SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
64. Bercak Merah


__ADS_3

Dimas mematikan lampu utama, kemudian menyalakan lampu tidur. Pria itu pun naik ke atas ranjang..


"Kenapa melihat aku seperti itu? Apa ingin mencoba lagi?"tanya pria itu saat melihat istrinya menatap tubuhnya tanpa berkedip.


"Ti..tidak!"sahut Ayana cepat, langsung menarik selimutnya yang tadinya hanya menutup tubuhnya sampai dada menjadi menutupi seluruh tubuhnya. Malu rasanya tertangkap basah sedang mengagumi bentuk tubuh suaminya sendiri.


Dimas tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah istrinya itu. Pria itu mendekati istrinya, lalu menarik selimut yang menutupi wajah Ayana.


"Kakak, aku mau tidur!"ucap Ayana dengan suara manja saat Dimas sudah menarik selimut yang dipakai nya sampai batas leher.


"Jangan menggodaku lagi!"ujar Dimas saat mendengar suara manja Ayana, lalu ikut masuk ke dalam selimut dan merengkuh tubuh Ayana dalam pelukannya.


"Siapa yang menggoda kakak,"sahut Ayana dengan bibir yang mengerucut.


"Cup"


Dimas mengecup bibir Ayana yang mengerucut, membuat Ayana terkejut.


"Jangan mengerucutkan bibirmu seperti itu!"ujar Dimas yang merasa gemas saat melihat Ayana mengerucutkan bibirnya.


Sudah terlanjur Dimas menyentuh Ayana malam ini. Jadi, mulai malam ini, Dimas memutuskan untuk tidak menahan diri lagi jika ingin menyentuh istri kecilnya itu.


"Apa masih sakit?"tanya Dimas, menatap Ayana yang saat ini berada dalam pelukannya, berbaring dengan lengan Dimas yang menjadi bantalnya.


"Tidak,"sahut Ayana.


"Kalau begitu.. bagaimana kalau kita coba lagi?"tanya Dimas, menggoda Ayana.


"Tidak!"sahut Ayana cepat, langsung memeluk Dimas dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Dimas terkekeh mendekap istrinya. Sedangkan Ayana nampak merasa nyaman dalam dekapan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Tidak menyangka jika pria yang diolok-olok nya dengan gelar SPd, alias Sales Penjual daster itu akhirnya malah menjadi suaminya. Orang yang telah menyelamatkan dirinya, memberikan perhatian dan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarga kandungnya sendiri. Pria yang perlahan-lahan membuat dirinya jatuh cinta. Hingga nekat memaksa pria itu untuk menikahi dirinya.


Ayana memejamkan matanya, wajahnya menempel pada dada Dimas yang polos. Saat ini, pria itu hanya memakai celana pendek saja. Tiba-tiba Ayana membuka matanya. Gadis itu menatap dada suaminya. Ada keinginan untuk menyentuh dada berotot milik suaminya itu. Perlahan Ayana melepaskan pelukannya dan tangannya mulai menempel di dada Dimas dan sedikit mengelusnya.

__ADS_1


"Greb"


Dimas memegang tangan Ayana. Gerakan Ayana yang mengelus dadanya tentu saja akan membuat gairah Dimas bangkit lagi. Sudah susah payah dirinya menenangkan benda pusakanya yang ingin masuk ke sarung nya. Dan sekarang Ayana malah sengaja memancingnya untuk bangun lagi.


"Jangan menggodaku lagi, Ay!"ucap Dimas dengan suara berat.


Ayana menggerakkan tangannya untuk kembali memeluk Dimas, hingga akhirnya Dimas melepaskan pegangan tangannya di tangan Ayana.


"Tidurlah!"ucap Dimas kembali mendekap Ayana.


Akhirnya sepasang suami-isteri itu pun terlelap dengan posisi saling memeluk. Melepaskan lelah setelah seharian beraktivitas dan juga menenangkan tubuh mereka setelah melakukan aktivitas ranjang yang berakhir gagal.


Fajar mulai menyingsing. Ayana terbangun dan masih berada dalam dekapan Dimas. Perlahan gadis itu melepaskan pelukan Dimas. Tidak ingin Dimas terbangun karena pergerakan nya. Ayana turun dari ranjang dengan tubuh polosnya. Memunguti pakaiannya yang berserakan, kemudian memakainya.


