SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
46. Gusar


__ADS_3

"Kamu tidak bergaul dengan sembarang pria, 'kan, diluar sana? Tidak tertipu bujuk rayu buaya, 'kan?"tanya Hilda menatap Ayana intens,"Mama harap selama kamu berada di luar sana, kamu. bisa menjaga diri dengan baik. Dan mama harap, kata-kata kamu kemarin itu benar. Kamu tidak menjual diri agar bisa bertahan hidup di luar sana,"ujar Hilda nampak gusar.


Geno mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata istrinya itu. Mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh istrinya. Begitu pula dengan Ayana yang baru memakan setengah dari roti di tangan nya. Ayana juga mencoba mencerna apa maksud dari setiap kata yang diucapkan oleh mamanya.


"𝘼π™₯𝙖 𝙒𝙖𝙒𝙖 π™’π™šπ™£π™œπ™žπ™§π™– 𝙖𝙠π™ͺ π™¨π™šπ™™π™–π™£π™œ π™π™–π™’π™žπ™‘, π™ π™–π™§π™šπ™£π™– 𝙖𝙠π™ͺ 𝙒π™ͺ𝙣𝙩𝙖𝙝-𝙒π™ͺ𝙣𝙩𝙖𝙝 π™©π™–π™™π™ž 𝙙𝙖𝙣 π™¨π™šπ™ π™–π™§π™–π™£π™œ π™’π™šπ™‘π™žπ™π™–π™© π™¬π™–π™Ÿπ™–π™π™ π™ͺ π™₯π™ͺπ™˜π™–π™©?"menyadari hal itu, tiba-tiba ada ide yang muncul di otak Ayana .


"Ting"


Sepertinya ada lampu yang menyala di atas kepala Ayana.


Baru saja mendapatkan ide dan bahkan belum sempat menjawab pertanyaan mamanya, tapi perut Ayana sudah terasa sangat mual. Dengan cepat Ayana berlari ke arah wastafel.


"Huek! Huek! Huek!"


Ayana memuntahkan semua makanan yang baru saja di telan nya. Hilda mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi wajah yang benar-benar tidak bisa di jelaskan.


"Kamu urus anakmu itu! Aku harus pergi sekarang. Ada meeting penting pagi ini,"ujar Geno beranjak dari tempat duduknya dan segera berangkat ke kantor dengan wajah yang terlihat suram.


Namun tak lama kemudian, handphone Hilda pun berdering.


"Halo!"sahut Hilda.


"Halo, Nyonya, Maaf menganggu. Saya baru saja mengecek barang. Barang di butik ada yang hilang nyonya. Padahal semalam masih ada,"ujar karyawan Hilda dari sambungan telepon terdengar panik.


"Apa? Barang yang mana?"tanya Hilda nampak terkejut.


"Pesanan yang hampir selesai kemarin, nyonya,"sahut karyawan Hilda.


"Tunggu aku! Aku akan segera ke sana,"ujar Hilda kemudian melirik Ayana sebentar,"Kalian semua! Jika putriku sampai kabur, maka aku akan memecat kalian semua!"ujar Hilda kepada seluruh ART di rumah nya,"Mengerti tidak?"tanya Hilda dengan suara tinggi.


"Mengerti, nyonya,"sahut para ART yang ada di dekat Hilda serempak.

__ADS_1


Hilda meninggalkan kediamannya dengan perasaan gusar. Hatinya menjadi tidak tenang karena keadaan Ayana. Namun dirinya harus menyelesaikan masalah di butiknya dengan cepat.


Di sisi lain, di sebuah rumah kontrakan dua orang pria beda status, yaitu status duda muda beranak satu yang sudah bertunangan dan status perjaka jomblo. Dimas nampak terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling.


"Aku berharap apa yang terjadi kemarin hanya mimpi dan saat aku terbangun aku dapat melihatmu lagi. Tapi nyatanya aku kecewa. Karena semua ini adalah nyata. Kenyataannya bahwa dirimu sudah tidak ada lagi di sini. Di sisi kami,"gumam Dimas seraya menghela napas berat memperhatikan seisi ruangan itu.


Sedangkan bang Toyib nampak menguap berkali-kali sambil berjalan menuju dapur.


"Ay, buatkan Abang sute... ja,"ucap Toyib yang suaranya menjadi pelan saat di ujung kalimat,"Aku lupa kalau kamu sudah tidak ada di rumah ini lagi,"gumam Toyib membuang napas kasar, kemudian duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan, melipat kedua tangannya di di atas meja, lalu merebahkan kepalanya di atas lengannya.


"Kamu kenapa tidur di sini?"tanya Dimas yang melihat Toyib tertidur di atas meja.


"Aku rindu dengan si tengil itu. Tidak ada yang membuatkan aku teh dan kopi lagi,"ujar Toyib kemudian menguap, sedangkan matanya masih terpejam.


Dimas menghela napas mendengar jawaban Toyib. Pria itu memilih mencuci muka lalu membuat sarapan untuk mereka berdua. Memasak nasi di magic com menggunakan air panas agar cepat matang. Karena jika menggunakan air panas hanya akan memerlukan waktu sekitar seperempat jam, nasi pasti sudah matang. Dimas memasak mie instan goreng yang diberi sawi putih, kemudian membuat telur ceplok. Setelah selesai, Dimas membawa dua porsi mie goreng instan itu ke meja makan. Kemudian mengambil nasi yang sudah matang.


"Yip, bangun! Sarapan dulu!"ujar Dimas seraya menepuk-nepuk lengan Toyib pelan.


"Kenapa?"tanya Dimas yang melihat Toyib tidak jadi menyendok nasi.


Toyib membuang napas kasar,"Aku akan cuci muka dan cuci tangan dulu,"sahut Toyib kemudian beranjak dari duduknya berjalan menuju ke kamar mandi..


Dimas hanya bisa menghela napas mendengar jawaban Toyib. Biasanya Ayana akan memukul tangan Toyib jika pria itu menyentuh makanan sebelum mencuci muka dan tangannya.


"Gadis itu, apa dia baik-baik saja?"gumam Dimas menghela napas panjang.


Seperti biasanya Dimas dan Toyib berangkat bekerja. Terkadang mereka masuk di kampung yang sama, namun terkadang juga masuk ke kampung yang berbeda.


Toyib mengetuk salah satu pintu rumah konsumennya. Dan tidak lama seorang ibu-ibu dengan ukuran baju XXL muncul dari balik pintu.


"Ada apa?"tanya ibu-ibu itu terdengar ketus.

__ADS_1


"Hari ini tanggal penagihan yang ibu janjikan,"ucap Toyib sopan.


"Oh, itu. Satu minggu lagi aja datang ke sini. Saya belum dapat uang,"sahut ibu-ibu itu enteng.


"Jangan begitu dong, Bu! Ibu sudah mundur tiga kali, loh! Aturan cicilan ibu ini dibayar tanggal tiga kemarin. Tapi ini sudah tanggal dua puluh tiga, ibu belum bayar juga,"keluh Toyib.


"Kalau saya belum punya uang, situ mau apa?"ketus ibu-ibu itu dengan suara yang meninggi dan mata yang melotot menatap Toyib.


"Ya di usahakan, lah, Bu. Sebelum ibu ngambil kreditan kemarin, seharusnya ibu juga memikirkan cicilannya. Jangan cuma seneng ngambil barangnya, tapi nggak mau bayarnya,"ujar Toyib yang merasa kesal dengan sikap konsumen nya ini.


"Berisik! Saya belum punya uang untuk bayar. Pergi sana!"


"Brak"


Ibu-ibu itu menutup pintu dengan kencang hingga membuat kedua pundak Toyib terangkat ke atas.


"Buset, dah! Galakan yang di tagih dari pada yang nagih,"gerutu Toyib yang hanya bisa menghela napas panjang menghadapi konsumennya.


Duda beranak satu itu akhirnya melanjutkan langkahnya untuk mencari rezeki. Hingga melewati sebuah warung.


"Bang Toyib! Lihat baju barunya, dong!"panggil seorang ibu-ibu yang berdiri di depan warung, hingga membuat Toyib berhenti di depan warung itu,"Ada gamis yang baru, nggak?"tanya ibu-ibu itu lagi.


"Ada, Bu. Ada macam-macam gamis, ada yang biasa, ada pula yang syar'i, Tunik, dan juga jilbab. Dari jilbab instan, pashmina, serut, sampai yang segi empat juga ada. Baju anak-anak juga ada,"ujar Toyib mulai membuka dagangan nya di teras warung itu.


"Eh, Nak Dimas! Sini, dong! Lihat daster dan pakaian dalamnya,"panggil ibu-ibu yang melihat Dimas melintas.


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2