
Toyib nampak duduk di kursi ruang tamu, memeriksa buku tagihan miliknya. Dimas mengambil remote, kemudian menyalakan televisi.
"Kamu hari ini mau berangkat, nggak, Dim?"tanya Toyib masih melihat bukunya.
"Nggak. Hari ini aku libur,"sahut Dimas.
"Hari ini kamu nggak ada tagihan?"tanya Toyib lagi.
"Ada, sih. Tapi sama ibu-ibu yang rumahnya dekat perempatan jalan di kampung Pak Parman itu. Kalau ditagih banyak alasan. Belum dapat uang lah, anaknya lagi sakit lah, uangnya ke pakai buat bayar sekolah lah. Setiap di tagih banyak alasan. Capek aku nagihnya,"sahut Dimas terlihat kesal.
"Konsumen aku juga ada yang nyebelin kayak gitu. Pas tanggal penagihan selalu beralasan sedang pergi. Mengirim video dia yang lagi dalam perjalanan ke suatu tempat sebagai buktinya tanpa merasa berdosa. Ada juga yang setiap aku mau nagih pintunya selalu tutup. Kata tetangganya sudah pergi dari pagi. Sorenya pas aku samperin, kata tetangganya belum pulang. Aku telepon nggak aktif, aku datangi pagi-pagi sekali nggak dibukain pintu. Padahal kata tetangganya orangnya ada di dalam,"ujar Toyib berkeluh kesah.
"Yah, beginilah risiko jadi sales kredit,"sahut Dimas.
Menghadapi para konsumen yang suka ngambil barang kreditan tapi malas bayar cicilan sudah biasa bagi Toyib dan Dimas. Ada yang kabur setelah ngambil kreditan banyak. Ada yang kalau ditagih lebih galak dari yang nagih. Ada pula yang bayarnya selalu mundur dari tanggal penagihan. Sampai-sampai karena keseringan mundur, cicilan yang seharusnya lunas dalam waktu lima bulan baru bisa lunas setelah satu tahun. Yah, begitulah risiko seorang sales kredit.
Kita harus tahu, bahwa apapun yang kita kerjakan pasti ada risikonya. Dan setiap pekerjaan memiliki tingkat risiko dan kesulitan yang berbeda-beda. Semakin besar pekerjaan yang kita lakukan, maka akan semakin besar pula risiko yang akan kita hadapi.
"Ya sudah, aku mau berangkat dulu,"ucap Toyib.
"Kamu nggak sholat Jum'at di sini?"tanya Dimas yang melihat Toyib bersiap-siap berangkat.
"Aku cuma nagih doang. Nggak bawa barang. Sebelum sholat Jum'at, aku akan pulang,"sahut Toyib memakai jaketnya, kemudian mengambil topinya dan memakainya.
"Abang mau kemana?"tanya Ayana yang tiba-tiba muncul.
"Mau nagih sebentar. Sebelum solat Jumat juga pulang. Kenapa? Mau dibelikan sesuatu?"tanya Toyib yang nampak sudah siap berangkat.
"Nggak ada, sih. Tapi apa Abang yakin mau berangkat dengan pakaian seperti ini?"tanya Ayana seraya mengernyitkan keningnya.
"Memangnya kenapa? Biasanya Abang juga seperti ini,"sahut Toyib,"Kenapa? Abang ganteng, ya? Cemburu kalau Abang dapat adik baru?"tanya Toyib seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Issh.. sudah narsis, genit lagi!"cibir Ayana dan Toyib malah tertawa.
"Udah, Abang mau berangkat! Mau cari duit!"ujar Toyib seraya berjalan menghampiri pintu.
"Abang beneran yakin mau berangkat kerja seperti itu?"tanya Ayana menghela napas panjang. Sedangkan Dimas menonton televisi tanpa memperhatikan keduanya.
"Memangnya kenapa, sih?"tanya Toyib merasa bingung dengan sikap Ayana.
"Abang pakai kaos, pakaian jaket, pakai topi, tapi cuma pakai celana pendek doang. Yakin mau pergi dengan pakaian seperti itu,"ujar Ayana menatap ke arah kaki Toyib membuat Dimas menoleh ke arah Toyib.
"Astaghfirullah! Abang lupa pakai celana panjang,"ujar Toyib langsung buru-buru kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Dimas yang baru menyadari penampilan Toyib pun tertawa terbahak-bahak. Pakaian atas sudah memakai jaket, bahkan topi, tapi pakaian bagian bawah hanya celana pendek. Sedangkan Ayana hanya geleng-geleng kepala.
"Belum tua sudah pikun,"ujar Dimas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sembarangan ngatain orang pikun! Aku cuma lupa,"sambar Toyib dari dalam kamar.
"Sama saja!"sahut Dimas.
Setelah Toyib berangkat, Dimas pun memanggil Ayana.
"Ay, kemari lah!"titah Dimas.
"Ada apa, kak?"tanya Ayana seraya menghampiri Dimas.
Ayana duduk di samping Dimas, dan Dimas meraih kedua tangan Ayana. Menggenggam lembut tangan Ayana.
"Ay, nanti, setelah aku selesai sholat Jum'at, bagaimana kalau kita pergi ke psikolog? Aku tidak mau kamu terus-terusan ketakutan saat hujan,"ujar Dimas lembut.
"Bukannya aku tidak mau, tapi berobat ke psikolog itu mahal, kak. Dan tidak mungkin cuma datang sekali saja. Aku sudah terlalu banyak memakai uang kakak,"sahut Ayana merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Ay. Yang penting kamu sembuh. Aku dan Toyib selalu merasa khawatir saat kami bekerja dan melihat cuaca memberi tanda-tanda akan turun hujan. Kami takut, jika suatu saat kami tidak ada di sisimu saat trauma kamu kambuh. Mau, ya, berobat?"bukuk Dimas mencoba meyakinkan Ayana untuk berobat.
"Baiklah,"sahut Ayana setuju.
Entah mengapa Ayana selalu menuruti apapun yang dikatakan oleh Dimas dan Toyib. Mungkin karena kedua pria itu selalu memberi perhatian dan kasih sayang pada Ayana yang tidak pernah Ayana dapatkan dari keluarga nya sendiri. Dan merasa selalu dilindungi oleh kedua orang pria itu.
Sedangkan saat di sekolah, Ayana nampak tidak nyaman jika didekati teman-teman lelakinya. Ayana tidak merasa nyaman dengan pria selain dengan Dimas, Toyib dan Pak Parman. Selain dengan ke tiga pria itu, Ayana akan menjauhi semua pria, termasuk teman-teman sekolahnya.
Tidak punya keinginan untuk pergi keluar rumah, dan hanya dekat dengan perempuan saja. Bahkan merasa lebih nyaman berada di dalam rumah dari pada di luar rumah.
Saat hari beranjak siang, Toyib sudah kembali ke kontrakan mereka. Pria itu nampak membawa sebuah kantong plastik.
"Abang bawa apa?"tanya Ayana saat melihat Toyib pulang membawa kantong plastik. Karena biasanya pria yang suka ngemil itu sering pulang membawa cemilan.
"Beli keripik singkong dan keripik pisang. Nih, wadahi toples sana!"ujar Toyib memberikan kantong plastik yang dibawanya pada Ayana.
"Abang ingat aja kalau cemilan di rumah tinggal sedikit,"ujar Ayana tertawa kecil menerima kantong plastik yang di berikan Toyib.
"Dimas mana?"tanya Toyib seraya melepaskan jaketnya.
"Kakak baru saja selesai mandi,"sahut Ayana seraya berjalan menuju dapur.
"Kalau begitu Abang mau mandi dulu. Mau sholat Jum'at,"ujar Toyib.
__ADS_1
"Bawa baju ganti Abang!"ujar Ayana mengingatkan.
"Iya, iya, Abang ingat,"sahut Toyib kemudian mengambil celana pendek dan kaos singlet dari kamarnya,"Tunggu aku, ya, Dim!"pinta Toyib pada Dimas yang sedang mengambil baju Koko dari lemari.
"Ya udah, cepetan!"sahut Dimas.
Ayana sedang makan keripik yang di bawa Toyib di ruang tamu sambil menonton televisi saat Dimas keluar dari kamar menggunakan sarung dan baju Koko lengkap dengan peci nya.
Ayana selalu saja terpukau saat melihat Dimas berpakaian seperti itu. Ayana merasa Dimas berkali-kali lipat lebih tampan saat berpenampilan seperti itu. Sampai-sampai tangannya yang sedang memegang keripik pisang yang sudah tinggal beberapa senti di depan mulut tidak bergerak. Karena sibuk mengagumi ketampanan Dimas.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu? Ada yang salah dengan pakaian aku?"tanya Dimas yang merasa diperhatikan Ayana. Membuat Ayana terkejut.
"Eng.. enggak kok. Cuma tambah ganteng aja,"sahut Ayana seraya memalingkan wajahnya yang memerah.
"Apa di sekolah kamu juga sering merayu cowok?"tanya Dimas tiba-tiba.
"Ihh.. mana ada yang seperti itu,"cetus Ayana tidak terima, kemudian kembali memakan keripiknya.
"Ayo, Dim! Kita berangkat!"ucap Toyib mengalihkan perhatian Ayana dan Dimas.
"Abang mau berangkat sekarang?"tanya Ayana memperhatikan Toyib yang sedang mengancingkan baju Koko nya.
"Iya,"sahut Toyib.
"Nggak ngerasa ada yang kurang?"tanya Ayana membuat Dimas ikut memperhatikan Toyib, kemudian mengulum senyum.
"Ah iya, Abang lupa pakai peci,"ujar Toyib kembali masuk kedalam kamar dan tak lama kemudian keluar sambil merapikan peci nya.
"Sudah. Ayo berangkat, Dim!"ajak Toyib.
"Abang mau sholat pakai celana pendek?"tanya Ayana kemudian membuang napas kasar, sedangkan Dimas tertawa terbahak-bahak.
"Astaghfirullah! Aku lupa lagi,"ujar Toyib saat melihat ke bawah dan menyadari dirinya hanya memakai celana pendek tanpa memakai sarung. Toyib pun bergegas kembali ke dalam kamar untuk memakai sarung.
Ayana hanya bisa geleng-geleng kepala karena Toyib, sedangkan Dimas masih tertawa terbahak-bahak.
...π"Perhatian adalah sebagian dari bentuk cinta dan kasih sayang. Terdengar sepele, tapi sangat berarti."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued