih bisa melanjutkan sekolah. Saling menguntungkan bukan?


"Terimakasih, bapak, ibu, Wulan,"ucap Ayana penuh rasa haru dan bahagia,"Ibu, boleh tidak aku minta resep masakan ibu?"tanya Ayana ragu.


"Tentu saja boleh. Mau resep masakan apa? Nanti ibu kasih resep nya. Mau resep kue juga boleh. Ibu bisa bikin kue sedikit-sedikit,"ujar Bu Lastri dengan senyuman di bibirnya.


"Terimakasih, Bu!"ucap Ayana seraya memeluk Bu Lastri penuh rasa bahagia.


"Ya, sudah. Ayo kita memasak untuk makan malam!"ucap Bu Lastri menatap Wulan dan Ayana bergantian.


"Siap! Laksanakan, bu!"ucap Ayana dan Wulan kompak sambil memberi hormat pada Bu Lastri. Kemudian mereka semua tertawa bersama.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kalian masak yang enak. Bapak mau mandi biar wangi,"ujar Pak Parman kemudian bangkit dari duduknya.


"Duuttt"


Saat bangun dari duduknya, Pak Parman tiba-tiba kentut.


"Bapakk!"teriak Bu Lastri, Wulan, dan Ayana bersamaan langsung menutup hidung mereka.


"Maaf! Kelepasan!"teriak Pak Parman yang langsung kabur, tidak ingin di keroyok tiga perempuan itu.


Malam harinya mereka berempat pun makan bersama seperti dulu. Setelah makan malam, Ayana meminta resep masakan pada Bu Lastri. Ayana pun mencatat beberapa macam resep masakan yang diketahui Bu Lastri. Bu Lastri juga mengajarkan bagaimana cara memasak bahan masakan yang berbeda-beda dan durasi memasaknya. Ayana merasa sangat senang, sedangkan Wulan juga ikut mendengarkan apa yang diajarkan oleh ibunya pada Ayana.


"Ay, apa kamu senang bisa tinggal bersama kakakmu?"tanya Wulan saat mereka sudah masuk ke dalam kamar. Masih merasa khawatir pada Ayana.


"Aku senang, kok. Apalagi saat melihat mereka memakan makanan yang aku masak dengan lahap. Rasanya semua rasa lelahku hilang,"jawab Ayana dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Sepertinya kamu memang sangat senang tinggal bersama kakakmu. Aku sepertinya tidak perlu mengkhawatirkan kamu lagi,"ujar Wulan yang merasa berlebihan mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku!"ucap Ayana memeluk Wulan.


"Apa kamu akan sering-sering kemarin?"tanya Wulan melerai pelukan mereka.


"Akan aku usahakan. Asal diijinkan kakakku, aku akan kesini,"ujar Ayana masih dengan senyum di bibirnya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2