
Perlahan Wulan merebahkan tubuhnya diatas ranjang sederhana yang tidak terlalu berat milikinya. Tubuhnya terasa pegal-pegal karena ulah Diky tadi sore. Tubuh Wulan terasa meremang saat mengingat Diky bergerak liar di atas tubuhnya tadi.
"Astagaa! Kenapa otakku jadi mesum begini?"gumam Wulan memukul-mukul pelan kepalanya sendiri karena otaknya jadi traveling mengingat kejadian tadi sore.
"Tapi aku takut saat melihat bapak marah tadi. Aku tidak pernah melihat bapak marah seperti itu,"gumam Wulan mengingat bagaimana bapaknya memukul Diky tadi,"Aku bahkan tidak sempat mengobati luka bang Diky. Semua ini gara-gara aku. Seandainya aku tadi langsung pulang saat bang Diky menyuruh aku pulang, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ini semua karena aku keras kepala,"gumam Wulan penuh sesal.
Wulan menjadi sedih saat mengingat wajah Diky yang memar dan bibirnya yang pecah karena dipukul oleh bapaknya. Dan semua itu karena dirinya yang tidak mau pergi dari apartemen Diky, hingga terjadi kejadian yang seharusnya tidak terjadi.
"Tapi, jika sore tadi bang Diky tidak khilaf, apa bang Diky benar-benar akan memutuskan pertunangan kami? Tapi sepertinya, tadi bang Diky benar-benar serius dengan keputusannya. Aku bahkan sekarang bingung. Harus sedih atau bahagia,"gumam Wulan menghela napas panjang.
Di satu sisi Wulan merasa senang karena hubungannya dan Diky tidak jadi putus. Di sisi lain, Wulan merasa sedih karena kesucian yang harusnya dipersembahkannya untuk malam pertama malah sudah di ambil lebih dulu oleh Diky. Namun walaupun di sesali sekalipun, juga tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.
*
Di sisi lain, Diky melajukan mobilnya menuju kontrakan Dimas. Bibirnya terasa perih karena pecah di pukul Pak Parman tadi.
"Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri saat bersama Wulan. Dan sekarang, setelah menidurinya, aku yakin akan semakin sulit bagiku untuk mengendalikan diri saat bersama dengan dia. Sepertinya aku lebih baik tidak menemui dia sampai tiba hari pernikahan kami,"gumam Diky membuang napas kasar.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Diky tiba di kontrakan Dimas. Dulu, Diky memilih pulang ke kontrakan Dimas karena kesepian tinggal di apartemen sendirian. Diky juga lebih suka tinggal di kontrakan Dimas karena bisa makan masakan rumahan Ayana yang cocok dengan lidahnya. Namun sekarang ditambah satu lagi alasan kenapa Diky enggan pulang ke apartemen nya. Karena jika pulang ke apartemennya, Diky takut semakin terbayang-bayang saat bercinta dengan Wulan. Sedangkan lawan mainnya sekarang belum halal.
Diky memasuki rumah dan melihat Ayana Dimas dan Toyib sedang sibuk dengan pasar saham.
"Babang sudah pul.... "Ayana membulatkan matanya saat melihat ada yang salah dengan wajah Diky,"Ehh, kenapa wajah babang babak belur begitu?"tanya Ayana yang heran melihat Diky babak belur.
Dimas dan Toyib pun ikut terkejut melihat wajah Diky. Selama tinggal bersama mereka, mereka tidak pernah melihat Diky terluka sedikitpun. Tapi kali ini wajah Diky terlihat mengenaskan.
"Kamu kenapa, Dik?"tanya Dimas.
"Siapa yang bisa membuat kamu babak belur seperti itu?"tanya Toyib.
"Aku dipukul Pak Parman,"sahut Diky seraya menghempaskan tubuhnya di sofa dengan wajah lesu.
"Kok, bisa? Aku sudah lama mengenal bapak, aku nggak pernah lihat bapak marah, loh! Bapak itu orang yang sabar dan humoris. Babang buat salah apa sampai bisa membuat bapak jadi marah dan memukuli babang sampai seperti itu?"tanya Ayana yang rasanya tidak percaya jika yang memukuli Diky adalah Pak Parman. Orang yang menurut Ayana sabar dan humoris.
Namun, bukankah sabar itu ada batasnya? Mana ada orang tua yang tidak marah saat putri mereka diambil kesuciannya sebelum dinikahi secara sah.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu sudah kawin duluan sebelum menikah! Makanya kamu di hajar Pak Parman"tebak Toyib.
"Yahh.. begitulah,"sahut Diky menghela napas panjang.
"Astagaa.. Dik! Kamu benar-benar melakukannya?"tanya Dimas dengan ekspresi tidak percaya.
"Jadi.. babang sudah kika-kiku duluan sama Wulan?"tanya Ayana tanya Ayana dengan ekspresi terkejut.
"Sudah, sana! Ambilkan es batu dan obat untuk babang kamu!"titah Dimas seraya mengusap kepala Ayana lembut. Takut Ayana marah pada Diky, mengingat Wulan adalah sahabat Ayana.
"Iya,"sahut Ayana. Mau tak mau menuruti perintah suaminya dan segera beranjak mengambil apa yang dikatakan oleh Dimas.
"Wahh.. parah kamu, Dik! Main garap aja anak orang. Sangking udah ngebet banget pengen kawin, jadi main garap aja,"ujar Toyib geleng-geleng kepala.
"Ya, gimana? Aku sudah menghindari dia biar aku nggak lost control. Tapi, dia malah nyamperin aku di apartemen. Aku putusin dia, dia malah nggak terima. Aku suruh pulang dia nggak mau. Ya, sudah, aku garap aja,"sahut Diky santai.
"Haiss.. kamu ini, Dik! Kami kemarin, 'kan, sudah bilang, kalau sebaiknya kamu itu break dulu. Bukan menghindar dan menggantung Wulan seperti itu,"ujar Diky.
"Di gantung itu nggak enak, babang!"sahut Ayana yang membawa es batu dan obat dan air hangat.
"Aku cuma pengen tahu perasaan dia. Sebenarnya dia mencintai aku atau tidak. Selama ini aku kesulitan memastikan perasaan dia terhadap aku. Dia sangat pintar menyembunyikan perasaannya,"sahut Diky.
"Ini sudah pelan-pelan babang. Nggak sesakit Wulan yang babang ambil kesuciannya,"sahut Ayana dengan wajah kesal seraya membersihkan wajah Diky dengan air hangat.
"Babang, 'kan, nggak sengaja, Ay! Khilaf, Ay! Khilaf,"bela Diky.
"Ohh.. khilaf, ya? Lalu babang main berapa ronde?"tanya Ayana terdengar datar seraya mengompres luka Diky dengan es batu.
"Cuma tiga ronde, doang. Mau nambah kasihan sama Wulan. Udah lemes duluan,"sahut Diky enteng.
"Apa? Tiga ronde? Babang khilaf apa kenakan, lalu ketagihan?"tanya Ayana dengan nada yang lumayan tinggi dan mata yang menatap tajam pada Diky.
Dimas memijit pelipisnya sendiri mendengar jawaban Diky. Sedangkan Toyib mengulum senyum menahan tawa.
"Tiga-tiganya, Ay!"sahut Diky menciut melihat tatapan tajam Ayana padanya.
__ADS_1
"Dasar babang mesum! Harusnya bapak membuat muka babang lebih babak belur lagi dari ini!"Ayana memukuli dada Diky karena merasa kesal.
"Ampun, Ay! Babang benar-benar khilaf,"ucap Diky mencoba melindungi diri dari pukulan Ayana.
"Sudah! Sudah! Aku menyuruh kamu buat mengobati luka babang kamu, Ay. Bukan memukulinya,"ujar Dimas menarik Ayana kearahnya.
"Habisnya, babang bikin sebel. Masa iya, khilaf sampai tiga ronde? Yang ada itu, sih, keenakan!"ketus Ayana dengan wajah kesal.
"Ya, karena keenakan, jadinya khilaf, Ay,"sahut Diky membela diri.
"Dasar mesum!"ketus Ayana.
"Lalu, kenapa tiba-tiba Wulan nyamperin kamu di apartemen kamu? Bukannya dia tidak tahu kalau kamu punya apartemen?"tanya Toyib serius.
"Aku melihat dia pergi ke toko buku. Dan aku kebetulan akan mengantar teman cewek ku pulang karena motornya mogok. Aku sengaja panas-panasi dia, biar tahu dia cemburu atau tidak. Tapi dia seperti tidak cemburu. Aku di peluk itu cewek, dia diam aja. Dia cuma mengikuti kami.Temen cewek aku berada dalam apartemen aku selama satu jam lebih. Karena temanku itu mules sampai lemes dan akhirnya tidur dulu di apartemen ku. Tapi dia juga tidak melabrak aku. Dia cuma diam di depan unit apartemen ku. Setelah sekitar satu jam aku di apartemen ku, aku kira dia sudah pergi, nyatanya dia duduk di lobby. Setelah aku mengantar temanku naik taksi dan aku kembali ke unit apartemenku. Tanpa ku duga, dia nyamperin aku ke unit apartemen aku. Menanyakan apa aku masih marah padanya atau tidak. Karena aku menghilang tanpa kabar selama satu bulan. Aku mengatakan ingin putus dari dia karena hati dan pemikiran kami berbeda. Tapi dia tidak mau. Malah mengatakan mencintai aku, tapi dengan nada dan ekspresi terpaksa. Membuat aku merasa semakin kecewa padanya. Aku suruh dia pulang juga nggak mau. Malah histeris memukuli aku karena tidak terima aku putuskan. Dan itu malah membuat aku jadi khilaf,"jelas Diky panjang lebar.
"Lalu, bagaimana kelanjutan hubungan kalian?"tanya Dimas. Sedangkan Ayana sudah kembali mengompres wajah Diky dengan batu es.
"Kami akan menikah secepatnya. Tapi kedua orang tua Wulan masih merundingkan harinya.
"Kita ambil hikmahnya aja dari kejadian ini. Walaupun harus dengan cara yang salah seperti ini, tapi akhirnya kalian akan secepatnya menikah,"sahut Dimas.
"Sekarang kamu senang, 'kan? Sebentar lagi bisaa kawin tanpa ada yang melarang,"celetuk Toyib tanpa dosa.
"Issh . Abang ini ngomong kawin mulu. Jangan-jangan, Abang juga ngebet kawin kayak babang,"celetuk Ayana.
"Kamu benar Ay. Dia, 'kan, udah lama nggak kawin. Jangan-jangan, dia juga ngebet kawin. Aku saja, begitu mencoba sekali langsung ketagihan. Apalagi dia yang sudah lama nggak di servis. Pasti ngebet mau kawin juga,"celetuk Diky.
"Haiss.. otak kalian para pria memang mesum,"gerutu Ayana seraya mengobati luka Diky.
"Auwh! Pelan-pelan, Ay! Sakit ini!"keluh Diky karena Ayana terlalu menekan lukanya.
"Syukurin!"ketus Ayana.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued