
Dimas, Axell dan Delvin duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Buston. Tak lama kemudian, Buston dan Saman pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Dasar tidak tahu malu. Bekerja di kantor dan bertemu klien dengan leher seperti itu. Apa dia sengaja menunjukkan pada orang-orang kalau semalam dia habis bercinta?"gerutu Delvin yang merasa kesal saat tanpa sengaja melihat kiss mark di leher Dimas. Karena sudah bisa dipastikan kalau yang membuatnya adalah Ayana. Dan Delvin menjadi cemburu karena itu.
"Maaf! Kalian jadi lama menunggu. Papa harus mengantar klien kita ke depan,"ucap Buston seraya berjalan ke arah sofa tempat anak-anaknya duduk.
"Nggak apa-apa, pa. Kami juga belum lama di sini,"sahut Dimas.
"Begini, Axell, Delvin, sesuai pembicaraan kita tempo hari, kalian akan pergi ke perusahaan xx. Papa harap kalian bisa mewakili papa ke sana. Kalian datangi dulu ke perusahaannya untuk membicarakan tentang anggaran pembangunannya, lalu kalian langsung cek lokasi pembangunannya. Setelah itu kita akan diskusikan, apa kita akan bekerja sama dengan mereka atau tidak. Dan kamu, Dimas, papa harap kamu bisa ikut untuk membimbing adik-adik kamu,"ujar Buston.
"Bukannya kemarin, rencananya hanya akan datang ke perusahaan xx itu saja, pa. Dan soal mengecek lokasi akan di lakukan keesokan harinya. Dan itu juga yang akan mengecek adalah Pak Saman,"sahut Dimas.
"Iya. Tapi papa pikir, akan lebih baik jika kamu mengajari adik-adikmu untuk melakukan pengecekan lokasi. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari perusahaan xx. Papa tahu, kamu pasti memikirkan Ayana, 'kan? Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia. Hari ini mama mu membawa Ayana untuk belanja dan ke spa. Papa juga sudah menghubungi mama kamu, kalau kamu akan pulang agak sore. Jadi, Ayana pasti di beri tahu sama mama kamu,"ujar Buston yang tahu benar jika Dimas tidak mau meninggalkan Ayana terlalu lama.
"Baiklah, Pa,"sahut Dimas yang tidak bisa menolak keinginan papanya.
"Bagus. Dan kalian berdua, kalian siap, 'kan?"tanya Buston seraya menatap Axell dan Delvin secara bergantian.
"Siap,.pa,"sahut Axell, sedangkan Delvin hanya diam saja.
"Vin, kamu dengar tidak kata papa?"tanya Buston yang melihat Delvin hanya diam.
"Iya, pa,"sahut Delvin terlihat malas. Melihat kiss mark di leher Dimas membuat Delvin semakin tidak bersemangat untuk bekerja.
__ADS_1
"Jangan malas-malasan seperti itu, Vin! Kamu seperti tidak niat bekerja. Sebentar lagi kamu lulus S1, masa kamu nggak bisa apa-apa. Contoh kakak-kakak kamu yang bersemangat dalam bekerja. Sudah setengah tahun lebih kamu belajar di kantor, tapi tidak ada kemajuan yang signifikan (berarti). Jika kamu bermalas-malasan seperti ini, kapan kamu bisa berdiri dengan kaki kamu sendiri?"
"Kamu itu seorang pria, Vin..Harus bisa bekerja dan menghasilkan uang. Karena kelak, kamu akan menjadi kepala keluarga. Kamu jangan terus-menerus bergantung pada orang tua. Karena tidak selamanya kami ada. Jika mama dan papa sudah tidak ada, kamu harus berdiri di atas kakimu sendiri. Harta yang kami wariskan padamu tidak akan bertahan lama jika kamu tidak bisa mengelolanya. Tidak ada orang yang akan suka melihat orang pemalas. Dan tidak akan ada wanita yang mau menjadi istri seorang pemalas dan pengangguran,"
"Belajarlah lebih giat dalam bekerja, jika kamu bermalas-malasan dan tidak ada kemajuan dalam bekerja, papa akan memotong uang bulanan kamu,"ujar Buston terlihat kesal pada Delvin yang nampak tidak bersemangat dalam bekerja dan tidak ada kemajuan yang berarti selama mulai membantu Axell bekerja di kantor.
"Potong saja uang bulanan Delvin, pa. Jangan terlalu banyak di beri uang. Kalau perlu, beri dia gaji seperti karyawan yang lain dan stop uang bulanannya. Agar dia bisa merasakan, mencari uang itu tidak mudah,"sahut Axell yang sudah jengah dengan sikap Delvin.
"Kok, semenjak ada dia, kakak jadi kayak nggak suka sama aku, sih?! Aku yang saudara kandung kakak, bukan, dia!"ketus Delvin yang merasa semenjak ada Dimas, Axell menjadi lebih dekat pada Dimas dari pada dengan dirinya.
"Jaga bicaramu Delvin! Panggil Dimas kakak!"sergah Buston.
"Benar kata papa, biasakan lidahmu itu untuk memanggil kak Dimas kakak. Dan soal aku nggak suka sama kamu, itu karena akhir-akhir ini kamu susah dinasehati. Soal saudara, kamu memang saudara kandung ku, tapi kak Dimas juga saudara satu ayah dengan kita. Lagipula, wajar saja jika aku dekat dengan kakak, karena aku sering minta bantuan pada kakak dalam masalah pekerjaan. Selain itu, kami juga sepemikiran. Beda sama kamu. Kamu tidak pernah bertanya pada ku, apalagi pada kakak dan papa. Saat kamu menemui kesulitan dalam pekerjaan, kamu malah diam aja. Bahkan saat aku jelaskan pun, kamu nampak malas-malasan. Kita tidak sepemikiran, tidak sejalan,"sahut Axell jujur adanya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Agar tidak terlambat sampai di sana. Karena kita tidak tahu bagaimana keadaan lalu lintas. Jika macet, kita bisa terlambat sampai di tujuan,"ujar Dimas setelah melihat arloji di pergelangan tangannya. Tidak ingin terlambat sampai ditujuan dan agar perdebatan itu tidak terus berlanjut.
Buston hanya bisa menghela napas panjang melihat kepergian ke tiga putranya. Ada rasa senang sekaligus sedih dalam hati Buston. Senang karena bisa mengakui Dimas sebagai putranya di hadapan publik dan senang melihat kedekatan Dimas dan Axell. Sedih karena melihat Delvin yang memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Dimas dan menolak untuk memanggil Dimas kakak. Selain itu, Delvin juga semakin sulit di atur.
"Sampai kapan anak itu akan seperti itu? Kekanak-kanakan, malas dan tidak bertanggung jawab. Semakin hari semakin sulit untuk diatur,"gumam Buston menghela napas panjang.
"Akhir-akhir ini, Tuan Muda Delvin memang sulit di atur dan dibimbing, Tuan. Dan saya rasa, itu karena dia belum bisa menerima kenyataan kalau gadis yang dicintainya adalah istri dari kakak satu ayahnya,"sahut Saman.
Buston bukan tidak tahu jika Delvin menyukai dan pernah mengejar-ngejar Ayana. Bahkan Buston juga tahu tentang kejadian di rumah sakit saat Delvin dihajar Axell dan ditampar Liliana. Tapi Buston hanya diam saja karena Delvin tidak membahayakan Dimas ataupun Ayana. Buston tidak mau mengungkit hal itu agar tidak terjadi kecanggungan di keluarga mereka.
__ADS_1
Buston mengetahui semua itu setelah menyuruh Saman menyelidiki tentang perubahan sikap Delvin yang drastis. Dan penyebab Delvin yang nampak tidak suka pada Dimas. Buston sempat terkejut dengan kenyataan yang terjadi. Namun Buston hanya bisa menjaga agar Delvin tidak merusak rumah tangga Dimas. Dan berusaha membimbing Delvin lebih baik lagi. Tapi nyatanya Delvin semakin sulit dinasehati.
Dimas, Axell dan Delvin akhirnya tiba di perusahaan tujuan mereka. Mereka juga sudah bicara mengenai anggaran pembangunan dengan perusahaan itu dan langsung meluncur ke lokasi pembangunan.
"Bagaimana, kak? Apa menurut kakak, Anggaran yang kita bicarakan tadi sesuai dengan lokasi ini?"tanya Axell setelah mereka memeriksa lokasi itu secara detail.
"Aku rasa sesuai, kok, Xell,"sahut Dimas.
"Sudah selesai, 'kan? Kalau sudah, aku mau balik ke mobil,"ucap Delvin dengan nada datar, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Malas rasanya berada dekat dengan Dimas.
"Huff.. anak itu semakin susah diatur. Kapan dia bisa bersikap dewasa,"gerutu Axell.
"Sabar saja. Berdoa saja pada Tuhan agar dibukakan pintu hatinya. Karena hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Semoga dia bisa berubah menjadi lebih baik dan menjadi lebih dewasa,"sahut Dimas.
"Kakak terlalu sabar menghadapi dia. Jadinya dia makin ngelunjak,"sahut Axell yang kesal pada Delvin.
"Jika kita melawan api dengan api, maka kita akan ikut terbakar,"sahut Dimas seraya menepuk pelan pundak Axell, lalu berjalan lebih dulu dari Axell.
"Akkh "
Dimas langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar pekikan Axell.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued