SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
204. Pasrah


__ADS_3

Pak, Bu, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya telah melakukan kesalahan yang seharusnya tidak saya lakukan,"ucap Diky tertunduk.


"Deg"


Jantung Bu Lastri rasanya berhenti berdetak mendengar kata-kata Diky. Bu Lastri jadi teringat cara berjalan Wulan yang terlihat aneh tadi.


"Melakukan kesalahan? Kesalahan apa yang kamu maksud?"tanya Pak Parman mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba Pak Parman merasa ada firasat buruk.


"Maafkan saya! Saya khilaf. Saya telah mengambil kesucian Wulan,"ucap Diky dengan bahasa formal dengan wajah tertunduk.


"Dasar brengseek! Beraninya kamu!"pekik Pak Parman membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Diky. Spontan Pak Parman bangkit dari duduknya dan menghampiri Diky.


"Bugk!


"Bugk!


"Bugk!


Pak Parman memukul Diky dengan membabi buta. Sedangkan Diky yang memang merasa bersalah hanya diam saja saat Pak Parman memukulnya. Jangankan membalas, menghindar pun tidak Diky lakukan.


"Bapak! Hentikan!"teriak Bu Lastri.


"Jangan, Pak!"teriak Wulan.


Bu Lastri sempat terkejut mendengar pengakuan Diky. Namun Bu Lastri semakin terkejut melihat Pak Parman langsung bangun dari duduknya dan langsung memukul Diky bertubi-tubi.


Sedangkan Wulan sendiri tidak menyangka jika bapaknya yang selama ini dikenalnya sabar dan humoris itu bisa marah besar seperti itu.


"Lepaskan, Bu! Biar bapak hajar bajingan ini! Minggir, Lan! Biar bapak beri pelajaran pria brengseek ini!"bentak Pak Parman pada Bu Lastri dan Wulan.


Bu Lastri memeluk Pak Parman dari belakang untuk menahan Pak Parman dan Wulan berdiri di depan Diky untuk menghalangi Pak Parman memukul Diky.

__ADS_1


"Pak, kalau bapak menganiaya Diky, bapak bisa masuk penjara. Lagipula, walaupun bapak menghajar Diky sampai mati, kesucian Wulan juga tidak akan kembali. Malahan, kalau dia hamil bagaimana? Siapa yang akan menikahinya? Sabar, Pak! Sabar!"ucap Bu Lastri mencoba untuk menenangkan suaminya. Masih memeluk Pak Parman dari belakang.


"Ini salahku, Pak. Bukan salah Abang!"ucap Wulan dengan wajah tertunduk.


"Ayo duduk dulu! Kita bicarakan baik-baik. Jika bapak membuat keributan, para tetangga akan datang semua ke sini, dan kita semua akan malu, Pak!"ucap Bu Lastri mencoba mengingatkan.


Mendengar kata-kata istrinya, Pak Parman pun mencoba mengontrol emosinya. Benar yang dikatakan oleh istrinya. Jika dirinya membuat keributan, maka para tetangga akan datang dan mereka akan tahu tentang aib mereka ini.


Bu Lastri menarik Pak Parman untuk duduk di sebelahnya, begitu pula dengan Wulan yang menarik Diky untuk duduk di sebelahnya. Hingga pasangan beda usia itu duduk berhadapan.


Untuk beberapa saat, mereka semua diam dan mencoba mengontrol emosi mereka masing-masing. Bu Lastri memberikan air minum pada Pak Parman, agar suaminya itu merasa lebih tenang.


"Sekarang, coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!"pinta Bu Lastri menatap Wulan dan Diky bergantian.


"Biar aku saja yang menjelaskan, bang,"ucap Wulan sebelum Diky membuka mulut,"Sebenarnya Abang sudah beberapa kali mengajak aku menikah. Tapi aku menolaknya dengan alasan ingin fokus pada kuliah ku. Hingga akhirnya sebulan yang lalu Abang menjadi kesal padaku. Sebenarnya, selama satu bulan terakhir, aku dan Abang lost contact. Karena Abang sengaja menghindari aku.Tapi, tadi sore aku melihat Abang dan mengikuti Abang hingga ke apartemennya. Abang mengatakan ingin memutuskan pertunangan kami. Dan akan datang kesini untuk memberitahu bapak dan ibu soal masalah ini. Karena Abang tidak sanggup menunggu aku sampai aku lulus kuliah. Kami sempat bertengkar karena aku tidak terima dengan keputusan Abang, dan Abang malah menyuruh aku pulang. Tapi aku tidak mau pulang, lalu.. "Wulan bingung harus bagaimana melanjutkan kata-katanya.


"Sudahlah! Tidak perlu dilanjutkan,"ucap Bu Lastri yang tahu apa yang terjadi setelahnya,"Sekarang, kita bicarakan saja bagaimana ke depannya. Nak Diky tidak bermaksud lari dari tanggung jawab, 'kan?"tanya Bu Lastri dengan tatapan serius pada Diky.


Karena Pak Parman masih terlihat sedikit emosi, Bu Lastri pun berinisiatif untuk bicara.


"Ibu juga setuju. Kalian harus menikah secepatnya. Ibu tidak mau Wulan sudah hamil duluan sebelum menikah. Bapak dan ibu akan rundingkan dulu masalah ini. Nanti kalau sudah selesai kami rundingkan, kami akan mengabari Nak Diky. Begitu, 'kan, Pak?"tanya Bu Lastri.


"Hum,"sahut Pak Parman yang masih marah pada Diky.


"Ya, sudah! Jadi semua sudah setuju, ya? Maaf, Nak Diky! Bukannya ibu mengusir, tapi akan lebih baik jika Nak Diky pulang saja dulu. Obati luka Nak Diky,"ujar Bu Lastri menyarankan. Karena Pak Parman masih terlihat marah pada Diky.


"Iya, Bu. Sekali lagi, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya pada bapak dan ibu.Kalau begitu, aku pamit pulang dulu,"pamit Diky. Pemuda itu kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Bu Lastri dan Pak Parman. Walaupun Pak Parman terlihat masih marah.


Setelah Diky pergi, Bu Lastri menghela napas dalam-dalam. Kemudian menatap putri semata wayangnya yang masih duduk menunduk. Tidak berani menatap Bu Lastri dan Pak Parman.


"Inilah kalau tidak mendengar kata-kata ibu. Bukankah ibu sudah bilang, jika sebaiknya kalian menikah saja, agar terhindar dari dosa. Tapi kamu tidak mau, Lan. Malah selama satu bulan terakhir ini berbohong pada ibu dan bapak. Kamu bilang, hubungan kalian baik-baik saja dan sering bertemu di luar sana dengan Nak Diky. Nyatanya, kalian malah bertengkar dan hampir saja hubungan kalian putus,"ujar Bu Lastri yang merasa kesal karena di bohongi putrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Bu, Pak! Ini semua salahku. Seandainya aku mendengarkan kata-kata ibu, semua ini tidak akan terjadi,"ucap Wulan tertunduk.


"Pantas saja kamu tidak mau memakai motor yang di berikan Nak Diky. Sudahlah! Kamu istirahat saja dulu!"ucap Bu Lastri yang tidak ingin memarahi Wulan lagi. Karena marah pun percuma. Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dihindari lagi, melainkan harus dihadapi.


"Iya , Bu,"sahut Wulan beranjak masuk ke kamarnya.


Bu Lastri menghela napas panjang menatap putrinya yang menghilang di balik pintu. Bu Lastri kemudian menatap suaminya yang terlihat masih marah.


"Sudahlah, Pak! Jangan marah lagi! Nanti kena darah tinggi kalau suka marah-marah,"


"Bapak hanya kecewa, Bu. Padahal bapak selama ini selalu menghormati dan menghargai dia. Tapi dia malah main kawin duluan sebelum menikah,"ketus Pak Parman.


"Ya bukan cuma Nak Diky yang salah. Putri kita juga salah. Ngapain dia mendatangi tunangannya ke apartemennya? Itu namanya menyerahkan diri untuk dimakan harimau lapar. Bapak kayak nggak pernah muda saja. Bapak dulu juga mepet ibu terus. Makanya cepat-cepat dinikahkan oleh orang tua kita. Kalau nggak, mungkin bapak juga sama saja seperti Nak Diky,"


"Lah, kenapa jadi bawa-bawa bapak?"protes Pak Parman.


"Karena bapak juga laki-laki. Sudah ibu bilang kalau Nak Diky itu sudah dewasa. Karena itu dia tidak mau pacaran dan langsung melamar Wulan. Bahkan sudah terang-terangan dari awal Nak Diky ingin langsung menikahi Wulan. Bapak saja yang mendukung Wulan untuk menunda pernikahan. Kalau ibu, dari awal sudah mendukung agar mereka menikah secepatnya. Lihatlah! Mereka bahkan hampir saja putus karena Wulan beberapa kali menolak menikah dengan Nak Diky tanpa kita ketahui. Bapak sok bijak mendukung Wulan waktu itu. Begini, 'kan, jadinya?"


"Iya.. iya.. bapak yang salah,"sahut Pak Parman pasrah. Karena apa yang dikatakan oleh Bu Lastri memang benar.


"Ya, sudah! Bapak tidak usah marah lagi sama, Nak Diky! Bapak main hajar aja nggak mikir dulu. Mau ditaruh di mana muka kita kalau tadi sampai ada warga yang tahu?"


"Iya..iya..bapak salah. Bapak terbawa emosi,"


"Ya sudah, sebaiknya kita bicarakan soal pernikahan mereka saja. Lebih cepat lebih baik. Tidak usah terlalu mewah. Yang penting sah dimata hukum dan agama. Nggak usah ngoyo ngadain pesta besar-besaran kalau ujung-ujungnya ngutang,"


"Iya. Terserah ibu saja. Bapak tidak mau di salahkan lagi,"sahut Pak Parman pasrah, tidak ingin lagi diocehi istrinya.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2