SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
159. Gemas


__ADS_3

Dimas nampak bersiap-siap untuk pergi. Wajah pria tampan itu nampak berseri-seri. Mengenakan baju kasual dan menyisir rambutnya dengan rapi, kemudian keluar dari kamarnya.


"Lah, Dim, tumben jam segini sudah pulang? Mau kemana kamu? Kok, kayak mau pergi?"tanya Toyib yang baru pulang.


"Iya, Dim. Mau kemana?"tanya Diky yang sedang menggosok rambutnya yang masih basah. Pemuda itu sepertinya baru saja selesai mandi.


"Mau menjemputnya Ayana. Hari ini Ayana pulang,"sahut Dimas dengan senyum tipis di bibirnya. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah tampan pria itu.


"Ohh.. pantesan seneng banget. Nyonya nya mau pulang,"sahut Diky tersenyum tipis.


"Wahh.. malam ini, sepertinya bakal ada pertempuran sengit, nih. Jangan lupa minum jamu! Biar tahan lama,"ujar Toyib kemudian terkekeh.


"Iya, Dim, biar kuat sampai pagi,"imbuh Diky ikut terkekeh.


"Dasar mesum!"ketus Dimas.


"Alah, suami-isteri kalau dari berjauhan, ujung-ujungnya juga kika-kiku untuk melepas rindu,"sahut Toyib enteng.


"Ciee... ciee.. yang sudah berpengalaman, celetuk Diky tersenyum penuh arti.


"Eh.. Wulan ada yang jemput, enggak?"tanya Toyib yang tiba-tiba teringat Wulan.


"Kenapa tiba-tiba kamu nanyain dia?"tanya Dimas, menatap Toyib seraya mengernyitkan keningnya. Begitu pula dengan Diky.


"Kalau nggak ada yang jemput, ini kesempatan kamu buat pdkt sama Wulan, Dik,"jawab Toyib antusias.


"Oh, iya, aku lupa kalau Diky naksir sama Wulan,"sahut Dimas.


"Iya juga, ya. Dia di jemput, nggak, Dim?"tanya Diky.


"Biasanya kalau jam segini, Pak Parman masih bekerja. Jadi, kemungkinan besar,, Wulan nggak ada yang jemput. Kalau kamu pengen pdkt, ini waktu yang tepat. Pas nyampe di rumah Pak Parman nanti, pasti bertepatan dengan Pak Parman pulang. Kamu bisa langsung kenalan sama carmer (calon mertua),"sahut Dimas setelah melihat arloji di pergelangan tangannya. Memperkirakan waktu Ayana dan Wulan tiba di sekolah, kemudian memperkirakan waktu tempuh perjalanan dari sekolah Ayana dan Wulan menuju rumah Pak Parman.


"Udah, gih, sana, siap-siap ikut Dimas! Kesempatan ini. Kalau pun dia di jemput, 'kan, lumayan juga bisa melihat dia,"ujar Toyib mensupport Diky.


"Oke. Tunggu sebentar, Dim! Aku ganti baju dulu,"ujar Diky bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Tidak lama kemudian, Diky keluar dengan mengenakan kemeja berwarna hitam dan celana jeans berwarna hitam. Terlihat tampan dan maskulin.


"Cakep!"ucap Toyib menunjukkan kedua jari jempolnya pada Diky saat melihat penampilan Diky.


"Sudah, ayo, berangkat! Ntar mereka keburu sudah nyampe,"ajak Dimas.

__ADS_1


"Sudah, berangkat sana! Fighting, bro!"ucap Toyib memberikan support.


"Makasih, Yib,"sahut Diky tersenyum tipis pada Toyib, kemudian bergegas menyusul Dimas.


Kedua pria itu pun mengendarai motor mereka dengan perasaan bahagia. Beberapa menit kemudian, keduanya sampai di sekolah Ayana bertepatan dengan bus pariwisata yang masuk ke dalam halaman sekolah.


"Kakak!"teriak Ayana yang baru saja turun dari dalam bus.


Karena sudah sangat rindu pada suaminya, wanita muda itu langsung berlari menghambur ke dalam pelukan Dimas. Dimas pun merentangkan kedua tangannya menyambut istrinya dan spontan mengangkat tubuh Ayana yang ada dalam pelukannya. Ayana langsung melingkar kan kedua tangannya di leher Dimas. Dan karena rindu berat, spontan Dimas mencium kedua pipi Ayana lalu bibir Ayana beberapa kali yang di sambut hangat oleh Ayana.


Tindakan Ayana dan Dimas yang spontan itu pun mendapat perhatian dari semua orang yang ada di tempat itu. Semua orang nampak terkejut melihat interaksi sepasang suami-isteri itu.


"Ya, ampun! Mereka berani sekali berciuman di depan umum,"


"Pacaran mereka sudah kelewat batas,"


"Aku nggak nyangka, Ayana yang menjaga jarak dengan para siswa, ternyata pacaran nya sudah seperti itu,"


"Jangan-jangan, pacaran mereka tidak sekedar berciuman saja,"


"Iya. Mereka sepertinya sudah terbiasa berciuman,"


"Anak muda jaman sekarang, tidak tahu tempat untuk bermesraan,"


"Dim, Ay! Ingat tempat, dong! Kalau ingin bermesraan melepas rindu, di rumah aja nanti! Kalian jadi perhatian semua orang, loh!"ujar Diky mengingatkan dengan suara pelan.


Dimas dan Ayana yang terlalu bahagia karena bertemu setelah tiga hari berpisah pun tersadar mendengar kasak kusuk orang-orang di sekeliling mereka dan apa yang dikatakan oleh Diky barusan. Dimas menurunkan Ayana, dan Ayana melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher Dimas.


Dinas dan Ayana tidak perduli kasak kusuk orang-orang yang ada di tempat itu.Toh mereka sudah sah menjadi suami-istri. Itulah yang ada di dalam hati sepasang suami-isteri itu. Apalagi Ayana tinggal menunggu ijazahnya keluar saja. Sekarang tidak masalah jika semua orang tahu jika mereka sudah menikah.


"Ay! Kamu tidak mengambil barang kamu di bagasi?"tanya Wulan mencairkan suasana.


"Ah, iya,"sahut Ayana tersenyum tipis. Terlihat biasa saja walaupun menjadi pusat perhatian semua orang.


"Tunjukkan padaku, Ay! Biar aku yang ambil,"sahut Dimas yang juga terlihat biasa saja.


"Apa perlu bantuan?"tanya Diky.


"Eh, babang ambilkan barang Wulan di bagasi, dong!"sahut Ayana.


"Oke. Tunjukkan saja,"sahut Diky.

__ADS_1


"Lan, tunjukkan barang kamu!"pinta Ayana.


"Ah, iya,"sahut Wulan menundukkan wajahnya yang bersemu merah karena malu saat sepintas bertatapan dengan Diky.


"𝙄𝙨𝙨𝙝𝙝.. 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙢𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞,"gumam Diky dalam hati saat melihat Wulan nampak malu-malu padanya dengan wajah yang bersemu merah.


"Lan, kamu sudah nyari ojol belum?"tanya Ayana setelah mereka mengambil barang mereka di bagasi.


"Belum. Ini baru mau nyari"sahut Wulan seraya mengeluarkan handphone nya dari tasnya.


"Biar di antar Diky aja, Lan. Tadi Diky ikut karena takut Ayana bawa barang banyak. Kalau cuma segini, aku bisa membawanya sendiri. Jadi, lebih baik kamu di antar pulang sama Diky aja,"ujar Dimas beralasan. Agar tidak terlalu kelihatan jika Diky mendekati Wulan.


"Iya, Lan, mendingan di antar babang Diky aja,"sahut Ayana menyetujui, karena Ayana juga mengetahui jika Diky naksir pada Wulan.


"Baiklah,"sahut Wulan yang masih terlihat malu.


Akhirnya mereka pun pulang dengan arah yang berbeda. Diky melajukan motornya dengan membonceng Wulan menuju rumah Pak Parman. Sedangkan Dimas melajukan motornya dengan membonceng Ayana menuju rumah kontrakan mereka.


"Kak, babang sengaja ikut kakak biar bisa mengantar Wulan pulang', ya?"tebak Ayana yang dibonceng dengan tangan yang memeluk perut Dimas. Mengeraskan suaranya agar bisa di dengar oleh Dimas.


"Iya. Soalnya mumpung tadi Diky sudah pulang,"sahut Dimas agak mengeraskan suaranya agar bisa di dengar oleh Ayana.


"Baguslah, kalau begitu,"sahut Ayana mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di punggung Dimas dengan tubuh yang menempel sempurna di punggung Dimas.


Sedangkan Diky yang sedang membonceng Wulan pun mencoba mengobrol dengan gadis itu. Melajukan motornya tidak terlalu kencang agar bisa berlama-lama dengan Wulan.


"Gimana darma wisata nya, Lan? Seru, nggak?"tanya Diky memulai obrolan.


"Seru, bang,"sahut Wulan dengan seulas senyum yang bisa di lihat Diky dari kaca spion motornya.


"Kapan-kapan, mau, nggak, kalau aku ajak jalan-jalan?"tanya Diky kembali menatap kaca spion motornya untuk melihat ekspresi Wulan.


"Boleh,"sahut Wulan agak pelan karena malu. Namun masih bisa di dengar oleh Diky.


Diky tersenyum mendengar jawaban dari Wulan, apalagi jika melihat ekspresi Wulan yang terlihat malu saat menjawab pertanyaan dari nya.


"𝙄𝙨𝙝𝙝.. 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙢𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞. 𝙄𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙥𝙞𝙥𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙧𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪,"gumam Diky dalam hati yang benar-benar merasa gemas melihat Wulan yang malu-malu dengan pipi yang memerah itu, membuat Diky benar-benar merasa gemas.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2