SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
261. Sarkas


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan dengan perasaan khawatir, akhirnya Buston tiba di sebuah rumah sakit. Ketiga putranya di rawat di satu ruangan VIP. Agar Buston tidak perlu repot-repot keluar masuk ruangan yang berbeda-beda.


"Pa!"panggil Axell saat Buston masuk ke ruangan tempatnya di rawat bersama kakak dan adiknya.


"Kamu baik-baik saja?"tanya Buston seraya menghampiri Axell yang duduk di dashboard ranjangnya.


"Aku hanya terkilir saja, pa,"sahut Axell.


"Syukurlah. Papa sangat mengkhawatirkan kalian,"ujar Buston seraya mengusap lengan Axell lembut,"Bagaimana keadaan kakak dan adik kamu?"tanya Buston seraya menatap Dimas dan Delvin bergantian. Ranjang Dimas dan Delvin ada di kanan dan kiri ranjang Axell.


"Menurut dokter, keadaan fisik mereka baik-baik saja. Delvin diperkirakan syok karena kejadian tadi. Sedangkan kakak, dokter belum bisa mendiagnosis nya secara pasti sampai kakak sadar. Tapi, menurut dokter, keadaan kakak saat ini kemungkinan berkaitan dengan amnesia kakak. Karena kejadian tadi mirip dengan kejadian waktu kakak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakak koma dan amnesia,"jawab Axell yang terus bersama kakak dan adiknya dari tadi dan sudah bertanya pada dokter yang menangani kedua saudaranya.


"Dokter yang menangani Tuan Dimas, mendadak harus melakukan operasi, Tuan. Jika beliau sudah selesai melakukan operasi, beliau akan menjelaskannya pada Tuan,"sahut Saman.


Tak lama kemudian, Dimas nampak mulai sadar. Buston pun bergegas menghampiri putra sulungnya itu.


"Dim!"panggil Buston.


"Pa!"sahut Dimas setelah mengerjakan matanya beberapa kali,"Mana Axell dan Delvin? Apa mereka baik-baik saja?"tanya Dimas terlihat khawatir.


"Kami baik-baik saja, kak. Tapi Delvin belum sadar karena syok dengan kejadian tadi,"sahut Axell yang merasa terharu karena begitu sadar, Dimas langsung menanyakan tentang dirinya dan adiknya.


"Syukurlah!"ucap Dimas menatap Axell yang tersenyum lembut padanya dan melihat Delvin yang masih belum sadar dari kejauhan.


"Bagaimana keadaan kamu? Apa yang kamu rasakan? Kata Axell, kamu tadi terlihat kesakitan,"tanya Buston yang masih khawatir pada keadaan Dimas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, pa. Tadi aku teringat dengan kecelakaan yang pernah aku alami dulu. Karena kejadiannya hampir mirip. Dan kejadian tadi membuat seluruh ingatanku kembali. Karena itu kepalaku menjadi sangat sakit,"sahut Dimas yang sekarang ingatannya telah pulih total.


"Syukurlah!"sahut Buston, Axell dan Saman lega dan penuh syukur.


"Apa boleh papa bertanya?"tanya Buston terlihat agak ragu.


"Tanyakan saja, pa. Jika bisa, aku akan menjawabnya,"sahut Dimas tersenyum tipis.


"Ini tentang almarhum ibu dan ayah sambung kamu. Apakah mereka tidak pernah memberitahu tentang papa padamu?"tanya Buston ragu.


"Tidak, pa. Mereka sama sekali tidak pernah membicarakan soal papa. Yang aku tahu, mereka adalah ayah dan ibu kandungku,"sahut Dimas jujur.


"Mungkin ibu dan ayah sambung Tuan Muda takut jika Tuan Muda lebih memilih tinggal bersama, Tuan, kalau Tuan muda mengetahui anda adalah ayah kandung tuan Muda. Atau mungkin mereka takut, jika Tuan mengambil Tuan Muda dari mereka, karena mereka tidak memiliki anak selain Tuan Muda,"sahut Saman berspekulasi.


"Kamu benar juga. Walaupun aku agak kecewa karena mereka telah menyembunyikan kebenaran bahwa aku adalah ayah kandung Dimas. Tapi aku berterima kasih pada mereka karena telah mendidik putraku dengan baik. Maaf! Papa benar-benar tidak tahu jika kamu masih hidup. Papa sudah berusaha keras untuk mencari kalian. Tapi tetap tidak berhasil menemukan kalian. Hingga akhirnya papa putus asa dan berhenti mencari kalian. Papa mengira kalian sudah meninggal,"ujar Buston jujur adanya.


"Tidak apa-apa, pa. Mungkin benar kata Pak Saman. Ibu dan ayah sengaja menyembunyikan kebenaran tentang papa dari aku karena takut kehilangan aku,"sahut Dimas berpikiran positif pada kedua orang tua yang telah merawat, mendidik dan membesarkan dirinya.


Buston merasa lega karena Dimas berpikiran positif dan tidak menyalahkan siapa pun tentang identitasnya yang disembunyikan ibu dan ayah angkatnya. Dan tidak menyalahkan Buston yang berhenti mencari dirinya.


Tak lama kemudian Delvin pun terlihat mulai sadar. Buston pun bergegas menghampiri putra bungsunya itu.


"Bagaimana keadaan kamu?"tanya Buston.


"Aku.. aku selamat?"tanya Delvin tanpa menjawab pertanyaan Buston. Pemuda itu langsung bangun dan memeriksa seluruh tubuhnya,"Syukurlah, aku baik-baik saja,,"gumam Delvin merasa lega setelah mengetahui dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Saat melihat kereta sudah dekat tadi, Delvin benar-benar ketakutan. Hingga dirinya memejamkan mata dan merasakan benturan kuat yang membuat dirinya tidak sadarkan diri. Delvin mengira benturan itu adalah benturan karena kereta api yang menabraknya. Delvin yang panik tidak menyadari jika benturan itu bukan dari samping, tapi dari belakang.


"Iya, kamu selamat dan baik-baik saja. Karena kakak kamu Dimas yang menyelamatkan kamu. Jika Dimas tidak menyelamatkan kamu, kamu pasti sudah mati dengan jenazah yang tidak utuh karena terseret dan terlindas kereta api. Atau mungkin kamu akan tewas tergencet atau terpanggang di dalam mobil yang terbakar karena terseret kereta api,"


"Kamu sudah dua kali diselamatkan oleh Dimas. Jika kamu masih punya hati, otak, akal dan pikiran yang sehat, seharusnya kamu mengubah sikap kamu lebih baik pada kakak kamu itu. Menghormati dan menghargai dia sebagai saudara dan kakak tertua kamu,"


"Mama kamu saja bisa menerima Dimas seperti putranya sendiri. Jadi, kamu yang jelas-jelas saudara satu ayah dan memiliki darah yang sama dari papa, dan sudah dua kali nyawa kamu di selamatkan oleh Dimas, seharusnya kamu juga bisa menerima Dimas sebagai saudara kamu. Kalau kamu masih tetap tidak mau menerima Dimas sebagai saudara kamu dan tetap membenci Dimas, berarti kamu bukan lagi manusia. Bahkan lebih hina dari binatang. Karena kamu tidak tahu bagaimana caranya membalas budi dan berterimakasih,"sarkas Buston yang begitu menohok pada Delvin.


Delvin hanya bisa diam dan tertunduk tanpa kata. Kata-kata papanya memang benar dan begitu menusuk di hati nya. Delvin benar-benar merasa malu pada Dimas. Jika tadi dirinya berada di posisi Dimas dan Dimas berada di posisinya, sudah pasti Delvin akan membiarkan Dimas di tabrak kereta api dan hatinya yang dipenuhi rasa iri dan dengki pada Dimas pasti akan sangat bahagia, jika Dimas mati. Tapi nyatanya orang yang jelas-jelas di bencinya malah menyelamatkan nyawanya. Dan kenyataan ini benar-benar membuat dirinya tertampar.


"Papa benar. Jika setelah kejadian ini kamu masih tetap bersikap tidak baik, membenci kakak, tidak mau memanggil dan mengakui kakak sebagai kakak kamu, berarti kamu bukan manusia. Karena jika yang mengemudi mobil tadi adalah aku, kamu pasti sudah mati ditabrak kereta api. Karena aku merasa panik saat melihat kamu akan ditabrak kereta api, hingga aku tidak bisa berpikir apa-apa untuk menyelamatkan kamu. Tapi kamu sangat beruntung, karena kakiku terkilir, jadi yang mengemudikan mobil adalah kakak. Kakak bisa berpikir jernih dan tenang, hingga kakak bisa menyelamatkan kamu tanpa membahayakan nyawa kami. Menyelamatkan orang pemalas yang tidak bisa diandalkan seperti kamu. Bahkan orang yang jelas-jelas membenci kakak. Jika yang akan ditabrak kereta api tadi adalah kakak dan yang mengemudikan mobil ku tadi adalah kamu, aku yakin seratus persen jika kamu tidak akan menolong kakak. Bahkan akan mendoakan kematian kakak dan merasa sangat senang jika kakak mati,"imbuh Axell yang tak kalah sarkas dari Buston.


Delvin semakin tidak bisa berkata-kata setelah mendengar kata-kata Axell. Semua yang dikatakan Axell adalah benar. Jika yang akan ditabrak kereta api tadi adalah Dimas dan yang mengemudikan mobil Axell tadi adalah dirinya, maka Delvin tidak akan menolong Dimas. Bahkan mendoakan kematian Dimas dan akan merasa senang jika Dimas mati.


...🌟🌟🌟...


...Lebih baik berusaha mengagumi, dan menjadikan nya sebagai motivasi. Dari pada menanam iri dan dengki di hati yang hanya akan membuat rendah dan hina dirimu sendiri....


...Iri adalah penyakit berbahaya yang meracuni hati dan melukai diri sendiri. Seperti memberi racun pada orang lain, tapi dirimu sendiri yang akhirnya mati....


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2