SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
235. Berbeda


__ADS_3

Hari ini Ayana merasa tubuhnya sangat lelah. Karena selain kuliah, hari ini Ayana juga berbelanja bahan memasak dan kebutuhan rumah tangga yang lain, yang stoknya ternyata habis.


Toyib dan istrinya belum kembali ke kota. Sedangkan Dimas hari ini sepertinya sangat sibuk. Setelah mengantar Ayana pulang, Dimas langsung kembali ke perusahaan papanya.


Ayana menyusun kan barang-barang belanjaannya, dan memasak untuk makan malamnya bersama Dimas. Sambil menunggu suaminya pulang, setelah selesai memasak dan mandi, Ayana memilih merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas ranjang seraya memainkan handphonenya.


Namun karena kelelahan, Ayana akhirnya tertidur dan bermimpi...


"Kak, dia siapa?"tanya Ayana dalam mimpinya saat melihat Dimas membawa seorang anak laki-laki yang berusia sekitar enam tahun. Anak laki-laki yang terlihat sangat tampan dan menggemaskan.


"Dia yang akan menemani kamu. Aku pergi dulu, ya! Jaga dia baik-baik untuk aku!"jawab Dimas dengan wajah yang terlihat sendu mendorong pelan anak laki-laki itu pada Ayana.


"Tapi, dia ini siapa? Dan kakak mau kemana?"tanya Ayana terlihat bingung.


"Dia orang yang aku cintai setelah kamu. Dia akan menemani kamu saat aku tak ada,"sahut Dimas masih dengan wajah sendunya kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Ayana


"Tunggu, kak!"ucap Ayana ingin mengejar Dimas, tapi anak laki-laki yang dititipkan Dimas padanya itu memegang jemari Ayana. Anak itu mendongakkan kepalanya menatap wajah Ayana dengan seulas senyum tipis yang terlihat sendu diwajahnya yang tampan, membuat Ayana tertegun menatapnya.


Namun sesaat kemudian Ayana teringat akan Dimas dan mengedarkan pandangannya untuk mencari Dimas.


"Kak! Kak Dimas! Kak! Jangan tinggalkan aku! Kak!"panggil Ayana dalam mimpinya. Ayana menggandeng anak laki-laki yang dititipkan Dimas padanya itu, sambil berjalan mencari Dimas dan terus memanggil Dimas.


Ayana terlihat sangat gelisah dalam tidurnya karena mimpi itu.Wajah Ayana pun basah oleh keringat. Bibirnya terus bergumam memanggil Dimas.


Dimas yang baru saja pulang langsung masuk ke dalam kamarnya. Pria itu nampak khawatir saat melihat Ayana begitu gelisah dalam tidurnya dan terdengar bergumam memanggil namanya. Dimas pun bergegas menghampiri istrinya itu.


"Ay! Ay! Ay!"panggil Dimas seraya menepuk-nepuk pipi Ayana pelan, agar istrinya itu terbangun. Mengusap dahi Ayana yang berkeringat dingin.


"Kak! Kak Dimas!"gumam Ayana terus memanggil Dimas.


"Aku di sini, Ay. Ay! Bangun, Ay!"ucap Dimas masih terus berusaha membangunkan Ayana.


"Kakak!"ucap Ayana yang terbangun dengan wajah pucat, napas yang tidak beraturan dan jantung yang berdegup kencang.


"Aku di sini. Jangan takut! Aku di sini!"ucap Dimas langsung merengkuh Ayana dalam pelukannya. Mencoba memberikan pelukan hangat pada Ayana, agar istrinya itu merasa tenang.


"Kakak jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku, kak!"pinta Ayana dengan air mata yang sudah berlinang, seraya memeluk erat tubuh Dimas, seolah takut kehilangan Dimas.


"Aku tidak akan pergi. Tidak akan pernah meninggalkan kamu. Tenanglah!"ucap Dimas memeluk Ayana dan mengecup puncak kepala Ayana penuh cinta.


