SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
227. Sugesti


__ADS_3

Wulan mengendarai motornya menuju rumah kedua orang tuanya. Setelah empat hari pernikahannya, dengan Diky Wulan baru pulang hari ini.


"Assalamualaikum!"ucap Wulan seraya masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumus salam!"sahut Bu Lastri dari dalam dapur,"Kamu pulang, Lan? Mana Diky?"tanya Bu Lastri setelah Wulan masuk ke dapur.


"Abang kerja, Bu. Katanya malam ini belum tentu bakal pulang. Makanya aku pulang ke sini. Nggak enak kalau di apartemen sendirian,"sahut Wulan seraya duduk di salah satu kursi meja makan, mengambil buah jeruk diatas meja, lalu mengupasnya.


"Ohhh.. gitu,"sahut Bu Lastri yang sedang mencuci piring.


"Bapak mana, Bu?"


"Di sebelah. Lagi mandorin orang-orang yang lagi kerja,"


Setelah berhasil membeli tanah kosong yang ada di sebelah rumah mertuanya, Diky langsung menelpon arsitek dan pemborong. Keesokan harinya, semua bahan bangunan langsung berdatangan. Setelah semua bahan bangunan datang, keesokan harinya lagi pembangunan toko sembako milik Pak Parman pun di mulai.


Mendengar menantu pak Parman membeli tanah di sebelah rumah Pak Parman yang lebih panjang dan luas dari tanah Pak Parman, warga kampung pun menjadi heboh. Apalagi saat mengetahui bahwa di tanah itu akan dibangun toko sembako, dan Pak Parman lah yang akan mengelolanya. Berita itu pun menjadi berita hot di kampung Pak Parman.


Para warga memuji menantu Pak Parman yang begitu royal pada Pak Parman. Masih hangat pembicaraan para warga tentang betapa mewah, megah dan hebohnya pesta pernikahan Wulan dan Diky kemarin. Dan sekarang malah di tambah dengan berita Pak Parman dibelikan tanah dan akan dibuatkan toko sembako oleh menantunya. Para warga kampung pun membicarakan betapa beruntungnya Pak Parman dan Bu Lastri memiliki menantu seperti Diky.


"Bapak dan ibu bakal ikut ke kampung bang Toyib nggak, Bu?"tanya Wulan yang mengingat hari pernikahan Toyib tinggal tiga hari lagi.


"Bapak sama ibu nitip amplop aja, deh! Ibu suka mabuk kalau naik bus,"sahut Bu Lastri yang memang mudah mabuk kendaraan.


"Kita perginya naik mobil Ayana, Bu. Nggak naik bus,"


"Tetap aja ibu bakal mabuk, Lan,"


"Itu namanya sugesti, Bu. Ibu mikir nya bakal mabuk kalau naik mobil, jadinya mabuk beneran,"


"Pokoknya ibu nitip amplop aja, deh! Lagian kita, 'kan lagi membangun toko sembako. Masa iya, mau di tinggal. Menginap lagi,"


"Ya sudah. Terserah ibu saja,. Padahal membangun toko sembakonya juga di borong kan. Ngapain masih ditungguin juga, sih, Bu?!"sahut Wulan yang akhirnya menyerah untuk membujuk Ibu nya pergi ke kampung Toyib. Menghadiri pesta pernikahan Toyib.


"Borongan itu kalau nggak dilihat pengerjaannya suka asal, Lan,"sahut Bu Lastri yang sudah sering mendengar bagaimana sistem para tukang bangunan jika bekerja borongan.


Bukan rahasia lagi. Para tukang bangunan memang bekerja cepat saat bekerja borongan. Tapi kebanyakan asal dalam pengerjaan. Karena ingin cepat selesai dan uang pelunasan cepat masuk kantong.


Sedangkan bila membangun dengan upah harian, hasilnya memang bagus, tapi biasanya para tukang bekerja lumayan lambat. Sehingga pekerjaan yang seharusnya selesai satu Minggu, baru bisa selesai satu setengah Minggu.


Waktu terus berputar, malam hari pun akhirnya datang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan sampai saat ini Diky belum pulang juga ke rumah Pak Parman.

__ADS_1


"Apa Abang nggak pulang ke sini, ya? Apa pulang ke apartemen? Ataukah memang benar-benar nggak pulang? Huff.. ternyata rasanya sepi jika tidur sendirian. Padahal kemarin-kemarin juga tidur sendirian. Tapi sekarang rasanya nggak enak kalau tidur sendirian,"gumam Wulan yang berharap Diky akan menyusulnya ke rumah kedua orang tuanya.


Saat dini hari, tempatnya pukul dua, Pak Parman nampak keluar dari kamarnya karena merasa haus. Namun setelah minum dan hendak kembali ke kamarnya, pria paruh baya itu mendengar suara motor yang berhenti di depan rumahnya.


"Suara motor siapa, ya? Apa suara motor Diky?"gumam Pak Parman lalu bergegas menuju pintu utama rumahnya.


Dan benar saja, saat Pak Parman mengintip dari balik jendela, Pak Parman melihat Diky berjalan menuju pintu.


"Ceklek"


"Astagaa!"


"Astagaa!"


Ucap Pak Parman dan Diky bersamaan. Pasalnya, saat Diky hendak mengetuk pintu, tiba-tiba Pak Parman membuka pintu. Hingga hampir saja Diky mengetuk dahi mertuanya sendiri.


"Maaf, Pak! Aku nggak sengaja,"ucap Diky tidak enak hati.


"Nggak apa-apa. Ya, sudah. Masuk sana! Biar bapak yang masukin motornya,"ujar Pak Parman hendak memasukkan motor menantunya.


"Nggak usah, Pak. Aku saja,"ucap Diky bergegas memasukkan motornya.


"Sudah, Pak,"


"Kalau begitu cepat istirahat sana! Pasti capek banget. Pulang sampai dini hari gini,"ujar Pak Parman yang melihat wajah lelah menantunya itu.


"Iya, Pak,"sahut Diky melepaskan jaket kulitnya, lalu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya, serta membasuh wajahnya agar terasa lebih segar.


Diky membuka pintu kamar Wulan perlahan. Pemuda itu tersenyum tipis melihat Wulan yang sudah terlelap. Diky melepaskan kaos oblong dan celana jeans yang dipakainya. Menyisakan celana pendek yang melekat di tubuhnya. Perlahan Diky naik ke atas ranjang, kemudian memeluk Wulan.


"Ternyata punya istri itu menyenangkan sekali. Pulang capek seperti ini, terasa menenangkan saat memeluk dan mencium aroma tubuhnya,"gumam Diky dalam hati.


Wulan yang merasa ada yang memeluknya pun terbangun. Perlahan membuka matanya dan melihat Diky yang sudah memejamkan matanya. Gadis itu tersenyum tipis melihat wajah pria yang telah menjadi suaminya itu. Perlahan Wulan memeluk Diky.


"Kamu terbangun?"tanya Diky membuat Wulan mendongakkan kepalanya menatap Diky.


"Abang sudah lama pulang?"tanya Wulan tanpa menjawab pertanyaan Diky.


"Baru,"sahut Diky seraya merapikan anak rambut Wulan.


"Sudah makan?"tanya Wulan menatap wajah suaminya yang tak pernah bosan untuk di pandang itu.

__ADS_1


"Belum,"sahut Diky.


"Akan aku siapkan makanan untuk Abang,"ucap Wulan ingin beranjak dari tempatnya berbaring. Namun Diky malah memeluknya dengan erat.


"Kamu mau kemana?"tanya Diky.


Menyiapkan makanan untuk ambang,"


"Tidak perlu,"


"Memangnya Abang nggak lapar?"


"Lapar. Sangat lapar,"


"Kalau begitu biar aku siapkan makanan,"


"Aku lapar. Tapi nggak pengen makan makanan. Aku pengennya makan kamu. Boleh?"tanya Diky dengan nada sensuall.


"Aku.. aku masih belum selesai datang bulan, bang,"sahut Wulan dengan wajah yang memerah.


"Huff.. lama sekali. Apa masih lama?""tanya Diky yang sudah lama menahan diri.


Mungkin masih tiga hari lagi, bang,"sahut Wulan masih dengan wajah yang memerah.


Walaupun saat malam pertama kemarin Wulan membantu Diky untuk mendapatkan pelepasan. Namun tetap saja rasanya berbeda dan kurang memuaskan jika tidak menyatukan tubuh mereka sepenuhnya.


"Ya, sudah. Ayo tidur! Kalau tidak,.aku akan meminta mu melakukan hal yang lain,"ucap Diky berbisik di telinga Wulan hingga hembusan napasnya menyapu leher Wulan dan membuat tubuh Wulan terasa meremang.


Tanpa mengatakan apapun, Wulan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Diky dan memeluk Diky. Diky tersenyum simpul melihat kelakuan istrinya itu lalu memejamkan matanya seraya memeluk Wulan.


...🌸❀️🌸...


Notebook :


Sugesti adalah teknik yang dilakukan seseorang untuk memberikan suatu pandangan yang dapat mempengaruhi orang lain dengan cara tertentu. Dengan begitu, penerima sugesti akan menuruti dan terpengaruh begitu saja tanpa berpikir panjang.


🌸 Cerita ini bakal happy ending. Walaupun akan ada konflik klimakss, tapi kisah akhirnya Dimas bakal tetap sama Ayana.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2