
Ayana baru saja menerima raport. Gadis itu terlihat bahagia. Tidak menyangka bisa ranking satu dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Dan semua itu berkat Dimas yang selalu mengajari Ayana dengan telaten.
"Selamat, ya, Ay! Kamu ranking satu,"ucap Wulan seraya memeluk Ayana.
"Terimakasih, Lan! Selamat juga, ya, Lan! Kamu ranking tiga,"sahut Ayana membalas pelukan Wulan.
"Cuma ranking tiga,"sahut Wulan sambil nyengir.
"Ranking tiga juga sudah bagus, Lan. Aku yakin, kamu pasti sudah belajar dengan keras,"sahut Ayana.
"Iya, sih. Aku sudah belajar mati-matian buat dapetin ranking tiga. By the way, semenjak tinggal sama kakak kamu, kamu jadi tambah pintar, Ay,"puji Wulan.
"Itu karena hampir setiap hari kakak mengajari aku,"sahut Ayana dengan senyuman cerah. Jika bukan karena Dimas yang selalu mengajari dirinya, mungkin Ayana tidak akan bisa mendapat ranking satu.
"Nginap di rumah aku, dong! Mumpung lagi libur, nih!"pinta Wulan.
"Aku pamit pada kakak dulu, ya? Kalau di ijinkan, aku pasti nginap di rumah kamu,"sahut Ayana.
Dulu sebelum menjadi istri Dimas, Ayana tidak akan pergi kemana-mana tanpa ijin dari Dimas dan Toyib. Walaupun saat itu Ayana hanya numpang di rumah kontrakan Dimas dan Toyib. Apalagi sekarang status Ayana adalah istri Dimas. Tidak mungkin Ayana pergi tanpa ijin dari Dimas.
"Oke. Tapi minta ijinnya jangan cuma semalam, dong! Berapa hari, gitu!"bujuk Wulan yang memang sangat suka jika Ayana menginap di rumah nya. Begitu pula dengan kedua orang tuanya.
"Lihat saja nanti,"sahut Ayana.
Ayana pulang sebelum Dimas dan Toyib pulang. Seperti biasanya, gadis itu mengganti baju, mencuci tangan dan kaki, lalu makan siang. Setelah itu, Ayana mengangkat pakaian di belakang rumah. Ayana membawa keranjang baju menuju kamarnya.
"Ceklek"
"Aakkh!
"Bugh"
"Auwh!
Saat Ayana membuka pintu kamar, Ayana melihat Dimas yang baru saja melepaskan bajunya. Karena terkejut melihat Dimas bertelanjang dada, Ayana langsung menutup matanya hingga keranjang pakaian yang di bawanya terjatuh menimpa kakinya. Ayana tidak tahu jika Dimas sudah pulang. Karena sebelum mengangkat pakaian tadi, Dimas belum pulang.
Dimas menghela napas panjang menatap Ayana yang duduk berjongkok menunduk memegangi kakinya. Pria itu kembali memakai t-shirt yang baru saja dilepasnya.
"Apa sakit sekali?"tanya Dimas seraya berjongkok di depan Ayana.
"Hum,"sahut Ayana tanpa berani mengangkat wajahnya.
__ADS_1
Dimas memegang tangan Ayana yang sedang mengusap kakinya. Kaki Ayana tampak memerah.
"Ayo, bangun! Duduk dulu!"ujar Dimas memapah Ayana ke tepi ranjang,"Biar aku olesi minyak kayu putih,"ujar Dimas kemudian mengambil minyak kayu putih, berjongkok di depan Ayana dan mengoleskan minyak kayu putih ke kaki Ayana,"Apa masih sakit?"tanya Dimas.
"Sudah mendingan,"sahut Ayana.
"Bagaimana dengan raport kamu? Dapat ranking berapa?"tanya Dimas seraya mengambil keranjang pakaian yang di bawa Ayana tadi. Meletakkannya di tempat biasa Ayana meletakkannya.
"Aku dapat ranking satu, kak,"sahut Ayana dengan senyuman cerah.
"Oh ya? Selamat, ya!"ucap Dimas seraya mengacak-acak rambut Ayana.
"Terimakasih. Ini semua juga berkat kakak yang selalu mengajari aku,"sahut Ayana.
"Itu karena kamu memang punya kemauan keras untuk belajar,"sahut Dimas, duduk di sebelah Ayana,"Oh ya, berarti, mulai besok, kamu libur, ya?"tanya Dimas.
"Iya, kak. Besok sudah mulai libur,"sahut Ayana yang entah mengapa semenjak dirinya dan Dimas sudah menikah, Ayana merasa deg-degan setiap kali berdekatan dan berduaan dengan Dimas seperti saat ini.
