SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
181. Kemungkinan


__ADS_3

Melihat mobil yang nampak ingin mencelakakan dirinya dan seluruh keluarga yang baru dimilikinya itu, Dimas benar-benar merasa sangat geram. Setelah bertahun-tahun hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal dunia, baru akhir-akhir ini Dimas merasakan hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap. Dengan istri dan kedua orang tua Ayana yang sudah di anggapnya orang tuanya sendiri. Lalu Nando, Toyib dan Diky yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri. Namun sekarang ada orang yang sengaja ingin melenyapkan mereka? Dimas benar-benar tidak terima.


Apalagi saat melihat mobil itu kembali ingin mencelakai dirinya dan keluarganya untuk yang ke dua kalinya, Dimas benar-benar marah. Dimas tidak peduli siapa orang yang ada di dalam mobil itu dan motifnya apa ingin mencelakai dirinya dan keluarganya. Kali ini Dimas akan membuat orang itu tidak bisa lagi menyesali perbuatannya. Karena itulah Dimas sengaja menjebak orang yang ingin menabrak mobil yang di kendarainya itu dengan tetap diam di pinggir jurang. Lalu mundur dengan cepat saat hendak tertabrak, hingga mobil orang yang ingin mencelakai dirinya dan keluarganya meluncur bebas ke dalam jurang.


Dimas mengernyitkan keningnya saat melihat ada mobil yang berhenti tidak jauh dari mobilnya saat ini berada..


"Siapa yang datang? Mereka musuh atau teman? "gumam Dimas yang nampak bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.


"Kak, siapa mereka?"tanya Ayana yang melihat ke mana arah mata Dimas memandang.


Mendengar pertanyaan Ayana, Geno, Hilda dan Nando langsung menoleh ke arah Dimas dan Ayana memandang.


"Aku seperti mengenalnya,"gumam Dimas yang masih bisa di dengar semua orang di dalam mobil itu, Dimas diam mengamati orang yang bergegas menghampiri mobil mereka itu.


Tok! Tok! Tok!"


Saman mengetuk jendela mobil yang lampunya masih menyala itu dengan cemas karena dari lampu sorot mobilnya, Saman bisa melihat bagian belakang mobil yang di kendarai Tuan Mudanya itu ringsek lumayan parah.


"Pak Saman?"gumam Dimas lalu bergegas membuka kaca mobilnya.


"Apa kalian baik-baik saja?"tanya Saman dengan wajah khawatir saat Dimas membuka kaca mobilnya. Saman nampak memperhatikan Dimas dan semua orang yang ada di dalam mobil itu.


"Kami baik-baik saja, Pak. Kenapa Pak Saman ada di sini?"tanya Dimas nampak heran.


Pria tampan itu keluar dari dalam mobilnya, di susul oleh Ayana, Geno, Hilda dan Nando yang penasaran ingin melihat mobil yang ingin mencelakai mereka tadi. Mobil yang meledak di dasar jurang.


Bahkan tiga orang anak buah Saman juga berdiri di pinggir jurang yang pagar besinya sudah tidak tahu kemana itu. Mungkin ikut terjatuh karena sebelumnya sudah ringsek oleh mobil Dimas lalu ditabrak mobil Bening. Mereka ingin melihat mobil yang jatuh dan meledak itu dari dekat. Bahkan ada satu mobil lagi yang datang dan ikut melihat di tepi jurang. Mereka semua adalah anak buah Pak Saman. Salah satu diantara mereka nampak menghubungi polisi.


"Saya ingin ke hotel yang tidak jauh dari sini, karena mendengar kabar jika malam ini pemilik hotel itu akan datang ke hotel itu. Tuan Buston ingin saya bernegosiasi untuk membeli hotel itu. Tapi tidak sengaja malah mendengar ledakan mobil dan melihat mobil kalian nampak ringsek,"sahut Pak Saman yang sempat terkejut mendengar pertanyaan Dimas.

__ADS_1


Untung saja Pak Saman langsung menemukan alasan yang logis sehingga tidak membuat Dimas dan keluarganya tidak curiga atas kemunculan dirinya.


Pak Saman sangat mengkhawatirkan Dimas, karena itu tanpa berpikir panjang langsung menghampiri mobil Dimas. Ingin melihat bagaimana keadaan anak majikannya itu.


"Oh, begitu rupanya,"sahut Dimas namun kemudian berlari kecil menuju pinggir jurang karena melihat Ayana ke sana,"Ay! Pa, ma, kak! Jangan terlalu ke pinggir!"ucap Dimas memperingati.


Untuk beberapa saat mereka menatap mobil yang terbakar hebat itu. Aroma daging manusia yang terbakar pun tercium di hidung mereka semua.


Setelah polisi tiba di tempat itu, Dimas dan keluarganya memberikan penjelasan kronologi kejadiannya. Mereka juga melaporkan mobil yang menabrak mereka dari belakang tadi. Walaupun hal itu kecelakaan yang tidak disengaja, namun seharusnya mobil yang menabrak mereka tadi berhenti untuk melihat keadaan mereka. Walaupun hanya sekedar basa-basi. Namun mobil tadi malah melaju kencang tanpa peduli apapun.


Setelah memberi keterangan pada polisi, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke hotel yang sudah tidak jauh lagi dari tempat itu. Jika mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, hanya perlu menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit dari tempat itu untuk sampai di hotel tujuan mereka.


Setelah setengah jam berada di hotel, Pak Saman langsung meninggalkan hotel itu. Namun sebelum pergi, Pak Saman sudah memastikan keamanan anak majikannya itu. Meninggalkan beberapa orang anak buahnya di sana untuk menjaga Tuan mudanya. Mengantisipasi jika ada orang yang ingin berbuat jahat lagi pada Tuan mudanya.


"Kejadian hari ini benar-benar membuat mama jantungan,"keluh Hilda saat mereka berkumpul untuk makan malam di hotel itu.


"Papa juga, ma. Tapi, kira-kira siapa orang dalam mobil itu, ya, Dim? Mengapa sepertinya sangat ingin melenyapkan keluarga kita? Apa motifnya?"tanya Geno.


"Dia nekat sekali ingin melenyapkan kita semua,"sahut Nando.


"Padahal, aku sudah membayangkan liburan kita akan sangat menyenangkan. Tapi malah ada tragedi seperti ini"celetuk Ayana yang merasa kejadian hari ini membuat sport jantung. Wanita muda itu nampak menghela napas panjang.


"Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja,"ujar Dimas seraya mengelus kepala Ayana lembut.


"Papa sangat penasaran dengan sosok orang yang ingin mencelakai kita itu. Menurut kalian, orang yang terpanggang dalam mobil itu adalah orang yang ingin melenyapkan kita atau hanya orang suruhan?"tanya Geno menatap Dimas dan Nando bergantian.


"Aku tidak bisa menebaknya, pa,"sahut Dimas.


"Aku juga tidak bisa menebaknya,"sahut Nando.Namun entah mengapa sejak melihat mobil yang terbakar di dasar jurang tadi, Nando merasa hatinya sedih tanpa alasan. Padahal yang mati terpanggang di dalam mobil itu adalah orang yang ingin melenyapkan mereka sekeluarga.

__ADS_1


"Kita tunggu saja hasil penyelidikan dari polisi. Karena kita tidak bisa menebak siapa orang yang ingin mencelakai kita,"sahut Hilda.


Untuk sesaat, mereka semua terdiam dalam pemikiran mereka masing-masing. Hingga Dimas merasakan getaran handphonenya yang ada di dalam saku celananya. Dimas mengernyitkan keningnya saat melihat ada nomor tidak di kenal menghubungi dirinya. Geno, Hilda Nando dan Ayana nampak penasaran melihat raut wajah Dimas.


"Siapa yang menghubungi aku?"gumam Dimas dalam hati.


Ada kemungkinan orang yang tewas di dalam mobil tadi hanyalah orang suruhan seseorang. Dan mungkin saja yang saat ini sedang menghubungi dirinya adalah orang yang sebenarnya menginginkan dirinya dan keluarganya lenyap. Itulah yang ada di dalam hati Dimas.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Dimas mengangkat panggilan masuk itu.


"Halo!"sahut Dimas dengan jantung yang berdegup kencang.


Geno, Hilda, Nando dan Ayana terlihat penasaran dan tegang menatap ke arah Dimas yang sedang mengangkat telpon itu.


"Dengan saudara Dimas Anggara?"tanya orang yang menghubungi Dimas itu terdengar tegas.


"Iya, saya sendiri,"sahut Dimas.


"Kami dari pihak kepolisian. Setelah melakukan penyelidikan melalui cctv jalan raya, kami menduga bahwa orang yang meninggal di jurang tadi sore adalah saudara Bening, istri dari Tuan Nando. Kami sudah ke rumah mertua anda dan tidak menemukan saudari Bening. Namun ini belum akurat sebelum kita melakukan tes DNA pada jenazah di dalam jurang. Bisa saja saudari Bening turun dari mobil itu di daerah yang tidak terjangkau oleh cctv. Lalu mobil itu dikendarai oleh orang lain. Karena itu, mohon anda pastikan keberadaan saudari Bening,"ujar polisi itu.


"Baik, Pak. Kamu akan segera memastikannya,"sahut Dimas kemudian panggilan telepon itu diakhiri.


"Siapa, Dim?"tanya Geno.


Dimas menghela napas panjang lalu berkata,"Polisi. Kemungkinan, orang yang jatuh ke dalam jurang tadi adalah istri kak Nando,"ucap Dimas membuat semua orang terkejut.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2