SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
137. Babak Lanjutan


__ADS_3

Bening benar-benar merasa terpojok. Semua orang seperti melawan dirinya dan membela Ayana. Apapun yang di katakan Bening selalu salah di mata semua orang. Apalagi Diky yang terang-terangan menghina dirinya. Bahkan Nando sebagai suaminya, pun tidak mau membelanya. Semua itu benar-benar membuat Bening merasa sangat dongkol dan marah.


"Maaf, aku lelah. Aku ingin ke kamar untuk istirahat,"ucap Bening yang benar-benar sudah tidak tahan berada di tempat itu. Dengan wajah yang terlihat sangat kesal, Bening meninggalkan tempat itu.


Semua yang ada di tempat itu hanya diam saja. Menatap Bening yang pergi meninggalkan tempat itu. Bahkan mereka nampak kembali melanjutkan perbincangan mereka di selingi canda gurau setelah Bening pergi.


"Sialan! Mereka seperti berkonspirasi mengeroyok aku. Bahkan Nando sama sekali tidak membela aku. Dasar suami tidak berguna! Tidak bisa di andalkan! Jika tidak terpaksa, aku tidak akan memilih Nando sebagai suamiku. Dia malah terpesona dengan si Diky sialan itu. Ada apa juga dengan si Diky itu? Dia seperti memiliki dendam kesumat pada ku,"gerutu Bening seraya berjalan menuju kamarnya.


Sementara itu, di ruangan keluarga, semua orang nampak terus mengobrol. Obrolan yang terkesan santai tapi seru. Geno, Hilda dan Nando nampak senang mengobrol dengan empat orang asing yang menjadi saudara angkat itu.


"Oh, iya, kalian akan menginap di sini, 'kan? Om akan sangat senang jika kalian mau menginap,"ujar Geno melihat ke arah empat orang itu bergantian.


"Lain kali saja, Om. Aku dan Diky akan pulang. Kami telah berjanji, besok akan melakukan sebuah pekerjaan bersama-sama,"sahut Toyib.


"Aku dan Ayana juga tidak akan menginap, pa,"sahut Dimas.


"Sayang sekali. Ya sudah, nggak apa-apa. Sering-seringlah kemari! Rasanya semakin seru saat makan malam rame-rame seperti tadi,"ujar Geno tulus, penuh harap.


"Jangan khawatir, Om. Pasti kami akan sering-sering makan di sini. 'Kan, lumayan, bisa mengurangi uang belanja kami,"canda Toyib membuat semua orang terkekeh.


Setelah mengobrol lumayan lama, akhirnya ke empat orang itu pun pamit pulang. Karena Dimas takut jika Ayana tertidur di jalan. Mengingat hari sudah semakin larut malam.


Setelah menempuh perjalanan yang ramai lancar, akhirnya keempat orang itupun tiba di rumah kontrakan mereka.


"Akhirnya.. sampai juga di rumah,"ujar Toyib seraya merenggangkan tubuhnya dengan merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Kak, kita bobok, yuk! Aku sudah mengantuk,"pinta Ayana dengan suara manjanya, bergelayut di lengan Dimas

__ADS_1


"Sudah! Kelonin sana!"ujar Toyib.


"Dasar manja!"ucap Dimas seraya mencubit hidung Ayana gemas,"Ayo, kita tidur,"ujar Dimas merangkul Ayana, kemudian menatap Toyib dan Diky,"Kami tidur duluan, ya?!"pamit Dimas.


"Iya, sudah sana! Kasihan, Ayana sudah mengantuk, tuh!"sahut Diky yang melihat Ayana menguap beberapa kali.


Akhirnya Dimas membawa Ayana ke dalam kamar dan sepasang suami-isteri itu pun tidur dengan saling berpelukan.


Sementara itu, Diky dan Toyib masih berada di ruangan tamu.


"Perempuan itu benar-benar menyebalkan. Kalau dia itu laki-laki, sudah aku hajar dia,"gerutu Toyib dengan wajah yang terlihat kesal.


"Siapa yang kamu maksud?"tanya Diky seraya mengernyitkan keningnya. Merasa aneh karena tiba-tiba Toyib menggerutu dan terlihat kesal.


"Siapa lagi kalau bukan si butek mantan pacar Dimas itu. Namanya sama sekali tidak cocok dengan tingkah lakunya. Sama sekali tidak mencerminkan hatinya. Bertolak belakang. Namanya Bening, tapi hati dan pikirannya butek, keruh,"ujar Toyib masih dengan wajah kesalnya.


"Aku tahu. Ayana juga tahu. Dan aku sangat kesal padanya. Dia sering membuat Ayana kesal. Sudah bersuami, tapi malah mengejar-ngejar Dimas yang sudah beristri. Bahkan dia mencari tahu dimana alamat rumah kontrakan Dimas,"sahut Toyib masih dengan ekspresi kesalnya.


"Dia tidak berubah. Tidak puas dengan yang dia miliki. Dulu dia berpacaran dengan seorang pria. Tapi dia juga caper pada Dimas. Saat karir Dimas mulai menanjak, dia mulai mendekati Dimas. Saat Dimas menerima cintanya, dia langsung memutuskan pacarnya. Aku mengetahui hal itu setelah satu minggu dia berpacaran dengan Dimas. Karena aku bertemu dengan mantan pacar perempuan itu. Sejak mengetahui hal itu, aku menjadi tidak suka pada dia. Apa lagi setelah mendengar bahwa karier Dimas hancur dan Dimas jatuh miskin karena perempuan itu. Bukannya tetap tinggal bersama Dimas dan mendukung Dimas saat Dimas terpuruk. Tapi dia malah meninggalkan Dimas dalam keterpurukan. Aku sangat membenci dia. Aku tidak menyangka bertemu lagi dengan dia di kota ini. Bahkan dia menikah dengan kakak Ayana, tapi kembali mengejar Dimas. Aku benar-benar merasa jijik pada dia,"ujar Diky panjang lebar.


"Aku juga membenci dia. Karena aku sudah menganggap Dimas dan Ayana sebagai saudara ku, dan kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan ku juga. Aku tidak suka ada yang mengusik kebahagiaan mereka. Selain itu, aku sangat benci pada yang namanya pengkhianat. Karena aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dikhianati. Aku menduda karena istriku tidak setia. Dia mengkhianati aku, memilih bercerai dari ku dan menikah dengan pria yang lebih kaya dari ku,"ujar Toyib menghela napas panjang.


"Sudah larut, ayo kita tidur!"ajak Diky yang melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Keduanya pun masuk ke dalam kamar mereka.


"Kira-kira, kita akan tidur dengan nyenyak nggak, ya, malam ini? Masih ada kemungkinan mendengar suara erotis lagi, nggak, nih?"tanya Diky yang tubuhnya jadi meremang jika mengingat suara Dimas dan Ayana yang sedang bercinta.


"Kalau melihat Ayana tadi, sepertinya malam ini pendengaran kita akan aman. Tapi, kalau subuh nanti, aku nggak jamin. Aku rasa, ada kemungkinan subuh nanti akan ada babak susulan yang sore tadi. Serangan fajar,"sahut Toyib kemudian terkekeh.

__ADS_1


"Wahh . si Dimas bener-bener ganas. Istri masih sekolah sudah di genjot habis- habis-habisan,"sahut Diky ikut terkekeh.


Keduanya pun mulai memejamkan mata mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Tak lama kemudian, keduanya pun sudah terlelap.


Malam semakin larut dan subuh pun mulai menjelang. Dimas terbangun, tapi sayangnya, sesuatu di bawah sana juga ikut terbangun. Dimas merenggangkan pelukannya pada Ayana, menatap wajah istri kecilnya yang masih terlelap itu, kemudian merapikan anak rambut Ayana.


"Ay!"panggil Dimas seraya membelai bibir Ayana.


"Emm.."sahut Ayana kelihatan mulai terbangun karena Dimas membelai bibirnya.


"Dia bangun,"ucap Dimas seraya menusuk-nusuk paha Ayana dengan kerisnya yang tumpul itu.


Karena rasa kantuk masih terasa, Ayana enggan untuk membuka matanya. Tapi tangan wanita muda itu terulur untuk menyentuh benda yang sudah beberapa kali menusuk pahanya itu.


"Ssstt..Ay.."lenguh Dimas karena tangan nakal Ayana. Padahal Ayana masih memejamkan matanya itu.


Tanpa ragu lagi, Dimas pun memulai aksinya. Tak lama kemudian, suara berisik dari kamar sepasang suami istri itu mulai terdengar. Suara yang lama-kelamaan membuat Diky terbangun dari tidur lelapnya.


"Aihh.. benar kata Toyib, masih ada babak lanjutan,"gumam Diky dengan mata yang masih terpejam.


Pria itu mengambil bantal nya, lalu menutup kepalanya dengan bantal. Sedangkan Toyib yang juga terbangun, tangannya meraba earphone dan handphonenya di atas nakas, kemudian mulai mendengarkan lagu dengan volume agak keras hingga suara dari kamar sebelah tidak terdengar jelas lagi.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2