
Akhirnya Geno, Nando dan Dimas pergi ke rumah sakit untuk mengenali jenazah yang sudah di angkat polisi dari jurang dini hari tadi. Polisi memberikan barang-barang Bening berupa perhiasan yang di temukan pada jenazah. Perhiasan itu berupa gelang, kalung, dan beberapa cincin, yang salah satunya adalah cincin pernikahan Bening dengan Nando.
Setelah.memastikan bahwa jenazah itu adalah jenazah Bening, akhirnya Geno membawa pulang jenazah Bening untuk dimakan secara layak.
Ibu Bening yang di jemput supir Geno nampak sangat sedih melihat putri satu-satunya meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti itu.
"Kak! Kak Nando tidak apa-apa?"tanya Ayana saat melihat Nando duduk di salah satu kursi meja makan sedang minum.
"Aku baik-baik saja,"sahut Nando tersenyum tipis, walaupun matanya memancarkan kesedihan.
Ibu Bening yang akan ke kamar kecil pun menghentikan langkahnya. Menatap menantu yang selalu memperhatikan dirinya selama ini dengan sendu. Memberikan uang untuk biaya hidupnya, rutin setiap bulan. Namun sayang, beberapa waktu lalu malah di korupsi oleh putri kandungnya sendiri. Dan sekarang, setelah putrinya meninggal, dirinya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Tidak mungkin mengharapkan uang dari Nando lagi.
"Jika kakak perlu teman curhat, aku bersedia mendengarkan kakak,"ucap Ayana lembut.
"Terimakasih! Aku tidak apa-apa. Aku sudah mengilas kan mereka. Kalau pun Bening masih hidup, aku juga akan menceraikan dia setelah anak kami lahir. Aku tidak mau hidup dengan wanita yang menyelingkuhi aku. Aku kembali ke depan dulu. Nggak enak kalau aku terlalu lama di sini,"ucap Nando kemudian beranjak dari duduknya.
Ayana hanya menghela napas menatap kakaknya yang berjalan keluar dari dapur. Merasa prihatin pada kakaknya itu.
Ibu Bening langsung bersembunyi saat Nando akan keluar dari dapur. Dada wanita itu terasa sesak mendengar apa yang barusan di katakan Nando.
__ADS_1
"Bening menyelingkuhi Nando? Aku bukan ibu yang baik. Aku tidak bisa mendidik putri ku dengan benar,"gumam ibu Bening yang tidak terasa menitikkan air mata.
Upacara pemakaman berjalan dengan lancar. Sepanjang acara pemakaman itu, ibu Bening terlihat sangat sedih. Wanita paruh baya itu tidak menangis, tapi aura kesedihan sangat jelas terlihat di wajahnya.
Setelah pemakaman selesai, mereka semua pun pulang termasuk ibu Bening yang ikut pulang ke rumah Geno. Hilda tidak mengijinkan ibu Bening pulang. Dan memintanya untuk menginap selama semalam. Hilda mengerti, ibu Bening pasti merasa sangat kehilangan karena Bening adalah satu-satunya keluarganya. Karena itu Hilda tidak mengijinkan ibu Bening pulang.
Seusai makan malam, Geno, Hilda, Nando, Dimas dan Ayana berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan ibu Bening masuk ke dalam kamar tamu yang sudah di siapkan untuknya.
"Kak, aku minta maaf! Waktu itu, aku benar-benar marah karena tidak terima ada orang yang ingin menghabisi kita semua. Hanya kalian, Toyib dan Diky lah keluarga ku saat ini. Melihat orang dalam mobil itu ingin sekali melenyapkan kita, aku jadi marah dan sengaja menjebaknya agar jatuh ke dalam jurang. Aku telah menyebabkan anak kakak meninggal,"ucap Dimas penuh sesal.
"Kenapa kamu harus minta maaf! Jika aku di posisi kamu waktu itu, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama. Aku juga tidak rela jika ada yang berniat melenyapkan aku dan seluruh keluarga ku,"sahut Nando tenang.
"Benar kata Nando, Dim. Lagi pula ini sudah takdir Bening. Kita tidak bisa mengubah takdir orang,"sahut Geno.
Ibu Bening yang akan melewati ruangan itu untuk mengambil air minum di dapur pun menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Hilda.
"Papa juga tidak menyangka, ma. Bening akan berbuat senekat itu. Sampai-sampai ingin melenyapkan kita semua,"sahut Geno membuat ibu Bening meremas daster yang dipakainya dengan wajah yang terlihat syok.
"Padahal, selama ini aku selalu memanjakan Bening. Apapun yang dia inginkan, pasti aku turuti. Tapi, nyatanya dia malah mengkhianati aku. Konyolnya, Bening menculik Dimas agar bisa tidur dengan Dimas karena selama aku sakit, aku tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. Bening benar-benar menginjak-injak harga diriku. Anak kami, mungkin memang lebih baik jika tidak terlahir di dunia ini. Jika dia lahir, dia tidak akan memiliki keluarga yang lengkap. Dan Mungkin suatu hari nanti akan malu jika mengetahui semua kelakuan ibunya,"sahut Nando menghela napas panjang.
__ADS_1
"Bening berpacaran dengan Dimas, lalu membuat Dimas jatuh miskin dan namanya di blacklist hingga tidak bisa bekerja di perusahaan manapun. Meninggalkan Dimas dalam keadaan terpuruk. Lalu pindah ke kota ini dan menikah dengan Nando. Tapi setelah bertemu kembali dengan Dimas, dia malah masih ingin menggoda Dimas. Papa benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Bening,"ujar Geno geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan Bening.
"Sepertinya Bening ingin melenyapkan kita semua agar dia bisa memiliki semua harta yang kita miliki pa. Dengan bayi yang ada di dalam kandungannya sebagai ahli waris keluarga kita, rencana Bening itu pasti berjalan mulus. Karena jika kita semua meninggal, maka semua harta kita akan jatuh ke tangan anaknya. Dan yang pastinya, dia akan menguasai harta kita sebelum anaknya dewasa',"sahut Hilda.
"Kenapa mama berasumsi seperti itu?"tanya Ayana.
"Karena tadi, sewaktu kalian ke rumah sakit, seorang pelayan mengadu pada mama. Kata pelayan itu setelah kita berangkat kemarin sore, pelayan kita sempat mendengar Bening bergumam jika sebentar lagi, dia akan menjadi orang kaya. Menjadi nyonya di rumah ini. Dia akan melenyapkan kita semua,"sahut Hilda.
"Miris sekali. Bening benar-benar seperti anjiingg. Aku menolong dan memberinya makan. Tapi dia malah mengigit aku dan seluruh keluargaku,"sahut Nando tersenyum miris.
Ibu Bening yang mendengar semua pembicaraan keluarga Geno yang berbicara di ruang keluarga itu sangat syok saat mengetahui semua kelakuan putrinya. Ibu Bening tidak menduga jika putrinya akan berbuat sebejat dan sejauh ini.
"Seharusnya aku menggugurkan dia saat masih berada di dalam kandungan. Agar dia tidak bisa berbuat jahat pada orang lain. Aku menyesal karena waktu itu tidak mengikuti saran dokter untuk menggugurkan anak hasil pemerkosaan itu. Hanya karena aku tidak ingin membunuh bayi yang tidak berdosa dan suamiku juga tidak keberatan merawat anak orang yang telah menodai aku. Dia aku besarkan dengan penuh kasih sayang. Bahkan suamiku memperlakukan dia seperti putri kandungnya sendiri. Tapi ternyata sifat buruk ayahnya menurun padanya dan tidak bisa di rubah. Dia menjadi anak durhaka dan juga mempermalukan aku sebagai ibunya. Bahkan di akhir hidupnya pun masih melakukan perbuatan keji yang membuat aku kehilangan muka,"gumam ibu Bening dalam hati dengan air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya yang sudah keriput.
Tangan ibu Bening terkepal, kemudian dengan kasar menghapus air matanya. Rasa kecewa dan marah tercetak jelas di wajahnya yang keriput.Kelakuan Bening membuat ibu Bening benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan saran dokter waktu itu untuk menggugurkan bening.
"Brakk"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued