SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
65. Tidak Menyesal


__ADS_3

"Kak, kok badan aku merah-merah semua, ya? Lihat, nih leher aku...."


"Uhuk..uhuk..uhuk.."


"Minum dulu, kak!"ucap Ayana yang tidak melanjutkan kata-katanya tadi karena melihat Dimas yang tersedak.


Dimas tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana. Bahkan tanpa malu, gadis itu menunjukkan kiss mark di lehernya yang di buat Dimas semalam. Sedangkan Toyib mati-matian menahan tawa nya melihat sepasang suami-isteri itu..


"Kenapa bisa merah-merah gini, ya, kak? Padahal aku nggak punya alergi. Kemarin juga nggak makan yang macam-macam. Ini juga nggak kerasa gatal seperti ciri-ciri orang yang terkena alergi. Kenapa bisa merah-merah gini, ya, kak? Bahkan banyak yang berwarna keunguan di badan aku,"ujar Ayana dengan polosnya.


"Puff.. ha..ha..ha.ha.."Toyib yang dari tadi mati-matian menahan tawa pun akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya. Ayana yang sangat polos itu benar-benar membuat Toyib sakit perut.


Dimas memijit pelipisnya sendiri dengan wajah yang memerah menahan malu. Alhasil, Dimas dibuat speechless karena istrinya yang kelewat polos.


"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖... 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞 𝙟𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙟𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙥𝙤𝙡𝙤𝙨 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞?"gumam Dimas dalam hati. Benar-benar gemas dengan istri kecil nya itu.


"Kakak dan Abang kenapa, sih? Memang ada yang salah dengan pertanyaan aku?"tanya Ayana semakin bingung.


Melihat reaksi dua orang pria di depannya yang berbeda setelah mendengar pertanyaan nya, Ayana bertambah bingung. Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi bodohnya. Toyib pun semakin geli melihat ekspresi Ayana itu, hingga memegangi perutnya karena tidak bisa berhenti tertawa.


"Makanlah, Ay! Jangan menanyakan hal itu lagi!"ucap Dimas menghela napas berkali-kali, benar-benar merasa gemas dengan istrinya itu.


"Iya,"sahut Ayana yang melihat Dimas nampak tidak suka dengan pertanyaan nya. Gadis itu menundukkan kepalanya kembali memakan nasi gorengnya. Walaupun dalam hati bertanya-tanya kenapa dilarang bertanya tentang hal itu lagi, dan kenapa reaksi dua pria itu berbeda saat mendengar pertanyaannya.


Setelah sarapan, Dimas dan Toyib membereskan barang dagangan mereka. Sedangkan Ayana beres-beres rumah.


"Kenapa kakak nampak seperti tidak suka saat aku membahas tentang bercak merah di tubuh ku? Apa kak Dimas jijik melihat bercak-bercak merah di tubuhku ini? Bagaimana jika kak Dimas tidak mau tidur dengan aku karena bercak-bercak di tubuh ku ini? Aku harus berobat,"gumam Ayana yang jadi gelisah karena bercak-bercak merah di tubuhnya.


Setelah membereskan rumah, Ayana masuk ke dalam kamar. Kebetulan Dimas pun berada di kamar karena bersiap-siap akan berangkat bekerja.


"Kak!"panggil Ayana yang melihat Dimas sedang menyisir rambutnya.


"Hum,"sahut Dimas.


"Aku.. aku ingin ke dokter,"ucap Ayana nampak ragu.


"Ke dokter? Kamu sakit?"tanya Dimas nampak khawatir, menghentikan aktivitasnya menyisir rambutnya.


"Aku ingin memeriksakan bercak-bercak merah di tubuhku,"sahut Ayana.


Mendengar jawaban Ayana, Dimas pun menghela napas panjang, kemudian berjalan mendekati Ayana.


"Ini bukan penyakit, Ay!"ucap Dimas seraya memegang kedua lengan Ayana.


"Bukan penyakit? Lalu, bercak-bercak ini apa?"tanya Ayana mendongakkan kepalanya menatap wajah Dimas yang lebih tinggi darinya.


"Cup"

__ADS_1


Dimas malah mencium bibir Ayana karena merasa sangat gemas pada istrinya itu. Ayana memejamkan matanya saat Dimas mengulum dan menyesap bibirnya. Gadis itu berusaha membalas ciuman suaminya. Ayana membuka matanya saat Dimas melepaskan pagutan bibirnya.


"Ingin tahu kenapa bisa ada bercak-bercak merah ini?"tanya Dimas dan Ayana pun mengangguk cepat.


Dimas menyingkap lengan kaos oblong yang dipakai Ayana, kemudian menyesap lengan Ayana. Gadis itu nampak terkejut dengan aksi Dimas.


"Seperti ini, 'kan?"tanya Dimas menunjukkan bercak kemerahan yang baru saja di buatnya.


Ayana membulatkan matanya melihat bercak merah yang di buat Dimas.


"Jadi.. jadi.. "


"Semua itu, aku yang membuatnya,"ucap Dimas memotong kata-kata Ayana,"Jadi, jangan menanyakan, apalagi menunjukkan nya pada orang lain! Mengerti?"tanya Dimas menatap lekat mata Ayana.


"Hum. Maaf!"sahut Ayana dengan wajah penuh penyesalan.


Sekarang Ayana tahu kenapa Dimas tidak suka saat dirinya membahas bercak-bercak merah di tubuhnya. Dan kenapa Toyib bisa tertawa terbahak-bahak tadi pagi karena pertanyaan nya yang ternyata sangat konyol itu.


"Kalau kamu mau, nanti sore kita pulang ke rumah kamu. Mumpung kamu masih libur,"ucap Dimas mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin Ayana memikirkan kekonyolan nya tadi pagi.


"Apa kita akan menginap di rumah papa?"tanya Ayana.


"Terserah kamu saja,"ucap Dimas tersenyum lembut seraya mengelus kepala Ayana lembut.


***


"Abang nggak pengen ikut?"tanya Ayana.


"Lain kali aja, Ay. Abang capek,"sahut Toyib.


"Ya sudah. Kalau begitu Abang tungguin rumah saja,"ujar Ayana.


"Oke. Titip salam saja sama, Om,"sahut Toyib.


"Iya,"sahut Ayana.


Dimas memilih memesan taksi online untuk pergi ke rumah mertuanya, agar bisa langsung turun di depan rumah mertuanya tanpa bergonta-ganti kendaraan umum. Sepanjang perjalanan, Ayana memeluk lengan Dimas dan menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. Semenjak semalam, Dimas tidak menjaga jarak lagi dengan Ayana, sehingga Ayana tidak takut lagi untuk menempel pada Dimas.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam karena lalu lintas yang lumayan padat, akhirnya mereka tiba di rumah Geno. Ayana menggandeng tangan Dimas memasuki rumahnya. Para ART di rumah itu nampak memperhatikan Ayana yang langsung membawa Dimas ke dalam kamarnya.


"Siapa pria yang di bawa nona pulang itu?"


"Tampan sekali,"


"Jarang pulang. Pulang-pulang malah bawa pria,"


"Eh, nona membawa pria itu ke kamarnya,"

__ADS_1


Itulah bisik-bisik ART di rumah Ayana.


Dimas meletakkan tas ransel berisi pakaian yang di bawanya. Sedangkan Ayana langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang besar dan empuk dengan posisi terlentang. Dimas duduk di tepi ranjang di dekat Ayana.


"Apa kamu merasa tidak nyaman tinggal dengan aku di rumah kontrakan ku dan Toyib yang kecil dan sederhana?"tanya Dimas setelah mengetahui jika keluarga Ayana termasuk orang yang kaya. Walaupun sebelumnya Dimas juga sudah menduga jika Ayana adalah anak orang kaya.


"Kenapa kakak bertanya seperti itu?"tanya Ayana balik, beranjak untuk duduk.


"Rumah kamu dan rumah kontrakan kami sangat jauh berbeda. Rumah kamu bagai istana dengan banyak ART. Sedangkan rumah kontrakan kami seperti gubuk, bahkan kamu harus bekerja keras untuk membersihkan rumah dan juga memasak,"sahut Dimas.


"Dimana pun aku tinggal tidak masalah. Yang penting ada kak Dimas bersama aku,"sahut Ayana memeluk Dimas.


"Tidak menyesal menikah dengan aku?"tanya Dimas memastikan.


"Tidak,"sahut Ayana menggeleng cepat,"Aku ajak kakak keliling rumah!"ajak Ayana menarik tangan Dimas. Membawa Dimas berkeliling rumahnya, hingga mereka tiba di kolam renang.


"Kakak bisa berenang?"tanya Ayana mendongakkan kepalanya menatap Dimas.


"Bisa,"sahut Dimas.


Ayana menarik tangan Dimas ke tepi kolam renang dengan senyuman smirk di bibirnya.


"Hei!"


"Bryurrr"


"Bryurrr"


Ayana mendorong Dimas hingga Dimas terjatuh ke kolam renang. Setelah itu Ayana pun ikut masuk ke dalam kolam renang dan memercikkan air ke wajah Dimas.


"Dasar gadis nakal!"ucap Dimas mendekati Ayana, tapi Ayana malah berenang menjauh.


Dimas mengejar Ayana hingga akhirnya bisa menangkap Ayana. Keduanya saling menyiram dan bersenda gurau di dalam kolam renang itu.


"Siapa yang ada di kolam renang, Bik?"


...🌟"Bahagia itu bukan karena dimana kita berada, tapi dengan siapa kita bersama."🌟...


..."Nana 17 Oktober"itu...


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2