
"Terimakasih, karena mama dan papa Ayana mau datang ke gubuk kami yang reot ini. Kami merasa terhormat,"ujar Pak Parman tersenyum tipis.
"Bapak terlalu merendah. Perkenalkan! Saya Geno dan ini istri saya, Hilda, dan yang itu putra kami Nando. Kalau yang lainnya, saya rasa, bapak pasti sudah tahu,"ujar Geno memperkenalkan dirinya dan keluarganya.
"Saya Parman, dan ini istri saya, Lastri,"sahut Pak Parman yang juga memperkenalkan diri.
"Senang berkenalan dengan bapak dan ibu. Saya minta maaf karena Ayana sempat merepotkan bapak dan ibu. Dan saya juga berterima kasih karena mengijinkan Ayana tinggal di sini lumayan lama. Maaf! Seharusnya kami datang lebih awal untuk mengucapkan ini. Saya jadi malu sama bapak dan ibu,"ujar Geno nampak menyesal karena tidak pernah punya inisiatif untuk datang dan berterima kasih pada keluarga Pak Parman yang juga memiliki andil besar dalam merubah Ayana menjadi lebih baik..
"Ahh.. bapak tidak perlu merasa sungkan seperti itu. Saya tidak pernah merasa direpotkan sama Ayana. Kami malah senang karena rumah kami menjadi ramai karena kehadiran Ayana. Kami sudah menganggap Ayana seperti putri kami sendiri,"sahut Pak Parman jujur adanya.
"Terimakasih, Pak! Oh, iya, ngomong-ngomong, selain bersilaturahmi, kami juga datang ke sini untuk satu tujuan lagi,"ujar Geno membuat Pak Parman dan Bu Lastri mengernyitkan kening mereka dan saling menatap untuk beberapa detik.
"Kalau boleh tahu, apa lagi kiranya tujuan bapak dan ibu ke gubuk kami ini?"tanya Pak Parman sopan.
"Begini, kami datang kemari ingin melamar putri bapak untuk putra kami Diky,"ujar Geno membuat Pak Parman dan Bu Lastri terkejut.
"Melamar?"tanya Pak Parman dan Bu Lastri bersamaan. Keterkejutan tercetak jelas di wajah sepasang suami-isteri itu.
Saat mengetahui bahwa Geno dan Hilda adalah kedua orang tua Ayana, Pak Parman dan Bu Lastri mengira bahwa barang-barang yang mereka bawa adalah untuk mengucapkan terima kasih karena sempat menampung Ayana selama satu bulan lebih di rumah mereka. Namun tanpa di duga, ternyata mereka datang untuk melamar.
"Maaf jika lamaran kami ini mendadak dan membuat bapak dan ibu terkejut. Tapi, putra kami Diky, memang ingin menjalani hubungan yang serius, dengan putri bapak,"ujar Geno tersenyum tipis.
"Kami benar-benar terkejut,"sahut Pak Parman tersenyum tipis mengurai keterkejutan nya.
"Oh, iya, Ngomong-ngomong, di mana putri bapak,"tanya Geno yang dari tadi hanya melihat Pak Parman dan Bu Lastri saja.
"Oh, iya, sampai lupa,. Wulan ada di kamarnya,"sahut Bu Lastri yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
"Biar aku panggilan, Bu. Wulan biasanya mendengarkan lagu pakai earphone, jadi nggak denger kalau ada orang yang datang,"sahut Ayana, kemudian beranjak menuju kamar Wulan.
Dan benar saja Wulan sedang mendengarkan musik sambil bermain game di handphonenya.
"Eh, Ay, kapan kamu ke sini? Tumben, malam-malam ke sini?"tanya Wulan yang tanpa sengaja melihat Ayana masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu yang memakai baju tidur bermotif hello Kitty itu melepaskan earphone nya.
"Baru, kok. Ayo, ikut aku keluar!"ajak Ayana seraya menarik tangan Wulan agar ikut dengan dirinya.
"Eh, kok, di luar ramai sekali, Ay? Ada apa di luar?"tanya Wulan yang baru menyadari jika ternyata di luar terdengar ramai.
"Makanya, itu telinga jangan di sumpel mulu sama earphone. Jadi nggak tahu kalau di luar ramai,"sahut Ayana terus menarik Wulan keluar dari kamarnya.
Setelah sampai di ruangan tamu, Wulan nampak terkejut saat melihat banyak orang di ruang tamunya. Hanya kedua orang tuanya, Toyib, Dimas dan Diky yang dikenali oleh Wulan. Selebihnya Wulan tidak mengenali nya.
"Eh, Lan, sini duduk! Perkenalkan, ini adalah kedua orang tua Ayana, dan yang itu adalah kakak Ayana,"ujar Pak Parman memperkenalkan Geno, Hilda dan Nando pada Wulan.
Wulan menghampiri kedua orang tua Ayana, kemudian mencium punggung tangan Geno dan Hilda, dan menyalami Nando.
"Aihh.. menggemaskan sekali,"gumam Diky dalam hati saat melihat Wulan tersipu malu.
"Sekarang, anaknya sudah di sini. Saya akan ulangi maksud kedatangan kami ke mari. Kami ingin melamar putri bapak dan ibu untuk putra kami Diky. Karena putra kami Diky ingin menjalani hubungan yang serius dengan putri bapak,"ucap Geno kembali menyampaikan tujuannya datang.
Wulan nampak terkejut mendengar penuturan kedua orang tua Ayana. Wulan menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dijelaskan.
"Bang Diky benar-benar ingin menjalin hubungan serius dengan aku?"gumam Wulan dalam hati. Wulan sungguh tidak menyangka, jika pemuda yang sebenarnya juga di sukainya itu ternyata benar-benar ingin menjalin hubungan serius dengan dirinya. Karena selama ini mereka cuma berkomunikasi lewat chat, dan itupun tidak terlalu sering.
"Maaf, maksud bapak adalah ingin Wulan dan Nak Diky bertunangan, apakah benar begitu?"tanya Pak Parman memperjelas maksud Geno melamar.
__ADS_1
Mengingat Wulan yang baru lulus sekolah dan baru berusia genap delapan belas tahun, Pak Parman mengira jika lamaran dari pihak Geno saat ini adalah untuk pertunangan Diky dan Wulan.
"Begini, usia putra kami sudah dewasa, apalagi dengan profesi yang digelutinya saat ini, terus terang putra kami tidak memiliki banyak waktu untuk berpacaran layaknya anak muda jaman sekarang. Jadi, jika bapak, ibu dan Nak Wulan setuju, kami ingin langsung ke jenjang pernikahan saja,"sahut Geno membuat Pak Parman, Bu Lastri dan Wulan saling bertatapan.
"Bang Diky ingin menikahi aku?"gumam Wulan dalam hati, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Melihat ke tiga orang itu saling bertatapan, Geno pun kembali berkata,"Kami akan memberikan waktu selama satu minggu untuk Wulan, bapak dan ibu untuk berpikir. Sebelumnya, perlu ibu, bapak dan Wulan ketahui, sebagai detektif, jam kerja Diky tidak menentu. Bisa berangkat kapan saja dan pulang kapan saja. Dan kemungkinan, Diky juga tidak akan punya banyak waktu untuk Wulan. Jadi, jika seandainya Wulan menerima lamaran Diky, Wulan harus mengerti dengan keadaan Diky. Jangan sampai nanti, mereka bertengkar di kemudian hari karena hal ini. Mungkin hal ini bisa menjadi pertimbangan bapak, ibu dan Wulan,"ujar Geno panjang lebar.
"Terimakasih, karena kalian telah memberi kami waktu untuk berpikir. Kami merasa sangat tersanjung, karena seorang detektif terkenal seperti Nak Diky mau melamar putri kami yang biasa-biasa saja ini. Kami akan memikirkan dan mendiskusikan soal lamaran ini bertiga. Dan kami akan memberikan jawabannya satu minggu lagi seperti keinginan bapak,"sahut Pak Parman memutuskan.
Akhirnya mereka semua berbincang hangat. Diky nampak mencuri-curi pandang pada Wulan. Sedangkan Wulan yang tanpa sengaja bertatapan dengan Diky pun langsung memutuskan kontak mata mereka dan menunduk dengan wajah yang bersemu merah.
"Aihh.. gimana aku nggak ngebet kawin jika melihat dia seperti itu? Wajahnya sangat menggemaskan saat tersipu malu,"gumam Diky dalam hati.
Pemuda itu tersenyum tipis dan terlihat gemas menatap Wulan yang tersipu malu. Selama ini, Diky sudah banyak bertemu dengan wanita. Tidak sedikit pula bawahannya yang menaruh hati pada Diky. Namun entah mengapa hanya Wulan yang bisa membuat hatinya tertarik. Wajah tersipu Wulan selalu saja membuat Diky menjadi gemas pada Wulan.
Toyib yang melihat tatapan Diky pada Wulan itu pun tersenyum. Pria yang duduk di sebelah Diky itu pun berbisik,"Jaga mata, bro! Lamaran belum tentu di terima, tapi tatapan kamu itu sudah seperti harimau yang ingin menerkam rusa,"cibir Toyib.
"Aku gemas sekali saat melihat dia tersipu-sipu malu seperti itu. Rasanya aku ingin sekali mencium dan menggigit pipinya itu,"bisik Diky pada Toyib dengan mata yang masih menatap Wulan.
"Dasar perjaka tua ngebet kawin!"cibir Toyib masih berbisik pada Diky.
"Wajar aja, Yib. Aku ini pria normal, bukan pisang yang suka sama pisang. Aku juga tidak punya hobi main pedang-pedangan,"sahut Diky kembali berbisik pada Toyib.
Karena malam semakin larut, akhirnya rombongan Diky pun pamit pulang. Mereka meninggalkan hadiah lamaran yang begitu banyak untuk Wulan.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued