SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
102. Alasan


__ADS_3

"Dim, sedang apa kamu di sini?"tanya wanita yang tidak lain adalah Bening. Tadinya Bening ragu jika pria yang berdiri di dipinggir jalan itu Dimas. Namun setelah Bening menghentikan mobilnya, ternyata pria itu benar-benar Dimas.


Dimas mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya ke arah Bening,"Mencari kendaraan umum,"sahut Dimas datar, kembali menatap layar handphonenya.


"Kamu mau pulang? Aku bawa mobil. Kalau mau, aku bisa mengantar kamu pulang,"tawar Bening dengan senyuman yang di buat semanis mungkin. Bening tidak tahu kalau malam ini Dimas dan Ayana menginap di rumah Geno.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bening, Dimas kembali menatap Bening dan mobil yang berada di depannya.


"Itu mobil kamu?"tanya Dimas menunjuk mobil di depannya yang masih menyala dengan dagunya.


"Iya,"sahut Bening masih dengan senyum manisnya.


"Baiklah. Ayo, cepat masuk! Biar aku yang mengemudi,"ujar Dimas bergegas menuju pintu mobil bagian kemudi.


Bening pun tersenyum lebar. Bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi.


"𝘼𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨. 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣. 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙟𝙚𝙣𝙜𝙜𝙤𝙩 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧,"gumam Bening merasa sangat senang.


"Pakai sabuk pengaman kamu!"pinta Dimas.


Bening pun merasa sangat senang karena Dimas begitu perhatian dan langsung memakai sabuk pengaman. Setelah Bening memakai sabuk pengaman, Dimas segera melajukan mobil Bening. Pria itu terlihat fokus pada jalan raya yang terlihat padat oleh kendaraan.


"Dim, maaf! Aku menikah dengan Nando karena terpaksa. Dia merenggut kesucian aku secara paksa, Dim,"ujar Bening dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin, mencoba mencari simpati dari Dimas.


Pertanyaannya, apa benar Nando merenggut kesucian Bening? Jawaban nya, tentu saja tidak. Bening dan Nando melakukannya atas dasar suka sama suka.


"Aku tidak ingin tahu, apa alasan mu menikah dengan Nando. Seperti aku yang tidak ingin tahu apa alasanmu meninggalkan aku beberapa tahun yang lalu,"sahut Dimas datar.


"Dim, aku benar-benar masih mencintai kamu, Dim,"ujar Bening.


"Tapi aku tidak. Hubungan kita sudah lama berakhir dan kita sudah sama-sama memiliki pasangan. Jadi, tidak perlu lagi membahas masa lalu yang tidak akan pernah menjadi masa depan,"sahut Dimas tanpa melirik apalagi menatap Bening.


"Kamu jangan membohongi diri mu sendiri, Dim! Aku tahu, kamu menikah dengan Ayana karena terpaksa. Ayana mengancam akan bunuh diri jika kamu tidak mau menikahi dia. Bahkan Ayana sempat melukai lehernya sendiri saat kamu menolak untuk menikahi dia. Iya, 'kan?"tanya Bening yang mengetahui segalanya dari Nando.


"Aku tidak merasa terpaksa menikahi Ayana,"sahut Dimas semakin merasa gusar melihat hujan yang sudah mulai turun.


"Bohong! Kamu menikahi Ayana karena terpaksa. Kamu jangan membohongi dirimu sendiri, Dim!"ujar Bening tidak percaya.

__ADS_1


"Terserah kamu, mau percaya atau tidak. Tidak ada pengaruhnya padaku,"sahut. Dimas tetap fokus pada jalan raya. Mencoba keluar dari padatnya lalu lintas. Beberapa kali pria itu menyalip beberapa kendaraan di depannya.


"Dim.."Bening menyentuh paha Dimas. Namun Dimas segera menepis tangan Bening.


"Sebaiknya kamu berpegangan dengan kuat,"ujar Dimas, lalu menginjak pedal gasnya, sehingga mobil yang dikendarainya melaju lebih cepat, menyalip beberapa kendaraan di depannya.


"Dim, pelan-pelan!"pinta Bening yang menjadi khawatir saat Dimas semakin kencang melajukan mobil miliknya. Namun Dimas hanya diam dan tetap fokus pada jalan raya.


"Dim, pelan sedikit! Aku sedang mengandung, Dim! Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayiku?"ucap Bening karena Dimas melajukan mobilnya semakin kencang. Sedangkan hujan semakin lama turun semakin deras.


"𝘼𝙮, 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙜𝙚𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜, 𝘼𝙮!"gumam Dimas dalam hati.


"Dim! Pelan sedikit, Dim! Ini berbahaya!"ucap Bening meninggikan suaranya. Wanita itu menjadi tidak tenang karena cepatnya Dimas melajukan mobilnya. Namun Dimas tidak menggubris Bening sama sekali.


