SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
232. Jomblo


__ADS_3

Nando baru saja keluar dari ruangan meeting bersama dengan Geno. Duda muda itu mengikuti Geno masuk ke dalam ruangannya.


"Apa adik kamu hari ini akan pulang, Ndo?"tanya Geno.


"Iya, pa. Ngomong-ngomong, jika aku tahu tempat tinggal Toyib dekat dengan banyak daerah wisata, aku pasti ikut dengan mereka menghadiri pernikahan Toyib, pa,"sahut Nando terlihat menyesal.


"Kenapa kamu terdengar seperti menyesal begitu?"tanya Geno tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayana sengaja mengirimi aku foto-foto mereka di beberapa tempat wisata, pa. Semua tempat mereka berfoto sangat indah, pa. Membuat ku jadi pengen kesana,"sahut Nando.


"Kamu akan sedih jika ikut dengan mereka,"


"Sedih? Kenapa sedih, pa?"tanya Nando yang tidak mengerti dengan maksud papanya.


"Karena mereka semua memiliki pasangan. Sedangkan kamu tidak memiliki pasangan, alias sendirian. Jika kamu ikut dengan mereka, kamu hanya akan menjadi fotografer gratisan bagi mereka,"sahut Geno yang terdengar menohok di hati Nando.


"Haiss.. kenapa papa harus mengatakan hal itu. Apa jomblo tidak boleh bahagia?"


"Nggak usah baper. Kenyataan yang akan terjadi memang seperti itu, jika kamu ikut dengan mereka. Ngomong-ngomong, apa kamu tidak ingin menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita? Papa ingin sekali memiliki cucu,"ujar Geno yang memang sangat berharap ingin segera memiliki cucu.


"Ayana sudah menikah, pa. Kenapa papa tidak meminta cucu dari Ayana dan Dimas saja?"


"Usia adik kamu itu baru menginjak sembilan belas tahun. Dimas khawatir tubuh Ayana belum siap jika Ayana harus mengandung. Kamu tahu, sendiri, 'kan, Dimas itu sangat mencintai adik kamu. Dimas sangat protektif terhadap adik kamu. Tapi dia juga akan melakukan apapun untuk adik kamu asalkan adik kamu senang,"


"Iya, juga sih. Untung saja Ayana tidak banyak maunya seperti para perempuan di luar sana,"


Dering suara handphone Nando mengalihkan atensi ayah dan anak itu. Nando mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo, Bu. Apa kabar?"tanya Nando lembut. Geno mengernyitkan keningnya, merasa penasaran dengan siapa Nando bicara.


"Nak Nando, bolehkah ibu minta tolong pada Nak Nando?"tanya Bu Ningsih tanpa menjawab sapaan dari Nando. Terdengar jelas ditelinga Nando jika wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu tidak sedang baik-baik saja.


"Apa yang bisa aku bantu, Bu? Katakan saja! Aku akan berusaha membantu ibu semampuku,"sahut Nando serius.


"Begini, Nak. Ibu mengangkat seorang anak dari kampung halaman ibu. Dan ibu membawanya kembali ke kota ini. Tapi, sekarang dia tersandung kasus. Sepertinya ada orang yang menjebak dia, hingga dia masuk penjara. Bisakah nak Nando menolong ibu mengeluarkan dia dari penjara? Sebenarnya ibu merasa tidak pantas meminta pertolongan dari nak Nando. Karena almarhum putri ibu telah membuat banyak kekacauan dan mempermalukan keluarga nak Nando. Tapi, ibu benar-benar tidak punya tempat lagi untuk meminta tolong selain pada Nak Nando,"ucap Bu Ningsih yang akhirnya menangis.

__ADS_1


"Ibu tidak perlu sungkan seperti itu. Katakan pada saya, dimana ibu sekarang?"


"Di kantor polisi yang beralamat di jalan xx,"


"Baiklah. Saya akan segera ke sana. Ibu tunggu di sana, ya!"


"Iya. Terimakasih, Nak Nando!"


"Sama-sama, Bu,"sahut Nando kemudian mengakhiri panggilan.


"Semoga, Nak Nando bisa membantu mengeluarkan Rengganis dari penjara. Hanya dia harapan ku satu-satunya untuk mengeluarkan Rengganis dari jeruji besi,"gumam Bu Lastri penuh harap pada Nando.


"Siapa, Ndo?"tanya Geno yang dari tadi hanya diam mendengarkan Nando bicara dengan seseorang lewat panggilan telepon.


"Bu Ningsih, pa. Ibunya Bening. Dia sedang dalam masalah. Aku pergi dulu, ya, pa!"ucap Nando bergegas keluar dari ruangan Geno tanpa menunggu jawaban dari Geno.


"Apa yang terjadi? Bukannya Bu Ningsih ada di kampung, ya?"gumam Geno yang mengingat jika Bu Ningsih memilih pulang kampung setelah Bening meninggal.


Nando melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan Bu Ningsih.Setengah jam kemudian, Nando pun tiba di alamat yang diberikan oleh Bu Ningsih. Wanita paruh baya itu nampak berdiri di depan kantor polisi dengan wajah yang terlihat khawatir dan mata yang terlihat sembab.


"Nak Nando. Akhirnya kamu datang juga,"ucap Bu Ningsih yang terlihat sangat senang melihat kehadiran Nando


"Coba ceritakan apa yang terjadi, Bu!"pinta Nando yang ingin tahu detail masalahnya.


"Ibu kurang tahu persis, Nak,"sahut Bu Ningsih jujur adanya.


"Kalau begitu, kita temui saja anak ibu untuk mengetahui kronologi kejadiannya,"


"Baiklah,"sahut Bu Ningsih.


Setelah meminta izin pada polisi, akhirnya mereka bisa menemui Rengganis. Gadis itu tetap saja menangis. Walaupun tidak terdengar suara tangisannya, tapi airmata gadis itu terus menetes.


"Nis, kenalkan! Ini Nak Nando. Nak Nando, ini putri angkat ibu, namanya Rengganis,"ujar Bu Ningsih memperkenalkan kedua.


Rengganis hanya mengangguk kecil pada Bu Ningsih. Sepertinya gadis itu nampak terguncang dengan kejadian yang menimpa dirinya itu. Nando menjadi sangat iba pada gadis itu.

__ADS_1


"Tolong tenangkan dirimu dulu! Setelah itu, kamu ceritakan kronologi kejadiannya. Jika kamu tidak bisa menenangkan diri, kamu tidak akan bisa menceritakan kronologi kejadiannya secara detail, dan aku akan kesulitan untuk membantu kamu. Hapus sir mata kamu!"ucap Nando seraya mengulurkan sapu tangannya pada Rengganis.


Rengganis menatap sapu tangan yang diulurkan Nando, kemudian menatap wajah Nando dengan matanya yang terlihat sembab. Melihat ketulusan yang terpancar di mata Nando, akhirnya Rengganis mengambil sapu tangan Nando. Menghapus air matanya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Setelah melihat Rengganis agak tenang, Nando pun mulai bertanya tentang awal mula kejadian Rengganis mengalami musibah itu, layaknya seorang detektif. Setelah mendengar cerita Rengganis dan menanyakan tentang beberapa hal, akhirnya Nando pun mengerti duduk masalahnya.


"Jadi, orang yang kamu curigai adalah orang yang bernama Tony itu? Karena sebelumnya dia sudah punya niat jahat padamu?"tanya Nando.


"Iya, kak. Apalagi, sebelum meninggalkan kelasku, dia berkata bahwa kemarin aku beruntung karena telah selamat dari dia. Tapi, dia ingin lihat, apa kali ini aku juga akan seberuntung kemarin,"sahut Rengganis tanpa menutupi apapun.


"Kenapa kamu tidak bilang pada ibu, jika kamu hampir dilecehkan orang yang bernama Tony itu?"tanya Bu Ningsih khawatir.


"Aku hanya tidak ingin membuat ibu khawatir padaku,"sahut Rengganis.


Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rengganis Nando pun menelpon pengacaranya. Lalu mengajak Bu Ningsih untuk pulang. Bahkan Nando mengantarkan Bu Ningsih ke rumahnya.


"Jadi, ibu tinggal di sini?"tanya Nando setelah mereka tiba di rumah Bu Ningsih.


"Iya, Nak. Maaf! Ibu menjual beberapa perhiasan milik Bening, untuk membeli rumah ini, membuka toko sembako dan menguliahkan Rengganis,"ujar Bu Ningsih jujur..


"Saya sudah pernah mengatakan pada ibu, jika semua itu adalah milik ibu. Karena ibu adalah ahli waris Bening. Jadi ibu tidak perlu meminta maaf karena menjual perhiasan itu. Dan ibu jangan sungkan untuk meminta bantuan apapun pada saya. Saya akan membantu ibu semampu saya,"ujar Nando bersungguh-sungguh.


"Terimakasih, Nak. Ibu sangat berharap Rengganis bisa segera bebas. Ibu yakin dia tidak bersalah.Dia itu anak yang baik, penurut dan pengertian. Karena itu, ibu sangat menyayangi dia. Kehidupan dia di kampung sangat memprihatinkan. Dia sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal. Dia tinggal di rumah geribik sendirian dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Karena kami sama-sama sebatang kara, akhirnya ibu mengangkat dia sebagai anak dan memutuskan untuk kembali ke kota ini,"


"Begitu rupanya. Tapi, bukankah waktu itu ibu bilang ingin tinggal bersama adik dan keponakan ibu?"


"Adik dan adik ipar ibu tidak mau menerima ibu. Mereka mengusir ibu, bahkan tidak mengizinkan ibu menginap barang semalaman pun. Hingga akhirnya ibu terpaksa tidur di pos ronda sebelum mendapatkan tempat tinggal. Tapi Rengganis datang menghampiri ibu dan menawarkan tempat tinggal untuk ibu. Bahkan merawat dan memperlakukan ibu seperti ibunya sendiri. Dia benar-benar gadis yang baik,"


"Syukurlah. Ibu memiliki anak yang menyayangi ibu. Walaupun cuma anak angkat,"


Setelah mengobrol agak lama, akhirnya Nando pun pamit pulang. Bu Ningsih menatap mobil Nando yang semakin menjauh dengan tatapan haru.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2