SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
231. Tidak Percaya


__ADS_3

Tidak lama setelah Tony pergi, Satuan Reserve narkoba pun memasuki kelas dimana Rengganis berada. Memeriksa semua mahasiswa yang ada di dalam kelas itu, termasuk Rengganis.


"Kamu pengedar sabu?"tanya salah seorang anggota Satresnarkoba ( Satuan Reserve narkoba ) pada Rengganis seraya menunjukkan temuan sabu di dalam tas Rengganis.


Rengganis yang mendengar pertanyaan polisi itu dan melihat barang yang ditemukan polisi itu dari dalam tasnya pun sangat terkejut. Gadis yang awalnya terlihat tenang itu seketika menjadi pucat pasi.


Para mahasiswa yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut melihat temuan barang terlarang di dalam tas Rengganis. Tidak menyangka jika Rengganis yang mereka kenal sebagai teman yang baik, sangat fokus pada kuliahnya dan tidak banyak tingkah itu memiliki barang haram di dalam tasnya.


"Bukan, pak. Saya hanya mahasiswa biasa. Saya tidak pernah melihat, apalagi menjadi pengedar barang terlarang seperti itu, pak,"jawab Rengganis cepat dengan wajah ketakutan dan pucat pasi.


"Tapi kami menemukan barang terlarang ini di dalam tas kamu,"


"I.. itu bukan milik saya, pak. Saya tidak tahu kenapa barang itu ada di dalam tas saya. Saya bersumpah, saya tidak pernah memiliki barang terlarang seperti itu, pak,"sahut Rengganis semakin ketakutan.


"Barang buktinya ada. Kamu jelaskan saja semuanya di kantor polisi! Bawa dia!"ucap polisi itu pada polisi yang lain.


"Jangan, pak! Saya tidak tahu apa-apa soal barang terlarang itu, pak. Itu bukan milik saya, pak. Saya hanya ingin kuliah dan menjadi sarjana agar bisa membanggakan ibu saya, Pak. Tolong lepaskan saya, Pak. Saya tidak bersalah,"ucap Rengganis dengan airmata yang berderai. Namun Satuan Reserve narkoba itu tetap membawanya pergi.


"Kenapa bisa begini? Kenapa barang terlarang itu bisa berada di dalam tas ku? Bagaimana jika ibu tahu masalah ini? Ibu pasti akan sangat kecewa padaku. Bagaimana ini? Siapa yang sudah menjebak aku,"gumam Rengganis dalam hati. Airmata gadis itu tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya.


Selama ini Rengganis sudah berusaha belajar dengan keras agar menjadi sarjana yang bisa di banggakan ibu angkatnya. Menjadi anak yang berbakti karena rasa terimakasih dan syukur telah diangkat sebagai anak oleh Bu Ningsih. Ingin membalas budi wanita yang sudah memperlakukan dirinya dengan baik. Mengangkat dirinya sebagai anak, memberikan kehidupan yang layak baginya, bahkan membiayai kuliahnya. Rengganis tidak menyangka jika akan berakhir seperti ini. Ditangkap polisi karena memiliki barang terlarang yang bahkan tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Apalagi menyentuhnya.


"Apa kalian percaya kalau Rengganis memiliki barang terlarang itu?"


"Aku rasanya tidak percaya, deh,"


"Iya, aku juga nggak percaya. Dia itu selalu baik sama semua orang. Walaupun selalu menghindar jika ada mahasiswa yang ingin mendekati dia,"


"Bukankah si Tony itu ngejar-ngejar Rengganis, ya? Tadi, si Tony itu terdengar sempat berdebat dengan Rengganis,"


"Iya. Tadi kayaknya Tony nggak terima dan terdengar seperti sakit hati karena Rengganis nggak mau menerima dia,"

__ADS_1


"Maksud arah pembicaraan kalian ini, kalian curiga jika kemungkinan besar, Tony sudah menjebak Rengganis?"


"Sepertinya seperti itu. Soalnya aku nggak yakin kalau Rengganis itu memiliki barang terlarang seperti itu. Kalau Tony yang punya, aku percaya,"


"Iya,.aku juga nggak yakin Rengganis seperti itu. Soalnya, aku dengar tahun lalu si Tony itu terciduk memakai barang terlarang. Kalau kali ini dia tertangkap memiliki barang terlarang, dia pasti di DO dari kampus ini,"


( Drop Out : Dikeluarkan)


Para mahasiswa itu terus memperbincangkan tentang tertangkapnya Rengganis oleh Satuan Reserve narkoba karena memiliki sabu. Teman-teman Rengganis yang mengetahui bagaimana Rengganis pun berasumsi jika Rengganis di jebak. Bahkan desas-desus tentang asumsi bahwa Tony menjebak Rengganis pun santer dibicarakan di kalangan para mahasiswa di tempat Rengganis kuliah. Dalam sekejap, berita penangkapan Rengganis itu menyebar ke seluruh kampus. Bahkan menjadi. berita hangat di media sosial dan televisi.


Delvin nampak berada di ruangan Axell. Pemuda itu nampak fokus pada handphonenya. Melihat pembicaraan heboh di kampusnya mengenai seorang mahasiswi yang tertangkap Satuan Reserve narkoba karena terbukti membawa barang terlarang berupa sabu seberat setengah kilo gram.