"Kamu nggak mau menginap di rumah Wulan? Kalau kamu pengen nginap disana nggak apa-apa,"ujar Dimas.
Ayana yang tadinya memang ingin minta ijin untuk menginap di rumah Wulan, entah mengapa menjadi tidak bersemangat saat Dimas yang malah menawari dirinya lebih dulu untuk menginap di rumah Wulan.
"𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙝𝙖𝙡𝙪𝙨. 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪?"gumam Ayana dalam hati, menatap Dimas yang duduk di sampingnya.
"Eh, tidak. Aku tadi memang ingin minta ijin pada kakak untuk menginap di rumah Wulan,"sahut Ayana memaksakan diri untuk tersenyum pada Dimas.
"Oh, begitu. Kamu boleh menginap berapa hari pun yang kamu mau,"ujar Dimas tersenyum lembut pada Ayana.
"Terimakasih, kak! Apa tidak apa-apa jika selama liburan aku menginap di rumah Pak Parman?"tanya Ayana yang ingin mengetes. Kira-kira Dimas keberatan atau tidak. Jika tidak, berarti Dimas memang tidak suka dirinya dekat dengan Dimas.
"Hum. Terserah kamu,"sahut Dimas seraya beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar itu.
Setelah Dimas keluar dari dalam kamar itu, senyuman Ayana pun memudar. Wajahnya pun terlihat sedih.
"Kak Dimas bahkan membiarkan aku menginap lama di rumah Pak Parman. Ternyata kak Dimas memang tidak pernah menyukai aku. Dia hanya menganggap aku sebagai adik. Dan selamanya akan di anggap dan di perlakukan seperti adik,"gumam Ayana lirih.
Dengan perasaan sedih, Ayana mengemasi barang-barang yang akan di bawanya ke rumah Pak Parman. Agar besok tidak repot menyiapkannya.
Seperti biasanya, malam harinya Ayana menyiapkan makan malam untuk mereka. Aroma masakan Ayana membuat Toyib keluar dari kamarnya.
"Masak apa, Ay?"tanya Toyib seraya memperhatikan masakan yang di letakkan Ayana di atas meja makan.
__ADS_1
"Soto daging, bang,"sahut Ayana seraya menuang air putih ke dalam gelas.
"Waahh.. mantap ini. Abang cuci tangan dulu,"ujar Toyib bergegas ke arah wastafel.
"Tumben ingat,"celetuk Ayana.
"Jaman sekarang ini memang aneh. Kalau berbuat kesalahan di bilang biasa. Giliran berbuat benar di bilang tumben,"gerutu Toyib.
"Ada apa?"tanya Dimas yang kebetulan baru selesai mencuci tangan.
"Nggak apa-apa. Aku sudah kelaparan karena mencium aroma masakan Ayana,"sahut Toyib yang memang perutnya berbunyi beberapa kali karena memang tiba-tiba merasa sangat lapar setelah mencium aroma masakan Ayana.
"Dasar perut karet. Tadi sore waktu pulang juga makan banyak, sekarang sudah lapar lagi,"cibir Dimas.
"Ya, gimana? Orang lapar,"sahut Toyib sambil menyengir.
Setelah makan malam, Dimas , Toyib dan Dimas duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Tapi nyatanya ketiganya bukan fokus pada layar televisi, tapi fokus pada layar handphone masing-masing. Toyib nampak sedang main game online. Ayana berselancar di dunia Maya, dan Dimas... Entah apa yang dilakukan oleh pria itu. Setiap kali memegang handphonenya, pria itu nampak sangat serius.
"Aku tidur duluan, Sudah ngantuk,"ujar Ayana entah pada siapa, beranjak dari duduknya.
"Ya sudah, anak kecil bobok nya jangan malam-malam,"sahut Toyib masih fokus pada layar handphonenya.
"Siapa bilang aku masih kecil?"protes Ayana tidak terima.
"Eh, iya. Abang lupa kalau kamu sudah gede. Sudah nikah, tapi belum kawin, ya?"celetuk Toyib tanpa disaring.
Dimas melotot ke arah Toyib dengan ekspresi marah.Sedangkan Ayana tidak jadi melangkahkan kakinya karena mendengar kata-kata Toyib itu.
"Dukg"
"Auwh! Sakit, Dim! Ini kaki masih dipakai. Jangan main injak aja!"protes Toyib yang kakinya tiba-tiba diinjak Dimas.
"Maaf! Sengaja!"sahut Dimas tanpa dosa, tersenyum lebar ala iklan pasta gigi, menunjukkan gigi putih nya yang tersusun rapi.
"Sialan, kamu, Dim!"ketus Toyib seraya mengelus kakinya yang diinjak oleh Dimas.
"Emang, apa bedanya nikah sama kawin, bang?"tanya Ayana yang dari tadi sudah penasaran ingin bertanya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued