
Pagi telah menyapa, mentari bersinar cerah dan hangat. Ayana melakukan aktivitas seperti biasanya, menyiapkan sarapan untuk suami dan Abang angkatnya.
"Kak, boleh nggak, sepulang sekolah nanti aku ke rumah Wulan?"tanya Ayana meminta ijin.
"Kenapa ingin ke sana? 'Kan besok bukan hari libur, Ay,"sahut Dimas tanpa memberi jawaban atas pertanyaan Ayana.
"Ada tugas yang harus aku kerjakan berdua sama Wulan, kak. Aku juga sudah rindu pada ibu dan bapak. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka,"sahut Ayana sambil sarapan.
"Kesana nya sama siapa? Nggak menginap, 'kan?"tanya Dimas yang juga masih sarapan.
"Cie.. cie.. yang takut bobok sendiri, nggak ada guling hidup yang bisa meluk dan bisa ngomong. Dulu saja suruh menginap sesuka hati. Sekarang kalau pamit mau menginap langsung nggak rela itu hati,"goda Toyib seraya mengunyah makanannya, tapi Dimas tidak menanggapi.
"Sepertinya aku harus menginap, kak. Soalnya, tugasnya banyak, dan mungkin lama menyelesaikannya,"sahut Ayana menatap wajah Dimas. Ingin tahu bagaimana reaksi Dimas.
"Ya sudah. Nggak apa-apa. Cuma satu malam doang, 'kan?"tanya Dimas tapi terlihat tidak rela.
"Yahhh..bobok sendirian, dong!"ledek Toyib kemudian terkekeh.
"Kok, kakak jadi lesu gitu? Nggak rela, ya, aku menginap di rumah bapak dan ibu?"tanya Ayana seraya mengulum senyum.
"Jelas nggak rela, dong, Ay! Nggak ada yang bisa di cium-cium,"sahut Toyib kembali terkekeh. Sedangkan Dimas hanya membuang napas kasar menanggapi ledekan dari Toyib.
Ayana tersenyum,"Bercanda. Aku nggak nginap, kok. Sorenya aku pulang,"ujar Ayana yang juga nggak ingin jika tidur terpisah dari Dimas. Sudah terbiasa dan nyaman tidur dalam dekapan suami tampannya itu.
"Gimana pulangnya, Ay? Kalau aku jemput kamu, pasti nanti nyampe rumah agak malam. Arah rumah pak Parman dan kantor, 'kan, berlawanan,"sahut Dimas yang merasa lega karena Ayana tidak menginap di rumah Pak Parman.
"Pulang di jemput Abang, nggak apa-apa, 'kan?"tanya Ayana.
"Nggak apa-apa. Tapi Toyib bisa jemput kamu, nggak?"tanya Dimas yang beralih menatap Toyib.
"Abang bisa jemput aku pulang, nggak?"tanya Ayana pada Toyib.
"Bisa. Kebetulan hari ini Abang juga ada tagihan di kampung Pak Parman. Nagih di dekat rumah janda kaya fans beratnya Dimas,"ujar Toyib kemudian terkekeh.
"Tapi, menjemput nya jangan terlalu sore, bang! YaKalau terlalu sore, aku nggak bisa masak untuk makan malam kita,"ujar Ayana.
"Iya. Abang nggak bakal terlalu sore jemput kamu. Rugi Abang, kalau kamu nggak masak,"sahut Toyib yang sudah terlanjur cocok dengan masakan Ayana.
"Jadi nggak perlu di antar Bu Nur ke rumah Wulan, 'kan?"tanya Dimas.
"Nggak usah, kak. Aku nanti boncengan sama Wulan aja,"sahut Ayana.
__ADS_1
Akhirnya siang itu Ayana ke rumah Wulan yang sudah lumayan lama tidak di kunjungi nya. Akhir-akhir Ayana ini lumayan repot karena harus bolak-balik ke rumah sakit dan juga beberapa kali menginap di rumah kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum!"ucap Ayana dan Wulan bersamaan.
"Wa'alaikumus salam! Eh, anak ibu akhirnya pulang juga,"ujar Bu Lastri nampak senang saat melihat Wulan pulang bersama dengan Ayana.
"Apa kabar, Bu?"tanya Ayana setelah mencium punggung tangan Bu Nur.
"Alhamdulillah, ibu sehat. Bapak juga,"sahut Bu Lastri, kemudian memeluk Ayana dengan hangat,"Ayo,.masuk!"ajak Bu Lastri setelah melepaskan pelukannya,"Gimana kabar kamu?"tanya Bu Lastri seraya menggandeng Ayana masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah, seperti yang ibu lihat, aku sehat dan baik-baik saja,"sahut Ayana dengan seulas senyum.
"Eh, kok, Nak Dimas akhirnya-akhir ini nggak pernah kelihatan, Ay?"tanya Bu Lastri penasaran.
"Kakak ada pekerjaan lain, Bu. Beberapa waktu yang lalu papa dan kakakku kecelakaan. Ngga ada yang mengurus perusahaan. Jadi, untuk sementara waktu kak Dimas menggantikan papa di perusahaan,"sahut Ayana.
"Oohh, begitu? Pantesan, sudah lama nggak kelihatan. Tapi, ngomong-ngomong apa keadaan kakak dan papa kamu sekarang sudah baik-baik saja?"tanya Bu Lastri.
