
Dimas melepaskan tas ransel di punggung istrinya, kemudian mengambil laptop dan sebuah map dari dalam tas ransel itu.
"Tolong papa lihat ini!"pinta Dimas seraya memberikan map yang dipegangnya pada Geno.
Geno membaca isi map yang berupa proposal kerja sama dari perusahaan Buston. Nando yang ada di samping Geno pun ikut membacanya. Seketika, senyuman cerah pun, terbit di bibir anak dan ayah itu.
"Bagaimana bisa kamu mendapatkan kerja sama ini, Dim? Ada kemungkinan besar perusahaan kita akan berkembang lebih pesat jika kita bisa bekerja sama dengan perusahaan Tuan Buston, Dim,"ujar Geno dengan wajah cerahnya.
"Aku tak tahu, pa. Tiba-tiba orang kepercayaan Tuan Buston datang dan menawarkan kerjasama ini. Mereka bilang tertarik untuk bekerjasama dengan kita setelah melihat produk yang baru saja kita luncurkan,"ujar Dimas jujur adanya.
"Bagus sekali, Dim! Kita sangat beruntung. Banyak perusahaan yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan Tuan Buston, tapi tidak diterimanya. Bahkan papa juga pernah beberapa kali mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan Tuan Buston, tapi mereka selalu menolaknya. Tidak disangka, sekarang mereka malah menawarkan diri untuk bekerjasama dengan perusahaan kita. Ini benar-benar keberuntungan besar, Dim. Apa ini kabar bahagia yang ingin kamu sampaikan?"tanya Geno penuh senyuman.
"Iya, pa. Inilah kabar bahagia yang ingin aku sampaikan. Asalkan papa setuju dengan proposal yang diajukan oleh perusahaan Tuan Buston dan menandatanganinya, maka perusahaan kita akan resmi bekerjasama dengan perusahaan Tuan Buston, pa,"sahut Dimas.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣. 𝘼𝙣𝙙𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙢𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣, 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖,"gumam Bening menatap Dimas lekat.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙠𝙖𝙩. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘽𝙪𝙨𝙩𝙤𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙞𝙠 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣. 𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞. 𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜, 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞𝙖𝙣, 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙠𝙖𝙩, 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"gumam Hilda dalam hati, menatap Dimas dan Ayana penuh rasa syukur.
"𝙄𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙧𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙖𝙩𝙖𝙪𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨? 𝙎𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘽𝙪𝙨𝙩𝙤𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙤𝙥𝙤𝙨𝙖𝙡 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙥𝙖,"gumam Nando dalam hati, melirik Dimas sekilas.
"Kalau begitu, kita bicarakan di ruangan kerja papa saja!"ajak Geno antusias.
"Iya, pa. Tapi sebaiknya, kak Nando juga ikut. Agar kak Nando mengetahui semuanya. Aku hanya akan bekerja di perusahaan papa sampai papa dan kakak sembuh. Jadi, selanjutnya papa dan kakak lah yang akan menjalankan perusahaan. Tapi jika papa dan kakak butuh bantuan ku, katakan saja! Jangan sungkan. Satu bulan belakangan, Ayana selalu mengeluh padaku karena aku tidak punya banyak waktu untuknya,"ujar Dimas menoleh pada Ayana yang masih memeluk mesra lengan Dimas. Pria itu tersenyum tipis seraya mengelus kepala Ayana.
Nando terkejut saat mendengar kata-kata Dimas yang menyarankan papanya untuk mengajak dirinya ikut berdiskusi. Walaupun selama ini dirinya selalu menghina Dimas, nyatanya adik iparnya itu masih tetap menghormati dan menghargai dirinya. Nando jadi merasa malu dan bersalah pada Dimas.
Bening yang melihat kemesraan Dimas dan Ayana pun semakin terbakar cemburu. Sedangkan Hilda dan Geno merasa sangat bersyukur memiliki menantu seperti Dimas.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo, kita ke ruang kerja papa!"ajak Geno lagi.
"Iya, pa. Ay, aku ke ruangan kerja papa dulu, ya?"pamit Dimas seraya mengelus kepala Ayana.
"Hum,"sahut Ayana tersenyum tipis pada Dimas. Melepaskan lengan Dimas yang sedari tadi dipeluknya.
"Biar aku saja yang mendorong kursi roda papa, ma. Mama bisa mengobrol dengan Ayana,"ujar Dimas yang melihat Hilda hendak beranjak untuk mendorong kursi roda Geno.
"Baiklah,"sahut Hilda tersenyum tipis.
Akhirnya Dimas mendorong kursi roda Geno ke ruang kerja Geno bersama Bening yang mendorong kursi roda Nando. Bening masih saja mencuri pandang pada Dimas. Namun Dimas pura-pura tidak tahu dan bersikap biasa saja pada Bening.
Setelah berada di ruangan kerja Geno, Bening ikut duduk di sofa di sebelah kursi roda Nando. Maksud hati ingin mencuri pandang sekaligus perhatian dari Dimas.
"Maaf, kak Nando tidak apa-apa, 'kan, jika istri kakak keluar dari ruangan ini? Aku merasa cukup kita bertiga saja yang membahas tentang masalah perusahaan,"ujar Dimas yang merasa tidak suka sekaligus risih dengan tatapan Bening kepada dirinya.
"Iya. Tidak masalah. Sayang, kamu istirahat di kamar saja. Ini urusan lelaki,"pinta Nando pada Bening.
Entah mengapa Nando merasa Dimas seperti menghindar dan juga seperti tidak nyaman jika ada Bening. Sedangkan Bening seperti merasa senang jika ada Dimas. Itulah yang dirasakan Nando saat ini.
Di ruangan tamu.
"Ay, apa kamu merasa bahagia hidup bersama Dimas?"tanya Hilda pada Ayana.
"Sangat. Aku merasa sangat bahagia dan beruntung memiliki kak Dimas, ma,"jawab Ayana dengan binar kebahagiaan di matanya.
"Syukurlah! Mama minta maaf karena selama ini tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu. Mama telah banyak menyakiti kamu,"ucap Hilda penuh sesal.
__ADS_1
"Tidak apa, ma. Aku tahu, mama melakukan semua itu bukan karena mama benci padaku. Tapi, karena mama ingin yang terbaik untuk aku,"ujar Ayana penuh pengertian.
"Kamu sudah semakin dewasa, Ay!"ucap Hilda penuh rasa haru dan bahagia.
Untuk beberapa lama, ibu dan anak itu mengobrol. Entah sejak kapan, mereka berdua yang dulunya selalu sering bertentangan itu menjadi akrab.
"Ma, aku ingin ke kamar. Aku harus belajar karena sebentar lagi akan ujian,"pamit Ayana setelah lumayan lama mereka mengobrol.
"Iya,"sahut Hilda tersenyum tipis menatap Ayana.
Ayana meninggalkan Hilda menuju kamarnya di lantai dua. Hilda menatap putri satu-satunya itu penuh senyuman.
"Tidak di sangka, orang yang selalu ku pandang rendah dan hina malah bisa membuat putriku yang badung berubah menjadi dewasa. Memberikan kebahagiaan pada putriku yang tidak pernah aku berikan. Membantu keluarga ku mengurus perusahaan di saat-saat genting, bahkan membuat masa depan perusahaan menjadi cerah,"gumam Hilda menatap punggung putrinya yang semakin menjauh penuh rasa syukur.
Di ruangan kerja Geno, setelah Bening keluar dari ruangan itu, Dimas langsung berdiskusi dengan Geno dan Nando tentang perusahaan. Nando merasa takjub mendengar semua penjelasan detail Dimas tentang perusahaan yang sudah satu bulan ini dipegangnya. Dimas juga mencetuskan berbagai macam ide untuk memperbaiki sistem kerja di perusahaan Geno. Nando yang baru kali ini ikut berdiskusi dengan Dimas merasa sangat kagum dengan cara berpikir dan kecerdasan adik iparnya itu.
"Sebenarnya, kamu lulusan apa, Dim?"tanya Nando setelah diskusi mereka selesai.
Setelah berdiskusi dengan Dimas, Nando merasa sangat penasaran dengan latar belakang pendidikan Dimas. Begitu pula dengan Geno yang sampai saat ini juga belum mengetahui latar belakang pendidikan Dimas.
"Em.. pa, kak, diskusi kita sudah selesai. Malam juga semakin larut. Sebaiknya papa dan kakak istirahat, agar kalian cepat pulih. Ayana juga pasti belum tidur karena menunggu aku. Biasanya, Ayana akan kesulitan untuk tidur jika aku tidak memeluknya,"ujar Dimas jujur adanya, sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah,"sahut Geno tersenyum tipis. Pria paruh baya itu sangat hafal, menantunya pasti akan menghindar jika ditanya tentang latar belakang pendidikan nya Sedangkan Nando nampak kecewa karena rasa penasarannya tidak terjawab.
"Aku akan mengantar papa ke kamar papa dan meminta pelayan untuk mengantarkan kakak ke kamar kakak,"ujar Dimas langsung mendorong kursi roda Geno keluar dari ruangan itu. Sedangkan Nando hanya bisa menghela napas panjang menatap Dimas.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued