
Dimas melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ayana yang sedang di boncengnya memeluk perut Dimas dengan erat. Menyandarkan kepalanya di punggung lebar Dimas. Setelah setengah jam lebih berkendara, akhirnya rumah kedua orang tua Ayana pun terlihat.
"Kalian sudah datang? Ayo, masuk!"ucap Hilda tersenyum lebar menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Dimas dan Ayana mencium punggung tangan Hilda. Setelah itu, Hilda pun merangkul pundak putrinya, berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hari ini spesial. Karena itu, hari ini yang memasak adalah mama sendiri. Mama harap, kalian menyukai masakan mama. Walaupun Dimas sudah terbiasa dengan masakan Ayana,"ujar Hilda yang hari ini memang sengaja memasak sendiri untuk hidangan makan malam mereka.
"Benarkah? Aku sudah lama sekali tidak makan masakan mama,"sahut Ayana yang merasa senang sekaligus terharu.
"Maaf! Selama ini mama tidak memberikan perhatian yang seharusnya mama berikan kepada kamu. Mama terlalu sibuk mencari uang. Hingga mama menelantarkan kamu dan melalaikan tugas dan tanggung jawab mama untuk mendidik dan memberikan perhatian padamu,"sahut Hilda penuh sesal.
"Sudahlah, ma! Itu semua sudah berlalu. Aku sudah melupakan nya. Yang penting, sekarang mama sudah berubah dan menjadi seperti yang aku harapkan,"ucap Ayana kemudian memeluk mamanya.
"Eh, kenapa malah berpelukan di situ? Ayo, cepat kesini! Papa ingin segera makan malam. Sudah lama papa tidak makan masakan mama,"ujar Geno yang melihat Ayana dan Hilda malah berpelukan di depan pintu masuk ruangan makan.
"Ah, iya, pa. Ayo, ma! Aku juga sudah tidak sabar untuk memakan masakan mama. Sayang sekali bang Toyib lagi sibuk dengan barang dagangannya yang baru di belinya tadi dan babang Diky belum pulang dari bekerja,"ujar Ayana.
Ketiga orang itu pun kemudian melanjutkan langkah kaki mereka ke arah meja makan. Di mana Geno, Nando, dan Bening sudah duduk lebih dulu. Dan jangan tanyakan bagaimana reaksi Bening saat melihat Dimas. Wanita hamil itu malah menatap Dimas secara terang-terangan. Tanpa malu sedikit pun. Membuat semua orang yang ada di meja makan itu merasa muak dan jengah kepada Bening. Jika saja Bening tidak sedang mengandung, pasti sudah lama wanita itu di tendang dari rumah Geno.
"Ayo, dimakan! Semoga rasa masakan mama tidak mengecewakan kalian. Maklum, sudah lama tidak memasak,"ujar Hilda seraya mengambilkan nasi untuk Geno.
"Aku rasa, masakan mama pasti rasanya tidak jauh beda dengan masakan Ayana,"sahut Dimas.
Ayana pun mengambilkan nasi untuk Dimas. Bening mengulurkan tangannya hendak mengambil piring Nando untuk diisi nasi. Namun pria itu mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar Bening tidak mengambil piringnya.
"Tidak perlu! Jaga saja kandungan kamu baik-baik! Biar mama yang.mengbilkan nasi untuk ku,"ucap Nando membuat Bening mengurungkan niatnya mengambilkan nasi untuk Nando.
"Nggak mau, ya sudah! Memangnya aku suka melayani kamu? Aku juga terpaksa melakukannya"gumam Bening dalam hati.
"Jika bukan karena anak itu, sudah aku tendang kamu jauh-jauh dari rumah ini dan dari hidupku. Wanita murahan yang bersedia membuka paha untuk semua pria hanya untuk kesenangan, lebih hina dari wanita penghibur,"gumam Nando dalam hati yang merasa jijik pada Bening.
Semua orang makan dengan tenang. Setelah selesai makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
"Dim, kamu benar-benar yakin ingin berhenti dari perusahaan kita?"tanya Geno untuk yang kesekian kalinya.
Geno merasa tidak rela jika menantunya itu berhenti bekerja di perusahaannya. Semenjak Dimas memimpin perusahaan nya, menantunya itu telah membuat perusahaannya berkembang dengan pesat dan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Selama perusahaan Geno berdiri, perusahaan Geno tidak pernah mendapatkan laba yang begitu besar seperti ketika perusahaan Geno dipimpin oleh Dimas beberapa bulan ini.
