SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
253. To the point


__ADS_3

Axell menghampiri Delvin di kamarnya. Setelah mengetuk pintu kamar Delvin, Axell langsung masuk tanpa menunggu Delvin membukakan pintu. Delvin menatap ke arah Axell yang masuk ke dalam kamarnya itu sebentar, lalu menatap layar handphonenya.


"Kakak ingin bicara,"ucap Axell to the point dengan wajah serius.


"Bicara saja!"sahut Delvin santai seraya menggulir layar handphonenya.


Delvin duduk bersandar di headboard ranjangnya. Kaki kiri pemuda itu diluruskan, sedangkan kaki kanannya di tekuk, dijadikan sebagai tumpuan tangan kanannya yang sedang memegang handphone.


"Kakak sarankan agar kamu menjaga sikap, mata dan mulut kamu itu. Jaga mata kamu agar tidak menatap istri orang secara berlebihan. Jaga sikap kamu agar lebih sopan pada orang lain. Baik pada yang lebih tua ataupun pada yang lebih muda. Dan jaga mulut kamu agar tidak berkata yang seharusnya tidak kamu katakan. Apa kamu tidak sadar, bahwa hari ini kamu benar-benar menyebalkan dan membuat kami merasa geram?"ujar Axell meluapkan isi hatinya. Pemuda itu duduk di sebelah Delvin menghadap Delvin.


"Jadi, kakak datang ke sini hanya untuk menceramahi aku?"tanya Delvin terlihat kesal dan tidak suka. Pemuda itu tidak mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya.


"Terserah apa kata kamu, tapi yang pasti, kakak tidak suka dengan sikap kamu hari ini. Malam ini kamu sudah sangat keterlaluan, Vin. Bagaimana pun juga, kak Dimas itu adalah kakak kita. Kamu harus menghargai dan menghormati kak Dimas,"ucap Axell penuh penekanan.


"Cih! Kenapa kalian lebih membela orang lain dari pada aku yang keluarga kalian sendiri?"ketus Delvin yang masih merasa kesal jika mengingat keluarganya lebih membela Dimas dari pada dirinya.


"Kenapa kamu belum juga mengerti dan sadar, sih, Vin? Kak Dimas itu bukan orang lain. Dia itu kakak kita. Saudara satu ayah dengan kita,"ujar Axell penuh penekanan.


"Terserah kakak jika mau menganggap dia kakak. Bagiku, dia bukan kakak ku. Dia itu orang lain yang tiba-tiba datang dan mencari simpati dan perhatian dari kalian,"sahut Delvin dengan nada ketus.

__ADS_1


"Dasar keras kepala! Tidak tahu diri! Jika kamu tidak mau menghormati dia sebagai kakak kamu, setidaknya hormati dia sebagai orang yang telah menyelamatkan nyawa kamu. Dan satu lagi, kak Dimas tidak pernah mencari simpati ataupun perhatian dari kami,"ujar Axell kesal.


"Bukankah papa sudah memberinya uang seratus miliar sebagai tanda terimakasih karena dia telah menyelamatkan kita semua? Aku terasa itu sudah cukup. Dan kita tidak perlu lagi merasa berhutang budi lagi pada dia,"


"Astagaa. ! Kenapa kamu jadi seperti ini, sih, vin?! Apa kamu pikir nyawa itu bisa di tukar dengan uang? Kenapa kamu jadi berpikiran sempit dan egois seperti ini, Vin? Apa karena kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ayana adalah kakak ipar kita, hingga kamu bersikap seperti ini? Apa kamu belum bisa move on juga dari Ayana? Sadar, Vin! Sadar! Ayana itu tidak mencintai kamu, dia hanya mencintai kak Dimas. Apa kamu tidak bisa melihat, jika Ayana sangat mencintai kak Dimas? Berbulan-bulan dia menunggu kakak yang terbaring koma di rumah sakit dengan harapan untuk hidup yang kecil. Ayana rela tinggal di ruangan tempat kakak dirawat selama berbulan-bulan. Bahkan membersikan tubuh kakak setiap hari dan tidak mengizinkan siapapun membersihkan tubuh kakak. Hanya karena dia tidak ingin tubuh kakak di sentuh oleh orang lain. Apa kamu tidak bisa melihat betapa besarnya cinta Ayana pada kakak? Dia juga sudah jelas mengatakan tidak akan menikah dengan siapapun walaupun kakak meninggal. Kenapa kamu tidak juga move on dari dia? Kenapa kamu masih juga mengharapkan dia? Dengan sikap kamu yang seperti tadi, itu hanya akan membuat kami merasa kesal dan tidak suka padamu. Bahkan Ayana pun terlihat tidak suka dan tidak respek padamu. Apa kamu tidak menyadari itu? Lagi pula, apa kelebihan kamu di banding kak Dimas, hingga kamu begitu percaya diri menginginkan Ayana?


Ubahlah sikap kamu! Jangan kamu lanjutkan sikap kamu yang seperti tadi! Jika kamu terus bersikap seperti ini, maka semua orang akan membenci kamu,"ujar Axell yang mencoba untuk menyadarkan adiknya itu, kemudian pemuda itu meninggalkan kamar Delvin.


Setelah Axell pergi, Delvin membuang napas kasar. Entah mengapa, setiap melihat Dimas, Delvin begitu iri dan benci. Dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak melontarkan kata-kata yang malah membuat dirinya di tentang oleh semua keluarganya.


Keesokan harinya, keluarga Buston sarapan pagi bersama. Setelah sarapan, Dimas pun mulai bicara.


"Kenapa sudah mau menginap di rumah papa Ayana? Kalian, 'kan, baru menginap beberapa malam disini?"tanya Buston terlihat keberatan jika Dimas dan Ayana hanya menginap beberapa malam di rumahnya.


"Apa kalian tidak betah di sini karena adikmu Delvin?"tanya Liliana to the point, kemudian melirik pada Delvin dengan tatapan tajam dan wajah yang terlihat tidak suka.


"Bukan, ma. Mungkin kami juga akan menginap sebentar di rumah papa Geno. Kami ingin kembali ke rumah kontrakan kami. Mungkin dengan kembali ke rumah kontrakan kami, amnesia ku akan segera sembuh,"ujar Dimas yang terdengar masuk akal.


"Iya, juga, sih. Di rumah itu pasti kalian memiliki banyak kenangan. Dan kemungkinan besar bisa membuat ingatan kamu cepat pulih. Tapi, papa harap kalian akan sering-sering menginap di sini,"sahut Buston yang tidak bisa mencegah Dimas dan Ayana pergi. Karena alasan Dimas memang sangat masuk akal.

__ADS_1


"Tapi, mama khawatir pada Ayana. Saat ini Ayana sedang hamil besar. Mama dengar, Toyib dan istrinya akan pindah ke rumah kontrakan lain. Jadi, di rumah kontrakan kalian tidak ada orang lain selain kalian berdua. Jika di rumah ini atau di rumah mertua kamu, 'kan, ada pelayan. Jadi mama tidak terlalu khawatir jika sewaktu-waktu Ayana mau melahirkan,"ujar Liliana yang memang khawatir pada kandungan Ayana.


Selama enam bulan ini Liliana sudah saling mengenal dengan Ayana dan merasa senang memiliki menantu seperti Ayana. Bagi Liliana, Ayana adalah wanita yang baik, setia, sederhana, tidak banyak tingkah, enak diajak ngobrol dan pengertian. Jadi Liliana sudah terlanjur suka pada Ayana. Liliana juga sangat senang Ayana dan Dimas tinggal bersama mereka. Tidak rela rasanya jika sepasang suami-isteri itu hanya tinggal sebentar di rumahnya.


"Yang dikatakan mama kamu itu benar, Dim. Kalian belum berpengalaman dalam hal ini. Papa khawatir pada Ayana,"imbuh Buston.


"Aku akan berusaha menjaga Ayana dan anak kami sebaik mungkin, pa, ma,"sahut Dimas.


"Baiklah jika begitu keinginan kalian. Mama akan menyuruh salah seorang pelayan kepercayaan mama untuk tinggal bersama kalian. Dan kalian jangan menolaknya. Mama yang akan menggajinya. Mama tidak tenang jika kalian hanya tinggal berdua. Dan soal perusahaan, mama ingin kamu ikut papa ke perusahaan. Jangan pedulikan apa kata Delvin yang sampai saat ini hanya bisa menadahkan tangan untuk memenuhi kebutuhannya hidupnya itu. Perusahaan itu adalah milik mama, terserah mama, mau mama kasih pada siapa. Sebagai anak kami, bukankah sewajarnya jika kamu ikut membantu mengelola perusahaan kita? Jadi, mama harap kamu mau membantu di perusahaan kita,"ujar Liliana tidak ingin dibantah.


Delvin hanya bisa membuang napas kasar mendengar kata-kata mamanya itu. Merasa tertohok dengan kata-kata mamanya tentang dirinya yang belum bisa mencari uang sendiri.


"Baiklah, ma,"sahut Dimas yang tidak bisa menolak Liliana. Karena apa yang dikatakan Liliana adalah benar.


"Lagi pula, kamu akan ditempatkan di perusahaan induk. Jadi, kamu tidak akan bertemu dengan anak manja itu setiap hari. Kamu tidak akan mendengar kata-katanya yang tidak di filter itu. Karena dia bekerja di perusahaan cabang bersama Axell,"imbuh Liliana menatap sekilas pada Delvin. Sedangkan Delvin terlihat bersungut-sungut mendengar kata-kata Liliana.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2