"Kamu mimpi apa sampai kamu ketakutan seperti ini, hemm?"tanya Dimas lembut, setelah Ayana terlihat tenang.


"Aku bermimpi, kakak menitikkan seorang anak laki-laki padaku, lalu kakak pergi meninggalkan aku,"sahut Ayana mengingat mimpinya tadi. Entah mengapa, di dalam mimpi itu Ayana merasa Dimas akan pergi jauh meninggalkan dirinya.


"Kamu pasti terbawa mimpi karena melihat anak laki-laki tadi sore,"ujar Dimas masih memeluk Ayana. Dengan lembut mengelus kepala Ayana.


Sore tadi, saat dalam perjalanan pulang ke rumah kontrakan mereka, Dimas dan Ayana melihat seorang wanita yang menangis histeris ingin menyusul keranda yang akan di bawa ke pemakaman. Sedangkan di belakang wanita itu nampak seorang anak laki-laki yang ikut menangis dan mengantungi baju wanita itu. Lalu lintas sempat macet di area perumahan itu karena karena kejadian itu.


Menurut warga sekitar, suami wanita itu meninggal karena kecelakaan kerja. Hingga istrinya syok karena suaminya meninggal mendadak. Keadaan wanita itu dan anaknya membuat semua orang yang melihatnya merasa iba. Tak terkecuali Dimas dan Ayana.

__ADS_1


Jadi, Dimas mengira jika kejadian sore tadi terbawa mimpi oleh Ayana yang tadi sempat menitikkan air mata saat melihat kejadian sore tadi.


Ayana merenggangkan pelukannya, lalu menatap Dimas dengan wajah yang basah oleh air mata.


"Kakak tidak akan meninggalkan aku, 'kan?"tanya Ayana menatap lekat wajah Dimas.


"Tidak akan,"sahut Dimas tersenyum lembut seraya mengusap wajah Ayana yang basah oleh air mata.


"Janji?"tanya Ayana memastikan.


"Janji,"ucap Dimas, kemudian mengecup lembut bibir Ayana untuk sesaat,"Cuci wajah kamu! Aku tidak ingin melihat mata kamu sembab karena menangis,"ujar Dimas seraya mengelus kepala Ayana dengan lembut.


***


Hari ini, Ayana pulang siang hari. Seperti biasanya, Dimas selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput istrinya itu.


"Kakak mau kembali ke kantor papa?"tanya Ayana setelah mereka sampai di rumah.


"Nanti, pukul setengah tiga,"sahut Dimas seraya melepaskan helm Ayana.


"Ada meeting lagi?"


"Hum. Klien dari luar negeri,"sahut Dimas.


Dimas masuk ke dalam rumah seraya merangkul pinggang Ayana. Membawa istrinya itu ke dalam kamar.


"Ay!"panggil Dimas seraya memeluk Ayana dari belakang.


"Aku ingin,"bisik Dimas membuat Ayana mengernyitkan keningnya.


"Sekarang?"tanya Ayana memastikan.


"Hum,"sahut Dimas yang mulai menciumi leher Ayana.


"Aku mandi dulu, ya, kak? Aku berkeringat,. Badanku terasa lengket, kak,"ujar Ayana yang merasa tidak percaya diri melayani suaminya, jika tubuhnya tidak bersih dan harum.


"Masih harum, kok,"ucap Dimas seraya membalikkan tubuh Ayana menghadap ke arahnya, lalu memagut bibir Ayana.


"Kenapa akhir-akhir ini kakak nampak berhassrat sekali? Padahal nggak dari libur,. Semalam juga dari minta. Bahkan minta dua kali. Tapi, saat aku baru selesai mandi tadi pagi, kakak juga minta lagi. Dan sekarang minta lagi?"gumam Ayana dalam hati. Merasa Dimas sedikit berbeda dari biasanya. Kaena akhir-akhir ini setiap hari selalu minta dilayani dan dalam sehari selalu minta dilayani lebih dari sekali. Namun Ayana tetap melayani Dimas dengan tulus seperti biasanya. Selalu memuaskan suaminya di atas ranjang tanpa mengeluh. Walaupun sebenarnya Ayana merasa sedikit lelah.


"Ughh,"lenguuh Dimas setelah dua kali mendapatkan pelepasan.


Dimas mengecupi seluruh wajah Ayana dengan penuh rasa bahagia.Mengusap kening Ayana yang berkeringat dengan senyuman puas dan bahagia yang terukir jelas di wajah tampannya.


"Kenapa akhir-akhir ini kakak berbeda sekali, ya?"tanya Ayana yang saat ini berada dalam dekapan Dimas. Mendongakkan kepalanya menatap wajah Dimas.


"Berbeda? Apanya yang berbeda?"tanya Dimas menatap Ayana lekat.


"Akhir-akhir ini, kakak lebih bersemangat dari biasanya,"

__ADS_1


"Apa kamu merasa lelah dan bosan karena akhir-akhir ini aku sering meminta kamu untuk melayani akui?"tanya Dimas dengan ekspresi masam.


"Eh, apa kakak merasa tersinggung dengan kata-kata ku? Wajahnya jadi masam begitu,"gumam. Ayana dalam hati.


"Enggak, kok,"sahut Ayana dengan seulas senyum.


"Kanu berbohong? Jika lelah katakan saja! Aku tidak akan memaksa kamu untuk melayani aku. Aku tidak ingin kamu melayani aku karena terpaksa,"ujar Dimas seraya merenggangkan pelukannya.


"Kenapa kakak jadi sensi gini? Pura-pura menggodanya aja lah. Biar dia nggak sensi. Lagian, nggak mungkin, 'kan, dia masih mau lagi?"gumam Ayana dalam hati.


"Enggak, kak. Aku nggak terpaksa, kok. Apa kakak masih mau lagi?"tanya Ayana seraya mengelus leher Dimas.


"Yakin, masih sanggup?"tanya Dimas seraya mengusap bibir Ayana dengan ibu jarinya.


"Kakak hanya sekedar menggoda aku, 'kan? Nggak mungkin, 'kan, kakak benar-benar masih ingin lagi?"gumam Ayana dalam hati.


"Memang beneran masih pengen?"tanya Ayana seraya mendekatkan bibirnya ke bibir Dimas. Namun diluar prediksi, Dimas langsung mencium Ayana.


"Astagaa.! Kakak benar-benar masih ingin lagi?"gumam Ayana dalam hati merasa tidak percaya saat Dimas kembali memulai pergulatan panas mereka.


"Kamu lelah?"tanya Dimas setelah merasa puas menikmati tubuh istrinya.


"Hanya mengantuk,"sahut Ayana yang memang merasa mengantuk karena kelelahan.


"Ya, sudah, kamu tidur saja! Aku akan ke kantor,"ucap Dimas mengecup bibir Ayana beberapa kali, kemudian meninggalkan Ayana diatas ranjang dengan tubuh polos yang hanya di tutupi selimut.


Tak berapa lama kemudian, Dimas sudah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi.


"Aku pergi!"ucap Dimas mengecup kening Ayana, kemudian mengecup bibir Ayana.


"Hati-hati!"ucap Ayana yang berusaha tetap terjaga sebelum Dimas berangkat.


"Hum. Tidurlah!"ucap Dimas kemudian keluar dari kamar itu.


***


Suara ketukan pintu di kamar Ayana membuat Ayana yang baru saja selesai membersihkan diri itu bergegas berjalan menuju pintu.


"Ay! Apa kamu di dalam?"tanya Toyib dari luar kamar Ayana.


"Eh, Abang sudah pulang?"gumam Ayana bergegas membuka pintu dan melihat Toyib dan istrinya berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ay!"panggil Toyib dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Ada apa, bang?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2