"Iya, pa. Aku ingin berhenti. Sudah beberapa bulan ini, aku dan Ayana tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Apalagi, sebentar lagi Ayana akan masuk kuliah,"sahut Dimas.
"Sudah diterima, ya?"tanya Geno antusias.
"Iya, pa. Tadi sudah ada pemberitahuan resminya,"sahut Ayana.
"Kamu jadi ngambil jurusan bisnis manajemen, Ay?"tanya Nando.
"Jadi, kak. Kalau susah, tinggal suruh kak Dimas buat ngerjain tugasnya,"sahut Ayana kemudian terkekeh.
"Mama boleh seperti itu!"sahut Dimas mencubit hidung Ayana gemas. Sedangkan Ayana hanya memperlihatkan deretan giginya yang rapi bak model iklan pasta gigi.
Tentu saja gerakan spontan Dimas yang terlihat mesra itu membuat Bening merasa dongkol,"Ingin sekali aku racun atau aku cakar-cakar wajahnya yang sok manis itu,"gumam Bening dalam hati, menatap Ayana penuh kebencian dengan kedua tangan yang terkepal.
"Eh, calon istri Diky mau kuliah juga, 'kan? Dia mau kuliah dimana, Ay?"tanya Hilda.
"Memangnya dia mau kuliah ngambil jurusan apa, Ay?"tanya Geno.
"Mau ngambil jurusan hukum, pa. Katanya dia ingin menjadi pengacara,"sahut Ayana.
"Dia mengambil jurusan yang tepat. Diky detektif dan dia pengacara. Pasangan yang serasi,"sahut Hilda.
"Oh, iya. Sebelum papa dan kakak kamu kembali ke kantor, bagaimana jika kita menginap di hotel di pinggir pantai?"tanya Geno menatap semua orang.
"Kapan, pa?"tanya Ayana antusias.
"Lusa Dimas libur, 'kan? Bagaimana kalau besok sore setelah Dimas pulang kita berangkat?"tanya Geno.
"Mama setuju. Biar bisa dua malam menginap di hotel,"sahut Hilda antusias.
__ADS_1
"Aku juga setuju,"sahut Nando yang juga terlihat antusias.
Jenuh rasanya berbulan-bulan berada di rumah menatap istri yang dulu di sayang dan dimanjakan. Tapi nyatanya malah mencintai orang lain yang tidak lain adalah adik ipar sekaligus mantan. Dan gilanya lagi, menghabiskan uang tabungan hanya untuk menculik adik ipar sendiri agar bisa bercinta memenuhi kebutuhan biologisnya. Sungguh, Nando merasa harga dirinya di injak-injak karena perbuatan Bening itu.
Bahkan Nando juga tahu, semenjak kejadian itu, Bening masih melakukan hubungan suami-istri dengan para pria yang disuruh Bening untuk menculik Dimas. Karena itu, Nando benar-benar merasa jijik pada Bening.
"Aku terserah Ayana saja,"sahut Dimas seraya mengelus kepala Ayana lembut.
"Aku setuju. Aku ingin melihat sunset di atas batu karang, kak,"ucap Ayana mendongakkan kepalanya menatap Dimas yang lebih tinggi darinya.
"Tentu saja. Kita akan melihat sunset di atas batu karang sesuai dengan keinginan kamu,"sahut Dimas dengan seulas senyum yang menghias bibirnya.
Bening yang melihat itupun semakin bertambah kesal,"Kapan aku bisa menyingkirkan keluarga sialan ini? Mereka sama sekali tidak menganggap aku ada. Apa di mata mereka, aku ini makhluk astral? Haruskah aku membakar rumah ini di malam hari, agar mereka semua mati?"gumam Bening dalam hati.
"Oh, iya, kalian ajak juga Toyib dan Diky, ya! Biar tambah ramai,"pinta Geno.
"Iya, pa. Nanti aku ajak mereka,"sahut Dimas.
"Kalian menginap di sini, 'kan?"tanya Hilda seraya menatap Ayana dan Dimas bergantian.
"Aku terserah Ayana saja, ma,"sahut Dimas.
"Baiklah. Malam ini kami akan menginap di sini,"sahut Ayana.
Setelah berbincang cukup lama, mereka akhirnya masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
...π"Diamku adalah tanda jika aku sudah merasa lelah dan berharap agar kamu mengerti dan menyadari kesalahanmu."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued