SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
245. Fifty-fifty


__ADS_3

Ayana melangkah menuju ruangan Dimas dengan hati yang terasa kesal karena kata-kata Delvin tadi. Wanita itu masuk ke ruangan Dimas, lalu duduk di tepi ranjang tempat Dimas berbaring. Menggenggam tangan Dimas dengan tangan kirinya, lalu mengusap wajah Dimas lembut dengan tangan kanannya. Ayana mengecup lembut bibir pria yang sangat dicintainya itu.


"Kapan kakak bangun? Aku sangat merindukan kakak,"ucap Ayana tanpa sadar menitikkan air mata. Menatap sendu wajah suaminya yang hingga saat ini masih memejamkan matanya.


Seorang wanita hamil yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Tapi harus menghadapi kenyataan bahwa kemungkinan suaminya untuk kembali sadar sangat kecil. Sedih? Tentu saja. Namun Ayana tetap bertahan walaupun sesungguhnya rapuh. Tetap berharap, walaupun harapan itu sangat kecil. Dukungan dari orang-orang di sekelilingnya pun mempunyai peranan besar bagi Ayana, hingga Ayana mampu bertahan sampai detik ini.


"Ceklek"


Suara pintu yang di buka membuat Ayana bergegas untuk menghapus air matanya. Tidak ingin ada yang melihat dirinya menangis.


"Ay!"panggil Liliana.


"Mama. Duduk, ma!'ucap Ayana tersenyum tipis, menghampiri Liliana untuk duduk di sofa.


"Jangan khawatir! Kita akan terus berusaha untuk menyembuhkan Dimas. Walaupun kemungkinannya kecil, tapi berarti tetap masih ada kemungkinan bukan? Kita akan mencari dokter yang lain untuk mengobati Dimas,"ujar Liliana menghibur Ayana. Liliana dapat melihat bulu mata Ayana yang basah. Menandakan ibu hamil itu baru saja menangis.


"Iya, ma,"sahut Ayana.


"Selama kakak masih bernapas, kita masih punya harapan. Jadi, kita harus optimis. Kita akan terus mencari dokter yang bisa menyembuhkan kakak,"imbuh Axell yang terlihat optimis. Pemuda itu berjalan mendekati ranjang tempat Dimas berbaring.


"Kamu harus sadar, kak! Aku ingin mengenalmu. Aku penasaran bagaimana kamu yang sebenarnya, hingga begitu banyak orang-orang yang menyayangi mu. Apalagi kakak ipar dan bayi dalam kandungan kakak ipar membutuhkan kamu, kak. Tidak ada yang bisa menggantikan kamu di hati kakak ipar. Apa kakak tega meninggalkan kakak ipar di usia semuda ini bersama anak kakak?"gumam Axell dalam hati seraya menggenggam tangan Dimas. Seolah mereka sedang berkomunikasi dari hati ke hati melalui sentuhan.


Axell merasa senang saat mengetahui dirinya memiliki saudara satu ayah yang selalu dipuji-puji karena kebaikan hatinya, tampan, cerdas dan dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan memperhatikannya. Axell jadi penasaran dengan kakaknya itu dan ingin memiliki kesempatan untuk bisa mengenalnya.


Berbeda dengan Delvin yang sampai saat ini belum bisa menerima Dimas sebagai kakaknya. Hal itu karena Delvin belum bisa menerima kenyataan bahwa Ayana, gadis yang dicintainya sudah menikah dan ternyata menikah dengan saudara satu ayahnya.


"Aku salut dengan Axell yang berlapang dada menerima kak Dimas sebagai kakaknya dan menghormati aku sebagai kakak iparnya. Tidak seperti Delvin yang tidak bisa menerima kak Dimas,"gumam Ayana dalam hati.


Ayana bukannya tidak tahu, jika selama ini Delvin sering ikut mengunjungi Dimas bersama Liliana bukan karena ingin mengunjungi suaminya, tapi karena ingin bertemu dengan dirinya. Ayana bisa melihat tatapan tidak suka Delvin pada Dimas yang hingga saat ini masih belum juga sadar dari komanya. Dan Ayana juga bisa melihat bagaimana cara Delvin menatap dirinya. Ayana sering kali merasa risih dengan kehadiran Delvin yang selalu memperhatikan dirinya.


Sedangkan Axell, setiap kali mengunjungi Dimas, pemuda itu pasti berdiri atau duduk di sebelah Dimas seraya menggenggam tangan Dimas seperti saat ini. Dari tatapan mata Axell pada Dimas, Ayana bisa melihat bahwa pemuda itu menyayangi Dimas.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu ruangan itu terdengar, dan Axell pun bergegas membuka pintu ruangan itu.

__ADS_1


"Kak Axell?"ucap gadis yang tidak lain adalah Rengganis. Gadis itu nampak terkejut karena tidak menyangka bertemu dengan pemuda yang pernah menyelamatkan dirinya itu di sini.


"Mari, masuk!"ucap Axell sopan, pada Rengganis yang datang bersama Bu Ningsih.


"Silahkan duduk Bu Ningsih, Rengganis,"ucap. Ayana yang sudah mengenal Rengganis karena sudah beberapa kali Rengganis dan Bu Ningsih datang untuk menengok Dimas.


"Ceklek"


Pintu ruangan itu kembali terbuka, dan Nando nampak muncul dari balik pintu.


"Eh, ada ibu,"ujar Nando saat melihat Bu Ningsih.


"Iya, ibu dan Rengganis juga baru datang. Apa kabar nak Nando?"tanya Bu Ningsih yang wajahnya terlihat cerah saat melihat Nando.


Walaupun Nando diperlakukan tidak baik oleh almarhum putrinya, tapi pemuda itu tetap saja baik dan menghormati Bu Ningsih. Hal itu membuat Bu Ningsih menjadi semakin respect pada Nando.


"Baik, Bu,"sahut Nando tersenyum tipis.


"Apa kabar, Nis?"tanya Axell santai.


"Kalian sudah saling mengenal?"tanya Liliana.


"Kenal, ma,"sahut Axell.


"Axell pernah menyelamatkan Rengganis saat Rengganis akan di lecehkan mahasiswa seniornya, Tan,"sahut Nando.


"Oh, begitu,"sahut Liliana.


"Ceklek "


Pintu ruangan itu kembali terbuka, dan kali ini Tuan Buston dan Saman lah yang masuk.


"Papa mendatangkan seorang dokter lagi. Dia akan memeriksa Dimas. Kali ini, papa yakin dokter ini bisa membantu kesembuhan Dimas,"ucap Buston antusias.


Melihat antusiasme Buston, semua orang menjadi memiliki secercah harapan untuk kesembuhan Dimas. Sudah beberapa kali Buston mendatangkan dokter dari negara yang berbeda-beda. Namun kali ini, pria paruh baya itu nampak yakin jika dokter yang didatangkan nya kali ini bisa menyembuhkan putranya.

__ADS_1


Akhirnya Dimas kembali diperiksa oleh dokter yang didatangkan Buston dari luar negeri itu. Atas saran dokter yang didatangkan Buston dari luar negeri, pihak rumah sakit kembali melakukan Rontgen, USG, CT Scan, dan MRI. Semua itu dilakukan untuk mengetahui apa penyebab Dimas tidak kunjung sadar.


Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, akhirnya ditemukan masalah yang membuat Dimas tak kunjung sadar. Dokter merujuk untuk melakukan beberapa kali tindakan operasi. Hingga saat kandungan Ayana memasuki usia tujuh bulan, hari ini Dimas menjalani operasi untuk yang ke tiga kalinya.


Sedangkan Delvin, sejak kejadian dirinya dipukuli Axell waktu itu, pemuda itu tidak datang lagi ke rumah sakit. Axell meminta Tuan Buston untuk mendisiplinkan Delvin agar mulai membantu di perusahaan mereka. Tuan Buston pun setuju dengan ide Axell. Karena selama ini Delvin terlalu manja dan sama sekali belum pernah menghasilkan uang dengan jerih payahnya sendiri. Liliana yang mengetahui Delvin menyukai Ayana pun setuju jika Delvin mulai belajar bekerja, membantu di perusahaan. Selain untuk mendidik Delvin agar mandiri, hal itu juga dinilai Liliana bisa menjauhkan Delvin dari Ayana. Hingga akhirnya Delvin tidak bisa berkilah lagi dan mengikuti kemauan keluarganya.


Keluarga Geno, keluarga Buston dan para sahabat Dimas dan Ayana pun menunggu di depan ruang operasi dengan wajah yang terlihat tegang. Berdoa dalam hati agar Dimas bisa selamat dan kembali ke tengah-tengah mereka seperti dulu.


Operasi kali ini memang lebih menegangkan dari dua operasi sebelumnya. Karena operasi kali ini persentase nya adalah fifty-fifty, alias ada kemungkinan Dimas sembuh adalah lima puluh persen, dan kemungkinan meninggal dalam operasi juga limapuluh persen.


"Ay, sebaiknya kamu istirahat saja. Tidak baik jika duduk terlalu lama,"ujar Hilda yang merasa kasihan melihat Ayana dengan perutnya yang besar duduk lama menunggu Dimas yang sedang di operasi.


"Iya, Ay. Jangan dipaksakan,"timpal Liliana yang duduk di sebelah kiri Ayana, sedangkan Hilda duduk di sebelah kanan Ayana.


"Aku ingin tetap disini, ma. Aku ingin tahu keadaan kakak,"sahut Ayana yang terlihat tegang, cemas, khawatir, dan takut menjadi satu. Karena Ayana tahu benar, jika operasi Dimas kali ini gagal, berarti Dimas akan meninggal.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Rontgen adalah pemeriksaan menggunakan sinar X-ray untuk mendapatkan foto bagian dalam tubuh.


•USG atau Ultrasonografi adalah pemeriksaan menggunakan gelombang suara yang diubah menjadi gambar.


•CT Scan atau computerized tomography scan adalah prosedur yang menggabungkan kombinasi foto Rontgen atau sinar-X dan teknologi komputer khusus.


•MRI atau magnetic resonance imaging adalah pemeriksaan menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar tubuh.


•CT Scan dan MRI menggunakan alat besar dan pemeriksaannya di lakukan dalam ruangan, selain itu hasilnya pun sangat jelas dan detail.


•Pada dasarnya, persen merupakan sebuah bentuk bilangan yang menggambarkan berapa bagian dari keseluruhan data yang ada. Besar perbandingan yang digunakan dalam persentasi yakni perseratus atau %.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2