SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
124. Kita Lihat!


__ADS_3

Geno menyuruh satpam yang menjaga pintu gerbang rumahnya itu untuk mempersilahkan orang tua Noval masuk. Sedangkan Geno dan keluarganya menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, seorang pelayan di rumah Geno mengarahkan seorang pria paruh baya masuk ke ruangan tamu, sesuai perintah Geno.


"Selamat malam Tuan Geno, perkenalkan, saya Dandy, ayah Noval,"ucap pria paruh baya yang ternyata bernama Dandy itu menyalami Geno, Hilda, Nando dan Bening.


"Silahkan duduk!"ucap Geno mempersilahkan.


"Begini, Tuan Geno. Saya datang ke sini untuk membicarakan tentang masalah putra dan putri kita. Karena saya tidak punya banyak waktu, saya ingin bicara pada intinya saja. Saya ingin anda mencabut tuntutan anda pada putra saya. Anda tahu bukan? Walaupun kalian menang dalam persidangan, Noval juga tidak akan terlalu lama mendekam di penjara. Kenapa anda menghabiskan banyak uang menyewa pengacara untuk menangani kasus sepele seperti ini?"tanya Dandy terlihat meremehkan. Menatap Geno dan Nando yang duduk di kursi roda dengan tatapan merendahkan.


Jika di hitung-hitung, Dandy memang sedikit lebih kaya dari Geno. Apalagi jika di tambah dengan beberapa klub malam yang dimiliki Noval. Jelas keluarga Dandy lebih kaya dari keluarga Geno. Tapi tentu keluarga Geno lebih kaya dari keluarga Dandy jika kekayaan keluarga Geno di gabungkan dengan aset yang dimiliki oleh Dimas.


Mendengar perkataan Dandy, Geno mengepalkan kedua tangannya,"Kasus sepele kata anda? Putra anda telah menyebabkan putri saya mengalami trauma hampir satu tahun ini. Dan anda bilang cuma kasus sepele?"tanya Geno dengan wajah geram.


"Siapa bilang, putra anda tidak akan lama mendekam di penjara?"suara bariton itu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan tamu.


Terlihat Dimas yang datang seraya merangkul pinggang Ayana yang membawa tas ransel di punggungnya.. Keduanya sama-sama memakai celana Levis berwarna hitam, kaos berwarna putih dan jaket kulit berwarna hitam. Seperti pakaian couple.


"Dim, Ay! Kemari lah!"ucap Geno yang wajah geramnya langsung berubah menjadi cerah saat melihat anak dan menantunya.


Dimas dan Ayana menyalami Geno dan Hilda bergantian. Kemudian keduanya duduk berdampingan di sofa. Ayana duduk menempel pada Dimas seraya memeluk lengan pria yang sudah menjadi suami sah nya di mata hukum dan agama itu dengan mesra.


"𝙄𝙨𝙨𝙝.. 𝙖π™₯𝙖 π™™π™žπ™– 𝙒𝙖π™ͺ π™₯π™–π™’π™šπ™§ π™ π™šπ™’π™šπ™¨π™§π™–π™–π™£ π™™π™ž π™™π™šπ™₯𝙖𝙣 π™€π™§π™–π™£π™œ π™‘π™–π™žπ™£?"gerutu Bening dalam hati, menatap tidak suka pada Ayana.


"Siapa kamu?"tanya Dandy yang tidak mengenali Dimas. Karena menurut informasi yang di dapatkannya dari orang suruhannya, Geno memiliki seorang istri, seorang putra, seorang putri dan seorang menantu perempuan. Bahkan Dandy telah mendapatkan foto keluarga Geno, tapi pria muda penuh wibawa yang datang bersama putri Geno itu tidak dikenali oleh Dandy.


"Ini Dimas. Tunangan Ayana,"sahut Geno nampak bangga.


"Oh, tunangan putri anda? Apa yang dimiliki dia hingga anda mencampakkan putra saya? Bahkan ingin membuat putra saya mendekam di penjara?"tanya Dandy dengan tatapan meremehkan pada Dimas.

__ADS_1


"Tidak perduli apa yang saya miliki.Tapi yang pasti, kami akan membuat Noval membayar penderitaan Ayana selama hampir satu tahun ini,"sahut Dimas tegas.


"Saya mengajak kalian untuk berdamai dengan cara mencabut tuntutan kalian pada putra saya. Sebagai gantinya, saya akan memberikan uang kompensasi sejumlah seratus juta,"ujar Dandy bernegosiasi, wajah pria paruh baya itu terlihat sombong.


"Kami tidak akan membiarkan putra anda bebas dari jeratan hukum hanya dengan uang senilai seratus juta,"sahut Dimas terlihat tenang.


"Lalu berapa yang kamu inginkan?"tanya Dandy seraya memicingkan sebelah matanya menatap Dimas.


"Satu triliun,"ucap Dimas membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, kecuali Ayana.


"Apa kamu sudah gila? Apa kamu pikir uang satu triliun itu sedikit? Kamu ingin menjadi kaya mendadak dengan cara memeras saya?"sergah Dandy terlihat emosi.


"Jika anda tidak mau, jangan coba bernegosiasi dengan kami. Karena kami tidak akan membiarkan putra anda lolos dari jeratan hukum,"ujar Dimas dengan tatapan datar.


"Jangan sombong! Jika kalian membuat saya marah, saya akan membuat para investor di perusahaan kalian meninggalkan perusahaan kalian yang tidak seberapa besar itu!"ancam Dandy tersulut emosi.


Geno, Hilda, Nando dan Bening pun terkejut mendengar ancaman Dandy. Tapi tidak dengan Dimas dan Ayana.


"Baik, kita lihat saja nanti!"ucap Dandy dengan tatapan meremehkan, beranjak pergi dari ruangan tamu itu.


"Tu.."


Nando ingin ikut bicara, mencegah Dandy pergi, tapi Geno langsung.memegang tangan Nando yang ada di sampingnya, meletakkan jari telunjuknya sendiri di bibirnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya pelan. Sebagai isyarat bahwa Geno tidak mengijinkan Nando bicara.


Nando mengepalkan kedua tangannya. Tidak mengerti kenapa papanya membiarkan Dimas bicara seperti itu. Seolah-olah perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Dimas adalah perusahaan milik Dimas.


Sedangkan Geno, entah mengapa Geno sangat percaya bahwa Dimas tidak akan mengambil keputusan tanpa berpikir lebih dulu dan mempertimbangkan segala risiko nya. Geno benar-benar percaya seratus persen pada Dimas. Sedangkan Hilda sendiri sebenarnya juga takut dengan ancaman Dandy, tapi melihat suaminya terlihat tetap tenang, Hilda pun memilih untuk diam.

__ADS_1


"Saya tunggu hari di mana klub malam putra anda yang anda bangga-banggakan itu di tutup,"ucap Dimas tersenyum sinis, membuat Dandy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dimas.


"Kamu tidak akan pernah melihat hari itu tiba,"ucap Dandy penuh percaya diri.


"Kita lihat saja nanti!"ucap Dimas tanpa ada rasa takut sama sekali di wajahnya.


Dandy pergi dari rumah Geno dengan penuh amarah. Setelah Dandy pergi, Geno, Hilda, Nando dan Bening pun langsung menatap


ke arah Dimas.


"Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu menantang Tuan Dandy? Perusahaan Tuan Dandy lebih besar dari perusahaan kita. Pengaruhnya juga besar. Apa kamu ingin membuat perusahaan kita bangkrut?"ujar Nando sarkas.


"Apa kakak tidak melihat bagaimana dia menatap kita dengan tatapan meremehkan dan merendahkan? Apa kakak mau harga diri kita diinjak-injak oleh dia? Lagipula, aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Sebentar lagi, perusahaan kita akan tiga kali lipat lebih besar dari perusahaan Tuan Dandy,"ujar Dimas tenang tapi penuh keyakinan.


"Jangan bermimpi! Papa sudah bekerja keras mengelola perusahaan selama bertahun-tahun. Tapi belum bisa menyaingi perusahaan Tuan Dandy. Menjadi tiga kali lipat lebih besar dari perusahaan Tuan Dandy? Bicaramu terlalu besar. Kita semua akan menjadi gembel karena kamu,"ketus Nando yang merasa kesal pada Dimas.


"Dim, katakan pada papa! Kenapa kamu bersikap seperti itu?"ujar Geno ingin penjelasan dari Dimas.


"Pertama, karena Tuan Dandy terlihat merendahkan dan meremehkan kita. Kedua, aku tidak ingin menjual harga diri kita hanya demi uang senilai seratus juta. Ketiga, karena kita mendapatkan klien yang akan bisa membuat perusahaan kita berkembang lebih pesat. Papa tahu, Tuan Buston?"tanya Dimas.


"Tentu saja. Dia pengusaha paling sukses dan paling ditakuti di negeri ini,"sahut Geno.


"Perusahaan Tuan Buston mengajak kita untuk bekerja sama dengan mereka. Bahkan menawarkan investasi dengan nominal yang sangat besar,"ucap Dimas antusias.


"Apa kamu serius?"tanya Geno nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas, demikian pula dengan Nando. Pasalnya, sangat sulit untuk mengajak perusahaan Tuan Buston bekerja sama.


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.......


To be continued


__ADS_2