
Liliyana menunggu orang yang dibicarakan Diky dengan tidak sabar. Sedangkan Diky menunggu dengan rasa cemas. Tapi berusaha menampilkan wajah tenang.
"Aku harap Tuan Buston tidak mengingkari janjinya. Aku tidak ingin membuka identitas Dimas pada siapapun. Termasuk pada Dimas sendiri. Ini demi kebaikan Dimas,"gumam Diky dalam hati.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu itu membuat kedua orang dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu.
"Masuk!"ucap Diky mempersilahkan.
"Ceklek"
Liliana membulatkan matanya saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Papa?"gumam Liliana melihat suaminya yang memasuki ruangan itu,"Kenapa papa ke sini? Apa tanggapan papa melihat aku berdua dengan seorang pria muda di dalam ruangan tertutup seperti ini?"gumam Liliana dalam hati mencoba bersikap tenang.
"Maaf, saya terlambat,"ucap Buston tersenyum tipis pada Diky.
"Tidak apa-apa. Saya mengerti kesibukan anda,"sahut Diky tersenyum ramah.
__ADS_1
"Jadi, detektif ini sengaja mengundang suamiku? Apa maksud detektif ini memanggil suamiku ke sini? Apa dia bersekongkol dengan suamiku?"gumam Liliana dalam hati, menatap Diky penuh tanda tanya dan curiga.
"Baiklah, nyonya Liliana. Beberapa hari yang lalu, anda meminta saya untuk melakukan investigasi pada suami anda. Sebenarnya saya sudah mendapatkan hasil dari investigasi saya. Tapi, saya merasa akan lebih baik jika Tuan Buston bicara secara langsung pada nyonya. Agar masalah ini tidak menjadi alasan keharmonisan keluarga kalian hilang,"ujar Diky tenang.
"Maksud anda?"tanya Liliana tidak mengerti dengan maksud Diky. Liliana tidak bisa menebak maksud Diky.
"Biar papa yang menjelaskannya. Tuan Diky sudah tahu semuanya. Tapi, Tuan Diky mendatangi papa dan meminta papa untuk menjelaskan semuanya pada mama. Karena sahabat baik Tuan Diky terkait dalam masalah ini,"ujar Buston menghela napas untuk merangkai kata-kata.
"Maksud papa?"tanya Liliana menjadi tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Sebelumnya, papa minta maaf yang sebesar-besarnya pada mama. Sebenarnya, ini adalah rahasia yang papa sembunyikan selama puluhan tahun. Mungkin mama masih ingat, dua puluh delapan tahun yang lalu papa menggarap sebuah proyek besar di kota xx. Saat itu mama sedang mengandung anak pertama kita yang meninggal setelah lahir itu. Di kota itu, papa melakukan perjamuan bisnis dengan rekan-rekan bisnis papa. Namun, ternyata ada yang sengaja menjebak papa dengan menambahkan obat perangsangg di minuman papa. Papa berhasil kabur dari perjamuan itu dalam keadaan lumayan mabuk dan kembali ke hotel. Tapi karena pengaruh obat itu, papa tidak sengaja meniduri petugas hotel karena menganggap dia adalah mama. Papa bermaksud menikahi dia sebagai bentuk pertanggungjawaban papa. Tapi dia tidak mau. Dengan alasan, sepanjang papa bercinta dengan dia, papa hanya menyebut nama mama. Namun ternyata dia mengandung karena kejadian itu. Akhirnya papa menikahi dia secara siri. Namun pernikahan itu hanya bertahan selama satu bulan. Saat kekasihnya kembali dari luar kota, dia meminta cerai dari papa. Karena kekasihnya memohon-mohon ingin menikahi dia dan bersedia menerima anak kami sebagai anaknya. Dan dia juga merasa bersalah karena menjadi orang ke tiga dalam hubungan kita, jika dia tetap bertahan menjadi istri papa. Dan anak kami juga tidak akan memiliki nama ayah di dalam akte kelahirannya, karena kami hanya menikah secara siri. Akhirnya papa menceraikan dia, dan dia menikah dengan kekasihnya. Kekasihnya benar-benar menganggap putra kami seperti putranya sendiri. Setiap bulan, papa datang untuk melihat dan memberikan uang untuk biaya hidup putra papa. Namun saat usia anak itu menginjak empat tahun, terjadi banjir bandang di daerah itu dan papa kehilangan jejak mereka. Hingga akhirnya, papa menemukan dia lagi saat kita mengalami kecelakaan. Mama ingat saat kita mengalami kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawa kita berempat? Putra papa itulah yang menyelamatkan kita. Dia juga yang mendonorkan darahnya untuk kedua putra kita. Karena waktu itu stok darah yang golongan darahnya sama seperti kedua putra kita hanya ada dua kantong. Sedangkan kedua putra kita waktu itu memerlukan empat kantong. Darah papa, Axell dan Delvin lumayan langka. Dan kebetulan darah pemuda yang menolong kita itu sama dengan darah kami. Akhirnya iseng-iseng papa mengetes darah pemuda itu. Karena pemuda itu seusia putra papa, jika dia masih hidup. Dan ternyata dia benar-benar putra papa yang papa kira sudah meninggal. Jika waktu itu dia tidak menyelamatkan kita, kita sekeluarga akan mati terpanggang di dalam mobil. Dan jika dia tidak mendonorkan darahnya pada kedua putra kita, mungkin kita sudah kehilangan kedu putra kita, ma,"jelas Buston panjang lebar.
"Maaf, ma! Akan lebih baik jika mama tidak tahu siapa anak itu,"
"Kenapa papa tidak ingin memberi tahu siapa anak papa itu? Papa masih ingin menyembunyikan dia dari mama?"
"Bukan papa ingin menyembunyikan dia dari mama. Tapi, papa tidak ingin dia tahu jika dia adalah putra papa. Karena itu, papa juga tidak ingin memberitahu siapapun tentang anak itu. Anak itu dan ibunya hanyalah korban dari rekan bisnis papa yang ingin mencelakai papa,"
"Jadi, dia tidak tahu kalau papa adalah ayah kandungnya?"
__ADS_1
"Tidak. Dan itu akan lebih baik untuk dia. Papa terlalu malu untuk mengaku sebagai ayah kandungnya. Papa tidak ingin kehidupannya terusik karena mengetahui jika papa adalah ayah kandungnya. Hidupnya sekarang sudah mapan dengan uang seratus milyar yang pernah papa berikan sebagai tanda terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa kita berempat dulu. Dia juga sudah bahagia bersama istrinya. Jadi, papa tidak ingin mengusik kebahagiaannya dengan mengatakan kebenaran ini. Karena papa merasa bukan ayah yang baik dan bertanggung jawab padanya. Jadi papa mohon, jangan minta papa untuk mengatakan siapa anak itu. Dan tolong maafkan papa!"ujar Buston menghela napas berkali-kali.
Liliana ikut menghela napas berkali-kali setelah mendengar penuturan suaminya. Liliana tidak bisa menyalahkan suaminya atas kejadian yang tidak di sengaja oleh suaminya. Dan tidak bisa memaksa suaminya untuk mengatakan siapa putra lain dari suaminya itu.
"Karena semua ini terjadi bukan karena kehendak papa, maka mama memaafkan papa. Dan mama tidak akan mengungkit masalah ini lagi,"ucap Liliana memutuskan.
"Terimakasih, ma! Terimakasih mama mau memaafkan papa dan mau menerima keputusan papa,"ucap Buston penuh kelegaan.
"Mama memaafkan papa karena papa tidak pernah berniat mengkhianati mama. Tapi, kenapa Tuan Diky melakukan ini semua? Maksud saya, kenapa anda malah mengatakan pada suami saya jika saya meminta anda menyelidiki suami saya? Dan papa mau membuka rahasia yang sudah puluhan tahun papa sembunyikan?"tanya Liliana yang menjadi curiga jika Diky lah putra suaminya itu.
"Karena putra Tuan Buston itu adalah sahabat lama saya. Selama ini dia sudah banyak menderita. Dan baru akhir-akhir ini dia bahagia setelah menemukan tambatan hatinya. Saya tidak rela kebahagiaan dia terusik jika mengetahui kebenaran ini. Terkadang, kebenaran bisa menghancurkan kebahagiaan. Jika seperti itu, bukankah demi kebaikan, sebaiknya kebenaran itu disembunyikan?"sahut Diky dengan wajah tenang.
...π"Terkadang, tidak tahu akan lebih baik, dari pada tahu sebuah kebenaran, tapi menimbulkan rasa sakit."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued