
"Sebenarnya, berapa penghasilan kamu sebagai pedagang pakaian keliling?"tanya Geno terlihat serius.
"Kenapa tiba-tiba papa bertanya tentang hal itu?"tanya Dimas.
Geno menghela napas panjang menatap menantunya itu,"Mamamu bilang, baju yang kalian pakai kemarin malam itu tidak murah. Belum lagi sepatu dan cincin berlian yang dipakai Ayana. Itu semua kamu, 'kan, yang membelinya?"tanya Geno.
"Iya. Aku yang membelinya, pa,"sahut Dimas.
"Maaf! Bukannya papa memandang pekerjaan kamu sebelah mata. Tapi, rasanya tidak mungkin dengan pekerjaan kamu saat ini bisa membelikan Ayana barang-barang semewah itu. Kamu jangan sampai gelap mata melakukan sesuatu yang melanggar hukum hanya karena merasa direndahkan oleh mama dan kakak kamu. Papa tidak perduli apa profesi kamu, yang penting halal. Papa sudah cukup merasa bahagia melihat kamu bisa membuat Ayana tersenyum dan tertawa. Melihat Ayana menjadi penurut dan tidak badung lagi seperti dulu,"ujar Geno panjang lebar.
"Papa tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Aku dan Toyib punya tabungan yang kami pakai untuk mencari keuntungan melalui jual beli saham. Dan dari sana, kami mendapatkan keuntungan yang lumayan besar. Saat ini, profesi sebagai sales pakaian keliling hanyalah hobi kami saja,"jelas Dimas.
"Jika penghasilan kalian lumayan, kenapa kalian tidak tinggal di rumah yang lebih bagus dari pada yang kalian tempati saat ini?"tanya Geno.
"Aku pernah punya pengalaman buruk di masa lalu, pa. Ada orang yang iri dengan apa yang aku miliki, hingga melakukan berbagai macam cara untuk menghancurkan aku. Aku tidak ingin apa yang aku miliki saat ini membahayakan Ayana. Asal Ayana bahagia, itu sudah cukup buat aku,"sahut Dimas.
"Baiklah. Terserah kalian saja. Asal kalian bahagia papa juga ikut bahagia,"sahut Geno.
"Jika papa membutuhkan dana untuk memperbesar perusahaan papa, katakan saja! Aku akan membantu sebisa aku. Walaupun nominalnya tidak terlalu besar, tapi mungkin bisa membantu perusahaan papa,"ucap Dimas serius.
"Sebenarnya papa memang membutuhkan dana. Karena bulan depan papa akan meluncurkan produk baru. Pembangunan hotel kemarin juga masih berjalan. Sedangkan sebagian dana papa pakai untuk acara pernikahan kakak kamu kemarin. Karena sebenarnya, pernikahan kakak kamu akan diadakan lima bulan lagi. Tapi karena Bening sedang mengandung, jadi papa mempercepat pernikahan kakak kamu di luar rencana. Papa senang jika kamu bisa membantu. Tapi jika kamu lebih nyaman berinvestasi di pasar saham, kamu tidak perlu menjual saham kamu untuk berinvestasi di perusahaan papa. Papa masih bisa mencari dana tambahan dari kenalan papa,"ujar Geno panjang lebar.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika papa butuh, bilang saja. Jangan sungkan! Walaupun tidak terlalu besar, mungkin bisa buat nambah,"ucap Dimas.
__ADS_1
"Iya, terimakasih,"ucap Geno.
"Oh iya, produk apa yang akan papa luncurkan? Boleh aku tahu?"tanya Dimas.
Geno mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Pria paruh baya itu akhirnya mengatakan produk apa yang akan diluncurkan perusahaannya secara singkat. Karena berpikir Dimas juga tidak akan mengerti dengan apa yang dijelaskannya. Namun diluar dugaan, Dimas mengerti dengan apa yang dijelaskanya secara singkat itu. Akhirnya Geno menjelaskan secara detail produk yang akan diluncurkan perusahaannya. Geno menjadi kagum, ternyata Dimas malah bisa menilai kekurangan produk yang akan diluncurkan perusahaannya. Bahkan Dimas memberikan saran dan masukan yang menurut Geno sangat bermanfaat untuk peluncuran produknya nanti.
"Kamu sepertinya tahu benar tentang bisnis. Papa akan sangat senang jika kamu bekerja di perusahaan kita, Dim,"tawar Geno.
"Terimakasih, pa. Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang. Aku bisa memiliki banyak waktu untuk Ayana. Jika aku bekerja di perusahaan papa, aku tidak akan punya banyak waktu untuk Ayana,"sahut Dimas.
"Baiklah. Papa tidak akan memaksamu. Tapi jika kamu berubah pikiran, katakan saja pada papa,"ucap Geno.
"Terimakasih, pa,"sahut Dimas yang memang tidak berminat untuk bekerja lagi di perusahaan manapun. Dimas sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya saat ini.
"Iya, pa. Aku ke kamar dulu. Selamat malam, pa!"ucap Dimas, kemudian meninggalkan ruangan kerja Geno.
"Aku tidak menyangka jika anak itu ternyata sangat cerdas. Aku rasa, Nando tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Dimas. Sayang sekali Dimas tidak mau bergabung di perusahaan ku,"gumam Geno setelah Dimas keluar dari ruangan kerjanya.
Dimas kembali ke kamar Ayana dan menemukan gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dimas bergegas pergi ke kamar mandi dan tidak lama kemudian sudah keluar dari kamar mandi. Dimas melihat Ayana sudah berbaring miring di tepi ranjang. Membelakangi tempat Dimas berbaring. Pria tampan itu perlahan naik ke atas ranjang dan memeluk Ayana dari belakang.
"Ay, apa aku ada salah sama kamu? Jika ada, tolong katakan, Ay! Jangan diam seperti ini! Aku tidak suka suasana seperti ini, Ay. Katakan apa salah aku, agar aku bisa memperbaikinya. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu jika kamu tidak mengatakannya, Ay. Jangan menyiksa aku seperti ini, Ay!"ujar Dimas masih memeluk Ayana dari belakang.
"Aku tahu perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Aku telah berharap terlalu banyak. Aku sudah berjuang agar kakak bisa mencintai aku. Namun, nyatanya aku tidak mampu. Bahagia kakak bukan bersama aku. Hati kakak bukan untuk ku. Maaf, aku memaksakan diri untuk hadir di dalam hidup kakak. Maaf, karena aku memaksa kakak untuk menerim aku! Aku akan belajar ikhlas untuk melepas kakak,"ucap Ayana masih dengan posisi seperti tadi.
__ADS_1
"Kamu bicara apa, sih, Ay? Jangan melantur lagi!"ucap Dimas kemudian beranjak duduk,"Katakan padaku, apa yang membuat kamu marah seperti ini, jangan bicara yang tidak jelas seperti itu, Ay!"lanjut Dimas.
"Besok, aku akan mengajukan gugatan cerai,"ucap Ayana masih pada posisinya semula.
Dimas membuang napas kasar mendengar kata-kata Ayana,"Kenapa? Katakan padaku? Apa karena aku tidak kaya seperti harapan mamamu? Apa karena kamu malu mempunyai suami seperti aku?"tanya Dimas menatap Ayana yang masih berbaring.
"Karena kakak tidak mencintai aku. Karena.. kakak mencintai wanita lain,"ucap Ayana tanpa mau menoleh pada Dimas.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"tanya Dimas,"Jangan bicara sembarangan lagi, Ay! Sudah aku bilang, pernikahan itu bukan permainan, Ay,"ujar Dimas, menghela napas berkali-kali.
Ayana bangkit dari tempatnya berbaring, kemudian duduk menghadap Dimas.
"Jika kakak tahu, pernikahan itu bukan permainan, kenapa kakak mempermainkan hatiku? Apa karena aku sangat mencintai kakak, lalu kakak bisa mempermainkan hatiku sesuka hati kakak?"tanya Ayana agak meninggikan suaranya.
"Apa maksud kamu, Ay? Aku tidak pernah mempermainkan kamu, Ay,"kilah Dimas.
"Kakak tidak mempermainkan aku? Lalu untuk apa kakak bertahan dengan aku, jika kakak tidak mencintai aku, tapi mencintai orang lain? Berulangkali aku bertanya, apakah kakak mencintai aku. Tapi kakak tidak pernah menjawabnya dan selalu menghindar jika aku menanyakan tentang hal itu. Tapi dengan mudah kakak mengatakan cinta pada wanita lain. Apa namanya jika kakak tidak mempermainkan aku? Lalu untuk apa lagi aku bertahan di sisi kakak yang tidak mencintai aku?"tanya Ayana dengan airmata yang sudah mulai menetes.
"Deg"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued