SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
262. Tertawa Di Atas Penderitaan


__ADS_3

Karena tidak mengalami luka apapun selain kaki Axell yang terkilir, akhirnya tiga bersaudara itu diperbolehkan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Buston, Dimas dan Axell bicara soal bisnis. Membicarakan perihal perusahaan dan lokasi tempat yang akan di bangun, yang sudah didatangi Dimas, Axell dan Delvin tadi.


Sedangkan Delvin hanya diam seribu bahasa. Delvin jadi merasa canggung dan malu pada Dimas. Kata-kata papanya dan juga kata-kata Axell membuat Delvin merasa menjadi manusia yang tidak berguna dan hina. Tapi terlalu malu untuk meminta maaf dan memanggil Dimas kakak.


"Kak, katanya ingin mengantarkan aku ke tukang urut? Kakiku masih terasa sakit, kak. Dokter menangani kakiku yang terkilir dengan cara mengompres kakiku selama kurang lebih 20 menit. Kata dokter, kompres dingin tidak boleh terlalu lama, karena bisa mengganggu aliran darah. Selanjutnya, kakiku yang terkilir ditekan dan dibalut dengan perban elastis yang kata dokter juga dapat membantu mengurangi pembengkakan.Tapi aku takut kakiku bakal lama sembuhnya, kak. Soalnya ini masih terasa sakit,"keluh Axell setelah mereka selesai bicara soal bisnis.


"Mau di urut hari ini juga?"tanya Dimas.


"Boleh. Biar lekas sembuh,"sahut Axell.


"Memang harusnya kalau terkilir harus segera di urut. Biar lekas sembuh dan nggak keburu bengkak. Tapi, beneran masih ada yang bisa mengurut orang yang terkilir, Dim? Soalnya zaman sekarang sudah jarang orang yang bisa mengurut orang yang terkilir,"tanya Buston.


"Masih, pa. Di kampung tempat kontrakan lama aku dulu ada orang yang bisa mengurut orang yang terkilir. Di kampung Pak Parman juga ada. Terserah Axell mau di urut dimana. Pasti aku antarkan. Memang cepat sembuh kalau di urut, karena Ayana juga pernah terkilir seperti Axell. Tapi, pas diurut bakalan sakit banget, Xell. Sanggup, nggak?"tanya Dimas yang teringat bagaimana Ayana kesakitan karena diurut kakinya.


"Sanggup, kak. Asalkan cepat sembuh, sakit sebentar tidak apa-apa,"sahut Axell nampak yakin.


"Beneran, ya, sanggup? Jangan bikin malu kakak kamu ini, karena kamu menangis saat di urut nanti,"ujar Dimas kemudian terkekeh kecil. Dimas jadi ingat bagaimana ekspresi Ayana saat di urut dulu.


"Yang benar saja? Masa aku menangis cuma gara-gara di urut,"sahut Axell percaya diri jika dirinya bisa menahan sakit saat di urut nanti.


Buston dan ketiga putranya sampai di rumah saat hari sudah sore. Ayana menyambut kedatangan Dimas dengan senyuman manisnya.


"Kaki kamu kenapa, Xell?"tanya Liliana yang melihat Axell berjalan menggunakan kruk.


"Kakiku terperosok ke dalam lobang saat meninjau lokasi pembangunan tadi, ma,"sahut Axell.


"Kenapa bisa ceroboh seperti itu?"ujar Liliana seraya menghampiri Axell.


"Lobang nya tertutup daun kering, ma. Jadi, nggak kelihatan,"sahut Axell jujur. Akhirnya mereka semua duduk di sofa yang ada di ruangan tamu.


"Namanya juga musibah, ma,"sahut Buston.


"Iya, pa. Ini musibah buat aku, tapi berkah buat Delvin,"sindir Axell seraya melirik Delvin yang hanya duduk diam tanpa kata.


"Maksudnya?"tanya Liliana tidak mengerti dengan maksud kata-kata Axell.


"Gara-gara kakiku terkilir, akhirnya kakak yang mengemudikan mobil. Dan itu sebuah berkah bagi Delvin. Karena tadi anak mama yang manja itu menerobos palang pintu kereta api. Mobilnya mati tepat di tengah rel dan hampir saja dia mati di tabrak kereta api jika kakak tidak menabrak mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga mobilnya bisa keluar dari rel dan dia bisa lolos dari kecelakaan maut tadi. Kalau kakak tidak menyelamatkan dia, aku yakin dia pulang tinggal nama dan jasad nya pun tidak akan utuh lagi,"jelas Axell secara singkat.

__ADS_1


"Dasar ceroboh! Memangnya kamu punya nyawa berapa, hah?! Apa kamu merasa punya nyawa serep? Berani-beraninya menerobos palang pintu kereta api. Apa kamu mau mati konyol? Kenapa tambah ke sini kamu tambah tidak bisa berpikir dewasa dan logis, sih, Vin?! Mama benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan kamu ini,"ujar Liliana yang merasa tidak habis pikir dan kesal pada Delvin.


"Sudahlah, ma! Jangan dimarahi lagi! Kasihan Delvin. Delvin pasti masih syok karena kejadian tadi. Dia juga sudah dimarahi papa dan Axell di rumah sakit tadi,"sahut Dimas yang merasa kasihan pada Delvin. Dimas takut jika Delvin menjadi tertekan karena terus menerus dimarahi.


"Kamu terlalu perhatian dan baik hati pada dia, Dim. Padahal dia saja tidak peduli pada kamu. Mama merasa gagal mendidik dia,"sahut Liliana membuang napas kasar.


"Kak, kata Abang dan babang, malam ini mereka bisa kumpul di rumah bapak. Papa, mama dan kak Nando katanya juga mau ikut ke sana. Apa kita akan ke sana?"tanya Ayana karena tadi memang sudah chatting dengan Toyib, Diky dan Nando, sekaligus untuk mencairkan suasana saat ini.


"Benarkah? Kebetulan sekali. Aku akan membawa Axell untuk mengurut kakinya yang terkilir,"sahut Dimas.


"Benar juga kata kakak. Di sana ada tukang urut yang bisa mengurut orang yang terkilir. Kalau di urut bakalan cepat sembuh. Malam ini di urut, besok juga sudah bisa jalan,"sahut Ayana yang sudah pernah dua kali terkilir dan dua kali pula di urut.


"Beneran, kak? Besok bisa sembuh?"tanya Axell pada Ayana terlihat antusias.


"Benar. Aku sudah pernah dua kali terkilir dan cepat sembuh setelah di urut,"sahut Ayana.


"Ngomong-ngomong, kalian kumpul-kumpul dalam acara apa?"tanya Liliana kepo.


"Acara kumpul-kumpul karena sudah lama tidak bertemu, ma. Sekalian mau bakar ayam dan ikan dari kolam bapak yang ada di belakang toko sembako bapak,"sahut Ayana.


"Wahh.. sepertinya seru,"sahut Axell.


"Tentu saja boleh. Ya, 'kan, kak?"tanya Ayana menatap Dimas dengan wajah ceria.


"Tentu, saja,"sahut Dimas dengan seulas senyum seraya mengelus kepala Ayana.


"Sekalian saja kita ke sana semua. Masa cuma tinggal papa dan Delvin doang yang di rumah,"sahut Buston.


Akhirnya mereka sekeluarga pun pergi ke rumah Pak Parman. Delvin pun ikut, tapi hanya diam saja karena bingung harus bicara apa dan merasa canggung pada semua orang karena kejadian hari ini.


Keluarga Buston akhirnya tiba di rumah Pak Parman. Rumah yang tidak sekedar di renovasi oleh Diky, tapi di rombak total. Rumah itu dibangun dari nol oleh Diky dan dibangun dengan gaya modern. Rumah Pak Parman yang dulunya sederhana, kini menjadi rumah yang terbagus di kampungnya dan juga dibangun lebih besar dari sebelumnya.


Saat rombongan Dimas sampai, ternyata semua orang telah berkumpul di rumah Pak Parman. Bahkan Rengganis dan Bu Ningsih pun ada di sana. Ketika mengetahui kaki Axell terkilir, Bu Lastri bergegas memanggil tukang urut untuk mengurut kaki Axell yang terkilir.


"Di buka dulu perbannya. Biar kakinya bisa di urut nenek,"ucap tukang urut yang sudah nenek-nenek itu.


Dimas membuka perban elastis di kaki Axell. Sang nenek pun langsung mengeluarkan minyak urut miliknya.

__ADS_1


"Sudah bengkak begitu. Sejak kapan kakinya terkilir?"tanya nenek itu seraya mengamati kaki Axell.


"Tadi siang, Nek,"sahut Axell.


"Tahan sebentar, ya, sakitnya!"ujar nenek itu mulai mengurut kaki Axell.


Awalnya nenek itu mengurut kaki Axell pelan, tapi semakin lama semakin kuat. Axell berusaha menahan rasa sakitnya karena malu pada semua orang yang ada di rumah itu, jika sampai mengeluh sakit. Hingga..


"Auwh sakit, nek," pekik Axell yang tidak bisa menahan mulutnya sendiri karena sudah puas menahan rasa sakitnya sedari tadi.


"Ini ototnya geser. Kalau nggak dibenerin nggak bakal sembuh,"sahut nenek itu.


"Sudah, nek! Sakit sekali. Sudah, nek!"pinta Axell yang sudah melupakan rasa malunya karena rasa sakitnya.


"Tahan sebentar lagi,"ujar nenek itu


Dimas dan Diky sampai harus memegangi Axell karena ingin berhenti di urut.


"Krak"


"Mamaa.. !"pekik Axell sambil menangis saat nenek itu mengakhiri mengurut Axell dengan menarik kaki Axell untuk membenarkan letak ototnya yang kata sang nenek geser.


Axell menangis karena tidak kuasa menahan rasa sakit. Dan hal itu sukses membuat semua orang tertawa.


"Tega sekali kalian tertawa di atas penderitaan ku,"keluh Axell.


"Kamu membuat kakak mu ini malu,"keluh Dimas menghela napas panjang.


"Kakak bisa bilang begitu karena kakak tidak merasakan sakit yang aku rasakan,"protes Axell seraya menghapus air matanya. Sedangkan semua orang masih tertawa karena Axell.


Axell merasa lebih nyaman jika bersama Dimas. Tidak perlu berpura-pura tegar seperti yang selama ini dilakukannya di depan Delvin. Karena harus menjadi panutan untuk Delvin. Semenjak ada Dimas, Axell merasa tidak terlalu terbebani menjadi anak sulung seperti sebelumnya.


...🌸❀️🌸...


Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham. Selamat Idul Adha 1444 Hijriah bagi yang merayakan. Selamat berkumpul dengan keluarga. Semoga kita diberi umur untuk merayakan Idul Adha di tahun-tahun mendatang. Dan senantiasa menjadi pribadi yang penuh keikhlasan dan bersyukur atas nikmat Allah SWT. Aamiin.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2