SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
56. Siapa Bapaknya?


__ADS_3

Malam sudah menyapa. Ayana sudah masuk ke kamar bersama Wulan. Wulan nampak sudah terlelap walaupun malam belum terlalu larut. Namun Ayana belum juga bisa memejamkan matanya. Gadis itu menatap layar handphonenya, berharap Dimas menghubungi dirinya.


"Apa yang aku harapkan dari orang yang tidak mencintai aku. Orang yang hanya menganggap aku adik. Dan mungkin sekarang sudah tidak menganggap aku adik lagi. Mungkin dia sekarang membenci aku karena aku sudah memaksa dia untuk menikahi aku,"gumam Ayana lirih. Tanpa terasa air matanya menetes.


Membayangkan hubungan nya dengan Dimas tidak akan lama lagi membuat dada Ayana terasa sesak.


Toyib baru saja pulang dari membeli makanan. Dimas sudah menyiapkan nasi dan peralatan makan. Pria itu nampak sudah menunggu kedatangan Toyib.


"Kamu beli lauk apa, Yib?"tanya Dimas seraya mengambil kantong plastik yang dipegang oleh Toyib.


"Adanya tinggal semur ayam, tahu, tempe dan sambal saja. Yang lain sudah pada habis. Maklum, sudah agak malam,"sahut Toyib.


Dimas menghela napas mendengar jawaban dari Toyib. Mengeluarkan makanan yang di beli Toyib.


"Ya sudah. Ayo makan!"ajak Dimas. Pria itu hanya mengambil tahu, tempe dan sambal saja.


"Kenapa kamu tidak makan ayamnya?"tanya Toyib saat melihat lauk yang di ambil Dimas hanya tahu dan tempe saja..


"Kamu, 'kan, tahu! Aku tidak suka olahan ayam, jika yang memasaknya bukan Ayana,"sahut Dimas.


Awalnya Dimas tidak berniat memakan olahan daging ayam yang dimasak oleh Ayana. Karena sebenarnya Dimas selalu mual jika memakan olahan daging ayam. Namun entah mengapa, saat itu Dimas begitu tergiur melihat daging ayam yang dimasak oleh Ayana. Dimas mencoba memakan olahan daging ayam yang di masak Ayana. Dan setelah memakan olahan daging ayam yang dimasak oleh Ayana, Dimas malah suka dan tidak merasa mual. Entah bagaimana cara gadis itu mengolah daging ayam nya, sehingga Dimas tidak merasa mual saat memakan daging ayam masakan Ayana.


"Ah, iya. Aku lupa. Memangnya apa bedanya ayam yang dimasak Ayana dan orang lain? Kenapa hanya olahan daging ayam yang di masak oleh Ayana yang bisa kamu makan?"tanya Toyib penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya ayam yang dimasak oleh Ayana tidak bau amis seperti yang di masak oleh orang lain. Dan yang pasti, perutku tidak terasa mual saat makan olahan ayam yang dimasak oleh Ayana. Kalau yang di masak oleh orang lain, selalu membuat perutku terasa mual,"sahut Dimas.


"Jangan-jangan Ayana memasukkan jampi-jampi di masakannya agar kita selalu ketagihan masakkan nya dan jadi tidak suka dengan masakan orang lain,"kekeh Toyib bercanda.

__ADS_1


"Iya. Kita memang di jampi-jampi sama dia. Makanya jadi cuma suka masakan dia saja,"timpal Dimas membuat Toyib semakin tertawa.


"Dim, sudah empat hari Ayana menginap di rumah Pak Parman. Kenapa tidak kamu jemput?"tanya Toyib nampak serius.


"Biarkan saja. Mumpung lagi libur. Kalau dia ingin, nanti juga pulang sendiri,"sahut Dimas enteng.


"Mana boleh seperti itu. Tidak baik seorang istri menginap di rumah orang lain tanpa suaminya. Apalagi sampai berhari-hari. Dim, Ayana itu masih anak-anak, masih kecil, bahkan masih polos. Dia tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi seorang istri.Kamu yang lebih dewasa.. eh, tidak, aku ralat. Kamu yang lebih tua, dan notabene adalah suaminya, seharusnya mengajari dan membimbing Ayana menjadi istri yang baik. Bukan malah membiarkan dia melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukannya. Dan kamu harus ingat satu hal, Ayana itu adalah istri kamu. Orang tuanya sudah mempercayakan Ayana padamu. Sekarang, Ayana adalah tanggung jawab kamu dunia akhirat. Bukan lagi tanggung jawab kedua orang tuanya, apalagi tanggung jawab Pak Parman,"ujar Toyib panjang lebar. Merasa kesal, jengkel dan geregetan dengan sikap Dimas yang terkesan kurang peduli pada apa yang Ayana lakukan.


"Iya..iya.. aku mengerti. Aku akan menelepon dia, agar besok dia pulang,"sahut Dimas menghela napas panjang, meraih handphonenya.


"Menelpon dia? Kamu menyuruh dia pulang dengan cara menelepon dia? Apa kamu ingin aku hajar, hah?"sergah Toyib nampak emosi.


"Lalu kamu ingin aku bagaimana?"tanya Dimas membuang napas kasar. Mencoba mengontrol emosi menghadapi sahabat nya yang bersikap seperti bapak mertua galak yang putrinya ditelantarkan.


"Jemput dia besok! Dia itu istri kamu. Bukan teman mu! Main telepon untuk menyuruh pulang. Dimana tanggung jawab kamu sebagai seorang suami?"sambar Toyib yang benar-benar merasa kesal pada Dimas.


"Habisnya kamu itu bikin aku emosi. Umur saja yang tua, tapi nggak ada dewasa dewasanya! Nggak bisa berpikir bijaksana. Punya istri cantik, kinyis-kinyis malah di biarin pergi lama. Di embat orang baru tahu rasa!"ketus Toyib kemudian pergi keluar rumah untuk menetralkan emosinya.


"Huff.. aku berasa tinggal sama bapak mertua,"gumam Dimas membuang napas kasar.


Keesokan harinya Dimas bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasanya, Dimas menyiapkan barang dagangan yang akan di bawanya.


"Kamu mau ke mana?"tanya Toyib sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Menatap Dimas yang menyusun barang dagangannya ke dalam tas.


"Mau dagang sambil nagih. Nanti sore baru jemput Ayana,"sahut Dimas masih menyusun barang-barang nya ke dalam tas.


"Berhentilah mikirin dagangan! Mending cepat-cepat jemput istri kamu sana!"ketus Toyib.

__ADS_1


"Kalau aku nggak dagang, terus istriku mau aku kasih makan apa? Rumput? Batu? Jaman sekarang rumput dan batu pun harus di beli pakai uang,"sahut Dimas membuang napas kasar.


"Ya iya lah, di beli pakai uang. Masa iya, mau di beli pakai pelukan,"sambar Toyib membuat Dimas menghela napas berkali-kali menahan emosi.


"Nah, itu tahu,"sahut Dimas masih terus menyusun barang dagangan nya.


"Tentu saja aku tahu. Tapi apa kamu nggak bisa lihat cuaca di luar sana? Di luar sana terlihat mendung. Apa kamu nggak takut jika sampai turun hujan? Kamu nggak lupa, 'kan? Kalau istri kamu punya trauma?"sergah Toyib.


Dimas yang mendengar kata-kata Toyib pun spontan melihat keluar rumah. Dan benar, cuaca nampak mendung. Walaupun di tempat Ayana berada belum tentu hujan, tapi tetap saja Dimas menjadi khawatir. Tanpa berkata apapun lagi, Dimas bergegas mengganti pakaiannya dan mengambil buku tagihan.


"Aku berangkat!"pamit Dimas bergegas keluar dari dalam rumah.


Toyib hanya bisa menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Dimas yang buru-buru berangkat.


"Dasar bodoh! Punya istri secantik Ayana malah di biarkan menginap di rumah orang lain. Kalau di embat orang, aku, 'kan, juga ikut rugi! Dimana lagi bisa dapat adik yang cantik, manis, pinter masak, perhatian dan menggemaskan seperti Ayana? Kalau adikku tersayang sampai di embat orang, benar-benar aku getok itu kepala si Dimas,"gerutu Toyib yang benar-benar kesal pada Dimas.


Dimas berjalan cepat keluar dari kampung itu dan bergegas mencari angkutan umum. Dimas naik angkutan umum dengan perasaan cemas dan khawatir. Karena melihat cuaca yang seperti akan turun hujan. Namun Dimas merasa lega saat tiba di kampung Pak Parman. Ternyata cuaca di kampung itu terlihat cerah, tidak seperti di kampung tempat dirinya mengontrak.


"Syukurlah! Cuaca disini terang,"gumam Dimas merasa lega.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2