SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
219. Di Hujat


__ADS_3

"Kak Dimas, nikah sama saya, yuk! Jika kak Dimas mau menikah dengan saya, akan saya adakan resepsi pernikahan yang sama mewahnya dengan resepsi pernikahan Wulan ini. Akan saya bangunkan toko pakaian besar di daerah yang strategis untuk kak Dimas,"ucap janda itu masih mencoba merayu Dimas.


"Maaf! Saya tidak berminat untuk mencari istri kedua, ketiga, atau keempat ataupun seterusnya,"sahut Dimas seraya mengambil satai kesukaan Ayana.


"Ahh.. kak Dimas! Berarti kak Dimas ingin menjadikan aku istri satu-satunya, ya? So sweet banget!"ucap janda itu dengan gaya dan suara manja.


Dimas membuang napas kasar, tidak menanggapi perkataan janda itu. Terlalu malas rasanya meladeni janda yang sudah lama naksir dirinya itu.


"Dik, Dik, lihat itu di meja prasmanan! Dimas di dekati janda terkaya di kampung ini,"ujar Toyib yang tidak sengaja melihat Dimas di dekati janda kaya di kampung Pak Parman. Pria itu mengulum senyum menatap ke arah Dimas.


"Buset, dah! Itu orang apa toko emas berjalan?"celetuk Diky menahan tawa.


Wulan yang mendengar pembicaraan keduanya pun ikut mengulum senyum menahan tawa melihat Dimas yang di pepet janda terkaya di kampungnya.


"Itu janda ngebet pengen nikah sama Dimas. Sampai-sampai dia rela membayar aku lima puluh juta buat jadi comblang dia sama Dimas,"ujar Toyib.


"Gila! Ngebet pakai banget itu janda sama Dimas,"sahut Diky.


"Padahal aku sudah bilang kalau Dimas sudah menikah. Dimas sendiri juga sudah pernah bilang sendiri sama dia kalau Dimas sudah menikah. Tapi janda itu tetap saja ngejar-ngejar Dimas,"sahut Toyib menghela napas panjang.


Ayana sudah mendapatkan es krim dan es buah yang diinginkannya. Saat berbalik menatap suaminya, Ayana membuang napas kasar. Melihat janda kaya di kampung Pak Parman yang selama ini mendekati Dimas nampak mengikuti Dimas yang sedang mengambil makanan. Dari jauh terlihat gesture tubuh dan senyuman, janda itu sedang menggoda suaminya. Ayana berjalan cepat menghampiri Dimas yang baru saja selesai mengambil satai. Terlihat jelas jika suaminya itu merasa risih dengan kehadiran janda itu.


"Kapan kak Dimas akan menikahi aku?"tanya janda itu masih dengan gaya manja dan suara menggodanya.


"Kak, apa sudah selesai ngambil makanannya?"tanya Ayana membuat Dimas menoleh ke arah Ayana, lalu tersenyum lembut.


"Sudah. Ayo!"ajak Dimas merangkul pinggang Ayana ke arah kursi di dekat tempat itu yang masih kosong. Tanpa menghiraukan janda yang dari tadi mencoba mendekati dirinya.


"Eh, kamu bukannya keponakan Pak Parman, ya?"tanya janda itu menghadang Dimas dan Ayana. Merasa cemburu melihat Dimas merangkul pinggang Ayana mesra.


"Iya. Ada apa, ya?"tanya Ayana terlihat sinis.

__ADS_1


"Aku masih ingin bicara dengan kak Dimas. Bisa tinggalkan kami berdua?"tanya janda itu memandang remeh pada Ayana,"Apa dia istri kak Dimas?"gumam janda itu dalam hati. Menelisik penampilan Ayana dari atas sampai bawah. Ayana hanya memakai kalung yang tidak terlalu besar, gelang, arloji, dua buah cincin dan anting yang tidak terlalu besar juga.


"Maaf, ya! Aku tidak suka suamiku bersama dengan wanita lain. Aku bukan wanita bodoh yang membiarkan suamiku bersama wanita yang terang-terangan ingin menjadi orang ketiga, pelakor dalam rumah tangga ku,"ucap Ayana penuh penekanan, tersenyum sinis pada janda itu.


"Sebaiknya kamu berbagi suami dengan aku. Aku rela, kok, jadi yang kedua. Kalau kamu mengizinkan kak Dimas menikah dengan aku, aku akan membangunkan toko pakaian besar di tempat yang strategis. Agar kak Dimas tidak perlu susah payah lagi mencari uang,"ucap janda itu penuh percaya diri.


"Maaf, ya! Aku tidak akan berbagi suami dengan siapapun. Termasuk dengan kamu!"ucap Ayana menunjuk pada janda itu,"Jadi, lupakan saja niat kamu untuk menjadi istri kedua suami ku,"ucap Ayana yang menjadi jengkel pada wanita di depannya itu.


"Kamu tidak punya apa-apa untuk membahagiakan kak Dimas. Aku punya banyak harta untuk memanjakan kak Dimas,"ucap janda itu percaya diri.


"Maaf, ya, Bu! Kekayaan kamu itu tidak seberapa dibandingkan dengan isi ATM milik Ayana. Jadi jangan sok kaya dengan membawa emas satu laci ibu itu ke sini,"ucap Toyib yang tiba-tiba muncul.


"Sebaiknya ibu cari yang lain saja! Karena saya sudah menikah dan sangat mencintai istri saya. Saya tidak ingin menduakan istri saya,"ucap Dimas kemudian membawa Ayana pergi dari tempat itu.


"Kak Dimas! Aku rela jadi istri kedua kakak!"ucap janda itu ingin mengejar Dimas, namun dihalangi Toyib.


"Jangan jadi pelakor jika ibu tidak ingin harga diri ibu hancur! Apapun alasannya, pelakor itu adalah manusia rendah yang tidak ada harganya di mata masyarakat,"ujar Toyib kemudian meninggalkan janda itu.


"Sudah kegatelan paling, Jadinya sudah tidak sabar pengen di garuk,"


"Merusak nama janda saja. Aku juga janda, tapi aku punya harga diri. Nggak kayak dia! Aku nggak mau menggoda suami orang. Karena aku menjadi janda karena suamiku di rebut orang. Jadi aku tahu bagaimana rasanya jika menjadi janda karena pelakor,"


"Dasar tidak tahu malu! Terang-terangan ingin merebut suami orang di depan umum,"


"Pelakor memang urat malunya sudah putus, Bu. Mukanya sudah menjadi tembok,"


"Iya. Orang macam ini, nih, yang bikin janda direndahkan dan di cap buruk. Padahal tidak semua janda itu suka menggoda pria, apalagi suami orang. Tapi gara-gara janda macam ini yang membuat nama janda jadi hancur,"


"Benar itu! Tidak semua janda seperti dia yang nyata-nyata pengen jadi pelakor,"


"Gara-gara perempuan macam dia, orang-orang memberi cap kalau janda itu haus belaian. Padahal nggak semua janda haus belaian seperti dia. Apalagi janda yang punya anak. Nggak sempat mau mikirin gituan. Yang dipikirkan cuma bagaimana caranya mencari uang untuk menghidupi anak-anaknya. Mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan agama, serta menjadi pemimpin sekaligus pelindung dalam keluarga,"

__ADS_1


"Benar. Nggak semua janda macam dia yang nggak punya anak dan bisa ongkang-ongkang kaki menikmati harta warisan dari almarhum suami. Banyak janda yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya. Membagi waktu untuk bekerja, memberikan kasih sayang dan perhatian untuk anak-anaknya. Nggak punya waktu dan nggak punya niat buat merayu apalagi menggoda suami orang macam dia!"


"Benar. Seorang ibu itu bisa menjadi ayah sekaligus kepala keluarga. Tapi seorang ayah tidak akan pernah bisa menjadi ibu. Jadi, jangan membuat nama kami para janda tercemar gara-gara kamu! Kamu membuat stigma janda itu semakin buruk di mata masyarakat,"


"Perlu dimusnahkan ini, janda yang macam begini. Mencemari lingkungan saja!"


"Nggak guna kaya, kalau nggak punya akhlak mulia macam dia!"


"Bikin malu para janda saja!"


"Matanya sudah sudah tertutup sama emasnya yang dipamerkan itu. Sudah tahu kalah muda, kalah cantik dan kalah bohay dari keponakan Pak Parman, ehh.. masih menggoda suami keponakan Pak Parman,"


"Kaca di rumah dia pecah kali,"


"Jangan-jangan setelah ini dia menggoda suami kita. Karena tidak bisa merebut kak Dimas dari istrinya,"


"Kita usir saja dia ramai-ramai dari kampung ini kalau setelah ini masih berani menggoda suami orang,"


Mendengar hujatan para janda dan ibu-ibu rumah tangga di tempat itu, akhirnya janda kaya di kampung Pak Parman itu pun memilih untuk pulang. Membela diri pun tidak punya kesempatan. Tidak mau jadi bulan-bulanan para janda dan ibu-ibu rumah tangga yang sudah semakin tersulut emosi itu.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Stigma berasal dari bahasa Inggris yang artinya noda atau cacat. Stigma adalah sebuah ketidaksetujuan masyarakat terhadap sesuatu seperti contohnya sebuah tindakan atau kondisi. Stigma adalah brand, tanda atau noda, ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.


•Bulan-bulanan bisa diartikan (gambar) benda buatan menyerupai bulan.


Sedangkan kata bulan-bulanan (kiasan) ·bisa diartikan sebagai orang yang (mudah) dijadikan korban sehingga seperti alat permainan; sasaran:


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2