SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
206. Nakal


__ADS_3

Ayana yang baru saja mengganti pakaiannya, menghampiri Dimas yang duduk di tepi ranjang meluruskan kakinya, dengan mata yang fokus pada layar handphonenya.


"Kak!"panggil Ayana yang memakai dress berwarna merah maroon di atas lutut dengan tali kecil di kedua bahunya. Senyuman manis terpatri di bibirnya yang bervolume.


"Hemm,"sahut Dimas masih fokus pada layar handphonenya.


Wajah Ayana yang tadinya cerah, langsung berubah menjadi masam. Senyuman manis di bibirnya pun langsung menghilang. Ayana hanya di tanggapi dengan deheman. Tanpa dilirik suaminya sama sekali. Ayana menjadi kesal karenanya. Namun tiba-tiba Ayana tersenyum miring, dan mendekati Dimas.


"Astaga, Ay! Kamu membuat aku terkejut,"ucap Dimas yang hampir saja menjatuhkan handphonenya saat tiba-tiba Ayana duduk di pangkuannya, menghadap dirinya. Dengan kaki di samping kiri dan kanan paha Dimas.


Dimas menelan salivanya kasar menatap penampilan istrinya. Walaupun setiap malam saat berada di dalam kamar Ayana selalu berpenampilan seksi. Namun tetap saja Dimas selalu tergoda melihat penampilan istrinya itu.


"Kakak tidak menoleh saat aku panggil. Apa handphone kakak itu lebih menarik dari pada aku?"tanya Ayana bersungut-sungut.


Dimas tersenyum lembut. Pria itu meletakkan handphonenya di atas nakas, lalu memeluk Ayana yang berada di depannya dengan tangan kanannya.


"Tentu saja lebih menarik istri ku ini. Apalagi kalau sedang memimpin permainan,"ucap Dimas dengan tangan kirinya yang memegang pipi Ayana, kemudian mengusap lembut bibir Ayana dengan jari jempolnya.


"Memimpin permainan?"tanya Ayana seraya memicingkan sebelah matanya.


"Hum,"sahut Dimas memeluk Ayana hingga tubuh mereka saling menempel.


Dimas menenggelamkan wajahnya di antara kedua bukit kembar Ayana. Sebelah tangan Dimas menarik tali kecil dress di bahu Ayana. Hingga terlihat salah satu benda kenyal yang membuat Dimas susah payah menelan salivanya. Karena ternyata istrinya itu tidak memakai kain penutup dada. Sehingga saat dress itu melorot, Dimas langsung bisa melihat benda favoritnya.


Tidak sabar, Dimas kembali melepaskan tali di pundak Ayana yang satunya. Hingga terpampang lah dua benda kenyal itu.


"Ughhh.. kak.."lenguuh Ayana saat Dimas mulai nakal memainkan dua benda kenyal miliknya.


Namun aktivitas panas yang baru saja akan mereka mulai itu terganggu saat terdengar suara dering handphone Dimas.


Dimas menghentikan aktivitasnya, lalu menerima panggilan masuk yang ternyata dari papa mertuanya.


"Halo, pa!"ucap Dimas dengan sebelah tangannya masih memeluk Ayana yang masih berada di atas pangkuannya dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Ayana mengalungkan tangan kirinya di leher Dimas, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang Dimas. Ayana mencium bibir Dimas beberapa kali, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Dimas dan mulai mengecupi leher Dimas.


"Besok kita akan bertemu dengan Tuan Buston. Mereka memajukan jadwal bertemu. Kamu tahu sendiri, 'kan, kalau Tuan Buston tidak mau bertemu, jika yang mewakili perusahaan kita bukan kamu?"ujar Geno seraya mengernyitkan keningnya saat mendengar suara decapaan yang terdengar samar.


"Em.. ahh, iya, pa,"sahut Dimas berusaha berbicara dengan normal. Namun tingkah nakal Ayana yang terus mencumbuui lehernya membuat Dimas sulit menahan diri. Apalagi kedua tangan Ayana mulai merayap membuat Dimas semakin kehilangan fokus.


Geno kembali mengernyitkan keningnya mendengar suara Dimas yang berbeda,"Ya sudah, kita bicara lagi besok,"ucap Geno buru-buru mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Dimas lagi.


"Dasar nakal! Kamu membuat aku gagal fokus saat bicara dengan papa. Kamu sengaja, 'kan, melakukanya?"tanya Dimas mencubit hidung Ayana yang berhenti sejenak mencumbuui leher Dimas.


"Habisnya, papa selalu lama setiap kali menelpon kakak. Aku jenuh menunggunya. Lagian, di kantor kalian juga bersama seharian. Kenapa saat berada di rumah masih juga bicara soal bisnis? Saat di rumah, kakak hanya milikku. Dan aku tidak ingin ada yang menganggu,"ujar Ayana posesif.


Ayana memang sengaja menganggu Dimas saat menerima telepon dari papanya tadi. Bahkan sengaja membuat suara decapaan agar di dengar oleh papanya. Karena Ayana tahu benar, setiap kali mendengar suara Dimas yang seperti menahan desahaan, Geno selalu buru-buru mengakhiri panggilan teleponnya.


"Dasar nakal! Kamu cemburu pada papamu sendiri?"tanya Dimas mencubit hidung Ayana gemas,"Malam ini, aku tidak akan mengampuni kamu,"ucap Dimas langsung menjatuhkan tubuh Ayana di atas ranjang, lalu mengungkungnya dan langsung menyerang istrinya yang jahil itu.


Di rumah Geno.


"Kenapa, pa? Kok cepat banget menelponnya? Apa papa lupa? Tadi, 'kan, mama minta papa buat ngundang mereka makan malam bersama di rumah kita. Kita sudah lama tidak makan malam bersama, loh, pa,"ujar Hilda yang melihat Geno langsung mengakhiri panggilan. Padahal baru bicara beberapa saat.


"Menelpon di waktu yang salah? Salah apanya, pa? Ini belum terlalu malam, kok, pa. Baru pukul sembilan malam,"sahut Hilda seraya menatap jam di dinding kamar.


"Tapi sepertinya mereka sedang bersenang-senang, ma. Dimas aja suara begitu. Entah apa yang dilakukan putri kamu itu. Bahkan dia tidak sabar menunggu suaminya bicara dengan papa,"ujar Geno menghela napas panjang.


"Eh, memangnya putri mama doang? Itu juga putri papa,"protes Hilda.


"Iya. Putri papa juga. Semoga saja mereka selalu bahagia,"ucap Geno tulus.


"Ayana pintar mencari suami,"


"Iya, ma. Jika tidak ada Dimas, perusahaan kita tidak akan berkembang pesat seperti sekarang ini. Apalagi papa dan Nando kemarin sempat mengalami kecelakaan. Dimas menghandle perusahaan dengan baik. Entah berapa kekayaan anak itu. Di perusahaan kita saja dia memiliki saham 20 persen. Papa dengar, anak itu juga memiliki saham di beberapa perusahaan lain. Dia juga masih aktif melakukan jual beli saham. Bahkan Toyib dan Ayana juga mulai terjun di dunia jual beli saham atas bimbingan Dimas,"ujar Geno yang akhirnya tahu agak banyak tentang Dimas. Walaupun Geno tidak tahu pasti berapa kekayaan menantunya itu.


"Apa papa tahu berapa jumlah kekayaan Dimas, pa?"

__ADS_1


"Papa tidak tahu. Tapi sepertinya, Dimas lebih kaya dari kita, ma,"


"Mama malu, pa. Dulu mama selalu menghina Dimas karena profesi Dimas hanya sales pakaian keliling. Tapi nyatanya, dia lebih kaya dari kita.


"Itu karena Dimas trauma, ma. Dan semua itu karena Bening..Dimas jadi enggan hidup seperti orang kaya pada umumnya. Lebih memilih hidup sederhana seperti saat ini. Bahkan tinggal bersama kedua sahabatnya,"


"Iya, ya, pa. Untungnya Ayana juga tidak rewel dan tidak seperti wanita-wanita jaman sekarang. Nggak punya duit banyak aja gaya mereka selangit. Apalagi kalau punya duit banyak. Mana mau mereka tinggal di rumah sederhana seperti Ayana,"


"Karena itulah Dimas dan Ayana cocok. Dimas tidak ingin menunjukkan kekayaannya Bahkan menyembunyikan kekayaan nya. Sedangkan Ayana tidak terlalu mempedulikan soal harta, dia hanya ingin waktu bersama Dimas saja,"


"Papa benar. Bahkan sudah beberapa kali Ayana ingin dibelikan motor dan mobil oleh Dimas, tapi Ayana nggak mau,"


"Biarkan saja, ma. Yang penting mereka bahagia,"


"Iya, pa. Yang menjadi pikiran mama sekarang adalah Nando. Mama ingin Nando kembali berkeluarga. Tapi, mama masih trauma mencari menantu. Takut seperti Bening lagi,"


"Nando sepertinya juga masih menenangkan diri, ma. Tidak usah khawatir soal jodoh Nando! Nanti juga ketemu. Semoga nanti Nando mendapatkan yang lebih baik dari Bening,"


"Iya, pa,"


...🌟🌟🌟...


...Sesungguhnya kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harta benda, melainkan pada hati dan ketenangan jiwa....


...Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang....


...Bijak bukan berarti tidak pernah salah, kaya bukan berarti tidak pernah susah, dan sukses bukan berarti tidak pernah gagal....


...Tidak perlu menunggu kaya untuk bahagia karena bahagia tidak harus kaya....


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2