
"Seharusnya kita meluangkan waktu untuk berlibur bersama seperti ini. Aku tidak pernah melihat Ayana begitu bahagia seperti saat ini,"gumam Geno yang duduk bersama Hilda di bawah pohon kelapa.
"Sayangnya Dimas bukan orang kaya,"sahut Hilda membuang napas kasar.
"Sudahlah, ma! Kenapa mama belum juga bisa menerima Dimas? Apakah kebahagiaan putri kita belum cukup untuk mama?"tukas Geno.
"Oh iya, apakah Ayana menarik semua uang di ATM yang papa berikan?"tanya Hilda yang baru teringat dengan gaun, sepatu dan juga cincin yang dipakai Ayana.
"Memangnya kenapa?"Geno malah balik bertanya.
"Apa papa tidak melihat? Ayana memakai gaun couple sama Dimas. Mama dapat memperkirakan jika harga gaun yang dipakai Ayana itu mahal. Sepatunya juga. Belum lagi cincin berlian yang dipakai Ayana,"ucap Hilda.
"Benarkah? Papa kira pakaian mereka adalah pakaian yang mana siapkan. Tapi, kalaupun mereka memang memakai uang dari papa juga tidak apa-apa,"sahut Geno santai.
"Coba papa cek dulu. Berapa uang yang tersisa di ATM Ayana!"pinta Hilda.
Geno pun mengeluarkan handphonenya dari sakunya dan memeriksa saldo di ATM yang diberikannya pada Ayana.
"Masih utuh, ma. Ayana tidak mengambilnya sama sekali,"ucap Geno seraya menunjukkan handphonenya pada Hilda.
"Lalu, dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli baju couple, sepatu dan cincin berlian itu? Masa iya, Dimas yang hanya berprofesi sebagai pedagang pakaian keliling bisa membeli barang-barang semahal itu? Dimas tidak melakukan sesuatu yang bisa berakibat buruk pada putri kita, 'kan, pa?"gumam Hilda penasaran sekaligus khawatir jika Dimas melakukan hal buruk untuk mendapatkan uang dan putrinya ikut terseret. Bagaimanapun marahnya Hilda, Ayana tetaplah putrinya.
"Nanti, kita tanyakan saja pada orangnya secara langsung. Dari pada menduga-duga dan berprasangka buruk pada Dimas,"sahut Geno yang jadi ikut penasaran.
Sepanjang hari di pantai itu, Dimas dan Ayana nampak bahagia. Geno juga terlihat bahagia melihat kebahagiaan Ayana dan Dimas. Hilda sebenarnya juga ikut bahagia melihat kebahagiaan putrinya. Walaupun merasa masih kurang karena Dimas bukan orang kaya seperti yang Hilda harapkan.
Sedangkan Nando lebih banyak duduk dan bermesraan dengan Bening. Menjurus ke hal-hal yang berbau ranjang. Seperti berciuman penuh hasrat, dengan tangan Nando yang bergerilya di tubuh Bening.Bahkan mereka sempat menghilang beberapa jam dengan alasan ingin istirahat dengan alasan Bening sedang mengandung dan tidak boleh terlalu lelah. Padahal Nando menyewa kamar hotel di sekitar pantai itu untuk bercinta dengan Bening.
Saat senja mulai menapak, satu keluarga yang sudah memiliki pasangan masing-masing itu duduk di tempat yang mereka sukai untuk melihat senja.
Nando dan Bening duduk berdampingan di atas pasir, begitu pula dengan Geno dan Hilda yang duduk tidak jauh dari Nando dan Bening. Sedangkan Ayana dan Dimas duduk di atas karang dengan posisi Dimas yang duduk di belakang Ayana. Pria itu memeluk Ayana yang duduk di depannya dengan dagu yang bertumpu pada pundak Ayana.
"Apa kamu suka melihat senja di pantai?"tanya Dimas dengan mata menatap langit yang berwarna keemasan.
__ADS_1
"Hum,"sahut Ayana singkat.
"Kalau begitu, aku akan sering-sering mengajak kamu ke pantai,"ucap Dimas.
"Apakah itu mungkin?"tanya Ayana dengan tatapan sendu ke arah langit.
"Kenapa tidak mungkin?"tanya Dimas menatap wajah Ayana dari samping.
"Sore ini adalah kedua kalinya kita melihat senja berdua seperti ini. Mungkin.. setelah ini, kakak tidak akan mengajakku ke pantai lagi,"ucap Ayana yang merasa hubungan mereka tidak akan bertahan lama lagi.
"Aku akan meluangkan waktu untuk mengajak kamu ke pantai melihat senja,"sahut Dimas menempelkan pipinya di pipi Ayana dengan tatapan lurus ke depan menatap mentari yang mulai kembali ke peraduaan nya.
"Apa kakak mencintaiku?"tanya Ayana dengan suara pelan. Namun seperti biasanya, Dimas hanya diam tanpa mengatakan apapun. Hingga beberapa saat kemudian...
"Aku ingin pulang,"ucap Ayana beranjak dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan Dimas seraya menghapus air matanya.
"Ay!"panggil Dimas berlari kecil menyusul Ayana, kemudian meraih tangan Ayana,"Kita pamit dulu pada papa dan yang lainya,"ucap Dimas.
Geno, Hilda, Nando dan Bening menoleh ke arah Ayana dan Dimas saat Dimas memanggil dan mengejar Ayana.
"Iya,"sahut Geno dari jauh.
Keduanya pun menuju motor Dimas yang di parkir tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Seperti biasanya, Dimas selalu memakaikan helm untuk Ayana. Dimas melajukan motornya dengan Ayana yang memeluk pinggangnya. Namun saat sudah agak jauh meninggalkan pantai, perlahan Ayana melepaskan pelukannya di pinggang Dimas dan memilih meletakkan kedua tangannya di atas pahanya sendiri.
"Ay, pegangan, Ay!"pinta Dimas namun Ayana nampak acuh.
Dimas menarik tangan Ayana agar memeluk pinggangnya, tapi Ayana kembali menarik tangannya dan meletakkannya di atas pahanya.
Dimas menghela napas panjang. Ayana kembali acuh padanya seperti saat di kamar hotel.
"𝘼𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖, 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙖𝙠𝙪?"gumam Dimas dalam hati. Namun pria itu berusaha memahami mengingat usia istrinya yang masih muda dan labil.
Sesampainya mereka di rumah Ayana, Ayana langsung masuk ke kamarnya dan bergegas menuju kamar mandi. Dimas hanya bisa menghela napas menyusul Ayana.
__ADS_1
"Ada apa dengan Ayana? Kenapa dari kemarin sore sikapnya sangat aneh? Dan tadi... saat dia menanyakan apakah aku mencintai dia, dia langsung pergi dan mengatakan ingin pulang. Bahkan saat naik motor tadi, setelah jauh dari keluarganya, dia bahkan tidak mau lagi memeluk aku. Apa sebenarnya yang membuat dia seperti ini? Waktu di hotel, dia mengatakan ingin menanyakan banyak hal yang tidak akan aku jawab. Apakah aku perlu menanyakan tentang hal itu? Aku tidak ingin hubungan kami seperti ini. Aku ingin Ayana ku yang ceria dan manja kembali lagi,"gumam Dimas menjambak rambutnya frustasi.
Dimas merasa tidak nyaman dengan sikap Ayana yang diam dan acuh padanya. Dan lama-lama merasa frustasi. Dimas sungguh tidak terbiasa dengan sikap Ayana yang seperti saat ini.
Dimas menghampiri kamar mandi setelah setengah jam lebih Ayana belum juga keluar dari dalam kamar mandi.
"Ay! Ay! Kamu tidak apa-apa, 'kan?"tanya Dimas mulai khawatir.
"Ceklek"
Ayana muncul dari balik pintu dan Dimas pun bernapas lega. Namun tanpa menatap Dimas, Ayana melewati Dimas begitu saja. Dimas menghela napas panjang dan memilih untuk membersihkan diri. Dimas bermaksud bicara dari hati ke hati dengan Ayana untuk memperjelas apa sebenarnya yang membuat Ayana mengacuhkan dirinya.
Setelah Dimas selesai membersihkan diri, pelayan di rumah Ayana memberi tahu jika Dimas dan Ayana sudah di tunggu di ruang makan.
"Ayo, kita ke ruang makan!"ajak Dimas.
Ayana tidak menyahuti kata-kata Dimas, tapi berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Saat mereka akan masuk ke dalam ruang makan, tiba-tiba Ayana memeluk lengan Dimas, membuat Dimas mengernyitkan keningnya. Tidak mengerti dengan sikap istri kecilnya yang labil itu.
"Dim, papa ingin bicara dengan kamu. Kita bicara di ruang kerja papa. Bisa?"tanya Geno setelah mereka selesai makan malam.
"Bisa, pa,"sahut Dimas.
Dimas mengikuti Geno yang berjalan ke ruang kerja Geno. Sedangkan Ayana kembali ke dalam kamarnya.
"Dim, boleh papa bertanya?"tanya Geno.
"Tentu saja, pa,"sahut Dimas.
"Sebenarnya, berapa penghasilan kamu sebagai pedagang pakaian keliling?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued