SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
127. Siapa?


__ADS_3

Hari sudah sore, Ayana sudah selesai memasak dan membersihkan diri, tapi Dimas belum juga pulang. Ayana duduk di ruang tamu bersama Toyib yang sedang main game online.


"Abang, tadi siang Abang nggak ngambil buah jambu, ya?"tanya Ayana seraya mengambil buah jambu air di atas meja yang hanya tersisa tiga buah.


"Abang lupa, Ay. Kamu, sih, nggak ngingetin,"sahut Toyib masih fokus pada game onlinenya.


"Abang, sih! Kerjaan nya main game online terus. Abang, 'kan punya tunangan di kampung, tapi kok aku nggak pernah denger Abang menelpon atau vidio call sama dia, sih? Malah tiap di rumah cuma main game online terus,"ujar Ayana kemudian menggigit buah jambu.


"Dia kalau Abang telepon banyak diamnya, Ay. Terus jawabannya cuma singkat, kalau nggak iya, ya, tidak. Abang jadi bingung mau ngomong apa. Topik pembicaraan apapun, 'kan, nggak bakalan panjang kalau cuma di jawab ya sama tidak,"tutur Toyib menghela napas panjang. Sedangkan tangan dan matanya tetap fokus pada layar handphonenya.


"Kalau seperti itu, gimana kalau kalian menikah nanti, bang?"tanya Ayana seraya mengunyah buah jambu.


"Itu, sih, nggak usah dipikirin, Ay. Di jalani aja,"sahut Toyib santai dengan mata dan tangan yang masih fokus pada handphonenya.


"Abang terlalu santai! Kalau dis kecantol sama pria lain gimana?"tanya Ayana mengernyitkan keningnya menatap Toyib.


"Kalau dia kecantol sama pria lain, berarti dia bukan jodoh Abang. Nggak usah dipikirin! Anggap saja ini ujian, untuk menguji apakah dia benar-benar serius sama Abang atau tidak. Abang juga nggak bilang sama dia kalau sekarang Abang termasuk banyak uang. Abang ingin tahu, apa dia materialistis atau tidak,"ujar Toyib masih tetap fokus pada game online nya.


"Wajar aja, 'kan, bang, kalau cewek materialistis? Tepatnya bukan materialistis, bang! Tapi realistis. Kita bukan berada di jaman yang masih memakai sistem barter seperti jaman dulu yang belum ada uang. Kita sekarang hidup di jaman canggih, modern, yang semuanya pakai uang. Jadi wajar, 'kan, jika para wanita mencari pasangan yang bisa menjamin hidup mereka di masa depan lebih baik?"ujar Ayana.


"Iya. Abang tahu, Ay. Tapi, 'kan, materialistis dan realistis itu beda jauh, Ay. Orang yang


realistis menilai atau melihat sesuatu hal dengan cara berpikir yang nyata atau secara wajar. Mereka berbelanja sesuai kebutuhan. Sementara, orang yang materialistis itu menilai atau melihat sesuatu hal hanya dari sudut pandang materi atau yang bersifat kebendaan. Memandang bahwa harta adalah segalanya dan membeli barang-barang yang tidak penting hanya demi kepuasan belaka,"jelas Toyib.


"Anjayy.. Abang pintar juga, ya?"puji Ayana.


"Abang selalu ranking satu waktu sekolah dulu, Ay. Cuma, dulu Abang nggak punya biaya untuk kuliah,"sahut Toyib jujur adanya.


"Wahh.. aku nggak nyangka Abang pinter juga. Sekarang Abang sudah termasuk kaya, kenapa Abang nggak kuliah?"tanya Ayana.


"Malas, Ay,"sahut Toyib.


"Rugi, loh, bang!"sahut Ayana.


"Abang sudah nggak minat buat kuliah, Ay. Entar anak Abang aja yang bakal Abang sekolahin setinggi mungkin,"sahut Toyib.

__ADS_1


"Eh, kakak sudah pulang,"ujar Ayana saat melihat Dimas memasuki pekarangan rumah mereka.


"Samperin sana, gih! Kasih ciuman, biar capeknya ilang,"goda Toyib.


"Issh.. Abang!"desis Ayana dengan wajah yang memerah karena malu. Ayana beranjak bangkit dari duduknya. Sedangkan Toyib terkekeh saat melihat wajah Ayana yang memerah malu karena di godanya.


Ayana menghampiri Dimas yang baru saja memarkirkan motornya dan melepas helmnya. Dimas mengulas senyum saat Ayana menyambut dirinya dengan wajah ceria penuh senyuman.


"Capek ku hilang, kalau lihat kamu seperti ini, Ay!"ujar Dimas seraya mencubit hidung Ayana.


Ayana meraih tangan Dimas yang mencubit hidung nya, kemudian mencium punggung tangan Dimas,"Kakak, kok, pulangnya lebih lama dari biasanya?"tanya Ayana yang beralih bergelayut manja di lengan Dimas yang baru turun dari motor.


"Iya, aku menyelesaikan beberapa berkas yang harus aku tandatangani,"sahut Dimas.


Sepasang suami-isteri istri itu berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian masuk ke dalam kamar mereka. Sedangkan Toyib masih saja fokus pada game online nya.


Ayana membantu Dimas melepaskan pakaiannya sambil mengobrol dengan Dimas. Bahagia, itulah yang mereka rasakan. Ayana yang merasa di sayangi tinggal bersama suami dan kakak angkatnya. Dimas yang bahagia bisa menikah dengan Ayana. Wanita muda yang semakin lama semakin berpikir dan menyikapi semuanya dengan cara yang lebih dewasa, walaupun suka manja pada Dimas dan kadang masih kekanak-kanakan. Tapi itulah yang membuat Dimas semakin cinta pada Ayana. Tidak pernah menuntut apapun dari Dimas selain ingin mempunyai lebih banyak waktu untuk bersama.


Waktu terus berputar tiga orang yang lebih suka hidup sederhana itu sudah selesai makan malam. Toyib hampir selesai menyusun kan barang dagangan nya ke dalam tas besar yang akan di bawanya besok. Sedangkan Dimas dan Ayana masih berada di dalam kamar. Entah apa yang dilakukan sepasang suami-isteri istri itu. Sesekali terdengar tawa keduanya dari dalam kamar mereka.


"Kakak mau kemana? Tanya Ayana saat melihat Dimas berjalan menuju pintu kamar.


"Aku ikut!"ucap Ayana langsung melompat ke punggung Dimas.


"Eh, Ay!"Dimas sempat sedikit terhuyung karena tidak siap dengan apa yang dilakukan oleh Ayana.


Dimas agak terkejut saat tiba-tiba istri kecilnya itu sudah melingkarkan tangannya di lehernya dan kakinya sudah melingkar di perutnya. Bahkan dagu Ayana pun sudah berada di atas bahu Dimas.


Dimas menoleh pada istrinya,"Kamu ini! Kenapa tidak bilang jika pengen di gendong? Kamu hampir membuat kita jatuh,"ujar Dimas seraya mencubit hidung Ayana gemas. Sedangkan tangan satunya memegang bokong Ayana agar istri kecilnya itu tidak jatuh.


"Aku ingin makan anggur di bawah pohon jambu bersama kakak,"ujar Ayana.


"Baiklah. Tapi kasih ciuman dulu biar kuat gendong sampai di bawah pohon jambu,"pinta Dimas masih menoleh menatap istrinya itu.


"Cup"

__ADS_1


"Cup"


"Cup"


Ayana mencium bibir Dimas beberapa kali,"Sudah. Atau masih kurang?"tanya Ayana.


"Sekali lagi!"pinta Dimas.


Namun kali ini Dimas memegang kepala Ayana dan mereka saling memagut dan membelitkan lidah mereka. Hingga beberapa saat kemudian Dimas melepaskan pagutannya dengan perasaan tidak rela. Seolah tidak pernah puas menikmati bibir berwarna pink milik istrinya itu.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Toyib yang baru beranjak dari duduknya setelah selesai menyusun kan barang dagangan nya. Duda muda itu melangkahkan kakinya menuju pintu. Menatap seorang pria dengan tubuh proporsional dengan wajah yang lumayan tampan.


"Maaf, cari siapa?"tanya Toyib sopan.


"Saya ingin bertemu dengan Dimas,"sahut pria itu dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Oh, silahkan masuk!"ucap Toyib mengarahkan pria itu untuk duduk di sofa,"Tunggu sebentar, akan saya panggilkan,"ucap Toyib lagi.


"Terimakasih!"sahut pria itu masih dengan senyuman tipis di bibirnya.


Toyib yang hendak berjalan keluar dari ruangan tamu menuju kamar Dimas mengurungkan niatnya saat melihat Dimas sudah berada di pintu ruangan tamu sambil menggendong Ayana di punggungnya.


"Dim, ada yang nyari kamu, tuh,"ucap Toyib memberitahu.


"Siapa?"tanya Dimas menoleh ke arah sofa dengan kedua tangan yang dilipat di belakang pinggangnya untuk menopang tubuh Ayana.


"Hai, bro!"sapa pria yang tadi dipersilahkan Toyib duduk. Pria itu tersenyum lebar menatap Dimas yang sedang menggendong Ayana di punggungnya.


...🌟"Jodoh sudah di atur, jadi tidak perlu merisaukannya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"itu...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2