
Wulan mengendarai motor pemberian calon suaminya ke kampus. Sesampainya di kampus, Wulan langsung menuju kelas dan tak lama kemudian, mata kuliah pun dimulai. Saat mata kuliah selesai, Wulan keluar dari kelasnya. Tanpa sengaja Wulan melihat Ayana.
"Ay!"panggil Wulan spontan.
"Wulan!"sahut Ayana tersenyum lebar.
Kedua sahabat itu saling menghampiri dan saling berpelukan. Mengambil jurusan yang berbeda membuat keduanya jarang bertemu. Walaupun mereka kuliah di universitas yang sama.
"Dihh.. yang mau jadi pengantin. Wajahnya cerah banget. Secerah mentari pagi yang bersinar terang,"goda Ayana.
"Apaan, sih!"sahut Wulan dengan wajah yang bersemu merah.
"Ha.ha.ha... malu-malu!"ledek Ayana. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan menuju parkiran.
"Kamu sendiri, kapan mau mengadakan resepsi pernikahan, Ay?"tanya Wulan yang mengingat Ayana belum mengadakan resepsi pernikahan.
"Aku dan kakak sudah lama menikah. Jadi males mau mengadakan resepsi pernikahan. Aku sudah capek duluan kalau membayangkan harus berdiri lama menyambut para tamu undangan dengan senyuman yang bikin gigi kering,"sahut Ayana.
"Ada-ada aja kamu, Ay,"sahut Wulan tersenyum tipis.
"Hai, Ay!"sapa Delvin yang tiba-tiba muncul bersama si keriting dan si gisul.
Ayana hanya tersenyum tipis pada Delvin, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Melewati Delvin dan kawan-kawanya.
"Ay,. Lan, nongkrong di kafe depan, yuk! Aku yang traktir, deh! bujuk Delvin yang yang ikut berjalan di samping Ayana. Pemuda itu tidak pernah lelah untuk mendekati Ayana.
Gadis muda, cantik, bohay dan nampak menghindar, bahkan terkesan acuh pada semua mahasiswa. Hal itu benar-benar menarik perhatian Delvin. Sebenarnya bukan cuma Delvin yang tertarik pada Ayana. Para mahasiswa yang lain juga tertarik pada Ayana. Namun mereka semua memilih mundur sebelum berjuang untuk mendapatkan hati Ayana karena merasa minder jika harus bersaing dengan Delvin. Yang notabene adalah anak orang kaya nomer satu di negeri ini.
"Maaf, kak! Aku harus pulang,"tolak Ayana secara halus.
"Kamu selalu menolak ajakan ku, Ay. Satu kali ini saja, Ay! Aku mohon! Apa aku harus berlutut di kaki kamu hanya untuk mengajakmu nongkrong di kafe. Jika iya, maka akan aku lakukan,"ucap Delvin yang merasa benar-benar kesulitan untuk mendekati Ayana.
Tiba-tiba saja pemuda itu berlutut di depan Ayana, membuat atensi semua orang terpusat pada mereka. Ayana dan Wulan pun terkejut melihat aksi Delvin itu.
"Astagaa.! Malu-maluin aja ini cowok,"gumam Ayana dalam hati.
"Gila, nih, cowok. Nekat banget berlutut di depan Ayana,"gumam Wulan dalam hati.
"Hei, lihat! Kak Delvin berlutut di depan Ayana!"
"Astaga.. kak Delvin sampai berlutut di depan Ayana,"
"Kenapa kak Delvin sampai berlutut di depan itu Maba?"
"Aku dengar tadi, kak Delvin mengajak Ayana nongkrong di kafe. Tapi, itu Maba nggak mau. Jadi kayak begitu, deh! Kak Delvin sampai berlutut di depan itu Maba hanya karena ingin mengajak itu Maba nongkrong di kafe,"
__ADS_1
"Sombong banget tuh, Maba! Diajak nongkrong aja nggak mau,"
"Iya, tuh. Mentang-mentang cantik jadi sombong,"
"Sok jual mahal,"
"Kalau aku, akan langsung aku terima, jika kak Delvin menyatakan cinta padaku,"
"Mana mau kak Delvin sama kita-kita. Clara yang primadona kampus aja di putusin, kak Delvin,"
"Jangan-jangan Clara diputusin gara-gara tuh, Maba,"
"Mungkin juga,"
Masak kusuk para mahasiswi yang merasa iri pada Ayana.
"Kak Delvin yang tajir melintir, pangeran tertampan di kampus ini saja nggak digubrisnya. Apalagi kita-kita. Yang dari muka sampai dompet semuanya pas-pasan,"
"Kita mah, apa atuh,"
"Pantesan nggak ada mahasiswa yang diliriknya. Kak Delvin aja nggak ditanggap,"
"Aku jadi penasaran, seperti apa cowok idaman itu cewek,"
"Aku juga,"
"Jadi dia cewek yang bikin Delvin mutusin aku?"gumam Clara, mantan pacar Delvin. Gadis itu menatap Ayana dengan tatapan penuh kebencian.
"Sepertinya iya, Ra,"
"Jangan-jangan, kamu diputusin Delvin gara-gara itu Maba, Ra?"
"Iya, Ra. Delvin, 'kan, mutusin kamu saat Maba mulai ospek. Jadi, sangat mungkin jika kamu di putusin Delvin karena itu cewek,"
Sahut teman-teman Clara yang kebetulan mengikuti Clara yang berniat mencari Maba yang jadi pembicara di kampus karena cantik bohay dan di kejar-kejar oleh Delvin.
Ayana tidak mengira jika Delvin benar-benar berlutut di depannya. Sehingga semua mahasiswa memperhatikan mereka.
"Maaf, kak! Aku wanita yang sudah menikah. Tidak pantas jika aku nongkrong dengan seorang pria tanpa ada suamiku. Kakak adalah pria yang tampan, kaya dan terpandang. Sungguh tidak patut jika mendekati aku seorang wanita yang sudah bersuami. Masih banyak gadis yang masih singel yang menyukai kakak. Maaf, aku permisi!"ucap Ayana langsung menarik tangan Wulan dan pergi dari tempat itu.
Sebenarnya Ayana sudah jengah dengan Delvin yang terus menerus mengejar-ngejar dirinya. Walaupun Ayana sudah sering kali mengatakan bahwa dirinya sudah menikah. Namun Delvin seolah tidak peduli jika Ayana sudah menikah dan tetap mengejar-ngejar Ayana.
"Astagaa.! Kak Delvin di tolak,"
"Sok kecakapan itu cewek,"
__ADS_1
"Palingan juga pura-pura jual mahal, biar kak Delvin semakin penasaran buat ngejar dia,"
"Delvin yang perfek aja di tolak, apalagi kita-kita?"
"Kita, mah... Lewatt.."
Kasak-kusuk para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat Delvin berlutut di depan Ayana. Tapi malah ditinggalkan Ayana begitu saja.
"Cih, sok kecantikan banget. Dia pikir dia itu siapa? Sok-sokan nolak Delvin,"sinis Clara.
"Bukankah bagus kalau dia nolak Delvin, Ra,"
"Dia pasti cuma sok nggak mau aja, biar di kejar-kejar Delvin. Mana mungkin ada cewek yang menolak cowok tajir dan tampan seperti Delvin?"ucap Clara, lalu beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana, Ra?"tanya salah seorang teman Clara.
"Ingin memberi pelajaran pada itu Maba. Biar nggak sok kecantikan,"sahut Clara.
Teman-teman Clara saling menatap, kemudian saling mengangkat bahu. Pertanda mereka sama-sama tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Clara. Tapi kedua teman Clara itu mengikuti Clara.
Delvin bangkit dari tempatnya berlutut seraya membuang napas kasar. Baru Ayana yang menolak dirinya. Selama ini tidak ada yang menolak dirinya. Bahkan dirinya selalu dikejar-kejar para gadis. Tapi Ayana malah menghindari dirinya dan terang-terangan menolak dirinya.
"Buset tuh, cewek! Nggak ada cewek yang menolak bos, kecuali itu cewek,"ujar si keriting.
"Apa benar, dia sudah menikah? Jika sudah, seperti apa, sih, suaminya? Aku jadi sangat penasaran,"sahut si gisul.
"Aku tidak percaya jika dia sudah menikah. Dia itu masih muda banget. Baru lulus SMU. Umur juga baru delapan belas tahun. Masa iya, sudah menikah? Apalagi, sepertinya dia juga bukan dari kalangan menengah ke bawah seperti kita. Mana mungkin orang kaya menikah di usia muda?"sahut si keriting.
"Tunangan .kali,"sahut si gisul.
Delvin hanya diam sambil menatap Ayana yang semakin menjauh. Tapi telinga nya mendengar pembicaraan kedua temannya.
"Aku juga tidak percaya jika Ayana sudah menikah. Usianya masih sangat muda. Baru delapan belas tahun. Tidak mungkin dia sudah menikah. Benar apa kata si keriting. Pakaian Ayana branded semua. Dan cincin yang ditunjukkannya, aku yakin itu cincin berlian seperti yang selalu dipakai mama. Jadi mungkin benar juga kata si gisul, mungkin dia baru bertunangan,"gumam Delvin dalam hati.
"Lan, temani aku beli bahan masakan, yuk!"ajak Ayana.
"Di mana?"tanya Wulan.
"Di dekat lampu merah yang nggak jauh dari rel itu biasanya suka ada jualan sayuran yang segar-segar. Kita ke sana, yuk!"ajak Ayana.
"Okey,. Ayo! Nih, pakai helm! Untung tadi pas dari nganter ibu ke tukang jahit, helmnya lupa aku taruh. Jadi kita nggak takut di tilang polisi karena kamu nggak pakai helm,"ujar Wulan seraya menyodorkan helm pada Aurora.
Sementara itu, tanpa di sadari Ayana dan Wulan, Clara dan teman-temannya diam-diam mengikuti keduanya.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued