
Di kediaman Geno.
Pagi itu, Geno sedang memakai dasinya, sedangkan Hilda sedang memoles wajahnya.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu membuat Geno menghampiri pintu kamarnya. Pria paruh baya itu membuka pintu kamarnya dan melihat Nando di depan pintu kamar.
"Kamu baru pulang?"tanya Geno karena sudah dua malam Nando tidak pulang kerumah.
Kalau dulu Nando suka kelayapan di malam hari dan bersenang-senang dengan wanita penghibur. Sekarang jika keluar malam, Nando pasti menginap di apartemen Bening.
"Iya. Pa, bisa kita bicara?"tanya Nando terdengar serius.
"Kita bicara di ruangan kerja papa saja,"sahut Geno yang melihat Nando tampak serius. Sedangkan Hilda mengernyitkan keningnya saat mendengar pembicaraan anak dan ayah itu.
Geno dan Nando pun masuk ke ruangan kerja Geno. Dua pria beda usia itu duduk berhadap-hadapan.
"Sepertinya ada sesuatu yang serius yang ingin kamu bicarakan dengan papa.Katakanlah!"titah Geno.
"Pa, bisakah papa mempercepat pernikahan kami?"tanya Nando nampak ragu-ragu.
"Bukankah kita sudah sepakat, pernikahan kamu akan diadakan lima bulan lagi? Lalu.. kenapa tiba-tiba kamu ingin di percepat?"tanya Geno nampak mengernyitkan keningnya.
"Karena.. karena Bening sedang mengandung, pa,"sahut Nando menundukkan kepalanya.
Geno menghela napas panjang mendengar pengakuan Nando,"Apa kalian tidak memakai pengaman?"tanya Geno.
"Aku cuma sekali tidak pakai pengaman, pa. Tidak di sangka bisa membuat Bening mengandung,"sahut Nando menghela napas berat.
"Jadi, kamu ingin pernikahan yang sederhana atau pernikahan yang mewah?"tanya Geno.
"Aku ingin pernikahan yang mewah, pa. Kira-kira berapa lama papa bisa mengaturnya?"tanya Nando.
"Memangnya, sudah berapa bulan kandungan Bening?"tanya Geno, belum menjawab pertanyaan Nando.
"Baru satu bulan, pa,"sahut Nando.
"Satu bulan ke depan, perusahaan kita akan meluncurkan produk baru. Pembangunan hotel juga masih berjalan. Jadi, akan papa usahakan dalam waktu dua Minggu kalian sudah menikah,"sahut Geno.
__ADS_1
"Terimakasih, pa!"ucap Nando dengan wajah berbinar,"Em..pa. Apa papa akan mengundang Ayana dan suaminya?"tanya Nando ragu.
"Tentu saja. Mereka adalah keluarga kita,"sahut Geno.
"Maaf, pa. Apa papa tidak malu punya menantu sales pakaian keliling seperti Dimas?"tanya Nando ragu.
"Walaupun Dimas hanya sales pakaian keliling, tapi adikmu mencintainya. Dimas juga pria yang bertanggung jawab. Dan yang pastinya, adikmu banyak berubah ke arah yang lebih baik setelah bersama Dimas. Kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya adikmu. Tapi dengan mudah Dimas mengendalikannya. Jika kita memisahkan mereka, papa takut akan membuat Ayana depresi. Papa sudah bicara dengan psikolog yang menangani Ayana. Sangat berbahaya jika kita memisahkan mereka. Jadi, biarkan Ayana bersamanya. Asalkan Ayana bahagia dan baik-baik saja, itu sudah cukup bagi papa,"sahut Geno.
"Apa papa tidak bisa mempekerjakan dia di perusahaan kita? Terlalu memalukan rasanya jika rekan bisnis kita tahu jika menantu papa seorang sales pakaian keliling,"sahut Nando.
"Mempekerjakan dia di perusahaan kita? Sepertinya ide yang bagus juga. Tapi papa belum bisa memutuskannya sekarang. Kerena papa tidak tahu, Dimas itu lulusan apa. Nanti papa akan kerumah mereka untuk mengabarkan tentang pernikahan kamu. Sekalian menanyakan pada Dimas, dia lulusan apa,"ujar Geno.
"Aku rasa, mungkin Dimas hanya lulusan SMA, pa,"sahut Nando.
***
Geno menceritakan tentang pembicaraannya dengan Nando pada Hilda. Geno juga menyampaikan keinginannya dan Nando yang ingin mempekerjakan Dimas di perusahaan mereka. Dan Hilda pun setuju dengan ide suami dan putranya itu. Akhirnya, malam harinya Geno dan Hilda pun pergi ke rumah kontrakan Dimas.
***
"Tok! Tok! Tok!"
"Eh, Om, Tante. Mari masuk!"ucap Toyib sopan. Geno dan Hilda pun masuk keruangan tamu yang tidak terlalu besar itu.
"Duduk dulu, Om, Tante!"ucap Toyib kemudian meninggalkan Geno dan Hilda.
Hilda dan Geno memperhatikan ruangan tamu itu. Walaupun sederhana, tapi bersih dan rapi.Tak berapa lama kemudian, Toyib kembali membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan sepiring bolu.
"Di minum, Om, Tan. Ini ada bolu yang dibuat Ayana kemarin,"ucap Toyib meletakkan dua cangkir teh dan sepiring bolu di atas meja.
"Ayana bisa membuat bolu?"tanya Geno seraya mengambil sepotong bolu di piring, lalu memakannya. Hilda yang penasaran pun ikut mencobanya.
"Ayana suka mencoba menu masakan baru dan juga mencoba berbagai macam kue, Om. Dia anak yang pintar, rajin, dan juga penurut. Saya sangat senang bisa mengenal Ayana. Saya sudah menganggap Ayana seperti adik saya sendiri,"ujar Toyib.
"Dia memang banyak berubah setelah tinggal bersama kalian,"ujar Geno tersenyum tipis.
"Mana Dimas dan Ayana?"tanya Hilda.
"Tadi pagi Dimas jadi suporter Ayana yang tanding bola voli, Tan. Cuma, setelah pertandingan selesai, mereka bilang mereka pergi ke pantai,"sahut Toyib.
__ADS_1
"Bukannya Ayana sedang mengandung? Kenapa dia ikut tanding bola voli?"tanya Geno nampak terkejut mendengar Ayana ikut tanding bola voli.
Toyib terkekeh mendengar pertanyaan Geno,"Om dan Tante dibohongi Ayana. Jangankan mengandung, saya yakin sampai sekarang Ayana masih perawan,"ujar Toyib kembali terkekeh.
"Tapi, waktu itu dokter bilang..."Hilda tidak melanjutkannya kata-katanya saat Toyib memotong kata-katanya.
"Ayana sudah menceritakan semua pada kami. Ayana memohon pada dokter untuk mengatakan jika dia kemungkinan sedang mengandung. Maaf, Ayana mengatakan semua yang Tante lakukan pada dokter itu. Dari Tante memaksa Ayana untuk bertemu dengan orang yang bernama Noval hingga Tante mengunci Ayana di kamar, tidak memberi makan pada Ayana, dan memukul Ayana. Lalu, Ayana mengatakan tentang traumanya pada dokter. Dokter itu menelpon psikolog yang menangani Ayana. Hingga akhirnya menuruti permintaan Ayana untuk mengatakan bahwa Ayana kemungkinan sedang mengandung. Jadi, masalah kandungan itu semua hanya akal-akalan Ayana agar kalian tidak menjodohkan Ayana dengan orang yang bernama Noval. Dan tidak membuat Pak Parman kehilangan pekerjaannya. Ayana mengalami trauma berat yang berawal dari orang yang bernama Noval itu. Selain itu, sejak saat itu, Ayana benar-benar menjauh dari semua pria, kecuali dari saya, Dimas, dan Pak Parman,"jelas Toyib panjang lebar.
Geno yang juga sudah mengetahui trauma Ayana dari psikolog Ayana pun hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturan Toyib. Sedangkan Hilda hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Hingga akhirnya terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah itu.
"Assalamu'alaikum!"terdengar suara Dimas dan Ayana dari luar.
"Wa'alaikumus salam,"sahut Toyib.
Setelah masuk ke dalam rumah, Ayana nampak terkejut saat melihat siapa yang datang bersama papanya. Ayana tidak menyangka jika mamanya ikut datang ke rumah kontrakan Dimas.
"Pa, ma!"sapa Dimas langsung menyalami dan mencium punggung tangan Geno dan Hilda bergantian. Ayana pun mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Sudah lama papa dan mama datang?"tanya Dimas sopan. Sedangkan Ayana hanya diam menunduk, duduk menempel pada Dimas seraya memeluk lengan Dimas.
"Belum terlalu lama,"sahut Geno.
"Apa ada sesuatu yang penting, hingga papa dan mama datang malam-malam begini?"tanya Dimas lagi.
"Begini, dua minggu lagi, papa dan mama akan menggelar pernikahan kakak kalian. Jadi, papa harap kalian datang. Kamu juga datang, ya, Yib!"pinta Geno.
"Iya, Om,"sahut Toyib.
"Kalian datang ke butik mama saja untuk memilih baju yang akan kalian pakai nanti. Jangan membuat kami malu dengan memakai baju murahan,"ketus Hilda, membuat Geno menghela napas.
"Oh ya, Dim, kamu lulusan apa?"tanya Geno nampak serius.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1