SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
185. Menawarkan Tempat Tinggal


__ADS_3

Ibu Bening meringkuk di pos ronda. Menutup tubuhnya dengan selimut karena hujan yang tadinya tidak begitu deras, sekarang bertambah semakin deras. Hingga ibu Bening merasa kedinginan karena dinding pos ronda yang tingginya hanya satu meter itu.


Seorang gadis yang memakai payung menghampiri pos ronda itu, dan terkejut saat melihat ada orang di pos ronda itu. Gadis itu tidak tahu jika ada orang di pos ronda itu. Posisi ibu Bening yang tidur meringkuk tidak terlihat karena terhalang oleh dinding.


"Apa dia orang gila baru?"gumam gadis itu nampak ragu untuk berteduh dan duduk di pos ronda itu.


"Eh, Nak. Mau berteduh? Kemari lah!"ucap Ibu Bening ramah.


"I..iya,"sahut gadis itu melangkah lebih dekat ke pos ronda. Gadis itu terlihat agak takut.


"Jangan takut! Ibu bukan orang gila, kok!"ucap ibu Bening dengan seulas senyum. Wanita paruh baya itu beranjak duduk sambil membenahinya selimutnya.


Ibu Bening tahu, jika di daerah pedesaan sering kali menemukan orang gila yang berteduh bahkan bermalam di pos ronda. Karena itu, ibu Bening tahu kenapa gadis itu nampak ragu dan takut dekat dengan dirinya.


Sedangkan gadis itu memilih berteduh di pos ronda karena jika nekat melanjutkan perjalanan di tengah hujan deras ini, tubuhnya pasti akan basah kuyup, mengingat dirinya hanya memakai payung kecil.


"Ibu dulu lahir dan dibesarkan di desa ini. Tapi ibu meninggalkan desa ini setelah ibu menikah,"ujar ibu Bening agar gadis itu tidak takut padanya. Dan dugaan ibu Bening benar, setelah ibu Bening berkata seperti itu, gadis itu nampak tidak takut lagi pada ibu Bening.


"Kenapa ibu tidur di pos ronda?"tanya gadis itu memberanikan diri.


"Ibu tinggal di kota, tapi suami dan putri ibu lebih dulu di panggil-Nya. Jadi ibu memutuskan pulang ke desa ini untuk tinggal bersama adik dan keponakan ibu di rumah peninggalan orang tua kami. Tapi nyatanya, adik dan adik ipar ibu tidak mengizinkan ibu tinggal bersama mereka. Dari tadi siang, ibu mencari rumah yang bisa ibu kontrak, agar ibu punya tempat tinggal. Tapi sampai hari sudah gelap, ibu belum menemukannya. Akhirnya ibu terpaksa tidur di pos ronda ini,"ujar ibu Bening terlihat sedih.


"Bagaimana kalau ibu tinggal saja di rumah ku?"tanya gadis itu tiba-tiba.


"Eh, tidak usah! Terimakasih atas niat baik kamu, Nak.Ibu tidak ingin menganggu keluarga kamu. Ibu menginap di sini saja. Besok ibu akan mencari tempat tinggal,"ucap Ibu Bening tidak ingin diusir untuk yang ke tiga kalinya. Adik kandungnya sendiri saja tidak mengijinkan dirinya tinggal bersama di rumah peninggalan orang tua mereka, apalagi orang lain. Itulah yang ada di dalam hati ibu Bening.


"Ibu tidak perlu takut keluarga ku terganggu. Karena keluarga ku sudah tidak ada. Aku tinggal sendirian di rumah,"sahut gadis itu memasang senyum yang dipaksakan karena mengingat dirinya yang sebatang kara. .


"Eh, kamu tinggal sendirian?"tanya ibu Bening memastikan.

__ADS_1


"Iya, Bu. Jika ibu mau, ibu bisa tinggal dengan aku. Aku akan merasa senang jika aku tidak tinggal sendirian lagi di rumah. Tapi... kalau ibu tidak mau, aku juga tidak memaksa. Karena rumah ku hanyalah sebuah gubuk. Namun, aku sarankan, malam ini ibu menginap saja di rumah ku, dari pada menginap di pos ronda ini. Kalau ibu tidak betah tinggal di rumah ku, besok ibu bisa mencari rumah untuk ibu tinggali,"tawar gadis itu yang merasa kasihan melihat wanita paruh baya seperti ibu Bening harus menginap di pos ronda.


"Baiklah, terimakasih, nak. Ibu akan menginap di rumah kamu malam ini,"ucap Ibu Bening dengan seulas senyum.


"Terimakasih, Bu. Kalau begitu, aku akan ke warung dulu sebentar, ya, Bu! Ibu tunggu dulu di sini! Setelah membeli makanan, aku akan kembali lagi ke sini,"ucap gadis itu saat melihat hujan sudah mulai reda.


"Baiklah,"ucap ibu Bening tersenyum tipis.


Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ibu Bening di pos ronda itu sendirian.


"Apa dia benar-benar akan kembali lagi ke sini dan mengajak aku menginap di rumahnya?"gumam ibu Bening yang tidak merasa yakin gadis itu akan kembali lagi untuk menghampiri dirinya.


Ibu Bening menghela napas panjang menatap gadis itu yang berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya. Mengingat dirinya yang hari ini diusir oleh adik dan adik iparnya. Padahal dirinya juga punya hak untuk tinggal di rumah itu, karena rumah itu adalah rumah warisan kedua orang tua mereka.


Ibu Bening kembali membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Memejamkan matanya di balik selimut. Selimut itu sangat berguna karena bisa menghalau rasa dingin karena efek hujan yang sampai saat ini belum berhenti. Walaupun hujan saat ini sudah tidak sederas tadi.


Beberapa menit kemudian.


"Kamu benar-benar kembali?"tanya Ibu Bening tersenyum haru saat melihat gadis itu kembali.


"Iya. Ayo, kita ke rumahku! Kebetulan hujan juga sudah reda. Aku saja yang membawa koper ibu. Ibu bawa kantong ini saja!"ucap gadis itu dengan seulas senyum menghias bibirnya.


"Tidak usah! Biar ibu saja yang bawa,"ucap Ibu Bening tidak enak hati.


Karena ibu Bening tidak mau kopernya di bawakan, gadis itu pun tidak mau memaksa. Mengingat mereka baru saja bertemu, mungkin saja wanita paruh baya itu belum percaya pada dirinya. Itulah yang ada di pikiran gadis itu.


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah yang tidak terlalu besar. Dengan lampu penerangan yang tidak terlalu terang.


"Mari, masuk, Bu! Maaf, rumah ku jelek. Jika ibu mau tinggal bersama aku di sini, aku akan merasa senang. Tapi jika ibu tidak mau, aku juga tidak akan memaksa,"ucap gadis itu seraya membimbing ibu Bening masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Terimakasih, Nak!"ucap ibu Bening mengikuti gadis itu.


Di dalam rumah itu hanya ada ruang tamu dengan kursi bambu. Dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi yang ada di dekat dapur. Gadis itu menunjukkan kamar untuk ibu Bening. Kamar yang di dalamnya hanya ada lemari satu pintu yang terlihat sudah lama, dan dipan kecil yang terbuat dari bambu.


Setelah menunjukkan kamar ibu Bening, gadis itu mengajak ibu Bening kembali ke ruangan tamu.


"Ibu tinggu di sini dulu sebentar!"ucap gadis itu bergegas menuju dapur.


Ibu Bening mengernyitkan keningnya melihat kantong kresek di atas meja. Kantong yang di bawa gadis itu setelah kembali menghampirinya di pos ronda tadi.


Tak lama kemudian gadis itu kembali,.lalu duduk di salah satu kursi di ruangan tamu itu.


"Aku tadi membeli nasi dua bungkus. Ayo, makan dulu, Bu! Maaf, makannya di ruangan tamu. Karena aku nggak punya ruangan makan, apalagi meja makan,"ucap gadis itu terkekeh kecil. Membawa piring plastik dan sendok stainless tipis. Sendok yang satu lusinnya mungkin hanya seharga tujuh ribu rupiah.


Ibu Bening semakin terharu mendapatkan perhatian dari gadis itu. Bahkan putrinya Bening tidak pernah memperhatikan dirinya seperti gadis ini.


"Oh iya, namaku Rengganis. Panggil saja Anis Nama ibu siapa?"ujar gadis itu memperkenalkan diri sekaligus menanyakan nama ibu Bening.


"Nama ibu Ningsih,"sahut ibu Bening tersenyum tipis.


Setelah sedikit mengobrol, akhirnya mereka masuk ke kamar masing-masing. Ibu Bening atau kita sebut namanya saja, ibu Ningsih menatap kotak yang dititipkan Nando pada supir tadi untuk dirinya.


"Apa isi kotak yang diberikan nak Nando padaku ini?"gumam ibu Bening kemudian mengambil kotak itu dan perlahan membuka kotak itu. Wanita paruh baya itu melihat beberapa kotak yang tersusun di dalam kotak itu dan juga sebuah amplop berwarna coklat.


"Astagaa!"ucap Ibu Bening saat melihat isi amplop itu.


...🌸❤️🌸...


,

__ADS_1


To be continued


__ADS_2