SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
203. Memohon Maaf


__ADS_3

Atensi Diky teralihkan saat melihat handphone Wulan yang ternyata terjatuh di lantai menyala. Sepertinya ada panggilan masuk, tapi handphone Wulan di silent. Sehingga tidak terdengar suara apapun selain layarnya yang menyala. Diky mengambil handphone Wulan dan melihat siapa yang menghubungi Wulan.


"Ibu? Mampus!"gumam Diky.


Diky mengatur napasnya, kemudian menerima panggilan masuk dari calon mertuanya itu.


"Halo, Lan! Kamu dimana? Kok, jam segini belum pulang juga? Ibu telepon dari tadi juga nggak di angkat-angkat. Kamu nggak apa-apa, 'kan?"cerocos Bu Lastri begitu menyadari panggilannya yang di kira di terima putrinya.


"Halo, Bu! Ini aku, Diky,"


"Eh, Nak Diky?"sahut Bu Lastri terdengar canggung.


"Wulan masih di kamar mandi, Bu. Handphonenya di silent, jadi nggak tahu kalau ibu menelpon,"ucap Diky, setengah berkata bohong, setengah lagi berkata jujur.


"Oh, pantesan. Ibu tidak tahu kalau Wulan jalan sama, Nak Diky. Makanya ibu khawatir,"


"Maaf, karena tidak mengabari ibu. Sehingga membuat ibu khawatir,"sahut Diky berbasa-basi.


Bagaimana Diky mau ingat untuk mengabari Bu Lastri? Jika dari tadi sibuk bercinta dengan Wulan.


"Tidak apa-apa,"


"Nanti saya akan mengantarkan Wulan pulang,"


"Iya. Kalau begitu, ibu tutup dulu teleponnya, ya!"


"Iya, Bu,"sahut Diky merasa lega.


Beberapa menit kemudian, makanan dan pakaian yang di pesan Diky pun datang. Diky menyajikan makanan di atas meja makan yang tidak terlalu besar. Kemudian kembali ke dalam kamar. Diky menghela napas berkali-kali melihat Wulan yang masih terlelap.


"Ini yang aku takutkan jika berdekatan dengan dia. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Karena itulah sebulan terakhir ini aku memilih menghindari dia. Tapi akhirnya hal yang ingin aku hindari ini terjadi juga,"gumam Diky membuang napas kasar.


Diky tidak tega membangunkan Wulan yang terlihat kelelahan karena dirinya tadi. Akhirnya pemuda itu memilih untuk mengecek handphonenya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Wulan terbangun. Gadis itu tidak melihat sekeliling tempatnya berada. Kemudian ingatannya kembali saat Diky mengambil kesuciannya. Wulan menjadi panik dan kembali melihat ke sekitar tempatnya berada, tapi tidak melihat Diky didalam kamar itu.


"Bang Diky tidak meninggalkan aku disini sendirian, 'kan?"gumam Wulan menjadi khawatir.


Wulan beranjak bangun dari tempatnya berbaring, hendak mencari pakaiannya. Karena saat ini tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Hanya selembar selimut yang menutupi tubuhnya.


"Auwh!"pekik Wulan yang merasa bagian inti tubuhnya terasa sakit saat baru satu langkah berjalan.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"tanya Diky yang tiba-tiba muncul. Pemuda itu menghampiri Wulan yang masih berdiri di samping ranjang menahan sakit. Gadis itu melilitkan selimut di tubuhnya untuk menutupi tubuhnya yang polos.


"Abang, aku.."Wulan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Bingung harus bagaimana mengatakan apa yang dirasakannya pada Diky. Malu rasanya jika harus mengatakan bahwa bagian inti tubuhnya sakit.


"Apa sakit?"tanya Diky lembut.


"Hum,"sahut Wulan dengan pipi yang memerah.


"Biar aku antar ke kamar mandi,"ucap Diky langsung mengangkat tubuh Wulan dan menggendongnya ke kamar mandi.


"Pipinya yang memerah itu selalu saja membuat aku gemas,"gumam Diky dalam hati. Menahan diri untuk tidak menggigit pipi Wulan yang membuatnya merasa gemas itu


Diky mendudukkan Wulan di pinggir bathtub, lalu mengisi bathtub dengan air hangat. Diky juga menuangkan sabun cair ke dalam bathtub.


"Apa perlu aku bantu untuk mandi?"tanya Diky tersenyum smirk.


"Tidak!"jawab Wulan cepat dengan wajah yang memerah membuat Diky merasa semakin gemas.


"Mandilah! Aku tunggu di luar. Kamu bisa pakai bathrobe itu setelah mandi,"ucap Diky seraya menunjuk ke bathrobe yang digantung di dalam kamar mandi itu,"Panggil saja aku, jika kamu sudah selesai,"ucap Diky seraya mengelus kepala Wulan lembut.


"Hum,"sahut Wulan.


"Bagaimana Abang bisa membuat tanda sebanyak ini?"gumam Wulan. Perlahan gadis itu masuk ke dalam bathtub.


"Aku baru kali ini mandi di dalam bathtub. Biasanya cuma pakai bak mandi dan gayung air. Apa bang Diky kaya banget?"gumam Wulan menerka-nerka sambi membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Diky yang baru keluar dari kamar mandi langsung membulatkan matanya saat tanpa sengaja melihat ke arah ranjang.


