SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
49. Adik Ipar Kere


__ADS_3

"Papa! Jangan!"pekik Ayana langsung berlari dan berdiri di depan Dimas, menghalangi papanya agar tidak memukul Dimas.


"Minggir! Biar papa hajar pria brengseek itu!"teriak Geno.


"Papa boleh memukul aku. Tapi jangan pernah memukul kak Dimas,"ucap Ayana tetap berdiri di depan Dimas.


"Sebaiknya kalian masuk dulu. Kita bicara baik-baik di dalam! Jika kalian membuat keributan di sini, kalian akan mengundang warga sekitar sini untuk datang kemari,"ujar Toyib mencoba menengahi dan menenangkan semua orang,"Mari masuk!"ajak Toyib sopan.


Akhirnya semua orang pun duduk di ruang tamu sempit, dengan kursi kayu tanpa busa itu.


"Sebenarnya, ada perlu apa bapak dengan saya?"tanya Dimas nampak tenang dan berwibawa. Tak sedikit pun ada rasa takut yang terpancar di wajah pria tampan itu. Walaupun saat ini bibirnya terlihat berdarah. Pria yang hanya memakai celana pendek dan kaos oblong itu tetap terlihat berkarisma, walaupun hanya berpakaian sederhana.


"Aku ingin meminta pertanggung jawaban dari kamu karena telah menghamili putri ku,"ucap Geno membuat Dimas dan Toyib terkejut. Sedangkan Ayana nampak duduk tertunduk.


"𝘼𝙥𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖? 𝙆𝙤𝙠, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪?"gumam Toyib dalam hati menatap Dimas yang saat ini sedang duduk di sebelahnya menatap Ayana.


"𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙨𝙪𝙙𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝙆𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙙𝙪𝙧𝙞 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gumam Dimas menatap Ayana yang duduk dengan wajah tertunduk.


"Maaf! Saya tidak bisa. Karena saya merasa tidak pernah meniduri Ayana,"ujar Dimas masih terlihat tenang walaupun tadi sempat terkejut.


Dalam hati Dimas bertanya-tanya. Apa Ayana benar-benar sedang mengandung? Kalau benar, siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Ayana. Lalu kapan dan dimana Ayana melakukanya? Sedangkan selama ini Ayana hanya di rumah kontrakan mereka, di rumah Pak Parman, dan di sekolah.


Geno merasa terkejut mendengar ucapan Dimas yang tidak terlihat sedikitpun kebohongan di wajah pria tampan itu. Geno lalu menatap Ayana.


"Ayana! Siapa sebenarnya ayah dan bayi yang kamu kandung?"tanya Geno terdengar tegas. Mulai meragukan putrinya sendiri.


"Kak Dimas,"ucap Ayana tetap menundukkan wajahnya.


"Ay, jangan bicara sembarangan! Aku memang sering memeluk kamu, tapi aku tidak pernah melakukan lebih dari itu,"tampik Dimas yang merasa tidak pernah berbuat lebih pada Ayana selain memeluk Ayana saat trauma Ayana kambuh.


Ayana tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mengambil pisau di atas meja yang tadinya dipakai Toyib untuk mengupas apel.


"Jika kakak tidak mau bertanggung jawab padaku, lebih baik aku mati saja,"ucap Ayana seraya menodongkan pisau di lehernya sendiri.

__ADS_1


"Ay, apa yang kau lakukan?"pekik Dimas yang terlihat cemas.


"Ay, jangan nekad, Ay!"ucap Toyib yang juga cemas.


Dimas dan Toyib tentu saja merasa sangat cemas karena mengetahui jika selama ini Ayana memiliki trauma. Mereka juga tahu bagaimana jika trauma Ayana sedang kambuh.


"Apa kau sudah gila?"bentak Hilda.


"Turunkan pisau itu Ayana!"titah Geno. Sedangkan Nando hanya membuang napas kasar melihat tingkah adiknya yang nekad itu.


"Aku akan bunuh diri di sini jika kak Dimas tidak mau menikahi aku,"ucap Ayana dengan butiran kristal yang mulai berjatuhan dari sudut matanya.


"Ay, kita bicarakan semua secara baik-baik. Turunkan pisau itu, Ay!"pinta Dimas dengan lembut, mencoba mendekati Ayana.


"Jangan mendekat! Nikahi aku sekarang juga, maka aku akan melepaskan pisau ini,"ucap Ayana dengan wajah yang basah oleh air mata. Dimas pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Ayana. Takut jika Ayana semakin nekad.


Hanya menikah dengan Dimas lah jalan satu-satunya agar dirinya bisa terbebas dari kedua orang tuanya yang memaksa dirinya bersama Noval. Karena itulah Ayana menjadi nekad. Merasa tidak ada tempat berlindung yang paling aman selain pada Dimas.


"Dim, nikahi dia Dim! Aku tidak mau dia berbuat nekad. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Ayana,"pinta Toyib yang terlihat sangat cemas.


"Aku akan benar-benar bunuh diri di sini jika Kakak tidak mau menikahi aku,"ucap Ayana dengan suara parau, menekan pisau ke lehernya sendiri hingga lehernya berdarah. Membuat semua orang semakin panik.


"Jangan nekad, Ay!"pekik Dimas.


"Nikahi Ayana, jika tidak, aku akan membunuhmu! Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Ayana selama ini 'kan!"bentak Toyib penuh emosi mencengkram kerah baju Dimas dengan tatapan penuh amarah.


Hilda dan Nando nampak bingung harus bagaimana. Begitu pula dengan Geno yang bingung karena tidak melihat kebohongan di wajah Dimas. Tapi putrinya terlihat nekad.


"Baiklah. Aku akan menikahinya,"ucap Dimas menatap Ayana yang terlihat begitu nekad dan putus asa,"Kita menikah besok saja, ya?"bujuk Dimas.


"Jika kakak tidak mau menikahi aku sekarang, aku benar-benar akan bunuh diri,"ucap Ayana kembali menekan pisau di lehernya sendiri.


"Ay!"teriak semua orang semakin cemas, karena Ayana benar-benar terlihat nekad.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah! Aku akan menikahi kamu,"ucap Dimas terlihat sangat khawatir.


"Tenang, Ay! Tenang! Tunggu Abang! Abang akan memanggil Pak ustadz untuk menikahkan kalian,"ucap Toyib bergegas keluar dari rumah itu berlari ke rumah Pak ustadz.


Toyib mengetuk pintu rumah Pak ustadz dan mengucapkan salam berkali-kali hingga Pak ustadz membuka pintu.


"Pak ustad, tolong saya sekarang juga, Pak!"ucap Toyib langsung menarik tangan Pak ustadz.


"Eh, ada apa ini?"tanya Pak ustadz yang terkejut karena langsung digelandang Toyib ke rumah kontrakan Toyib.


"Pak ustad harus menikahkan orang. Kalau tidak, bakal ada yang bunuh diri malam ini,"ucap Toyib terus menarik tangan Pak ustadz dengan wajah yang terlihat cemas.


Melihat ekspresi Toyib, Pak ustadz pun tidak banyak tanya lagi dan mengikuti Toyib ke rumah kontrakan Toyib. Sedangkan langit malam terlihat semakin gelap.


Sampai di rumah kontrakan Toyib, Ayana masih tetap diam di tempatnya tanpa merubah posisinya. Tetap memegang pisau di depan lehernya sendiri. Pak ustadz yang sudah mendengar apa yang dikatakan Toyib di jalan tadi pun akhirnya paham dengan maksud perkataan Toyib tadi.


"Ay, buang pisaunya, dan duduklah di sini! Agar Pak ustadz menikahkan kamu dan Dimas,"bujuk Toyib.


"Tidak! Aku akan tetap di sini sampai kalian menikahkan kami,"ucap Ayana yang merasa takut jika mereka tidak jadi menikahkan dirinya dengan Dimas setelah dirinya melepaskan pisau yang dipegangnya.


Melihat Ayana yang keras kepala, akhirnya mereka yang ada di tempat itu pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apa mas kawinnya?"tanya Pak ustadz.


"Sebentar, Pak,"ucap Dimas kemudian membuka dompetnya,"Saya hanya punya uang tiga juta, Pak ustadz,"ujar Dimas meletakkan uang tiga juta rupiah di atas meja. Uang yang didapat hari ini setelah menagih cicilan kreditan pakaian yang di jualnya.


Hilda dan Geno hanya menghela napas panjang melihat uang tiga juta rupiah yang di letakkan Dimas di atas meja.


"Huff.. mimpi apa aku bisa dapet adik ipar kere seperti ini,"gumam Nando yang masih bisa di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2