SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
104. Mau Lihat?


__ADS_3

Dimas membalikkan tubuhnya menatap Bening dengan wajah datar. Sudah muak rasanya berhadapan dengan wanita di depannya ini.


"Tahu apa kamu soal Ayana? Lagi pula, dengan siapa aku ingin bersama, itu bukan urusan kamu. Urus saja diri kamu sendiri! Tidak usah mengurusi orang lain,"ketus Dimas kemudian meninggalkan Bening, membawa nampan berisi makanan.


"Dim!"panggil Bening, tapi pria itu tidak menghiraukan Bening sama sekali.


"Kenapa sulit sekali mempengaruhi Dimas,"gumam Bening menatap punggung Dimas dengan perasaan kesal.


Bening meminum air mineral di dalam lemari es, kemudian meninggalkan ruangan makan yang menyatu dengan dapur itu.


Setelah Dimas dan Bening pergi, Hilda yang berada di balik meja memasak pun berdiri. Tadinya Hilda ingin membuat teh. Tapi tanpa sengaja menumpahkan gula. Dan saat Hilda berjongkok membersihkannya, Dimas masuk ke dalam ruangan makan. Saat mengambil nampan pun, Dimas tidak melihat Hilda karena tertutup meja memasak. Belum selesai Hilda membersihkan gula, Hilda malah mendengar Bening berbicara dengan Dimas. Sehingga Hilda mendengar percakapan Dimas dan Bening dari awal sampai akhir.


"Aku tidak menyangka, Bening yang bersikap baik, lembut, perhatian dan pengertian itu ternyata hanya pencitraan saja. Dia menjelek-jelekkan Ayana di depan Dimas. Bahkan mengatakan Ayana kena penyakit mental. Ternyata Bening itu tidak lebih dari seorang wanita munafik. Ada hubungan apa mereka berdua? Mereka seperti sudah saling mengenal. Apa Bening berusaha mendekati Dimas? Dasar perempuan gatal! Sudah punya suami juga masih mendekat suami orang. Pantas saja, Ayana seperti tidak suka setiap kali bertemu dengan Bening. Ternyata selama ini Ayana menyindir Bening. Berarti benar, dong, kalau waktu itu Bening memang sengaja ingin berduaan dengan Dimas dengan alasan ngidam?"gumam Hilda setelah mengingat sikap Ayana setiap bertemu Bening. Hilda menjadi geram dan tidak suka dengan Bening.


Dimas bergegas kembali ke kamar Ayana. Tidak ingin lebih lama lagi bersama Bening. Saat Dimas masuk ke dalam kamar, Dimas melihat Ayana malah sudah terlelap. Dimas meletakkan makanan yang di bawanya di atas nakas.


"Ay! Ayo, bangun! Kita makan dulu!"ucap Dimas seraya mengusap kepala Ayana, lalu mengecup bibir Ayana beberapa kali.


"Maaf! Aku tertidur,"ucap Ayana beranjak duduk..


"Nggak apa-apa. Capek banget, ya?"tanya Dimas seraya memakaikan baju tidur kimono pada Ayana. Baju kimono yang warnanya senada dengan yang dipakainya.


"Kak, ayam dan ikan bakarnya sudah dingin. Apa kakak ingin aku hangatkan?"tanya Ayana.


"Mau. Tapi nanti saja setelah makan,"sahut Dimas mengulum senyum.


"Buat apa menghangatkannya lagi, kalau sudah makan, kak?"tanya Ayana dengan wajah polosnya.


"Iiiih.. bikin gemes, deh!"ucap Dimas mencubit hidung Ayana,"Yang dihangatkan aku, Ay. Bukan ayam dan ikan bakarnya,"sahut Dimas.


"Iiihh.. aku, 'kan bilang mau menghangatkan ayam dan ikan bakarnya. Bukan kakak,"tampik Ayana.


"Eh, tadi kamu, 'kan tanya 'Apa kakak ingin aku hangatkan?', begitu, 'kan?"tanya Dimas mengulangi kata-kata Ayana.


"Ah, iya, juga, ya? Aku yang salah ngomong,"ujar Ayana seraya menyengir bodoh, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ishh.. bikin tambah gemes, deh,"ujar Dimas mencubit hidung Ayana gemas,"Ayo makan! Kalau tidak, aku akan memakan kamu,"ujar Dimas.

__ADS_1


"Memangnya aku makanan apa? Sehingga kakak mau memakan aku,"sahut Ayana.


"Iya. Kamu itu makanan paling enak dan nggak bakal habis,"sahut Dimas lalu mencium bibir Ayana dan sedikit menarik bibir Ayana saat akan melepaskannya, karena merasa gemas.


"Kakak! Ini kapan makannya, jika kakak terus mencium aku?"keluh Ayana mendorong dada Dimas agar tidak menciumnya lagi.


"Habisnya kamu itu gemesin, sih! Bikin aku gregetan,"sahut Dimas yang memang benar-benar gemes pada istri kecilnya itu.


"Jadi mau makan, nggak ini?"tanya Ayana dengan wajah tidak berdaya.


"Iya.. iya.. mana mungkin aku membuat istri ku yang menggemaskan ini kelaparan. Untuk apa aku cari uang banyak kalau istriku masih kelaparan,"ujar Dimas kembali mencium bibir Ayana.


Malam ini Dimas sangat bahagia. Bahkan sangking bahagianya Dimas tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata. Memiliki Ayana adalah anugerah terindah bagi Dimas. Membuat Dimas memiliki tujuan dan semangat hidup.


Dimas dan Ayana makan dengan lahap. Aktivitas panas mereka di atas ranjang tadi membuat energi mereka terkuras. Tidak berapa lama kemudian, Ayana dan Dimas pun selesai makan malam yang kemalaman.


"Besok pagi, kakak mau dimasakin apa?"tanya Ayana.


"Memangnya, besok sanggup memasak? Apa kamu tidak lelah?"tanya Dimas seraya memicingkan sebelah matanya.


"Kalau sudah tidur, pasti lelehnya hilang,"sahut Ayana.


"Hum,"sahut Ayana.


"Ya sudah, ayo tidur!"ajak Dimas.


Sepasang suami istri itu pun akhirnya tidur. Selain karena malam telah larut, juga karena mereka lumayan lelah setelah bercinta tadi.


Pagi harinya, Ayana yang sudah terbiasa bangun pagi pun terbangun dengan sendirinya, walaupun tanpa menghidupkan alarm. Gadis itu, eh ralat author lupa kalau sudah tidak gadis lagi. Wanita itu mencoba melepaskan pelukan suaminya dengan perlahan, agar suaminya tidak terbangun.


"Emm.. Ay! Aku masih ingin memeluk mu,"gumam Dimas yang tidak rela melepaskan pelukannya pada Ayana. Udara yang dingin karena pengaruh hujan semalam membuat Dimas enggan melepaskan pelukannya pada Ayana.


"Aku harus bangun untuk memasak,.kak,"ujar Ayana lembut, mendongak menatap Dimas yang masih memejamkan matanya.


Sebentar lagi, Ay!"pinta Dimas.


"Auwh! Kak, apa yang menusuk pahaku?"pekik Ayana saat merasakan ada sesuatu yang menusuk di pahanya. Terasa keras tapi hangat.

__ADS_1


"Mau lihat?"tanya Dimas yang sudah membuka matanya.


"Aku mau lihat,"sahut Ayana seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka,"Kakak! Mesum iihh!"pekik Ayana dengan cepat kembali menutup tubuh mereka dengan selimut. Karena begitu membuka selimut, benda yang menusuknya tadi kembali menusuk di pahanya. Dan Ayana dapat melihat dengan jelas jika yang sedang menusuk pahanya, ternyata adalah keris Dimas yang sudah berdiri tegak.


"Dia bangun lagi Ay. Tidurkan dulu, Ay!"pinta Dimas memelas.


Ayana melirik ke arah jam digital yang ada di atas nakas, dan ternyata waktu masih menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit.


"Baiklah,"sahut Ayana yang merasa masih ada waktu untuk melayani Dimas.


Dengan wajah berseri-seri, Dimas kembali mengulang kegiatan panas mereka di atas ranjang. Setelah mendapatkan pelepasan, akhirnya Dimas kembali terlelap. Melihat Dimas sudah kembali terlelap, Ayana pun turun dari ranjang dan beranjak untuk membersihkan diri.


"Awhh.! Ternyata saat dipakai berjalan, rasanya agak nyeri,"gumam Ayana. Perlahan berjalan ke kamar mandi menahan bagian inti tubuhnya yang terasa agak nyeri.


"Ssstt.. ternyata saat terkena air, rasanya juga perih,"gumam Ayana lagi.


Dengan menahan rasa nyeri dan perih, akhirnya Ayana selesai mandi juga. Setelah selesai, Ayana memakai baju dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ayana membungkus rambutnya dengan handuk, lalu melilitkan nya di kepalanya. Gadis itu kemudian turun dan memasak. Seperti biasanya, Ayana di bantu pelayan dirumahnya untuk memasak. Setelah selesai memasak, Ayana kembali ke kamarnya dan kembali membersihkan diri agar badannya tidak bau bawang.


Setengah jam kemudian, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Termasuk Dimas dan Ayana.


"Wahh.. menunya nasi goreng udang. Ada telur ceplok, ayam suwir, kerupuk udang, dan ada acar timun juga. Bikin papa semakin lapar saja. Ayo, kita sarapan!"ujar Geno yang antusias menatap makanan yang tersaji di meja makan.


Seperti biasanya, Ayana selalu mengambilkan makanan untuk Dimas. Ayana memberikan piring yang sudah di isi dengan nasi goreng dan lauk pauknya itu pada Dimas.


"Eh, itu untuk Dimas, Ay? Dimas itu nggak suka makan ayam, loh!"ucap Bening saat melihat Ayana memberikan suwiran ayam di nasi goreng Dimas.


Mendengar kata-kata Bening yang seolah sangat tahu tentang Dimas, semua orang pun menoleh pada Bening dengan tatapan penuh tanda tanya. Bening menelan salivanya susah payah mendapatkan tatapan dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


...🌟"Saat kamu melukai dan meninggalkan dia, maka jangan pernah berpikir untuk kembali dan memilikinya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


Nb : Untuk sementara, aku cuma bisa up satu kali dalam sehari. Insyaallah tanggal satu nanti akan normal lagi, update dua kali sehari. Apalagi kalau pada nempelin jempolnya dan ngasih komentar.πŸ˜„ πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2