
"Ay, bikinin Abang kopi, dong!"pinta Toyib yang baru saja keluar dari kamarnya membuat Ayana dan Dimas yang diam terpaku tersadar dan saling menjauhkan diri. Sedangkan Toyib yang sedang fokus pada layar handphonenya karena sedang main game online, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi pada Dimas dan Ayana.
"Mau kopi apa, bang?"tanya Ayana langsung bangkit dari duduknya dengan perasaan canggung.
"Kopi susu, Ay,"ucap Toyib terus berjalan pelan ke arah ruang tamu.
"Dug"
"Auwh! Sakit!"pekik Toyib yang kakinya tersandung kaki kursi.
"Yah.. yahh! Sial! Aku jadi kalah gara-gara tersandung kursi,"gerutu Toyib.
"Mangkanya, kalau jalan itu lihat ke depan, jangan lihat layar handphone! Kesandung baru tahu rasa, kan?"ujar Dimas geleng-geleng kepala dengan kelakuan Toyib. Tapi Toyib malah duduk dan kembali main game online.
"Abang! Ini airnya belum mendidih banget. Tapi gasnya udah keburu habis. Ganti dulu tabung gas nya, bang!"teriak Ayana dari dapur.
"Iya, sebentar!"sahut Toyib,"Dim, ganti dulu sana tabung gas nya. Aku lagi main, nih!"ujar Toyib masih tetap fokus pada handphone nya.
'Kamu ini main game online udah seperti ABG saja,"gerutu Dimas beranjak dari duduknya dan pergi menuju dapur.
"Dulu jaman aku masih kecil nggak ada game online, Dim. Yang ada cuma main game bot,"sahut Toyib masih saja fokus pada layar handphonenya. Sedangkan Dimas berjalan ke arah dapur.
"Abang pasti masih main game, ya?"tanya Ayana saat melihat Dimas yang datang ke dapur. Mencoba bersikap biasa-biasa saja walaupun jantung nya masih dag dig dug karena ciuman yang tak di sengaja tadi.
"Iya, tuh. Akhir-akhir ini kerjaannya main game online mulu,"sahut Dimas seraya melepaskan regulator dari tabung gas yang sudah habis, lalu memasangkan pada tabung gas yang isinya masih penuh. Pria itu bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa pada mereka berdua beberapa menit yang lalu.
Sedangkan Ayana mengamati wajah Dimas yang sedang serius mengganti gas. Wajah yang begitu tampan dan bersih terawat. Hidung mancung dengan bibir yang tipis bagian atas dan tebal di bagian bawah. Sungguh terlihat sangat seksi dan menggoda. Membuat Ayana menelan ludah, menggigit bibirnya sendiri. Membayangkan bagaimana rasanya jika menggigit bibir Dimas yang seksi itu.
"Sudah, Ay,"ucap Dimas setelah kompornya bisa menyala. Membuyarkan lamunan mesum Ayana.
"Ah, iya. Apa Kakak mau dibuatin kopi juga?"tawar Ayana.
"Boleh, lah. Kopi susu juga, ya, Ay!"pinta Dimas tanpa menatap Ayana.
__ADS_1
"Hum,"sahut Ayana.
"Roti kita masih ada, nggak Ay?'"tanya Dimas seraya berjalan ke arah lemari es.
"Masih, kak. Tadi Abang baru saja beli,"sahut Ayana seraya meracik kopi untuk Dimas.
Dimas mengambil sebungkus roti dari lemari es, kemudian membawanya ke ruang tamu. Pria itu memakan roti sambil menonton televisi, sedangkan Toyib masih tetap fokus pada layar handphonenya.
Tak lama kemudian, Ayana datang membawa dua gelas kopi susu dan meletakkan nya di atas meja.
"Aku mau belajar di kamar saja,"ujar Ayana seraya mengambil bukunya dari atas meja,"Abang, awas kopinya masih panas,"ujar Ayana memperingati.
"Hum,"sahut Toyib tetap fokus pada layar handphonenya.
Ayana berjalan menuju kamarnya, namun saat membuka pintu kamarnya..
"Auwh! Panas! Panas!"pekik Toyib dari ruang tamu membuat Ayana tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya,"Abang.. Abang!"gumam Ayana.
"Lidah ku terasa terbakar, Dim,"keluh Toyib.
"Nikmati saja penderitaan kamu gara-gara game online itu. Tadi kaki tersandung, dan sekarang lidah kamu terbakar gara-gara main game online,"ujar Dimas kembali mengunyah rotinya.
"Hais, nggak setia kawan kamu, Dim!"ujar Toyib bersungut-sungut.
"Setia kawan, asal dalam hal yang positif,"sahut Dimas membuat Toyib menghela napas.
Sedangkan di dalam kamar, Ayana nampak senyum-senyum sendiri sambil mengerjakan tugasnya. Mengingat ciumannya dengan Dimas tadi.
"Kalau aku cowok dan kak Dimas cewek, sudah aku lahab bibir kak Dimas itu. Bikin gemes tahu!"gumam Ayana yang selalu terbayang-bayang bibir Dimas yang menggoda itu,"Kak Dimas tuh, nggak ada rasa sama sekali apa sama aku? Beberapa kali tanpa sengaja ciuman sama aku, tapi habis ciuman kayak nggak pernah terjadi apa-apa gitu,"gumam Ayana menghela napas panjang.
***
Ayana baru saja sampai di rumah. Gadis cantik itu segera mengganti pakaiannya dan mencuci tangan serta kakinya. Setelah itu segera mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Selesai makan, Ayana mengangkat jemuran yang sudah kering. Semenjak Ayana kembali masuk sekolah, Dimas memilih membeli mesin cuci dua tabung ukuran 6 kilo setengah. Agar Ayana tidak terlalu capek mencuci baju mereka bertiga.
__ADS_1
Tidak di sangka, gadis yang dulunya hanya bisa makan dan menghabiskan uang, sekarang menjadi gadis yang mandiri, rajin beres-beres serta bersih-bersih rumah. Bahkan jadi pintar memasak setelah tinggal bersama keluarga Pak Parman dan juga tinggal bersama Toyib dan Dimas.
Ayana di sayangi dua orang pria yang sebelumnya hanya orang asing yang bahkan sejak pertama kali bertemu selalu berdebat dan saling mengolok-olok. Dan kasih sayang kedua orang pria itu bukannya membuat Ayana menjadi manja dan malas, tapi malah membuat Ayana menjadi pribadi yang mandiri dan juga pintar dalam segala hal.
"Capek sekali. Hari ini panas sekali. Aku akan tidur dulu,"gumam Ayana kemudian merebahkan tubuhnya. Tak lama kemudian, gadis itu pun terlelap karena kecapekan.
Toyib nampak sedang berada di dalam angkutan umum. Pria itu sedang dalam perjalanan pulang. Sesekali meneguk air dalam kemasan botol yang di pegangnya. Cuaca hari ini sungguh panas. Membuat Toyib merasa lebih cepat lelah saat harus berjualan keliling kampung.
Tak berapa lama kemudian, Toyib pun sudah turun dari angkutan umum. Mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang kampung tempatnya mengontrak.
"Hari ini tidak akan turun hujan, 'kan? Panasnya terasa berbeda,"gumam Toyib seraya mengusap peluh yang membasahi wajahnya.
Baru saja Toyib curiga dengan cuaca yang terasa sangat panas hari itu, tiba-tiba angin mulai bertiup, semakin lama semakin kencang. Cuaca yang tadinya sangat panas karena matahari yang terasa sangat terik, kini tiba-tiba menjadi gelap karena matahari tertutup mendung.
"Gawat! Sepertinya akan turun hujan. Dimas sudah pulang apa belum, ya? Ayana pasti mulai ketakutan,"gumam Toyib mempercepat langkahnya.
Kilat dan petir mulai menyambar dan titik-titik air mulai berjatuhan. Tanpa berpikir panjang lagi, Toyib segera berlari menuju rumah kontrakannya. Orang-orang yang melihat Toyib berlari pun menyangka jika Toyib takut terkena hujan. Padahal Toyib ingin cepat-cepat sampai di rumah kontrakan nya karena takut trauma Ayana kumat lagi.
"Bang Toyib! Mampir sini saja biar tidak kehujanan,"
"Bang Toyib! Mampir sini biar saya pinjami payung,"
"Bang Toyib, hujan! Mampir dulu!"
Itulah teriakan beberapa orang yang melihat Toyib berlari sambil membawa tas besar berisi dagangannya. Tapi Toyib terus berlari menuju rumah kontrakannya tanpa perduli dengan apapun. Bahkan jaket yang di pakainya mulai basah. Wajahnya pun basah oleh air hujan bercampur dengan peluh.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1