Gadis itu mengambil pakaian ganti dari dalam lemari. Sesaat menatap Dimas yang masih terlelap dalam tidurnya. Bibir gadis itu menyunggingkan senyuman saat mengingat apa yang mereka lakukan semalam.


Ayana keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan. Berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat memakai pakaian di dalam kamar tadi, Ayana tidak begitu memperhatikan tubuhnya. Tapi saat mandi dan berniat menggosok tubuhnya, Ayana baru menyadari jika tubuhnya penuh dengan bercak-bercak kemerahan. Bahkan saat bercermin, Ayana juga melihat bercak-bercak merah itu di lehernya.


Ayana hanya bergaul dengan perempuan, main game online atau offline dan sesekali melihat sosial media di handphonenya dan sekarang lebih suka melihat video tutorial memasak. Gadis itu memang buta dengan seputar hubungan intim. Hanya mengetahui tentang perkembang biakan manusia dari buku biologi yang dibacanya. Karena setiap kali Pak Buang menerangkan materi pelajaran, Ayana selalu tertidur di kelas.


Ayana memasak di dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga. Pagi ini Ayana memasak nasi goreng dan telor ceplok.


Dimas melirik sepintas pada Ayana yang masih mengaduk nasi gorengnya. Pria itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ayana melirik sepintas pada Dimas yang masuk ke kamar mandi. Gadis itu senyum-senyum sendiri mengingat apa yang mereka lakukan semalam.


Tak lama kemudian, Dimas pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terlihat masih basah. Saat Dimas baru saja masuk ke dalam kamar, Toyib pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar mandi.


"Masak apa, Ay?"tanya Toyib sambil menguap, saat melihat Ayana di dapur.


"Nasi goreng, bang,"sahut Ayana yang sedang mengupas mentimun.


"Wahh. enak, tuh,"sahut Toyib nampak bersemangat.

__ADS_1


"Udah, Abang cepetan mandi sana! Biar sarapan bareng,"ujar Ayana.


"Iya.. iya..Abang mandi,"sahut Toyib bergegas masuk ke kamar mandi.


Tak lama kemudian Ayana sudah menyajikan masakannya di atas meja. Gadis itu kembali ke dapur mengambil teh hangat yang di buatnya tadi. Dimas sudah duduk di kursi meja makan, masih fokus dengan handphonenya. Toyib yang baru selesai mandi pun langsung duduk di salah satu kursi meja makan.


"Gimana, Dim, semalam? Kayaknya gagal belah duren, ya?"ledek Toyib mengulum senyum, membuat Dimas membuang napas kasar.


"Duren? Memang sudah musim duren, bang?"tanya Ayana yang baru datang, hanya mendengar kata-kata Toyib di ujungnya saja.


"Belum musimnya, Ay. Apa kamu suka durian? Kalau suka, nanti kalau sudah ada jualannya aku belikan,"sahut Dimas yang tidak ingin Toyib bicara macam-macam.


"Suka, kak. Enak tuh, kalau di bikin bubur sumsum kuah durian,"sahut Ayana antusias, kemudian mulai mengambilkan makanan untuk Dimas dan Toyib.


"Wihh.. kamu ganas juga, Dim. Ayana sampai kayak macan tutul gitu. Itu baru yang di leher doang yang kelihatan. Nggak tahu, tuh, gimana yang di dalam sana. Aku rasa.. pasti lebih parah dari yang dileher,"bisik Toyib pada Dimas saat tanpa sengaja melihat banyak kiss mark di leher Ayana.


"Berisik! Diam itu mulut!"ketus Dimas sambil menerima piring berisi nasi goreng yang disodorkan oleh Ayana.


"Sudah merumput di lapangan begitu lama, tapi malah nggak bisa bobol gawang juga,"ujar Toyib menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kecewa,"Apa perlu aku ajarkan tutorialnya, biar bisa cepat bobol gawang? Biar kalau main sekali lagi bisa langsung gol,"ujar Toyib sambil menerima piring dari Ayana.


"Memang kak Dimas mau main bola?"tanya Ayana membuat Toyib mengulum senyum menahan tawa.


"Enggak, Ay. Sudah, makanlah!"sahut Dimas agar Toyib tidak memperpanjang pembicaraan itu.


"Kak, kok badan aku merah-merah semua, ya? Lihat, nih leher aku...."


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2