
Ayana membantu Bu Lastri menyusukan barang belanjaannya yang mayoritas adalah bahan masakan itu ke dalam lemari es. Dan menyisakan sebagian yang ingin segera di olah.
"Eh,, Ay! Kapan kamu ke sini?"tanya Wulan yang baru saja masuk ke dalam dapur seraya melepaskan earphone di telinganya.
"Barusan,"sahut Ayana dengan senyuman cerahnya.
"Makanya telinga itu jangan di sumpel sama earphone melulu! Ada orang datang juga nggak tahu,"sahut Bu Lastri seraya.menyusun sayuran di lemari es.
"Kalau aku dengerin lagu lewat speaker, aku di marahi ibu. Ya sudah, aku dengerin lagu lewat earphone aja,"sahut Wulan beralasan.
"Habisnya, lagu kamu itu kebanyakan yang pakai bahasa Inggris. Ibu mana ngerti sama bahasa Inggris,"sahut Bu Lastri seraya memasukkan ikan dan daging di freezer.
"Ibu dulu pas pelajaran bahasa Inggris suka bolos, ya? Makanya nggak bisa bahasa Inggris,"selidik Wulan.
"Sembarangan! Ibu ini murid yang paling rajin masuk sekolah. Bahkan saat badan ibu meriang, hujan, dan petir, pun masih ibu bela-belain masuk sekolah. Nggak ada dalam kamus ibu yang namanya bolos sekolah,"sahut Bu Lastri seraya merapikan beberapa bahan masakan di rak lemari es.
"Rajin banget, Bu,"ledek Wulan.
"Kalau nggak rajin, ibu nggak bakalan naik kelas. Soalnya, otak ibu pas-pasan, buku dapet dari minjam, kamus pun dapet dari minjam. Sekolah setiap hari aja ibu masih loading, apalagi kalau ibu bolos sekolah,"ujar Bu Lastri tanpa menutup-nutupi apapun.
"Jujur amet, Bu,"celetuk Wulan menyengir kuda.
"Buat apa ibu bohong? Nggak faedah! Seharusnya kalian generasi jaman sekarang itu bersyukur dan harus lebih cerdas dari generasi jaman ibu dulu. Jaman sekarang, kalian bisa belajar apapun lewat handphone. Sekarang mau tahu tentang pelajaran apapun juga bisa tahu dari handphone. Ingin penjelasan detail pun bisa nonton Vidio dari handphone. Kalau ibu dulu, kalau nggak punya buku, ya , nggak bisa belajar. Diterangkan sama guru, kebanyakan nggak pahamnya. Mau nanya juga takut. Jadi, intinya, jaman sekarang, asalkan rajin pasti pintar. Soalnya jaman sekarang itu jarang yang nggak punya handphone. Nggak kayak jaman ibu dulu. Di rumah cuma punya radio. Satu kampung yang punya televisi cuma pak lurah. Beda sama sekarang yang setiap rumah pasti punya televisi. Jarang banget yang nggak punya televisi. Jaman ibu kecil dulu, listrik aja belum ada. Radio pakai baterai, televisi pun pakai aki,"ujar Bu Lastri panjang lebar.
"Wah, jaman dulu ternyata seperti itu, ya, Bu? Apa nggak bosan, Bu?"tanya Ayana yang tidak bisa membayangkan bagaimana jika hidup di jaman Bu Lastri.
"Enggak juga. Malah seru. Dulu sering main, kasti, petak umpet, main bola bekel, main egrang, semuanya main bersama-sama. Lebih banyak gerak dan seru main rame-rame. Nggak kayak jaman sekarang, generasi rebahan. Main bareng pun main di handphone sambil rebahan, mentok-mentok duduk. Nggak ada aktivitas fisik yang menyehatkan. Yang ada cuma pantengin layar handphone yang bikin mata jadi rusak,"jelas Bu Lastri.
"Jaman dulu sama sekarang beda banget, ya, Bu?"sahut Ayana setelah mendengar penuturan Bu Lastri.
__ADS_1
"Ya jelas beda. Jaman dulu kalau pacaran, nggak bisa komunikasi kalau nggak ketemu secara langsung atau lewat surat. Kalau ketemu pun ngumpet biar nggak ketahuan. Beda sama jaman sekarang, pacaran bisa komunikasi dari rumah masing-masing. Bisa chatting sampai-sampai Vidio call. Malah kalau ketemu suka mesra-mesraan di depan umum. Tanpa malu sedikit pun,"sahut Bu Lastri menghela napas panjang jika mengingat gaya pacaran anak jaman sekarang.
"Ngomong-ngomong soal pacaran, ada yang naksir Wulan, tuh, Bu!"ujar Ayana yang merasa kebetulan Bu Lastri menyinggung soal pacaran. Karena tujuan Ayana ke rumah Bu Lastri, selain melepas rindu juga karena ingin melakukan investasi tentang tanggapan Wulan dan kedua orang tuanya tentang Diky.
"Siapa?"tanya Bu Lastri antusias.
"Babang Diky. Ibu pasti udah tahu orang nya, 'kan? Kemarin nganterin Wulan pulang. Babang Diky naksir, loh, Lan, sama kamu,"ujar Ayana tersenyum tipis mengedipkan sebelah matanya pada Wulan.
"Apaan, sih! Genit, deh!" ujar Wulan yang wajahnya jadi memerah.
"Cie.. cie.. malu-malu meong!"ledek Ayana.
"Ishh.. jangan godain aku!"ucap Wulan yang wajahnya semakin memerah.
"Tapi beneran, loh, Lan, Bu. Babang Diky emang naksir sama Wulan,"ujar Ayana terlihat lebih serius.
"Babang Diky itu detektif, Bu. Ibu tahu, nggak, pas Vidio viral tentang aku yang mau di culik Noval kemarin? Terus ayah Noval yang ikut masuk penjara karena kejahatan keduanya terbongkar?"tanya Ayana menatap Bu Lastri dan Wulan bergantian.
"Iya, tahu. Kenapa memangnya?"tanya Wulan.
"Yang membongkar tindakan kriminal Noval dan ayahnya itu adalah Babang Diky,"jawab Ayana serius.
"Jadi, Nak Diky itu, Diky Prasetyo detektif terkenal yang tidak mau menunjukkan wajahnya itu?"tanya Bu Lastri nampak terkejut begitu pula dengan Wulan. Mereka tidak menyangka jika bisa bertemu dengan detektif terkenal yang tidak mau menunjukkan wajahnya kepada publik itu.
"Iya, Bu. Awalnya kak Dimas minta tolong sama babang Diky buat menyelidiki Noval, agar kami bisa memenangkan kasus ku kemarin. Tapi, tidak di duga, Noval ternyata melakukan tindakan yang melanggar hukum. Bahkan ayahnya juga,"ujar Ayana.
"Wahh.. ibu tidak menyangka bisa bertemu dengan detektif terkenal itu. Malah datang ke rumah buat ngantar Wulan pulang, lagi. Ibu beruntung sekali,"ujar Bu Lastri yang nampak excited,"Ngomong-ngomong, beneran kalau Nak Diky itu naksir sama Wulan, Ay?"tanya Bu Lastri kembali'pada topik pembicaraan.
"Beneran, Bu. Babang Diky itu nggak punya pacar, karena sibuk bekerja. Mau pdkt sama cewek juga susah, apalagi semenjak kasus Noval terungkap kemarin, klien Babang Diky semakin banyak.Jangamkan ngajak ngedate cewek, chatting dan nelpon aja nggak sempat,"ujar Ayana tanpa menutup-nutupi apapun,"Kamu beneran suka sama babang Diky, Lan?"tanya Ayana.
__ADS_1
"Aku nggak sepadan sama Bang Diky, Ay. Aku hanya gadis biasa dari keluarga sederhana. Nggak pantes bersanding dengan orang terkenal seperti bang Diky,"sahut Wulan yang jadi minder.
"Kok, kamu jadi minder gitu, Lan? Orang suka, ya, suka aja. Nggak peduli sama siapa, dan status nya apa. Yang penting sama-sama masih singel aja. Kamu sendiri tahu, walaupun orang tuaku bisa dibilang berkecukupan, aku tidak malu menikah dengan kak Dimas yang berprofesi sebagai sales pakaian keliling yang penghasilannya tidak menentu. Yang penting aku suka, cinta dan nyaman. Bahkan aku butuh waktu untuk membuat orang tuaku menerima kak Dimas sebagai menantu mereka. Kalau kamu suka ya bilang suka. Jangan minder karena status sosial,"ujar Ayana panjang lebar.
"Aku, sih, suka sama bang Diky, Tapi tetap aja nggak berani berharap,"sahut Wulan pesimis.
"Ah, kamu itu mikirin yang nggak perlu dipikirkan, Lan. Kalau ibu gimana? Apa ibu suka sama babang Diky?"
"Sebelum ibu tahu siapa Nak Diky, ibu, sih, sudah suka, Ay. Bapak juga. Nak Diky itu anak yang baik. Bukan cuma tampan, tapi juga sopan dan menghormati orang tua,"sahut Bu Lastri jujur.
Mendengar pengakuan Bu Lastri, Ayana pun tersenyum senang. Misinya selesai dengan mulus. Masalah Wulan, akan diserahkan Ayana pada Diky saja.
...đ¸â¤ď¸đ¸...
Notebook :
â˘Ketika bersemangat atau tertarik akan sesuatu, Anda bisa mengatakan âI am so excited!.
â˘Secara sederhana, excited artinya tertarik, terengah, gembira, gempar, engah, penuh gairah, bersemangat, heboh, dan gelisah. Pengucapan excited seperti kita mengatakan eksaited. Kata ini biasa digunakan untuk mengungkapkan rasa ketertarikan atau ketika Anda menaruh minat pada suatu hal.
â˘Excited bahasa gaul juga bisa digunakan untuk mengungkapkan rasa antusiasme Anda.
â˘Pesimis adalah suatu sikap ketika seseorang memiliki pandangan negatif terhadap situasi atau peristiwa tertentu. Pesimis diidentikkan dengan sikap seseorang yang mudah menyerah, tidak percaya diri, dan sudah menyerah sebelum mencoba
â˘Dijelaskan dalam situs KBBI online, minder sama halnya dengan rendah diri. Sebagai informasi tambahan, rendah diri adalah sifat dalam diri manusia yang selalu merasa dirinya kurang dari orang lain.
.
To be continued
__ADS_1