"Sudah mendingan, Bu. Tapi belum bisa bekerja. Masih dalam masa pemulihan,"sahut Ayana.
"Syukurlah, semoga cepat sembuh, ya, Ay!"doa Bu Lastri.
"Iya, Bu. Terimakasih,"sahut Ayana tersenyum tipis.
"Iya, Ay. Si janda gatel itu masih saja pengen mendekati kak Dimas,"timpal Wulan.
"Waktu itu malah sampai ingin membayar bang Toyib agar bang Toyib mau jadi comblang buat dapetin Nak Dimas. Ibu dengar sendiri waktu itu,"ujar Bu Lastri dengan wajah serius.
"Sampai segitunya, dia pengen mendapatkan kakak,"ujar Ayana membuang napas kasar.
"Iya, Ay. Dia bahkan ngomong sama orang-orang kampung sini, kalau Nak Dimas mau jadi suami dia, janda itu bakal membangun toko pakaian yang besar di tepi jalan raya buat nak Dimas,"ujar Bu Lastri yang tahu dari gosip yang tersebar di kampungnya.
"Risiko punya suami ganteng, ya, begitulah, Ay. Apalagi kalau ganteng plus tajir. Walaupun sudah beristri pun, para pelakor nggak bakal menyerah buat dapetin nya,"imbuh Wulan.
"Kamu benar, Lan. Bahkan sampai saat ini, mantan kak Dimas yang gagal move on aja masih berusaha mendekati kak Dimas. Padahal dia sudah punya suami. Dan mirisnya, mantan pacar kak Dimas adalah kakak ipar ku,"ujar Ayana menghela napas panjang.
"What? Kayak sinetron yang suka di tonton ibu aja, Ay. Itu bisa dibikin judul, 'Kakak ipar ku, ternyata adalah mantan pacar suamiku',"ujar Wulan, kemudian terkekeh.
"Wah, bahaya itu, Ay. Jangan bersikap lembut sama pelakor, Ay! Libas, tebas tanpa ampun, Ay! Jangan di kasih kesempatan untuk mendekat!"ujar Bu Lastri dengan wajah serius.
"Aku juga melakukan seperti itu, Bu. Aku nggak ngasih dia kesempatan buat mendekati kak Dimas,"ujar Ayana terlihat serius.
__ADS_1
"Ya sudah, kita kerjakan tugas kita, yuk! Katanya kamu nggak menginap di sini. Entar nggak selesai kalau nggak dikerjakan sekarang,"ujar Wulan.
"Wah, sayang sekali nggak bisa menginap di sini. Tapi nggak apa-apa. Ibu mengerti. Ayana sekarang sudah punya suami. Apalagi suaminya ganteng gitu. Kalau terlalu lama di tinggal, takut di embat orang. Jadi mending di kekepin aja, Ay"ujar Bu Lastri kemudian terkekeh.
"Ibu ini,"sahut Ayana dengan wajah memerah.
"Pada makan dulu, gih! Habis makan baru mengerjakan tugas. Kalau tahu Ayana mau kesini, ibu pasti masak masakan spesial buat Ayana,"sela Bu Lastri.
"Ah iya, sampai lupa. Ayo, makan dulu, Ay!"ajak Wulan.
Akhirnya Wulan dan Ayana makan siang bersama. Setelah itu, Ayana mengerjakan tugas sekolahnya bersama dengan Wulan. Seperti rencana tadi pagi, sore harinya Toyib menjemput Ayana.
"Sudah, siap? Tanya Toyib pada Ayana setelah menunggu beberapa saat di teras rumah Bu Lastri.
"Sudah, bang,"sahut Ayana yang di sebelahnya ada Bu Lastri dan Wulan.
"Bang, Toyib!"panggil seorang perempuan saat melihat motor Toyib terparkir di depan rumah Bu Lastri.
"Huuh, dia lagi,"gumam Bu Lastri merasa kesal saat melihat orang yang datang adalah janda terkaya di kampung itu. Janda yang pantang menyerah mengejar Dimas. Ayana dan Wulan pun terlihat sama kesalnya seperti Bu Lastri.
"Ada apa, Bu?"tanya Toyib.
"Ihh.. kok ibu, sih! Saya ini masih muda, loh,"protes janda itu bersungut-sungut.
"Kalau masih muda itu seperti Ayana dan Wulan. Kalau ibu itu sudah dewasa,"sahut Toyib.
"Terserah lah,"ujar janda itu kesal,"Aku mau nanya, kak Dimas kemana, ya? Kok, kata orang-orang yang nagih tagihan kak Dimas adalah bang Toyib?"tanya janda itu, berharap bisa mendapatkan informasi dari Toyib.
"Oh, itu. Dimas sedang bulan madu sama istrinya. Istrinya di kekepin mulu. Lagi anget-angetnya,"ucap Toyib seraya melirik Ayana.
"Ayo, kita pulang, bang! Keburu sore,"ujar Ayana yang tidak ingin lebih lama lagi melihat janda itu.
"Ah, iya. Kami pulang, Bu, Lan!"pamit Toyib.
"Iya. Hati-hati!"ucap Bu Lastri dan Wulan bersamaan.
"Eh, bang! Aku belum selesai ngomong,"ujar janda itu terlihat kesal, tapi tidak ditanggapi Toyib.
Akhirnya Toyib pun pulang bersama Ayana meninggalkan sang janda kaya dengan kekesalan dan kekecewaan di wajah janda itu.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued