SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
215. Mengamati


__ADS_3

Video yang di kirim Wulan di grup chat kelasnya itu menyebar ke seluruh kampus dalam beberapa menit saja. Semua orang nampak terkejut melihat aksi nekat Clara yang ingin melukai Ayana dengan pisau lipat. Hanya karena Ayana di dekati oleh Delvin.


Namun pengakuan Ayana dalam video bahwa dirinya sudah menikah juga menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Apalagi ada beberapa orang mahasiswa yang mendengar Ayana mengaku sudah menikah ketika di dekati Delvin. Termasuk tadi, secara terang-terangan Ayana mengaku jika dirinya sudah menikah.


Namun melihat usia Ayana yang terlalu muda membuat para mahasiswa tidak percaya jika Ayana sudah menikah. Mereka menganggap pengakuan Ayana itu hanya untuk menghindari cowok-cowok yang naksir sama Ayana. Karena Ayana ingin fokus pada kuliahnya. Mengingat selama di kampus, Ayana memang nampak fokus pada kuliahnya.


Delvin merasa geram setelah melihat video yang dibagikan Wulan melalui WhatsApp itu. Delvin menjadi sangat membenci Clara.


"Pantesan Ayana tidak mau bos dekati. Mungkin selama ini banyak cewek-cewek fans fanatik bos yang melabrak Ayana. Dan Clara yang paling parah. Dia sampai nekat menghadang dan berniat melukai Ayana menggunakan pisau,"ujar si keriting menghela napas panjang.


"Bos akan semakin sulit untuk mendekati Ayana. Tapi ngomong-ngomong, aku sangat penasaran. Apa benar Ayana sudah menikah?"ujar si gisul.


"Apa perlu kita minta foto pernikahannya dan surat nikahnya, untuk membuktikan dia benar-benar sudah menikah atau belum?"tanya si keriting.


"Memangnya kita Pak RT? Atau bagian HRD, pakai nanya soal itu,"sahut si gisul.


Delvin hanya menghela napas panjang mendengar celotehan kedua temannya itu. Delvin sendiri masih ragu jika Ayana sudah menikah. Dan selalu berharap jika Ayana belum menikah.


"Bos, bagaimana jika Ayana benar-benar sudah menikah, bos?"tanya si gisul tiba-tiba.


"Sudahlah! Tidak usah di bahas lagi!"ketus Delvin.


Entah mengapa membayangkan Ayana benar-benar sudah menikah dengan orang lain membuat Delvin jadi bad mood.


Di perusahaan Geno.


"Dim, kamu mau kemana?"tanya Nando saat berpapasan dengan Dimas di parkiran.


"Mau menjemput Ayana, kak,"sahut Dimas.


"Tumben kamu menjemput Ayana,"


"Nanti aku ceritakan sesuatu. Aku pergi dulu, kak! Takut Ayana menunggu aku terlalu lama,"pamit Dimas kemudian meninggalkan Nando.


"Menceritakan sesuatu? Apa maksud Dimas? Dan apa hubungannya menjemput Ayana dan menceritakan sesuatu?"gumam Nando yang bingung dengan jawaban Dimas. Nando hanya bisa menatap adik iparnya yang sudah melajukan motornya keluar dari parkiran itu. Ada banyak tanda tanda di hati Nando karena kata-kata adik iparnya itu tadi.

__ADS_1


Dimas melajukan motornya menuju kampus tempat Ayana menimba ilmu. Setelah empat puluh menit melajukan motornya dengan kecepatan sedang, pria tampan itu akhirnya sampai di depan gerbang kampus istrinya. Dimas memarkirkan motornya di bawah sebuah pohon yang rindang. Namun baru saja Dimas ingin menoleh ke dalam kampus Ayana, tiba-tiba handphone di saku celananya bergetar.


Melihat Nando menghubungi dirinya, Dimas pun melepaskan helm full face yang dipakainya. Sontak saja para mahasiswi yang sedang lewat di dekat Dimas pun menghentikan langkah mereka. Menatap wajah tampan Dimas yang baru saja melepaskan helm nya


Pria itu menerima panggilan masuk dari kakak iparnya seraya merapikan rambutnya yang jadi kurang rapi setelah memakai helm tadi. Dan hal itu membuat para mahasiswi yang melihatnya terpesona.


"Halo, kak! Ada apa?"tanya Dimas dalam sambungan telepon.


"Astagaa.! Tampan sekali,"


"Ini, sih, lebih tampan dan maskulin dari pangeran kampus kita,"


"Sepertinya, bentuk tubuhnya juga proporsional,"


"Aku pengen kenalan sama dia. Siapa tahu bisa jadian sama dia,"


Kasak-kusuk mahasiswi yang tanpa sengaja melihat Dimas. Mereka nampak kagum dengan wajah dan bentuk tubuh Dimas. Pria yang masih duduk di atas motornya itu nampak tidak menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian. Karena pria itu nampak memperhatikan lalu lalang kendaraan sambil menerima telepon.