"Astagaa! Apa aku sangat brutal? Banyak sekali darahnya,"gumam Diky bergegas melepaskan sprei yang terkena darah Wulan tadi, lalu mengganti dengan sprei yang baru.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Wulan keluar juga dari kamar mandi. Gadis itu berjalan dengan lambat karena menahan rasa sakit.


"Kenapa tidak bilang kalau sudah selesai,"tanya Diky seraya menghampiri Wulan.


"Bang!"pekik Wulan saat tiba-tiba Diky menggendong dirinya. Wulan spontan memeluk leher Diky.


Diky mendudukkan Wulan di tepi ranjang, lalu duduk di samping Wulan,"Apa sangat sakit saat di pakai berjalan?"tanya Diky terlihat khawatir.


"Lumayan,"sahut Wulan menundukkan wajahnya.


"Maaf! Jujur, aku kesulitan mengontrol diriku sendiri saat bersamamu. Dan hal seperti ini hanya aku rasakan padamu saja. Karena itulah aku ingin cepat-cepat menikahi kamu. Karena aku takut khilaf. Karena itu aku sengaja menghindar dari kamu. Dan aku berniat memutuskan hubungan kita, karena setelah satu bulan berpisah, kamu tidak ada inisiatif sama sekali untuk mencari ku. Bahkan sekedar menanyakan nomor telepon ku pada Ayana pun tidak. Aku merasa kamu tidak mencintai aku. Tapi sekarang kejadiannya sudah seperti ini. Walaupun kamu tidak mencintai aku, aku akan tetap menikahi kamu. Aku harap, kamu bisa belajar mencintai aku,"ujar Diky panjang lebar.

__ADS_1


"A. aku mencintai Abang. Maaf, jika selama kita menjalin hubungan, aku egois. Aku tidak mau mengerti perasaan Abang,"ucap Wulan pelan dengan wajah yang masih tertunduk.


"Kamu tidak terpaksa mengatakan semua itu karena aku telah mengambil kesucian kamu, 'kan?"tanya Diky yang masih ragu jika Wulan mencintai dirinya


"Tidak!"sahut Wulan cepat,"Aku.. aku benar-benar mencintai Abang,"sahut Wulan masih mendudukkan kepalanya.


"Baiklah. Kamu benar-benar mencintai aku atau tidak, itu tidak penting lagi. Walaupun kamu tidak mencintai aku sekalipun, aku harus bertanggung jawab atas perbuatan ku. Ini, pakailah bajumu! Setelah itu, kita makan malam bersama,"ujar Diky seraya memberikan paper bag yang berisi pakaian pada Wulan.


Wulan memakai baju yang dibelikan Diky lengkap dengan pakaian dalamnya. Wulan berjalan lambat keluar dari kamar. Diky yang melihat Wulan berjalan lambat pun kembali menghampiri Wulan, lalu menggendongnya menuju meja makan.


"Bahkan dia kesulitan berjalan karena aku terlalu antusias saat melakukanya,"gumam Diky dalam hati.


Setelah selesai makan, Diky menggendong Wulan ke lantai bawah. Wulan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Diky saat mereka melewati lobby apartemen. Karena banyak pasang mata yang menatap mereka. Namun Diky terlihat acuh dengan tatapan semua orang itu.


Beberapa menit yang lalu, Diky meminta anak buahnya menyewakan mobil untuk dirinya. Karena Diky merasa kasihan, jika dalam keadaan Wulan yang seperti saat ini harus menaiki motor.


"Bagaimana dengan motorku, bang?"tanya Wulan saat teringat dengan motornya.


"Biar nanti di antarkan anak buahku. Lagian, kenapa kamu masih memakai motor butut itu? Bukankah aku sudah membelikan motor yang baru buat kamu? Apa kamu tidak suka dengan motornya? Atau kamu tidak suka dengan barang pemberian ku?"


"Bu.. bukan begitu. Aku menyukainya. Aku tidak memakainya karena Abang masih marah padaku,"sahut Wulan jujur. Membuat Diky menghela napas panjang.


Diky terus melajukan mobilnya hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Pak Parman. Diky hendak menggendong Wulan, tapi Wulan menolaknya. Malu rasanya, jika dilihat tetangga. Dan jika.ibu dan bapaknya melihat dirinya di gendong Diky, maka akan semakin banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya itu


Wulan berusaha berjalan senormal mungkin. Walaupun dengan resiko menahan sakit yang lumayan. Namun tetap saja cara berjalan Wulan terlihat aneh.


"Akhirnya kalian pulang juga. Ayo, duduk!"ujar Bu Lastri yang terlihat lega saat melihat Wulan pulang. Walaupun Bu Lastri merasa cara berjalan putrinya terlihat agak aneh.


"Pak, Bu, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya telah melakukan kesalahan yang seharusnya tidak saya lakukan,"ucap Diky tertunduk.


"Deg"


Jantung Bu Lastri rasanya berhenti berdetak mendengar kata-kata Diky. Bu Lastri jadi teringat cara berjalan Wulan yang terlihat aneh tadi.


"Melakukan kesalahan? Kesalahan apa yang kamu maksud?"tanya Pak Parman mengernyitkan keningnya.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2