"Serius amat, sih?"tanya Axell yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dan melihat adiknya nampak fokus pada handphonenya.


"Ada mahasiswi di kampus aku yang tertangkap oleh Satuan Reserve narkoba, kak. Dia terbukti memiliki sabu. Tapi ada gosip yang mengatakan kalau dia dijebak oleh cowok yang sakit hati karena cintanya ditolak oleh gadis ini,"


"Ada-ada saja. Gara-gara cinta di tolak malah berbuat kejam seperti itu. Memangnya, cewek itu cantik?"


"Menurut aku, sih, cantik. Dan dari fotonya, sih, sepertinya nggak pakai makeup, deh,"


"Ntar, aku cari dulu,"ucap Delvin dan tak lama kemudian menunjukkan foto Rengganis yang beredar di grup chat para mahasiswa pada Axell.


"Dia? Namanya Rengganis, 'kan?"tanya Axell yang nampak terkejut.


"Kakak mengenal dia? Dimana kakak mengenal dia? Aku saja yang satu kampus dengan dia nggak mengenal dia,"


"Aku pernah menolong dia beberapa hari yang lalu. Dia ditarik paksa oleh mahasiswa seniornya ke dalam mobil. Kakak bahkan sempat berkelahi dengan cowok yang menyeretnya itu. Kakak nggak percaya kalau gadis ini punya barang terlarang seperti itu. Menurut kakak, dia itu gadis yang lugu dan tidak seperti gadis lain. Walaupun kakak menolong dia, tapi dia nggak caper sama kakak. Bahkan terkesan menjaga jarak dengan kakak. Mungkin dia trauma karena hampir saja dilecehkan,"


"Aku nggak nyangka kalau kakak pernah menolong dia. Tapi memang banyak cuitan di grup chat kampus soal cewek ini. Banyak yang curiga kalau gadis ini dijebak sama cowok yang dia tolak,"


"Mana cowoknya?"tanya Axell penasaran.

__ADS_1


Delvin pun mencari foto mahasiswa yang dicurigai menjebak Rengganis. Axell bertambah terkejut saat melihat foto Tony yang di tunjukkan oleh Delvin.


"Ini cowok yang kakak hajar waktu itu, Vin. Dialah yang menarik paksa si Rengganis,"ujar Axell yang masih ingat betul dengan wajah Tony yang beberapa hari yang lalu dihajarnya.


"Serius, kak?"


"Iya. Kakak ingat banget mukanya,"


"Berarti, kemungkinan besar gadis itu memang di jebak, ya, kak? Kasihan sekali gadis itu,"gumam Delvin.


Disisi lain, Rengganis duduk dengan menekuk lututnya. Gadis itu memeluk kedua lututnya. Meletakkan dagunya di atas lutut. Gadis itu menangis tanpa suara. Wajahnya sembab dan basah oleh air mata.


Seorang polisi wanita membawa Rengganis bertemu dengan Bu Ningsih yang sudah di kabari polisi perihal penangkapan Rengganis.


Setengah jam yang lalu, Bu Ningsih sangat terkejut saat mendapatkan kabar bahwa Rengganis di tangkap polisi karena terbukti memiliki barang terlarang. Mendengar kabar itu, Bu Ningsih pun bergegas ke kantor polisi untuk melihat Rengganis.


"Nis!"panggil Bu Ningsih saat melihat Rengganis.


"Ibu!"ucap Rengganis langsung menghambur memeluk Bu Ningsih,"Bu, aku tidak bersalah, Bu. Barang itu bukan milik aku, Bu. Aku tidak tahu kenapa barang itu bisa berada di dalam tas ku. Aku bersumpah itu bukan milik aku, Bu. Aku hanya ingin kuliah untuk mewujudkan impian ku. Ingin membanggakan ibu. Aku ingin membalas budi ibu padaku,"ujar Rengganis seraya terisak.


"Ibu tahu. Ibu percaya kalau kamu tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Ibu akan usahakan agar kamu bisa secepatnya keluar dari sini,"ucap Bu Ningsih ikut menangis. Bu Ningsih sangat sedih melihat keadaan Rengganis saat ini.


Bu Ningsih keluar dari kantor polisi dengan perasaan sedih, khawatir, dan bingung harus bagaimana untuk mengeluarkan Rengganis dari kantor polisi. Bu Ningsih sangat yakin jika Rengganis adalah gadis baik-baik dan tidak akan berbuat macam-macam apalagi sampai menjadi pengedar barang terlarang.


"Nak Nando. Ya. Nak Nando lah satu-satunya orang yang bisa menolong aku untuk mengeluarkan Rengganis dari kantor polisi,"gumam Bu Ningsih yang langsung mengambil handphonenya untuk menghubungi Nando. Bu Ningsih masih ingat betul dengan surat yang ditulis Nando untuknya. Agar Bu Ningsih tidak sungkan untuk meminta bantuannya.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


Asumsi adalah anggapan yang belum terbukti kebenarannya dan memerlukan pembuktian secara langsung.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2