Si keriting dan si gisul yang sejak lima belas menit yang lalu berada di luar gerbang kampus pun terusik mendengar kasak-kusuk para mahasiswi itu.


Si gisul juga mencari tahu, siapa yang sedang dibicarakan oleh para mahasiswi itu. Sedangkan Delvin nampak sedang main game online seraya memakai earphone, sehingga tidak mendengar apa yang dibicarakan kedua orang temannya. Apalagi kasak-kusuk para mahasiswi yang melihat Dimas.


"Eh, lihat itu! Di sana ada cowok yang ganteng banget,"ucap si gisul menunjuk ke satu arah.


"Buset! Ini yang namanya benar-benar ganteng,"celetuk si keriting spontan.


Si gisul membulatkan matanya mendengar celetukan si keriting. Si gisul pun menendang kaki si keriting lalu memberi isyarat, melirik ke arah Delvin yang duduk di tengah-tengah mereka.


"Dia nggak bakal denger!"ujar si keriting santai. Sedangkan Delvin masih fokus pada layar handphonenya.


"Eh, bukankah cowok itu naik motor gambot, ya? Jangan bilang kalau itu cowok adalah cowok yang dibicarakan para mahasiswi tadi. Cowok yang di cium Ayana,"ujar si gisul seraya menatap Dimas yang masih menerima panggilan telepon.


"Kalau beneran dia, bos memang kalah dari tuh, cowok. Bos cuma punya kelebihan ortunya kaya kalau dibandingkan dengan tuh, cowok,"sahut si keriting jujur adanya.


Si gisul melirik pada Delvin yang masih menunduk menatap layar handphonenya seraya main game online. Si keriting dan si gisul memang ditugaskan oleh Delvin untuk mengawasi keadaan. Agar mereka tahu, dengan siapa Ayana pulang. Sedangkan Delvin memilih bermain game online agar tidak merasa jenuh saat menunggu.

__ADS_1


Si gisul terus mengawasi area sekitar pintu gerbang untuk mencari tahu, dengan siapa Ayana pulang.


Sedangkan Dimas memilih mengecek email yang masuk di handphonenya dan juga beberapa pesan yang masuk di handphonenya setelah selesai menerima panggilan dari Nando


Di sisi lain.


"Lan, sudah mau pulang?"tanya Ayana saat melihat Wulan keluar dari kelasnya.


"Aku harus mengumpulkan tugas dulu, Ay. Kamu duluan aja. Siapa tahu kak Dimas udah nungguin di depan,"ucap Wulan yang membawa lembaran tugas seraya menaik turunkan kedua alisnya dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Tadi kakak bilang nggak janji mau menjemput aku,"sahut Ayana. Karena tadi Dimas memang berkata seperti itu. Walaupun begitu, Ayana sudah merasa senang karena tadi Dimas sudah mau mengantarkan dirinya ke kampus.


"Ya sudah, lihat sana, gih! Siapa tahu kak Dimas sudah ada di depan buat jemput kamu. Kasian kalau nunggu lama di luar. Ntar banyak yang naksir, loh, kalau lihat wajah kak Dimas,"goda Wulan mengulum senyum.


"Kalau begitu, aku duluan, ya!"pamit Ayana.


"Iya,"sahut Wulan.


Ayana bergegas berjalan menuju gerbang kampusnya. Wanita muda itu merasa sangat penasaran. Apakah suaminya menjemput dirinya atau tidak. Setelah tiba di depan gerbang sekolah, Ayana melihat ke sekitar area di depan gerbang kampus untuk mencari keberadaan suaminya.


Sedangkan si keriting dan si gisul yang sedari tadi mengamati area di sekitar depan kampus pun langsung mengetahui keberadaan Ayana yang baru saja keluar dari dalam kampus.


"Bos! Bos! Itu Ayana, bos!"ucap di keriting seraya menepuk pundak Delvin dengan tatapan mata ke arah Ayana.


"Iya, bos, itu Ayana,"imbuh si gisul ikut menepuk pundak Delvin. Si gisul juga tidak menatap Delvin, tapi menatap ke arah Ayana.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•HRD ( human resource development ) dapat diartikan sebagai manajemen sumber daya manusia. Sumber daya manusia atau karyawan adalah salah satu aset yang sangat penting dalam sebuah perusahaan.


•Bad mood merupakan istilah umum untuk menyebut kondisi suasana hati yang buruk. Kondisi bad mood bisa ditunjukan dengan reaksi seseorang yang negatif terhadap suatu hal.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2