
Deru suara mobil terdengar di depan rumah Geno dan Hilda. Tak lama kemudian suara bel rumah pun terdengar. Seorang ART terlihat membuka pintu.
"Maaf! Tuan ingin bertemu dengan siapa?"tanya ART itu dengan sopan pada seorang pemuda yang berdiri di depannya itu.
"Apa Tuan Geno atau nyonya Hilda nya ada?"tanya pemuda itu sopan.
"Ada. Maaf! Ini dengan siapa, ya?"tanya ART itu.
"Noval,"sahut Noval.
"Sebentar, ya, Tuan. Saya panggilkan Tuan dan Nyonya dulu, silahkan masuk dan duduk dulu!"ujar ART itu mengantar Noval ke ruang tamu, kemudian meninggalkan Noval untuk memanggil majikannya.
Kenapa Noval tidak takut jika Ayana mengadu pada kedua orang tuanya tentang kejadian waktu itu? Tentu saja Noval tidak takut. Waktu itu Ayana lah yang melarikan diri dan Noval juga tidak melakukan apa-apa selain mengejarnya. Bahkan langsung pulang melapor pada kedua orang tua Ayana dan membantu mencari Ayana dalam keadaan hujan deras waktu itu. Tidak ada yang salah, bukan, pada Noval?
Namun ada yang tidak Noval ketahui. Yaitu kenyataan bahwa Ayana telah mendengar semua kata-katanya yang mengungkapkan bahwa dirinya akan berbuat buruk pada Ayana.
"Tok! Tok! Tok!"
"Tuan, Nyonya, ada seorang pemuda yang bernama Noval mencari Tuan dan Nyonya,"ucap ART itu.
"Iya, sebentar, Bik! Bikinin minuman buat dia, ya!"sahut Hilda dari dalam.
"Baik, Nyonya,"sahut ART itu bergegas ke dapur untuk membuat minuman.
"Pa, gimana, nih? Kita harus ngomong apa sama Noval? Sampai sekarang Ayana belum ketemu juga,"ujar Hilda nampak bingung.
"Mama cari alasan apa gitu. Masa nggak bisa nyari alasan! Nggak mungkin, 'kan, kita bilang kalau Ayana yang menghilang dari waktu itu belum bisa kita temukan?"sahut Geno melimpahkan semua pada Hilda.
"Mama juga ujung-ujungnya yang harus mencari alasan,"gerutu Hilda yang hanya bisa menghela napas berkali-kali.
"Orang-orang kita nyari Ayana ke mana saja, sih? Sudah hampir enam bulan nggak ketemu-ketemu juga. Mereka itu kerja apa cuma tidur dan makan gaji buta? Jangan beri mereka gaji, jika bulan ini belum juga menemukan Ayana!"geram Geno.
__ADS_1
"Iya. Nanti mama bilang pada mereka. Sekarang kita temui Noval dulu!"ajak Hilda.
Sampai saat ini orang suruhan Hilda belum bisa juga menemukan Ayana. Tentu saja mereka kesulitan menemukan Ayana. Karena yang di sewa Hilda bukan detektif dan hanya orang biasa. Dua orang itu beberapa hari menunggu anak-anak di sekolah Ayana keluar dari sekolah. Tapi tidak juga menemukan Ayana. Belum lagi Ayana selalu memakai masker dan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Jadi mereka tidak mengenali Ayana. Dan bodohnya lagi, orang suruhan Hilda malah tidak kepikiran untuk bertanya pada pihak sekolah. Seharusnya mereka bertanya pada pihak sekolah, ada Ayana atau tidak di sekolah itu. Hingga sudah hampir enam bulan mencari pun tidak kunjung ketemu.
Orang suruhan Hilda juga mencari di daerah sekitar Ayana menghilang seperti yang ditunjukkan oleh Noval. Bahkan mereka juga sudah pernah mencari Ayana di kampung tempat Ayana tinggal saat ini. Tapi karena identitas Ayana sebagai adik Dimas dan Toyib, serta di dukung dengan Ayana yang tidak pernah keluar rumah, membuat Ayana sulit di temukan.
Dan tentunya orang suruhan Hilda memang tidak serius mencari Ayana seperti yang dikatakan oleh Geno. Mereka lebih banyak bersantai dari pada mencari Ayana. Yang penting gaji lancar dan setiap hari memberi laporan kemana mereka mencari Ayana.
