
Hari sudah malam. Mobil Geno nampak memasuki halaman rumahnya. Tak lama kemudian pria paruh baya itu pun memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Geno berjalan menuju kamarnya.
"Mana Ayana? Kata mama, dia sudah ditemukan?"tanya Geno yang melihat Hilda baru saja keluar dari kamar mandi.
"Di kamarnya, pa,"sahut Hilda.
"Dimana mereka menemukan Ayana?"tanya Geno seraya melepaskan jasnya.
"Di sekolahnya.Bahkan aku sempat berdebat dengan gurunya melalui sambungan telepon kerena curiga jika orang suruhan ku dan aku adalah komplotan penculik,"gerutu Hilda seraya menyisir rambutnya.
"Di sekolahnya? Maksudnya selama ini Ayana masih masuk sekolah?"tanya Geno nampak terkejut. Selama ini Geno menyangka jika Ayana tidak bersekolah lagi. Karena orang-orang Hilda tidak melihat Ayana masuk sekolah.
"Iya. Anak itu selama ini memakai jaket masker dan topi hingga orang-orang kita tidak mengenali Ayana dan kesulitan mencari Ayana,"sahut Hilda.
"Itu hanya alasan mereka saja. Sudah aku bilang, 'kan? Selama ini orang-orang suruhan kamu itu tidak serius mencari Ayana. Buktinya, setelah diancam tidak akan di beri gaji jika Ayana tidak ketemu, tidak lama mereka menemukan Ayana,"sahut Geno seraya duduk di tepi ranjang.
"Yang penting sekarang Ayana sudah ketemu. Anak itu keras kepala sekali. Dia bersikeras tidak mau bertemu apalagi pergi dengan Noval,"gerutu Hilda.
"Kenapa dia tidak mau bertemu Noval? Apa alasannya?"tanya Geno mengernyitkan keningnya.
"Katanya Noval itu orang brengseek dan berniat ingin melecehkan dia,"ujar Hilda kesal.
"Benarkah?"tanya Geno nampak berpikir.
"Itu hanya alasan Ayana saja. Mana mungkin Noval seperti itu! Papa lihat sendiri, saat Ayana kabur, di langsung kesini memberitahu kita, bahkan membantu kita mencari Ayana dalam cuaca hujan deras,"ujar Hilda yang sangat yakin jika Noval adalah pemuda yang baik.
"Lalu di mana Ayana tinggal selama enam bulan ini?"tanya Geno yang penasaran dimana selama enam bulan ini putrinya tinggal.Siapa orang yang mau menampung putrinya selama enam bulan ini?
"Mama tidak tahu. Mama tidak sempat menanyakan nya,"sahut Hilda yang memang lupa menanyakan hal ini. Karena dalam otaknya hanya ingin mempertemukan Ayana dengan Noval.
"Papa mau kemana?"tanya Hilda saat melihat Geno beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar mereka.
"Papa ingin melihat Ayana,"sahut Geno dan Hilda pun mengikuti Geno ke kamar Ayana.
__ADS_1
"Ceklek"
"Ceklek"
Geno berusaha membuka pintu kamar Ayana. Tapi ternyata pintu itu di kunci.
"Ini kuncinya,"ucap Hilda menyodorkan kunci pada Geno.
"Kenapa di kunci?"tanya Geno mengambil kunci yang di sodorkan oleh Hilda.
"Dia ingin pergi dari rumah ini. Mengatakan tidak akan meminta uang ataupun warisan. Karena itu mama mengunci dia. Mama takut dia kabur lagi. Entah di mana dia tinggal selama enam bulan ini,"ujar Hilda merasa kesal.
Geno menghela napas dan membuangnya dengan kasar. Pria paruh baya itu membuka pintu kamar Ayana dan terkejut saat melihat Ayana terbaring meringkuk di lantai.
"Ay! Kamu kenapa?"tanya Geno bergegas menghampiri Ayana.
Sedangkan Hilda nampak terkejut melihat Ayana masih berada di tempat yang sama seperti tadi saat dirinya memukuli Ayana. Geno segera mengangkat tubuh Ayana dan membaringkan nya ke atas ranjang. Gadis yang bahkan masih mengenakan seragam sekolah dan masih memakai jaket itu nampak tertidur karena terlalu lelah menangis. Ayana terbangun saat Geno mengangkat tubuhnya. Perlahan mata gadis itu terbuka dan melihat Geno serta Hilda ada di ruangannya itu.
"Pa, ijinkan aku pergi dari rumah ini. Aku tidak akan meminta uang ataupun warisan serupiah pun. Aku tidak akan membawa apapun dari rumah ini. Tolong, biarkan aku pergi!"pinta Ayana tanpa menjawab pertanyaan Geno.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin pergi dari rumah ini? Dimana selama ini kamu tinggal? Dan kamu ingin pergi ke mana?"tanya Geno bertubi-tubi.
"Papa tidak perlu tahu dimana aku tinggal. Dan kemana aku ingin pergi. Aku ingin hidup mandiri di luar sana tanpa menjadi beban mama dan papa. Dan lihat! Selama enam bulan ini, aku baik-baik saja, walaupun tanpa uang dari mama dan papa,"sahut Ayana beranjak untuk duduk.
"Jangan keras kepala! Turuti kata-kata mama dan mama! Temui Noval besok malam. Dia sepertinya menyukai kamu. Kamu akan bahagia jika bersama Noval. Dia itu pemuda yang mandiri, baik dan kaya. Sudah memiliki usaha sendiri di usia muda, belum lagi kekayaan yang dimiliki orang tuanya,"ujar Geno.
"Apa papa pikir hanya dengan harta bisa membuat bahagia? Walaupun papa dan mama memberikan aku uang jajan banyak setiap bulannya, aku tidak merasa bahagia. Papa dan mama tidak pernah memberikan aku perhatikan dan kasih sayang. Aku tidak pernah merasakan kehangatan dalam keluarga kita. Karena yang dalam pikiran kalian hanya uang dan uang,"cetus Ayana mengungkapkan isi hatinya.
"Tahu apa kamu tentang hidup? Kamu ini masih anak kemarin sore! Masih bau kencur! Kamu tidak tahu betapa pentingnya harta. Tanpa harta, kamu akan dipandang rendah oleh orang lain. Kamu juga tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua. Kami harus bekerja keras untuk kalian, untuk masa depan kalian. Agar masa depan kalian terjamin, tidak hidup menderita dan juga tidak direndahkan ataupun diremehkan oleh orang lain. Jangan membantah apa kata mama dan papa! Semua ini untuk kebaikan kamu juga. Besok malam, temui Noval! Dia sudah lama ingin mengajak kamu jalan-jalan,"ujar Geno agak meninggikan suaranya.
"Tapi aku tidak mau pergi dengan Noval, pa. Apa papa tahu? Noval itu bukan orang baik, pa! Malam itu dia berniat untuk melecehkan aku!"ujar Ayana mengatakan yang sebenarnya.
"Papa tidak percaya dengan kata-kata kamu! Dan papa tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Pokoknya besok malam kamu harus bertemu dengan Noval! Titik!"tegas Geno.
__ADS_1
"Aku tidak mau. Walaupun papa membunuh aku, aku tidak mau bertemu dengan Noval,"sahut Ayana tetap kukuh dengan pendiriannya.
"Kau..!"geram Geno menahan emosi.
"Mama akan membuat Pak Parman di pecat dari tempatnya bekerja jika kamu tidak mau menemui Noval besok malam. Kamu tahu, 'kan, bagaimana keadaan keluarga Pak Parman jika Pak Parman sampai di pecat dari tempatnya berkerja?"ancam Hilda yang dari tadi hanya diam. Senyuman yang lebih mirip seringai terbit di bibir wanita paruh baya itu.
Sudah di pukul dan tidak di kasih makan masih keras kepala juga. Mungkin dengan menggunakan keluarga Pak Parman bisa memaksa Ayana bertemu dengan Noval. Itulah yang ada dalam pikiran Hilda.
Ayana membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Hilda. Tangan Ayana mengepal, matanya penuh amarah.
"Ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Pak Parman. Kenapa mama melibatkan mereka?"protes Ayana.
"Mama tidak perduli! Jika kamu tidak menurut sama mama, maka mama benar-benar akan membuat Pak Parman dipecat dari pekerjaannya,"ujar Hilda merasa senang karena telah menemukan kelemahan putrinya,"Ayo, pa! Kita pergi!"ajak Hilda menarik tangan suaminya keluar dari kamar itu.
"Mama tidak bisa melakukan itu. Pak Parman tidak ada hubungannya dengan aku!"teriak Ayana, tapi Hilda nampak tidak perduli. Menutup pintu kamar Ayana dan kembali menguncinya dari luar.
"Akkkhh!"teriak Ayana mengacak-acak rambutnya sendiri, merasa frustasi.
Ayana tidak ingin bertemu apalagi menjalin hubungan dengan Noval yang jelas-jelas memiliki niat buruk pada dirinya. Tapi Ayana juga takut jika mamanya benar-benar melakukan apa yang dikatakannya tadi. Yaitu membuat Pak Parman kehilangan pekerjaannya.
"Aku harus bagaimana? Aku tidak mau bersama Noval. Tapi aku juga takut jika mama benar-benar membuat Pak Parman kehilangan pekerjaannya,"gumam Ayana yang merasa pusing dan bingung sendiri.
...π"Banyak harta belum tentu bisa menjamin hidup akan bahagia. Karena hidup bukan semata-mata tentang harta. Hidup juga butuh cinta."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1