"Ada apa dengan kamu, Dim? Kenapa kamu melajukan mobil dengan kencang seperti ini? Ini berbahaya, Dim!"ujar Bening melihat ekspresi wajah Dimas yang terlihat tegang, gusar, dan khawatir.


Seolah tidak perduli dengan kata-kata Bening, Dimas terus melakukan mobil dengan kencang. Bening akhirnya diam setelah berulangkali meminta Dimas untuk memelankan namun Dimas tidak menggubrisnya. Sedangkan diluar sana, kilat dan petir mulai menyambar. Dimas benar-benar merasa sangat khawatir pada Ayana.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah Geno. Dengan cepat Dimas keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Ada apa dengan Dimas? Dan kenapa dia ke sini? Kenapa dia tidak pulang ke rumahnya?"gumam Bening seraya bergegas menyusul Dimas masuk ke dalam rumah.


"Brakk"


Dimas membuka pintu kamar Ayana dengan kasar. Pria itu langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan menemukan Ayana berjongkok di pojok ruangan menutup kedua tangannya. Wajah gadis itu basah oleh air mata dan terlihat pucat pasi.


"Ay!"pekik Dimas langsung berlari ke arah Ayana dan memeluk tubuh Ayana.


"Tenang, Ay! Tenang! Ada aku!"ucap Dimas, kemudian menggendong Ayana ke arah ranjang. Hilda yang menyusul Dimas pun baru mengerti kenapa Dimas begitu buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Aku lupa jika Ayana trauma dengan hujan, kilat dan petir,"gumam Hilda menghela napas kasar, kemudian menutup pintu kamar Ayana.


"Ada apa, ma?"tanya Bening yang juga menyusul Dimas.


"Trauma Ayana kambuh. Sudah, ayo pergi! Biarkan Dimas menenangkan Ayana,"ujar Hilda menarik tangan Bening agar menjauhi kamar Ayana. Terpaksa Bening pun mengikuti Hilda.


"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙪𝙧𝙪-𝙗𝙪𝙧𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙠𝙝𝙖𝙬𝙖𝙩𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gumam Bening dalam hati merasa sangat jengkel saat mengetahui Dimas begitu mengkhawatirkan Ayana.

__ADS_1


"Ay, jangan takut, Ay! Ada aku,"ucap Dimas memeluk tubuh Ayana yang bergetar.


"Jika melakukannya bisa membuat mu mempunyai memori baru yang bisa menghilangkan trauma mu. Maka akan aku lakukan,"gumam Dimas kemudian melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Ayana.


Dengan lembut Dimas memagut bibir Ayana. Menyesap dan mengulumnya. Sedangkan tangan Dimas mulai merayap menyusuri tubuh Ayana. Tubuh Ayana yang tadinya bergetar pun, berangsur-angsur rileks.


Dimas terus mencumbui tubuh Ayana dan perlahan menanggalkan helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka. Ayana hanya bisa melenguh menikmati setiap sentuhan lembut Dimas di tubuhnya.


"Kak.. ughh.."racau Ayana seraya menjambak rambut Dimas saat pria itu bermain di dadanya.


Dimas terus membuai Ayana hingga suara hujan kilat dan petir tidak lagi mempengaruhi Ayana karena terbuai dengan setiap sentuhan Dimas. Bahkan gadis itu tidak sadar jika saat ini dirinya telah polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya.


"Ay, aku tidak bisa menahannya lagi,"ucap Dimas dengan mata yang sudah tertutup kabut hasraat. Memposisikan dirinya untuk memulai penyatuan mereka.


"Kak.."


Pekik Ayana saat Dimas mulai memasuki tabuhnya. Namun Dimas langsung menutup mulut Ayana dengan bibirnya agar Ayana melupakan rasa sakitnya.


Ayana mencengkram lengan Dimas saat merasakan bagian inti tubuhnya semakin sakit. Gadis itu berusaha menahan rasa sakit di inti tubuhnya saat Dimas terus menghentakkan pinggulnya.


"Ay, tahan, Ay!"ucap Dimas yang sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Dimas menghentakkan pinggulnya lebih kuat dari sebelumnya.


"Akkhh... Kak..."


Pekik Ayana saat Dimas berhasil menyatukan tubuh mereka sepenuhnya. Dimas berhenti sejenak seraya mencium bibir Ayana dan menyentuh bagian-bagian tubuh Ayana yang sensitif hingga Ayana kembali terbuai dan melupakan rasa sakitnya.


Perlahan Dimas kembali menggerakkan pinggulnya, menikmati penyatuan mereka. Perlahan Ayana pun tidak lagi merasakan sakit dan mulai menikmati penyatuan mereka hingga akhirnya mereka merasakan puncak kenikmatan bersama-sama.


...🌟"Jika kamu pergi tanpa memberi alasan, maka jangan pernah kembali untuk memberikan alasan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


Nb : Nggak usah terlalu 🍍🍍. Lagi puasa.😅


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2