"Om, Tante, apa kabar?"sapa Noval pada Geno dan Hilda dengan sopan.
"Baik!"sahut Geno dan Hilda bersamaan.
"Om, Tante, boleh, nggak kalau saya ajak Ayana jalan-jalan?"tanya Noval sopan.
"Bukannya nggak boleh, nak Noval. Tapi Ayana nya sedang tidak ada di rumah,"ujar Hilda.
"Memangnya Ayana kemana, Tan?"tanya Noval yang masih gigih ingin bertemu dengan Ayana.
"Ohh.. gitu, ya, Tan? Sayang sekali,"ujar Noval yang merasa kecewa. Akhirnya Noval pamit pulang pada Geno dan Hilda. Malam ini Noval kembali pulang dengan kegagalan.
Kecantikan Ayana benar-benar membuat Noval ingin memiliki Ayana. Sayang sekali rencana Noval malam itu gagal. Jika malam itu rencana Noval berhasil, pasti saat ini Ayana sudah menjadi budak ranjang Noval.
Rencananya Noval akan memberi Ayana obat, lalu Noval akan berhubungan intim dengan Ayana dan merekamnya. Selain itu, Noval juga akan mengambil foto-foto tidak senonoh Ayana, agar bisa Noval gunakan untuk mengancam Ayana. Dengan begitu, Noval bisa tidur dengan Ayana kapanpun tanpa bisa ditolak Ayana. Itulah rencana Noval hingga saat ini. Sayangnya sampai sekarang, Noval belum bisa membawa Ayana pergi seperti waktu itu.
Sementara itu, di kontrakan Dimas dan Toyib, Ayana nampak sedang belajar. Tapi sepertinya gadis itu menemukan kendala dalam mengerjakan tugasnya. Akhirnya Ayana pun keluar dari kamarnya untuk mencari Dimas.
"Kak, bisa bantuin kerjain PR, nggak?"tanya Ayana.
"Coba bawa ke sini!"titah Dimas.
"Baik, kak,"sahut Ayana penuh semangat, kembali ke kamarnya untuk mengambil bukunya.
__ADS_1
Ya, semenjak tinggal bersama Dimas dan Toyib, Ayana selalu bertanya pada Dimas soal pelajaran yang tidak dimengerti nya. Waktu itu, awalnya Dimas melihat Ayana yang nampak kusut karena tidak bisa mengerjakan tugas yang sulit. Lalu Dimas menawarkan bantuan. Tidak di sangka Ayana, Dimas bisa menjelaskan semua materi yang sulit dimengerti oleh Ayana. Sejak itulah Ayana selalu minta diajari Dimas.
Karena penasaran dengan kecerdasan Dimas, Ayana beberapa kali pernah bertanya pada Dimas, sebenarnya Dimas lulusan apa? Tapi Dimas tidak pernah mau menjawabnya dan mengalihkan pembicaraan.
"Ini, kak. Soal akutansi,"ujar Ayana menyodorkan bukunya kemudian duduk di sebelah Dimas.
Dimas melihat soal yang diberikan Ayana sebentar, kemudian menjelaskan bagaimana penyelesaian soalnya dengan memberikan contoh pada Ayana. Dimas fokus menjelaskan sambil menulis di kertas dan Ayana fokus mendengarkan sambil melihat apa yang di tulis Dimas. Ayana duduk merapat ke pada Dimas agar bisa lebih jelas melihat apa yang dijelaskan dan ditulis Dimas.
"Mengerti tidak? tanya Dimas setelah menjelaskan. Menunduk menatap Ayana.
"Menger..."
Ayana yang dari tadi menunduk memperhatikan apa yang di tulis Dimas pun menoleh dan mendongakkan kepalanya sambil menjawab pertanyaan Dimas. Tapi Ayana tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena saat dirinya menoleh dan mendongak, tanpa sengaja bibir mereka malah bertemu. Hal itu karena posisi duduk mereka yang berdekatan.
Deg
Deg
Deg
Dimas dan Ayana diam terpaku saling menatap tanpa berkedip, dengan bibir yang masih menempel dan jantung yang berdetak kencang tidak beraturan.
"Ay, bikinin Abang kopi, dong!"
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1