
Sudah beberapa kali Dimas membawa Ayana ke psikolog, tapi tidak ada perubahan. Psikolog menyarankan agar Ayana bisa memiliki kenangan yang indah saat turun hujan. Agar Ayana bisa melupakan traumanya. Dimas sudah mencoba banyak hal saat akan turun hujan, agar trauma Ayana sembuh. Dengan mengajak Ayana bermain bersama dirinya dan Toyib. Mengajak belajar agar fokus pada pelajaran dari pada pada hujan. Mengajaknya memasak bersama.Dan masih banyak hal yang dicoba Dimas agar trauma Ayana bisa hilang, tapi tetap saja tidak berhasil.
Ayana melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolahnya. Di depan gerbang kampus itu sudah ada Bu Nur yang menunggu Ayana. Namun saat sudah dekat dengan Bu Nur, tiba-tiba dua orang pria mengadang Ayana.
"Nona! Tuan dan nyonya meminta nona untuk pulang,"ucap salah satu dari kedua orang pria itu.
"Tidak! Tidak! Pergi kalian! Pergi!"pekik Ayana histeris berlari menghindari dua orang pria itu. Menarik perhatian semua orang yang ada di sekitar tempat itu. Dihadang dua orang pria yang tidak dikenal nya, mengingatkan Ayana pada traumanya.
Namun dengan cepat dua orang itu mengejar Ayana dan langsung memukul tengkuk Ayana hingga Ayana pingsan.
"Apa yang kalian lakukan?"tanya Bu Nur yang ikut mengejar Ayana.
"Jangan ikut campur! Ini bukan urusan kamu!"hardik salah seorang pria itu.
"Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan pada siswi kami?"tanya seorang guru pria yang tidak lain adalah Pak Sugeng.
"Maaf, Pak! Kami hanya ingin membawa nona pulang,"sahut salah seorang dari dua orang pria itu.
"Kalian siapa? Saya tidak akan membiarkan kalian membawa Ayana, jika kalian bukan keluarganya. Jika kalian tidak bisa menunjukkan bukti bahwa kalian adalah keluarga Ayana dan bersikeras membawa Ayana, saya akan meneriaki kalian penculik. Biar kalian dihajar semua orang yang ada di sini!"ancam Pak Sugeng.
"Telepon, bos!"titah salah seorang pria yang memapah Ayana yang sudah pingsan.
Pria satunya, pun segera mengeluarkan handphonenya dan menelpon Hilda dan mengaktifkan mode loud speaker.
"Halo! Ada apa? Apa kalian sudah menemukan putri saya? Jika belum, Jagan hubungi saya dan jangan harap kalian akan mendapatkan gaji!"cerocos Hilda dari sambungan telepon.
"Sudah nyonya. Tapi Pak guru tidak mengizinkan kami membawa nona pulang. Pak guru curiga jika kami adalah penculik,"sahut salah seorang pria suruhan Hilda.
Hilda terdengar membuang napas kasar, kemudian berkata,"Berikan handphone kamu pada guru itu!"titah Hilda.
Pria itu pun akhirnya menyerahkan handphone nya pada Pak Sugeng. Dan Pak Sugeng pun nampak bicara serius dengan Hilda. Setelah bicara beberapa menit, akhirnya Pak Sugeng mengijinkan dua orang pria itu membawa Ayana pergi.
__ADS_1
Bu Nur yang dari tadi mendengarkan pun akhirnya pulang tanpa Ayana. Janda beranak dua itu pun langsung menuju rumah kontrakan Dimas dan Toyib untuk melapor.
"Assalamu'alaikum!"ucap Bu Nur seraya mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, Toyib yang baru saja pulang pun membuka pintu.
"Loh, mana adik saya, Bu?"tanya Toyib yang tidak melihat Ayana bersama Bu Nur.
"Begini, nak Toyib. Tadi ada dua orang pria yang mengaku suruhan orang tua Ayana. Dan mereka membawa Ayana bersama mereka,"ujar Bu Nur.
"Ada apa?"tanya Dimas yang tiba-tiba sudah berada di belakang Bu Nur.
"Dim, kata Bu Nur, Ayana di bawa pergi dua orang pria yang mengaku sebagai orang suruhan orang tua Ayana,"ujar Toyib nampak khawatir.
"Tolong ibu ceritakan dari awal kejadian secara detail!"pinta Dimas yang juga terlihat khawatir.
Akhirnya Bu Nur pun menceritakan semua dari awal kejadian secara detail. Dimas dan Toyib pun hanya bisa menghela napas berat mendengar cerita Bu Nur.
"Ini gaji ibu Minggu ini,"ujar Dimas menyodorkan uang yang diambilnya dari dalam dompetnya tadi pada Bu Nur.
"Tapi itu terlalu banyak, Nak Dimas,"ujar Bu Nur yang nampak enggan menerima uang dari Dimas.
"Terima saja, Bu!"ujar Toyib.
"Tidak apa-apa, Bu. Anggap saja ini rejeki untuk anak-anak ibu,"ujar Dimas meraih tangan Bu Nur, kemudian meletakkan uang di telapak tangan Bu Nur.
"Terimakasih, Nak Dimas, Nak Toyib! Kalau begitu, ibu pamit pulang!"pamit Bu Nur dengan perasaan campur aduk.
"Sama-sama, Bu!"sahut Dimas.
Dengan langkah berat, Bu Nur berjalan menuju motornya yang di parkir di depan rumah kontrakan Dimas dan Toyib. Bu Nur tidak terlalu merasa senang walaupun mendapatkan uang lebih banyak dari Dimas. Bu Nur merasa sedih karena harus berhenti mengojek, mengantar jemput Ayana. Jujur, semenjak menjadi tukang ojek Ayana, pendapatan Bu Nur sudah pasti per Minggu nya. Ditambah kalau ada orang lain yang memakai jasa ojeknya. Tapi jika Ayana berhenti memakai jasa ojeknya, Bu Nur jadi takut jika pendapatannya kembali tidak menentu seperti sebelum menjadi tukang ojek Ayana. Sebelum menjadi tukang ojek Ayana, terkadang dalam sehari Bu Nur tidak mendapatkan penumpang sama sekali.
__ADS_1
"Dim, apa kamu yakin Ayana benar-benar dibawa oleh orang-orang suruhan orang tuanya?"tanya Toyib saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Dari cerita Bu Nur, aku yakin jika mereka adalah orang suruhan orang tua Ayana,"sahut Dimas menghempaskan bobot tubuhnya di kursi ruang tamu, membuang napas kasar.
"Aku merasa tidak rela, Ayana dibawa pulang oleh orang tuanya. Aku berharap Ayana segera pulang ke sini."ujar Toyib yang ikut duduk di samping Dimas.
"Aku juga berharap Ayana akan segera kembali,"sahut Dimas terlihat lesu.
"Aku sudah terbiasa dengan kehadiran Ayana di rumah ini. Aku akan menjadi kurus jika Ayana tidak pulang-pulang. Aku akan merindukan masakannya dan suara cemprengnya,"gumam Toyib merasa sedih.
"Aku khawatir traumanya kambuh,"ujar Dimas.
"Aku juga,"sahut Toyib.
***
Dimas memasuki kamarnya yang sudah beberapa bulan ini ditempat oleh Ayana. Kamar itu terlihat bersih dan rapi. Bahkan masih tercium aroma parfum yang selalu digunakan Ayana. Parfum yang di belikan Dimas untuk Ayana.
Dimas membuka lemari pakaian, dalam lemari itu nampak baju Ayana tersusun rapi. Baju yang diberikan Dimas dan Toyib selama Ayana tinggal bersama mereka. Buku-buku Ayana bahkan tersusun rapi di atas meja belajar yang khusus Dimas belikan untuk Ayana.
Dimas merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang beberapa bulan ini di tiduri Ayana. Masih tercium aroma tubuh Ayana yang tertinggal di sprei dan bantal itu.
"Aku harap, trauma kamu tidak kambuh, Ay,"gumam Dimas menatap langit-langit kamar itu. Namun Dimas sendiri tidak merasa yakin jika trauma Ayana tidak akan kambuh selama tinggal di rumah orang tuanya.
"Ay, bikinin Abang kopi sus..."Toyib yang baru saja keluar dari kamarnya tidak melanjutkan kata-katanya saat menyadari jika tidak ada Ayana lagi di rumah itu,"Huff.! Aku sudah terlanjur terbiasa dengan kehadiran mu,"gumam Toyib kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur, membuat kopi susu untuk dirinya sendiri.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued